‘Juara’, Artinya Bagi Seorang Anak

Pernah menghadapi anak yang kalah dalam berlomba? Bagaimana perasaan Anda sebagai orang tua? Dan bagaimana cara Anda memberikan pengertian kepadanya?

Saya mungkin bukan bunda yang cukup pintar menjelaskan kepada anak saya, apa arti ‘juara’ yang sesungguhnya. Saya sendiri sering kali mengalami kekalahan, dan saya tahu rasanya pahit. Bukan hanya kalah dalam lomba, tetapi lebih pada kehidupan.

Saya sangat paham bagaimana perasaan Raia, anak saya, ketika kalah dalam berlomba. Puncaknya, adalah saat ia kalah dalam lomba Menceritakan Gambar, beberapa waktu lalu dalam peringatan hari anak nasional.

Ia telah berlatih dengan keras di rumah. Kami membahas konsep gambar yang akan dibuatnya, kami berdiskusi seru tentang cerita yang akan dikembangkan dari gambar tersebut. Pendeknya, ia sangat bersungguh-sungguh berlatih, demi menjadi juara. Ia menginginkan piala. Di rumah sudah ada beberapa piala hasil lomba, tetapi rata-rata adalah lomba kelompok. Satu-satunya piala yang diraihnya secara tunggal, adalah piala yang didapatkannya saat balita, dalam lomba berjalan. πŸ˜€

Saat hari lomba tiba, saya melihat ia tampil cukup meyakinkan. Sementara anak-anak seusianya (TK), tampil dengan malu-malu, harus dipancing untuk berbicara, Raia cukup lancar dalam menceritakan gambarnya. Saya cukup optimis ia bisa menjadi salah satu juara, setelah memetakan kekuatan ia di antara para peserta lainnya. Begitu pula penonton yang ada saat lomba. Mereka memberikan aplaus yang istimewa begitu Raia selesai menceritakan gambarnya. Harapan Raia pun membuncah. Ia tersulut keyakinan yang sama dengan saya.

Ternyata, sama sekali tak dinyana, ia tidak masuk dalam enam juara yang diambil. Saya tercengang, dan dia terpukul. Rasanya begitu nyeri melihat dia menangis sesenggukan. Biar bagaimanapun, saya merasa sangat bersalah. Saya mengoreksi diri. Apakah saya menanamkan harapan yang terlalu besar dalam dirinya? Apakah saya melakukan kekeliruan dalam memberikan dorongan kepadanya? Sungguh, waktu itu saya tidak bisa bicara apa-apa selain hanya memeluk dan mengelus-elus punggungnya.

Bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menghiburnya, saya mengajak Raia jalan-jalan ke tempat bermain. Dalam beberapa hal, ia sangat mirip dengan saya, terutama saat sedang sedih. Saya memerlukan waktu yang cukup lama sampai kesedihan saya pulih. Ia memerlukan waktu.

Setelah ia sedikit lupa dengan kesedihannya, saya mengajaknya makan. Dan di sanalah saya berusaha mengajaknya bicara. Saya berusaha memberikan pengertian kepadanya tentang menang-kalah.

Saya ilustrasikan kepadanya bahwa saya juga sering mengalami kekalahan dalam lomba. Saya katakan kepadanya bahwa kita harus banyak berlatih untuk bisa berhasil. Saya tekankan kepadanya bahwa kita tidak boleh mudah menyerah. Menang-kalah dalam suatu perlombaan, adalah hal yang biasa. Di atas langit masih ada langit. Yang harus kita lakukan, adalah bagaimana bisa mencapai langit yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.

“Aku juga sering ikut lomba mewarnai dan nggak pernah menang,” ia masih murung. “Temanku menang terus. Itu kan nggak adil, Bunda.”

“Nak, orang punya kelebihan masing-masing. Mungkin Ana pintar mewarnai, Lusi pintar menyanyi, kamu juga pintar dalam hal yang lain. Kita cuma belum menemukan di mana kelebihanmu. Pelan-pelan, pasti akan ketemu.”

Sesungguhnya, pada saat itu hati saya sedang berperang. Lalu, bagaimana kalau ia tampil bagus dalam lomba barusan, dan ternyata masih juga tidak menang? Di mana letak kesalahannya?

“Dalam lomba tadi, mungkin gambar juga termasuk yang dinilai juri,” saya melajutkan. “Kalau dalam hal bercerita, kamu memang paling bagus, tapi gambarmu, mungkin masih kalah dengan yang lain. Bunda tahu, kamu pintar bercerita. Mungkin suatu saat nanti kau bisa jadi pencerita, jadi penulis. Kita akan berlatih terus. Oke?”

Pelan-pelan, dia mengangguk.

Terakhir, saya peluk dia dan saya bisikkan di telinganya, “Kalah atau menang kamu dalam lomba tadi, yang penting kamu sudah berusaha dengan keras. Dan itu pasti nggak sia-sia. Buat bunda, kamu juara. Kamu selalu jadi juara di hati Bunda.”

Dan seperti halnya saya, Raia juga butuh berkali-kali diyakinkan.

Ketika ia mengalami kekalahan lagi di lomba berikutnya, ia mulai dapat menerimanya dengan lapang dada. Ia tetap saja sedih, tetapi ia mencari kekuatan dari penghiburan saya. Dan saya, tidak lelah untuk terus memberikan pengertian kepadanya.

“Sabar, Sayang. Semua ada waktunya.”

Memperkenalkan Teknologi Sejak Usia Dini

Kenalkan komputer sejak dini
Kenalkan komputer sejak dini

Kemajuan teknologi hampir di segala bidang, membuat keluarga di Indonesia mulai mengenal berbagai peralatan elektronik, baik teknologi digital, multimedia hingga internet pun mulai merambah ke hampir setiap rumah di kota besar seperti Jakarta.

Mau tak mau, Anda pun harus mulai memperkenalkan teknologi ini kepada anak-anak sejak awal. “Wawasan teknologi perlu diperkenalkan kepada anak sejak dini, mengingat penggunaannya berkaitan erat dengan nila-nilai kehidupan sehari-hari,” tukas Psikolog Tika Bisono.

Menurutnya, dengan sejak awal memperkenalkan teknologi pada anak, orangtua telah mempersiapkan mereka untuk mengerti dan memanfaatkan teknologi secara tepat guna. “Sehingga mereka memiliki dasat untuk menjadi sumber daya yang kreatif dan kompetitif di masa datang,” tambahnya.

Dari sisi edukasi, teknologi akan menjadi cara belajar baru yang lebih menyenangkan bagi anak-anak. Terutama pada komputer, di mana tersedia permainan yang dilengkapi dengan gambar dan suara sehingga tidak membuatnya cepat bosan.

“Sisi baiknya, anak menjadi lebih tekun dan terpicu untuk lebih berkonsentrasi,” lanjut penyanyi ‘Ketika Senyummu Hadir’ ini. Pada akhirnya anak-anak akan mengerti bahwa teknologi bukan sesuatu yang rumit, malah akan mendukung aktivitas dan kreativitas mereka.

Di sisi lain, Tika pun meminta orangtua untuk mewaspadai sisi negatifnya. Karena jika luput dari pantauan orangtua, anak-anak dapat menghabiskan waktunya duduk berjam-jam di depan komputer untuk bermain. Akibatnya ia tak mau bersosialisasi dengan temannya maupun keluarganya.

Mengenalkan teknologi, diakui Tika memang ada untung ruginya, namun semua itu tergantung dari kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi penggunaannya. “Untuk itu peranan para orangtua sangat penting dan dibutuhkan dalam memanfaatkan komputer tersebut,” lanjutnya lagi.

Tika memberikan beberapa saran bagi orangtua yang telah dan akan mulai memperkenalkan komputer pada anak-anak:

1. Sesuaikan dengan perkembangan dan pemahaman anak.
Pada usia 0-2 tahun, si kecil berada pada taraf belajar penginderaan. Kemudian usia 2-7 tahun, ia mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Baru pada usia 7-12 tahun, si kecil mulai dapat berpikir logis, meski masih berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya.

2. Perhatikan efek yang ditimbulkan komputer.
Komputer memiliki efek-efek tertentu, berikan penjelasan secara bijak padanya, mengenai manfaat dan dampak buruknya. “Ada baiknya guru atau orangtua seharusnya tidak gaptek.”

3. Si kecil jadi kecanduan.
Ini adalah pengaruh yang sulit dihilangkan. Kecanduan akan memicu si kecil jadi malas belajar menulis, menggambar atau bermain dengan teman-temannya. Karena itu pengaturan waktu sangat diperlukan, setidaknya hingga mereka berusia 12 tahun dan mulai mampu mengatur waktunya sendiri.

4. Tetap dampingi si kecil.
Bagaimanapun teknologi tidak dapat menggantikan peran orangtua dalam mendampingi anak, apalagi menjadikannya sebagai pengasuh. Karena itu tetap lakukan pengawasan, misalnya dengan meletakkan komputer di ruang terbuka, seperti di ruang keluarga – bukan di kamar anak.

5. Sediakan aplikasi khusus anak-anak.

Jangan lupa menggunakan aplikasi atau software yang dirancang khusus untuk anak, untuk melindunginya dari pengaruh-pengaruh negatif.

(ace)

http://www.halohalo.co.id