Terjemahanku

Buku-buku terjemahanku, yang sudah terbit.

  1. Tes Psikometri (Tiga Serangkai)
  2. Islamic Rose Books, “Tamu Asing di Rumah Nenek” (Tiga Serangkai)
  3. Islamic Rose Books, “Sahabat yang Datang dan Pergi” (Tiga Serangkai)
  4. Seri Semua Bisa, Marah (Tiga Serangkai)
  5. Seri Semua Bisa, Sedih (Tiga Serangkai)
  6. Seri Semua Bisa, Takut (Tiga Serangkai)
  7. Seri Semua Bisa, Bahagia (Tiga Serangkai)
  8. Seri Dunia Satwa, Hiu (Tiga Serangkai)
  9. Seri Dunia Satwa, Aligator (Tiga Serangkai)
  10. Seri Dunia Satwa, Gorila (Tiga Serangkai)
  11. Seri Dunia Satwa, Penyu (Tiga Serangkai)
  12. Almost Dead, Cinta di Pusaran Dendam (Dastan Books)
  13. If She Only Knew, Dendam sang Kekasih Gelap (Dastan Books)
  14. Why Men Die First (Daras Books)
  15. Metode Megakills (Penerbit Hikmah)
  16. Emily of New Moon (Qanita)
  17. The Story Girl (Bentang Pustaka)
  18. Ruby, Cinta dan Kepahitan Hidup (Dastan Books)
  19. Front of the Class (Tiga Serangkai, Solo)
  20. One Pink Rose, One White and Red Rose: Pengantin Clayborne (Dastan Books)
  21. Judgement in Death (Gramedia Pustaka Utama)
  22. The Adventures of Huckleberry Finn (Bentang Pustaka)
  23. Gadis Korek Api (Penerbit Atria)
  24. Hansel dan Gretel (Penerbit Atria)
  25. Silent Killer (Dastan Books)
  26. The Queen Must Die  (Tiga Serangkai)
  27. My Name is Memory (Bentang Pustaka)
  28. The Queen at War (Metamind)
  29. Shadow and Bone (Mizan Fantasi)
  30. The Visions in Death (Gramedia Pustaka Utama)
  31. Fools Rush In (Gramedia Pustaka Utama)
  32. The Best of Me (novel roman, Gramedia Pustaka Utama)
  33. Princess of DisGrace 1 (Tiga Serangkai)
  34. Princess of Disgrace 2 (Tiga Serangkai)
  35. Kebangkitan Kolosus (Tiga Serangkai)
  36. Shards and Ashes (Mizan Fantasi)
  37. The Queen Must Die (Tiga Serangkai)
  38. The Queen at War (Tiga Serangkai)
  39. The Queen Alone (Tiga Serangkai)
  40. Queen at Hearts 1: The Crown (Tiga Serangkai)
  41. Queen at Hearts 2: The Wonder (Tiga Serangkai)
  42. Tribute (Gramedia Pustaka Utama)
  43. Rofftoppers (Tiga Serangkai)
  44. Harper and the Scarlet Umbrella (Tiga Serangkai)
  45. The Adventure of Sherlock Holmes (Gramedia Pustaka Utama)
  46. Annie (Gramedia Pustaka Utama)
  47. Sekolah Bajak Laut Kapten Janggut Api (Tiga Serangkai)
  48. The Devil Wears Kilts (Gramedia Pustaka Utama)
  49. The Meaningful Life of Rumi (Penerbit Forum)
  50. Passage into Silence (Penerbit Forum)

Catatan Penting buat Penerjemah dan Editor Lepas

Catatan Penerjemahan

Gaya selingkung adalah pedoman tata cara penulisan. Tiap penerbit memberlakukan gaya yang biasanya berlainan. Ada yang sangat taat KBBI sehingga mengikuti setiap pergantian istilahnya bila direvisi, ada juga yang hanya menerapkan sebagian.

Dalam bahasa Inggris, selingkung disebut style guide. Contohnya seperti ini.

Bagi penerjemah, mengetahui selingkung sangat penting untuk mencapai hasil yang sesuai dan berkenan mengingat kerja editor relatif lebih ringan karenanya. Bukan hanya urusan peristilahan (ada yang tetap memakai ‘nafas’, bukan ‘napas’), tetapi juga loyalitas pada naskah. Ada penerbit yang menetapkan seratus persen menjaga keutuhan buku asli, terlepas dari gaya berbelit-belit dan kalimat super majemuk, ada juga yang memberikan panduan lebih jauh untuk mencairkan kekakuan dan mempertinggi keterbacaan.

Berikut ini panduan dari sebuah penerbit yang saya kutip sebagian:

View original post 640 more words

The Queen Must Die, Petualangan Fantasi yang Pertama

The Queen Must Die

Salah satu mimpi saya sebagai penerjemah buku adalah menerjemahkan novel bergenre fantasi. Maka, ketika Metamind (Tiga Serangkai) menyodorkan buku ini, bukan kepalang gembiranya hati saya.

Judulnya, The Queen Must Die, ditulis oleh K.A.S. Quinn.

Saya punya kecenderungan tidak dapat melogika sesuatu yang di luar jangkauan logika. Misalnya, saya tidak terlalu percaya pada hal-hal yang berbau mistis, tentang makhluk gaib, dan sejenisnya (meski beberapa kali saya pernah mengalami peristiwa yang mungkin mistis). Jadi, awalnya saya kurang dapat menikmati cerita-cerita fantasi. Ini berkebalikan dengan suami saya. Suami saya adalah pelahap buku-buku fantasi. Saya diuntungkan, karena bisa nebeng baca. Dari sana, saya yang awalnya tidak dapat menikmati cerita fantasi, mulai tertarik. Saya kagum dengan penerjemah fantasi yang dapat menangkap gagasan khayali penulis yang sering kali terlalu liar buat saya, dan menuangkannya kembali dengan menakjubkan.

Meski bergenre fantasi, The Queen Must Die masih cukup mudah dipahami. Tokoh sentralnya adalah Katie Berger-Jones-Burg, seorang anak sepuluhan tahun yang memiliki kehidupan unik. Ia penyendiri, kutu buku, dan memiliki ibu yang suka bergonta-ganti suami. Itulah mengapa nama belakangnya menjadi begitu panjang.

Katie adalah sosok remaja yang kesepian. Ia digambarkan tidak memiliki banyak teman. Sahabat terdekatnya adalah buku, dan teman kesehariannya adalah Dolores, pengurus rumah tangga yang penggemar opera sabun.

Di liang persembunyiannya, di perpustakaan kolong tempat tidurnya, Katie mengalami peristiwa yang aneh. Ia berpindah istana Buckingham, di zaman Ratu Victoria, abad 18. Di sinilah Katie memulai petualangannya. Katie bertemu dengan putri kerajaan Inggris, Alice, yang sebelumnya ia baca dari bukunya di kolong tempat tidur. Bersama James, anak dokter Kerajaan, Alice sepakat untuk mengembalikan Katie ke dunianya yang sebenarnya. Sementara  mencari jalan keluar, mereka berusaha mencegah kelompok pemberontak yang berencana membunuh Ratu Inggris.

K.A.S Quinn ini luar biasa. Ia sangat mahir mengaduk-aduk perasaan. Ia cukup jeli membidik persoalan psikologi dan sosial. Saya cukup sedih ketika membaca Katie yang kesepian. Ia menjadi terlalu akrab dengan dunia asing yang diciptakannya sendiri. Ia menganggap dirinya suda hampir gila, ketika mengalami ‘penglihatan-penglihatan’, sebelum terdampar di Istana Buckingham. Saya tertegun membaca tentang apatisme Du Quelle, salah satu tokoh sentral dalam novel, terhadap masa depan.

“Aids,” DuQuelle berkata. “Aku tahu kau mengenal kata ini. Semuanya benar, sayangku. Mari kita coba kata-kata lain. Pemanasan global, fanatisme, terorisme, kelaparan, senjata pemusnah masal, potensi nuklir….”

“Aku telah mengenal banyak kata, Katie, tapi hal-hal yang kau sebutkan tadi tidak ada. Kau melewati batas dengan menciptakan sesuatu yang terlalu indah dan terlalu sempurna. Kau datang dari masa dengan masyarakatnya yang paling rakus, egois, dan brutal. Pembawa perdamaian? Kau dan orang-orangmulah yang menanam benih kehancuran!”

Saya juga mengagumi selera humor Quinn yang sering kali terlihat dalam novel ini. Misalnya saja, ketika ia mendeskripsikan ayah Katie, Si Berger dalam rentetan Berger-Jones-Burg di belakang nama Katie.
“Kami menikah muda. Sangat muda,” kata Mimi sambil memperlihatkan foto mereka berdua dalam sebuah festival musik rok. Danny menatap mesra kepada Mimi, sementara Mimi menatap mesra ke arah kamera.
Saya terkikik membaca kalimat yang kedua. Membayangkan visualisasinya yang kocak.

Saya mendapatkan ilmu-ilmu baru saat menerjemahkan buku ini. Saya harus berkenalan dengan bahasa Jerman, karena ada beberapa istilah atau dialog yang menggunakan bahasa Jerman. Saya jadi tahu mengapa Raja Ethelbert mendapat julukan The Unready. Saya juga menemukan bahwa ada ilmu memahami karakter manusia dari bentuk tengkoraknya, yang bernama frenologi.

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya diberi kabar bahwa buku ini nongkrong di rak best seller di beberapa toko buku.

Gadis Korek Api, dan Proses Kreatif H.C. Andersen yang Bermula dari Kemiskinan

Siapa yang tak mengenal nama H.C. Andersen? Di era tahun 80-an, saat kita belum banyak mengenal film kartun dan animasi dunia, dongeng-dongeng H.C. Andersen akrab dengan kita melalui film di televisi, bacaan, juga kaset sanggar cerita.

Hans Christian Andersen, begitu nama panjangnya, adalah bapak dongeng dunia. Andersen terlahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805.  Ia berasal dari sebuah keluarga miskin. Ayahnya adalah seorang tukang sepatu, dan ibunya adalah buruh cuci.

Sedari kecil, ibu Andersen telah memperkenalkannya dengan cerita-cerita rakyat. Ia juga akrab dengan pertunjukan sandiwara. Ayahnya adalah seorang pecinta sastra. Ia acap mengajak Andersen menonton pertunjukan sandiwara. Sosok ayah ini begitu lekat dalam diri Andersen. Dalam otobiografinya yang berjudul The Story of My Life, Andersen menulis:

“Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu”.

Andersen mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupnya.  Tak heran, beberapa karyanya bernuansa kelam dan tragis, begitu pula dongeng-dongengnya.

Dongeng-dongeng H.C. Andersen telah berkembang dalam berbagai versinya. Kebetulan, Dongeng Gadis Korek Api dan Dongeng-Dongeng Lainnya yang diterbitkan oleh Penerbit Atria ini, termasuk versi panjangnya.

Dalam berbagai versi lain yang saya baca, dongeng Andersen disajikan dalam format yang lebih ngepop dan sederhana. Namun, dalam buku yang saya temui ini, kemasannya klasik dengan bahasa yang cukup nyastra.  Kekhasan naskah klasik antara lain adalah kalimat-kalimatnya yang panjang sehingga rawan menimbulkan kejenuhan pembaca. Kadang, saya terpaksa memecah kalimat yang panjang agar tidak menimbulkan kejenuhan tersebut. Di sisi lain, saya juga harus memilih kata yang tidak meninggalkan kesan klasik dan nyastra-nya. Thanks to Jia Effendi, Mbak Editor, karena dengan sentuhannya, buku ini menjadi jauh lebih rapi dan lebih enak dibaca.

Ada sepuluh dongeng di dalam buku ini, yaitu: Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju, Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan dan yang terakhir Anak Itik Buruk Rupa.

Ada dongeng-dongeng yang jauh lebih panjang dari yang lain, antara lain Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Ratu Salju, dan Kisah Rembulan . Dan dari semua kisah yang pernah saya baca dalam berbagai versinya, satu-satunya yang belum pernah saya baca adalah Kisah Rembulan. Oleh karena itulah, menjadi kerja yang lebih berat buat saya untuk membentuk imajinasi yang sama sekali belum ada sebelumnya mengenai kisah ini.

Buat saya pribadi, menerjemahkan buku ini adalah suatu kegembiraan tersendiri. Kerinduan saya dalam menerjemahkan cerita anak cukup terobati, setelah sekian lama banyak berkutat dengan buku-buku bergenre thriller, memoar, dan klasik dewasa.

Odisseus, Perang Troya, dan Mitologi Yunani

Menemukan nama Odisseus di dalam naskah yang sedang saya terjemahkan, membuat saya teringat pada film Troy, film yang saya tonton berulang kali karena terpikat dengan kisah dan penggambarannya tentang perang Troya.

Odisseus adalah sahabat Achilles (yang dalam film Troy diperankan dengan apik oleh Brad Pitt). Di dalam film tersebut, Odisseus diperankan oleh Sean Bean. Odisseus berlayar ke Troya di Asia Minor, untuk memimpin armada perang Ithaca demi membantu Raja Agmemnon dalam misinya menaklukkan bangsa Troya. Bersama Achilles, Odisseus menjadi pahlawan dalam Perang Troya.

Dikisahkan, ambisi Raja Agamemnon untuk menguasai seluruh wilayah Aegean terhambat oleh keberadaan Troya yang begitu sulit ditundukkan. Agamemnon tidak punya alasan untuk menyerang Troya karena hubungan damai telah mengikat mereka. Peristiwa dilarikannya Helena, istri Menelaos Raja Sparta (adik Agamemnon) oleh Paris dari Troya, dijadikan alasan untuk menghancurkan Troya. Raja Sparta itu murka, dan bersama Raja Agmemnon serta raja-raja Yunani lainnya, ia menyerbu Troya.

Perang Troya sesungguhnya memakan waktu dua puluh tahun lamanya (meski dalam film digambarkan hanya beberapa minggu saja). Sepuluh tahun pertama mengumpulkan armada perang di pihak Yunani, sepuluh tahun berikutnya adalah masa berperangnya. Pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Achilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari Yunani, dan Hektor serta Paris dari Troya.

Setelah bertahun-tahun belum dapat membobol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustrasi. Namun, kemudian, Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membuat sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit. Pasukan Yunani meninggalkan kuda itu dan pura-pura pergi meninggalkan Troya. Pasukan Troya yang melihat pasukan Yunani mundur, mengira mereka telah menyerah. Mereka berpikir bahwa kuda raksasa yang merupakan simbol persembahan buat Poseidon itu, adalah pernyataan kekalahan dari Yunani. Orang-orang Troya membawa kuda itu ke dalam kota dan merayakan kemenangan mereka. Malam harinya, para prajurit yang bersembunyi di dalam perut kuda pun keluar, membuka gerbang Troya sehingga pasukan Yunani berhasil menerobos masuk dan meluluhlantakkan Troya.

Setelah berhasil menaklukkan Troya, dalam perjalanan pulang ke Yunani, para dewa yang marah karena tindakan brutal pasukan Yunani menghancurkan kuil-kuil di Troya, menghukum mereka. Banyak prajurit yang mati dalam perjalanan pulang, bahkan Odisseus tersesat selama sepuluh tahun lamanya, dan mengalami banyak penderitaan serta kehilangan semua anak buahnya.

Kisah mitologi Yunani, selalu menarik buat saya, karena sarat makna filosofis. Karma yang disandang Odisseus karena telah menghancurkan kuil, hanya sebagian kecil contohnya. Kadang, jika bertemu dengan nama tokoh mitologi Yunani, saya meluangkan waktu untuk mencari tahu siapa dirinya dan bagaimana kisahnya. Dan, pencarian itu bisa dimulai dari situs WIKIPEDIA ini.