The Hardest Day in Ramadan

Hari Minggu kemaren bener-bener hari yang terberat dalam bulan Ramadan, terutama secara fisik. Kalo secara psikologis, sih, sudah sering mengalami yang berat-berat.Heheh…

Raia Digna Amanda
Raia Digna Amanda

Saat kami pulang ke rumah eyang Boyolali, Raia ngajak berenang. Semula aku membayangkannya sih biasa-biasa aja, toh aku cuma duduk nungguin dia bermain air. Nggak akan beratlah, itu sudah biasa… Tapi, olala, ternyata tidak seperti yang kubayangkan semula. Ternyata menunggui dia berenang bener-bener membuat tenggorokanku rasanya keriiing … banget. Soalnya habis berenang, dia masih minta main-main, ayunan, naik bebek, mancing. Huadhuuuh…. Ketika pada akhirnya kami keluar dari Taman Air, aku diam-diam menarik napas lega. Aku berencana mau tidur sesampai di rumah Eyang. Lah, ternyata suamiku ngajak berhenti di bengkel, katanya mau benerin lampu motor. Ya sudahlah…. Nah,ini yang paling berat. Ternyata setelah lampu jadi merembet ke ganti oli, sama ngecek air aki. Ternyata butuh ganti. Padahal hari kian merambat siang, menuju sore. Anakku yang kehausan minta minum dingin. Akhirnya aku beliin es teh. Segeeerrr.. banget tampaknya.Lagi-lagi aku mesti menelan ludah.

Oh no…. badanku mulai terasa lemas dan tenggorokanku kian terasa garing. Duh, Allah…, tahan, tahan, kuatkanlah hamba-Mu ini.

Hawanya panas bener, nggak seperti biasanya.

Setelah pada akhirnya selesai dan kami pulang, sesampai rumah aku langsung menjatuhkan badanku ke kasur. Rasa ngantuk, capek, sekaligus dahaga campur aduk.

Akhirnya, masa-masa menunggu waktu berbuka tiba. Eyang sudah keluar dengan Raia mencari makanan buka. Hari ini Yangti nggak masak karena sibuk ngurusin para pegawainya benerin srekel alias kendaraan gergajinya.

“Aku mau Coca Cola,” rajukku pada suamiku. “Aku mau dua botol es coca cola…!!!”

Gara-gara dia ngajak berhenti di bengkel, lama, aku jadi kehausan begini, hehe…

Suami menuruti keinginanku. Berboncengan kami berburu es coca cola.

Sampai di rumah lagi, hanya tinggal beberapa menit buka, dan telah tersedia aneka macam hidangan di meja. Ada kolak, bubur sumsum dan mutiara, aneka gorengan, es buah. PLUS DUA BOTOL COCA COLA DINGIN ….

Yeaaahhhh….

Tapi, begitu berbuka, dan aku menuntaskan dahagaku dengan minum es coca cola dan kolak, perutku langsung mengaduh. Kekenyangan. Wah, itu pertanda makan malam mesti agak ditunda.

Huaaahhhh … alhamdulillah …. Hari ini lewat juga dan puasaku terselamatkan.

Marhaban Ya Ramadan ….

Setiap tahun, bulan inilah yang selalu dinantikan oleh umat muslim di dunia. Bulan yang suci nan penuh berkah: bulan Ramadan.

Ada saja yang dilakukan orang dalam menyambut bulan ini. Di antaranya tradisi bernama ”nyadran” dan ”padusan” yang dilakukan oleh orang di beberapa daerah di Jawa.

Sebenernya kami kepengen melihat acara ”padusan” itu. Tapi, setelah dipikir-pikir, apa sih, manfaatnya? Buat apa juga memaksakan diri berjubelan dengan banyak orang, hanya buat melihat orang mandi? Atau bahkan mandi? Ih, malu banget. Mending mandi sendiri aja di rumah.

Tapi, sehari sebelum lebaran tahun ini kami menyempatkan juga pulang ke Boyolali—ke tempat eyang dari pihak suamiku. Habis, kalau mau ke eyang dari aku—Cilacap—wow … jauh niaaan ….

Kami berangkat dari Solo pukul 13.00. Lagi panas-panasnya. Sesampai di Boyolali, salat, makan, kami pun nyekar. Membersihkan makam mbah buyutnya suamiku dan berdoa. Itu saja. Selanjutnya? Yah, biasa … bertualanglah kita …!

Potong Rambut

Suamiku mengajak singgah di Ary Salon, d tukang cukur langganannya. Aku dan Raia asyik meliput. Jepret sana, jepret sini. Anakku tak lupa membawa boneka kesayangannya nan dekil dan penuh jahitan ddi sana-sini, setelah mengalami putus sambung anggota badan. Lihatlah rupa boneka yang paling dicintainya itu.

Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ....
Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ….

Betapa buluknya rupanya. Tapi, meski sudah punya belasan boneka yang lain, Si Nana (dari kata ”Banana”) ini yang selalu dipeluknya ke mana-mana. Ya Tuhan, dia memang tipe setia seperti aku. Kalau sudah punya satu—meski banyak yang lain—ya tetap akan memilih yang satu itu. Hihi ….

Komidi Putar

Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.
Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.

Setelah suamiku potong rambut, Aya kian merajuk kepengen mandi bola. Apa daya, di Boyolali tak ada. Mengherankan, ya? Alasan suamiku, ”Di Boyolali banyak airya (pemandian), jadi yang ada mandi air, bukan mandi bola….” Meski jawabannya keliatan dicari-cari banget—dan anakku yang kritis tentu saja nggak serta-merta mau memercayainya—akhirnya anakku harus cukup puas main komidi putar mini, naik mainan mobil, motor, dan kuda, lalu komidi putar lagi, begitu seterusnya, sampai dia bosen banget.

Kenapa Semua Orang Hari ini Berkacamata?

Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata."Pake punyaku, Mbak, siapa tahu Mbak Indah cocok pake yang kayak gini...."
Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata. “Coba yang ini,Mbak, siapa tahu cocok buatmu,” usul Raia.

Oh ya, dalam petualangan ini, pembantuku turut serta bergabung dalam tim. Namanya Mbak Indah. Tak banyak cakap dia, tapi pengetahuan agamanya bagus, karena jebolan pondok. Nah, dia lagi kepengen beli kacamata. Awalnya karena anakku beli kacamata. Dia jadi ikut-ikutan. Buat ”nggaya-nggaya” kalau nganter Aya sekolah, katanya. Ketika dia asyik pilih-pilih kacamata, eh, suamiku ikutan tertarik juga. Jadilah ia pilih-pilih juga, dan memasangkannya padaku dan mengamat-amati.

”Keren,” komentarnya mengagumi … kacamata itu.

Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!
Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!

”Yah … seperti biasa, kalau aku tetap akan keren memakai apa pun,” sahutku kalem.

Dia pun memutuskan membeli kacamata itu setelah melihat betapa kerennya kacamata itu menempel padaku. Ah, dia selalu saja menggunakan aku sebagai parameter. Kalau keren di aku pasti apa pun akan keren jika menempel padanya. Padahal belum tentu. Karena sekali lagi, aku selalu keren memakai apa pun. Hehehe ….

Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm...
Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm…

Hmmm … setelah itu kami beli martabak telor. Dan melesat kembali ke rumah Eyang.

Bada Magrib, kami kembali ke Solo, dan bersiap menyambut ramadan esok hari.

Akhirnya….

Marhaban ya ramadan ….

Selamat menunaikan ibadah puasa ya, semuanya … semoga tahun ini bulan puasa kita lancar dan penuh berkah.Amin … amin … amin ….

Membaca Lukisan

Malam ini tim kami sudah kembali lengkap. Setelah seminggu lamanya suamiku berkeliling Jawa, kini ia sudah kembali di tengah-tengah kami. Seminggu hanya bertualang berdua dengan Raia, kini setelah ia kembali, kami kembali bertualang bertiga.

Hmmm, setelah mengalami masa-masa berat menjadi ibu sekaligus ayah (halah), kini aku kembali jadi ibu saja, dan tugas yang membebaniku mewakili sang Ayah (nganter sekolah, nganter mandi bola, jalan-jalan, pergi belanja berdua aja) kini bebanku lebih ringan. Setidaknya sudah tinggal ”nemplok” doang di belakang suami. Seminggu kemaren? Weleh …stres juga, musti bermotor sendiri. Berangkat kantor mesti lebih pagi karena aku paling nggak bisa ngebut. Takut malah mengganggu pengendara lain karena berbuat kecerobohan. Hehe ….

Nah, karena sudah full team,mulai deh, bergerilya lagi. Ternyata anakku sudah menyiapkan ide. Begitu gejluk kami tiba di rumah (pulang kantor) dia sudah menodong mau nonton pameran di TBS (Taman Budaya Surakarta).

”Kata Om Boot ada pameran di TBS,” lapornya. Om Boot—begitu julukan yang diberikan anakku kepada cowok tetanggaku—Mbak Wiwik (gila, nih cewek jagoan bener lho, setelah ditinggal sang Ibu menghadap yang kuasa, dia tinggal seorang diri di rumahnya, di samping rumahku). ”Dora, Dora (ceileh… begitulah, dia mengumpamakan dirinya adalah Dora sementara Om Sapto—cowok Tante Wiwik itu dia jadikan Boot-nya. Hihi … bisa aja dia), di TBS ada pameran,lho, gitu kata Om Boot tadi.”

Aku dan suamiku berpandangan.

”Pameran apa?”

”Ya, bolehlah ….”

”Yeeee … asyik!” anakku pun berjingkrak gembira.

Lepas salat Magrib, kami bertiga pun naik motor menuju taman budaya yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Benar saja, rupanya agenda sedang penuh. Bisa dilihat dari papan di depan TBS yang memampang dua poster besar. Ada Pameran Visual ”KOMPLIKASI” sama pentas teater ”ORDE TABUNG” yang digelar hari ini. Ah, pilih nonton pameran ajalah ….

Lalu kami pun asyik ”membaca” lukisan. Anakku sibuk berceloteh mengomentari lukisan-lukisan yang menurutnya ”lucu”, tentu saja sambil bertanya ini-itu. Kami ”berdiskusi” tentang lukisan. Apa ini apa itu, mengapa begini mengapa begitu. Ya sebisa mungkin aku menjelaskannya (maklum, hanya penikmat dan bukan ahli dalam lukisan, hehe …) Tak lupa kami mengabadikan beberapa karya yang menurut kami menarik. Sambil berdoa diam-diam, semoga kelak kami bisa mengoleksi benda-benda seni yang harganya pasti tak murah itu.

Usai menonton, suamiku yang baru pulang setelah berhari-hari berkeliling Jawa itu mengeluh capek dan badannya sakit semua.

”Beli vitamin C yang 1000mg itu, yuk,” ajaknya.

”Gimana kalau susu segar aja?” usulku.

”Oke juga, ayuk ….”

Kami pun melesat menuju sebuah warung susu segar yang terletak di belakang kampus UNS. Aku yang merasa badanku juga kurang fit pun memesan es susu sirup dan makan pisang goreng satu biji. Suamiku, pilih STMJ (ih,apa enaknya,amis banget telornya) sama … puyuh bakar. Hiiiy …. Aku menolak ketika ia menawariku. Aku tidak doyan yang aneh-aneh. Hanya karena aku bukan vegetarian aku mau makan daging ayam dan paling banter sapi, tapi tidak bagian-bagian yang ”aneh-aneh”. Daging hewan lain—kecuali ikan tentunya—selalu ”aneh” buatku.

Bismillah … mudah-mudahan ini bisa menjadi energi yang cukup buatku bekerja malam ini. Deadline terjemahan masih dua bulan, tapi aku sudah menyiakan banyak waktu dengan doing nothing minggu lalu.

Pulang dari nonton pameran, kami nge-game sebentar di laptopku. Anakku tertidur, begitupun suamiku yang tampaknya sudah sangat kecapekan. Dan aku … siap untuk kembali berkarya!

Ah, indahnya dunia ….

(birunya hatiku harus cepat berlalu ….)