Kenapa Musik?

Seorang teman bertanya heran ketika melihat aku memborong buku tentang musik.
”Kenapa? Kamu mau belajar memainkan alat musik?”
”Ah, tidak,” sahutku seraya nyengir.
Aku memang suka musik. Aku suka nyanyi, bisa sedikit bermain gitar (hahaha…maksudnya kalau sekadar kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi, sih aku bisa) dan aku senang membaca tentang musik. Baik tentang pemusik maupun tentang alat musik itu sendiri. Dan, kini, aku sedang tertarik mencermati bagaimana musik bisa menjadi alat terapi psikologi.

Musik sangat baik buat janin, pada ibu yang tengah mengandung. Menurut penelitian, musik bisa membuat janin menjadi cerdas. Memperdengarkan musik kepada janin akan merangsang peningkatan jumlah sel-sel otaknya. Setelah lahir, rangsangan musik dapat memicu percabangan sel-sel otaknya, melatih konsentrasi, dan mengasah daya nalarnya.
Otak manusia adalah otak musikal dan irama musik memiliki kekuatan langsung yang memengaruhi kinerja kognisi. Kemampuan mengingat pada orang dewasa banyak yang berasal dari lagu dan irama di masa kanak-kanaknya.

Menurut buku Psikologi Musik yang ditulis oleh Djohan, seorang dosen jurusan musik dan pascasarjana ISI Jogjakarta yang diterbitkan oleh Best Publisher, ada delapan alasan penggunaan musik dalam kegiatan terapiutik yaitu: sebagai penenang yang dapat menimbulkan pengaruh biomedia positif, sebagai aktivitas memfokuskan perhatian, meningkatkan relasi terapis/pasien/keluarga, memberdayakan proses belajar, seagai stimulator auditori atau menghilangkan kebisingan, menata kegembiraan dan interaksi personal, sebagai penguat keterampilan fisiologis, emosi, dan gaya hidup, serta mereduksi distres pada pikiran.

Aku suka musik. Dalam bekerja, aku selalu tak pernah lepas dari musik. Tapi, aku selalu memilih musik yang kurasa tepat untuk suasana kerjaku. Misalnya, kalau sedang membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi, aku lebih memilih instrumentalia atau lagu-lagu slow yang kusetel dengan volume lirih. Kalau sedang membutuhkan penyemangat, kusetel lagu-lagu dengan beat yang lebih kenceng. Aku percaya, selain kopi, musik dapat menguraikan kekusutan saraf dan melancarkan aliran inspirasi. 😉

Gimana dengan kamu?

Belajar Ikhlas

Jika kita terus berpikir tentang target kehidupan, yang sering terjadi adalah rasa tak sabar, mau melakukan apa pun ‘tuk mendapatkan yang kita impikan, dan bernafsu ingin cepat-cepat meraihnya. Lalu, ketika semua terjadi di luar rencana, dan kita belum berhasil mendapatkannya, kita marah kepada diri sendiri. Menghukum diri. Bahkan marah kepada Tuhan.

Tuhanlah yang Maha Mendesain hidup kita. Tidakkah kita berpikir bahwa Dia punya rencana yang lebih besar?

Adakah jika keinginan kita terpenuhi segera, akan menjadi lebih baik ketimbang jika Dia menundanya barang sejenak?

Ikhlas pada semua ketentuan Tuhan tak akan membuat cita-cita kita tak tergapai. Hanya sedikit tertunda untuk saat yang lebih indah.

Biarkanlah waktu mengajarimu keikhlasan yang sesungguhnya. Yaitu ketika kita melihat di sekitar kita. Begitu banyak kesedihan dan kesakitan yang dirasakan orang-orang yang tidak seberuntung kita. Yang tak bisa makan tiap hari, yang tak punya tempat berteduh, yang tak punya pekerjaan yang layak ….

Lalu lihatlah ke dalam dirimu.

Tidakah kau temukan bahwa hidupmu jauh lebih indah?

Jika saja kau bisa sedikit lebih ikhlas dalam menjalani hidup ini ….

The Hardest Day in Ramadan

Hari Minggu kemaren bener-bener hari yang terberat dalam bulan Ramadan, terutama secara fisik. Kalo secara psikologis, sih, sudah sering mengalami yang berat-berat.Heheh…

Raia Digna Amanda
Raia Digna Amanda

Saat kami pulang ke rumah eyang Boyolali, Raia ngajak berenang. Semula aku membayangkannya sih biasa-biasa aja, toh aku cuma duduk nungguin dia bermain air. Nggak akan beratlah, itu sudah biasa… Tapi, olala, ternyata tidak seperti yang kubayangkan semula. Ternyata menunggui dia berenang bener-bener membuat tenggorokanku rasanya keriiing … banget. Soalnya habis berenang, dia masih minta main-main, ayunan, naik bebek, mancing. Huadhuuuh…. Ketika pada akhirnya kami keluar dari Taman Air, aku diam-diam menarik napas lega. Aku berencana mau tidur sesampai di rumah Eyang. Lah, ternyata suamiku ngajak berhenti di bengkel, katanya mau benerin lampu motor. Ya sudahlah…. Nah,ini yang paling berat. Ternyata setelah lampu jadi merembet ke ganti oli, sama ngecek air aki. Ternyata butuh ganti. Padahal hari kian merambat siang, menuju sore. Anakku yang kehausan minta minum dingin. Akhirnya aku beliin es teh. Segeeerrr.. banget tampaknya.Lagi-lagi aku mesti menelan ludah.

Oh no…. badanku mulai terasa lemas dan tenggorokanku kian terasa garing. Duh, Allah…, tahan, tahan, kuatkanlah hamba-Mu ini.

Hawanya panas bener, nggak seperti biasanya.

Setelah pada akhirnya selesai dan kami pulang, sesampai rumah aku langsung menjatuhkan badanku ke kasur. Rasa ngantuk, capek, sekaligus dahaga campur aduk.

Akhirnya, masa-masa menunggu waktu berbuka tiba. Eyang sudah keluar dengan Raia mencari makanan buka. Hari ini Yangti nggak masak karena sibuk ngurusin para pegawainya benerin srekel alias kendaraan gergajinya.

“Aku mau Coca Cola,” rajukku pada suamiku. “Aku mau dua botol es coca cola…!!!”

Gara-gara dia ngajak berhenti di bengkel, lama, aku jadi kehausan begini, hehe…

Suami menuruti keinginanku. Berboncengan kami berburu es coca cola.

Sampai di rumah lagi, hanya tinggal beberapa menit buka, dan telah tersedia aneka macam hidangan di meja. Ada kolak, bubur sumsum dan mutiara, aneka gorengan, es buah. PLUS DUA BOTOL COCA COLA DINGIN ….

Yeaaahhhh….

Tapi, begitu berbuka, dan aku menuntaskan dahagaku dengan minum es coca cola dan kolak, perutku langsung mengaduh. Kekenyangan. Wah, itu pertanda makan malam mesti agak ditunda.

Huaaahhhh … alhamdulillah …. Hari ini lewat juga dan puasaku terselamatkan.

Manfaat Puasa bagi Kesehatan

i273.photobucket.com

Jika berpuasa dilakukan secara benar, ternyata berbagai jenis penyakit dapat dikendalikan. Misalnya diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, maag hingga kegemukan. Bagaimana cara berpuasa yang memberi manfaat kesehatan?

Puasa berarti mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 18 jam. Dengan berpuasa organ vital ini dapat istirahat selama 14 jam.

Puasa akan mengaktifkan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan.

Namun penderita penyakit hati yang berat, seperti sirosis hati, dianjurkan untuk tidak berpuasa, karena berisiko terjadi penurunan gula darah (hipoglikemia), akibat cadangan glikogen hati sangat berkurang. Pada orang normal tidak akan menjadi masalah jika kadar gula sangat turun.

Puasa juga merupakan kesempatan menurunkan berat badan bagi yang gemuk, dengan cara tidak makan berlebihan pada waktu buka, sehabis buka dan sewaktu sahur. Kadar lemak darah, kolesterol dan trigliserida bisa berkurang karena tingkat konsumsi makanan gorengan dan bersantan berkurang.

Bagi yang hipertensi, tekanan darah dapat turun, jika selama berbuka hingga sahur tidak makan makanan yang asin-asin dan tidak lupa minum obat hipertensi pada waktu sahur.

Pada penderita diabetes (terutama yang gemuk) dengan berpuasa gula darah lebih terkontrol. Tidak semua penderita diabetes mellitus atau kencing manis aman untuk menjalankan puasa. Yang aman adalah penderita diabetes yang kadar gulanya kurang dari 200 mg/dl, dan mendapat pengobatan bentuk tablet yang diminum. Jika mendapat suntikan insulin , dosis harus kurang dari 40 unit/hari dengan 1 x suntikan per hari.

Para penderita sakit maag atau gastritis yang ringan boleh puasa, kadang-kadang keluhannya berkurang. Bila berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu apakah boleh puasa.

Kiat Berpuasa

Pertama yang harus dilakukan adalah berniat untuk berpuasa. Adanya niat akan berpengaruh kepada diri kita secara psikologis, bahwa kita pasti kuat puasa, tahan terhadap segala godaan dan akan lebih meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan.
Kita harus belajar mengendalikan nafsu, melatih kesabaran dan melatih disiplin. Hal ini akan berguna di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jangan terlalu capek. Sebaiknya kita mengurangi kegiatan-kegiatan yang kurang perlu. Karena otomatis waktu tidur kita berkurang, bila kita harus bekerja di siang hari tentu sering diserang kantuk yang hebat. Untuk itu, waktu tidur malam jangan terlalu banyak dikurangi. Usahakan untuk bisa tidur setelah makan sahur, walaupun hanya sebentar sangat membantu.

Usahakan tetap olahraga, agar aliran darah tetap lancar serta kebugaran tubuh terjaga. Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, naik sepeda, dan lain-lain. Jangan sampai mengeluarkan banyak keringat. Waktu berolahraga yang baik adalah menjelang buka puasa.

Cara Makan yang Benar

Makanlah secara teratur untuk buka puasa dan sahur dengan menu seimbang. Maksudnya adalah makanan yang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 10-20%, lemak 20-25%, cukup vitamin dan mineral dari sayur dan buah. Selain itu, cukup serat dari sayuran untuk memperlancar buang air besar.
Cukup cairan, dengan minum kurang lebih 7-8 gelas sehari. Terdiri dari 3 gelas waktu sahur dan 5 gelas dari buka sampai sebelum tidur.
Pembagian makan adalah 50% untuk berbuka, 10% setelah sholat tarawih, 40% pada waktu sahur.

Menu yang dipilih yaitu pada waktu buka, terdiri dari makanan pembuka berupa minuman manis atau makanan manis, seperti kolak pisang, kurma atau teh manis. Makanan manis mengandung karbohidrat sederhana yang akan mudah diserap dan segera menaikkan kadar gula darah. Setelah sholat magrib makan makanan pelengkap yang terdiri dari: nasi atau pengganti nasi, ayam/ikan/daging, tahu/ tempe, sayuran dan buah. Setelah tarawih dapat makan camilan berupa roti atau buah. Makan sahur harus dipentingkan, karena sahur yang baik membuat puasa tidak terasa berat.

Hidangan sahur seperti waktu buka, namun porsinya lebih kecil. Dianjurkan makan dengan kadar protein tinggi, agar meninggalkan lambung lebih lama. Selain itu pencernaan dan penyerapan juga lebih lama dibanding makanan yang kadar karbohidratnya tinggi, sehingga tidak cepat terasa lapar.

Saat makan sahur dapat ditambahkan segelas susu, terutama untuk anak-anak dan remaja. Pada orang dewasa dapat minum susu tanpa lemak. Suplemen multivitamin dan mineral boleh dikonsumsi pada waktu sahur, agar meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Apabila tidak bisa makan sahur dalam bentuk nasi, nasi boleh diganti dengan roti dan isinya atau bubur havermouth, ditambah satu gelas susu. Bila tidak bisa makan nasi atau roti, bisa minum segelas susu yang berkalori seperti Ensure, Entrasol, Peptisol, Enercal Plus, Nutren Fiber dan lain-lainnya, disertai buah.@

(Dr. Titi Sekarindah,MS., Ahli Gizi RS. Pertamina Pusat, Jakarta)

Sumber: Kompas, 01 November 2002

Marhaban Ya Ramadan ….

Setiap tahun, bulan inilah yang selalu dinantikan oleh umat muslim di dunia. Bulan yang suci nan penuh berkah: bulan Ramadan.

Ada saja yang dilakukan orang dalam menyambut bulan ini. Di antaranya tradisi bernama ”nyadran” dan ”padusan” yang dilakukan oleh orang di beberapa daerah di Jawa.

Sebenernya kami kepengen melihat acara ”padusan” itu. Tapi, setelah dipikir-pikir, apa sih, manfaatnya? Buat apa juga memaksakan diri berjubelan dengan banyak orang, hanya buat melihat orang mandi? Atau bahkan mandi? Ih, malu banget. Mending mandi sendiri aja di rumah.

Tapi, sehari sebelum lebaran tahun ini kami menyempatkan juga pulang ke Boyolali—ke tempat eyang dari pihak suamiku. Habis, kalau mau ke eyang dari aku—Cilacap—wow … jauh niaaan ….

Kami berangkat dari Solo pukul 13.00. Lagi panas-panasnya. Sesampai di Boyolali, salat, makan, kami pun nyekar. Membersihkan makam mbah buyutnya suamiku dan berdoa. Itu saja. Selanjutnya? Yah, biasa … bertualanglah kita …!

Potong Rambut

Suamiku mengajak singgah di Ary Salon, d tukang cukur langganannya. Aku dan Raia asyik meliput. Jepret sana, jepret sini. Anakku tak lupa membawa boneka kesayangannya nan dekil dan penuh jahitan ddi sana-sini, setelah mengalami putus sambung anggota badan. Lihatlah rupa boneka yang paling dicintainya itu.

Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ....
Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ….

Betapa buluknya rupanya. Tapi, meski sudah punya belasan boneka yang lain, Si Nana (dari kata ”Banana”) ini yang selalu dipeluknya ke mana-mana. Ya Tuhan, dia memang tipe setia seperti aku. Kalau sudah punya satu—meski banyak yang lain—ya tetap akan memilih yang satu itu. Hihi ….

Komidi Putar

Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.
Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.

Setelah suamiku potong rambut, Aya kian merajuk kepengen mandi bola. Apa daya, di Boyolali tak ada. Mengherankan, ya? Alasan suamiku, ”Di Boyolali banyak airya (pemandian), jadi yang ada mandi air, bukan mandi bola….” Meski jawabannya keliatan dicari-cari banget—dan anakku yang kritis tentu saja nggak serta-merta mau memercayainya—akhirnya anakku harus cukup puas main komidi putar mini, naik mainan mobil, motor, dan kuda, lalu komidi putar lagi, begitu seterusnya, sampai dia bosen banget.

Kenapa Semua Orang Hari ini Berkacamata?

Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata."Pake punyaku, Mbak, siapa tahu Mbak Indah cocok pake yang kayak gini...."
Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata. “Coba yang ini,Mbak, siapa tahu cocok buatmu,” usul Raia.

Oh ya, dalam petualangan ini, pembantuku turut serta bergabung dalam tim. Namanya Mbak Indah. Tak banyak cakap dia, tapi pengetahuan agamanya bagus, karena jebolan pondok. Nah, dia lagi kepengen beli kacamata. Awalnya karena anakku beli kacamata. Dia jadi ikut-ikutan. Buat ”nggaya-nggaya” kalau nganter Aya sekolah, katanya. Ketika dia asyik pilih-pilih kacamata, eh, suamiku ikutan tertarik juga. Jadilah ia pilih-pilih juga, dan memasangkannya padaku dan mengamat-amati.

”Keren,” komentarnya mengagumi … kacamata itu.

Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!
Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!

”Yah … seperti biasa, kalau aku tetap akan keren memakai apa pun,” sahutku kalem.

Dia pun memutuskan membeli kacamata itu setelah melihat betapa kerennya kacamata itu menempel padaku. Ah, dia selalu saja menggunakan aku sebagai parameter. Kalau keren di aku pasti apa pun akan keren jika menempel padanya. Padahal belum tentu. Karena sekali lagi, aku selalu keren memakai apa pun. Hehehe ….

Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm...
Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm…

Hmmm … setelah itu kami beli martabak telor. Dan melesat kembali ke rumah Eyang.

Bada Magrib, kami kembali ke Solo, dan bersiap menyambut ramadan esok hari.

Akhirnya….

Marhaban ya ramadan ….

Selamat menunaikan ibadah puasa ya, semuanya … semoga tahun ini bulan puasa kita lancar dan penuh berkah.Amin … amin … amin ….

Membaca Lukisan

Malam ini tim kami sudah kembali lengkap. Setelah seminggu lamanya suamiku berkeliling Jawa, kini ia sudah kembali di tengah-tengah kami. Seminggu hanya bertualang berdua dengan Raia, kini setelah ia kembali, kami kembali bertualang bertiga.

Hmmm, setelah mengalami masa-masa berat menjadi ibu sekaligus ayah (halah), kini aku kembali jadi ibu saja, dan tugas yang membebaniku mewakili sang Ayah (nganter sekolah, nganter mandi bola, jalan-jalan, pergi belanja berdua aja) kini bebanku lebih ringan. Setidaknya sudah tinggal ”nemplok” doang di belakang suami. Seminggu kemaren? Weleh …stres juga, musti bermotor sendiri. Berangkat kantor mesti lebih pagi karena aku paling nggak bisa ngebut. Takut malah mengganggu pengendara lain karena berbuat kecerobohan. Hehe ….

Nah, karena sudah full team,mulai deh, bergerilya lagi. Ternyata anakku sudah menyiapkan ide. Begitu gejluk kami tiba di rumah (pulang kantor) dia sudah menodong mau nonton pameran di TBS (Taman Budaya Surakarta).

”Kata Om Boot ada pameran di TBS,” lapornya. Om Boot—begitu julukan yang diberikan anakku kepada cowok tetanggaku—Mbak Wiwik (gila, nih cewek jagoan bener lho, setelah ditinggal sang Ibu menghadap yang kuasa, dia tinggal seorang diri di rumahnya, di samping rumahku). ”Dora, Dora (ceileh… begitulah, dia mengumpamakan dirinya adalah Dora sementara Om Sapto—cowok Tante Wiwik itu dia jadikan Boot-nya. Hihi … bisa aja dia), di TBS ada pameran,lho, gitu kata Om Boot tadi.”

Aku dan suamiku berpandangan.

”Pameran apa?”

”Ya, bolehlah ….”

”Yeeee … asyik!” anakku pun berjingkrak gembira.

Lepas salat Magrib, kami bertiga pun naik motor menuju taman budaya yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Benar saja, rupanya agenda sedang penuh. Bisa dilihat dari papan di depan TBS yang memampang dua poster besar. Ada Pameran Visual ”KOMPLIKASI” sama pentas teater ”ORDE TABUNG” yang digelar hari ini. Ah, pilih nonton pameran ajalah ….

Lalu kami pun asyik ”membaca” lukisan. Anakku sibuk berceloteh mengomentari lukisan-lukisan yang menurutnya ”lucu”, tentu saja sambil bertanya ini-itu. Kami ”berdiskusi” tentang lukisan. Apa ini apa itu, mengapa begini mengapa begitu. Ya sebisa mungkin aku menjelaskannya (maklum, hanya penikmat dan bukan ahli dalam lukisan, hehe …) Tak lupa kami mengabadikan beberapa karya yang menurut kami menarik. Sambil berdoa diam-diam, semoga kelak kami bisa mengoleksi benda-benda seni yang harganya pasti tak murah itu.

Usai menonton, suamiku yang baru pulang setelah berhari-hari berkeliling Jawa itu mengeluh capek dan badannya sakit semua.

”Beli vitamin C yang 1000mg itu, yuk,” ajaknya.

”Gimana kalau susu segar aja?” usulku.

”Oke juga, ayuk ….”

Kami pun melesat menuju sebuah warung susu segar yang terletak di belakang kampus UNS. Aku yang merasa badanku juga kurang fit pun memesan es susu sirup dan makan pisang goreng satu biji. Suamiku, pilih STMJ (ih,apa enaknya,amis banget telornya) sama … puyuh bakar. Hiiiy …. Aku menolak ketika ia menawariku. Aku tidak doyan yang aneh-aneh. Hanya karena aku bukan vegetarian aku mau makan daging ayam dan paling banter sapi, tapi tidak bagian-bagian yang ”aneh-aneh”. Daging hewan lain—kecuali ikan tentunya—selalu ”aneh” buatku.

Bismillah … mudah-mudahan ini bisa menjadi energi yang cukup buatku bekerja malam ini. Deadline terjemahan masih dua bulan, tapi aku sudah menyiakan banyak waktu dengan doing nothing minggu lalu.

Pulang dari nonton pameran, kami nge-game sebentar di laptopku. Anakku tertidur, begitupun suamiku yang tampaknya sudah sangat kecapekan. Dan aku … siap untuk kembali berkarya!

Ah, indahnya dunia ….

(birunya hatiku harus cepat berlalu ….)

Peradaban Dimulai dengan Membaca

Membaca,awal peradaban
Membaca,awal peradaban

“Iqra!”

Demikian Allah memerintahkan kepada Muhammad saw. ketika Dia menurunkan kitabnya kepada rasul terakhir itu. Penegasan perintah “iqra” atau “bacalah” dalam Al-Qur’an tidak hanya disebutkan satu kali. Dalam satu waktu dan satu kali ayat pertama diturunkan, perintah “bacalah” diulang dua kali. Dan itu terdapat dalam satu surat, yaitu Al-Alaq ayat pertama dan ketiga. Perintah Allah yang tegas itu mampu mengubah peradaban Arab jahiliah yang sebelumnya terbelakang menjadi bangsa yang jaya, tak kalah dari bangsa-bangsa lain yang telah mencapai kegemilangan peradaban sebelumnya, seperti bangsa India yang termashyur karena tradisinya membukukan dan mengoleksi kitab-kitab turats mereka, atau bangsa Yunani dengan filsafat dan mantiknya, atau bangsa Persia dengan budaya ceramah dan orasi Islamnya. (Ahmad Iman, Fajrul Islam)

Mengapa Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca?

Karena jika ia tak dapat membaca maka ia tidak bisa menyampaikan. Padahal tugasnya di muka bumi ini adalah untuk menyebarkan agama Allah dan perintah-Nya Dia sampaikan melalui tulisan. Kitabullah. Jadi jika Muhammad tak bisa membaca, bagaimana ia menyampaikan amanah itu terhadap umatnya?

Membaca adalah awal dari peradaban.  Semua tokoh terkenal di dunia mengwali karya terbaik mereka dengan membaca. Mereka membaca karya-karya terdahulu, membaca terori-teori lama untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah pemikiran dan penemuan baru yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

Bagaimana memulai budaya gemar membaca?

Usia Dini

Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Si Orok yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron.

Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka. Di Amerika buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembah anak) terbitan Sesame Street sangat digemari sebab isinya yang sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

Usia Sekolah

Novel serial “Latifah Never Gives Up” ini bergenre teenlit, kategori bacaan yang digemari anak-anak remaja.

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Dengan diadakannya Proyek-proyek pengadaan buku bacaan di sekolah, maka semakin banyak pula bahan bacaan bagi anak sekolah.

 

Pada usia sekolah ini, buku yang paling sering dijamah selain buku pelajaran adalah buku komik dan buku-buku fiksi ringan, semacam teenlit. Bahkan bila mereka ditanya asyik mana membaca buku pelajaran dengan komik atau teenlit, mereka akan menjawab serempak komik dan teenlit.

 

Selain buku, perpustakaan sekolah pun menjadi sarana yang perlu mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Ia seolah jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity). Bahkan karena pentingnya perpustakaan pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

ujNamun apabila kita menengok kondisi perpustakaan sekolah kita, maka akan banyak mengundang keprihatinan karena selain miskin koleksi pustaka, juga kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku dari pada perpustakaan sekolah. Oleh karenanya tuan perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca tidak bisa terwujud. Bahkan dengan nada yang agak pesimis, seorang pakar pendidikan, J. Drost, SJ mengatakan, sekolah tak bisa diandalkan untuk menanamkan gemar membaca.

Memang bila kita mengamati kondisi perpustakaan di sekolah akan menjumpai hal-hal berikut.

Pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Masih banyak terlihat ruang-ruang perpustakaan yang tidak terpelihara, buku-buku tidak tertata baik dan terlihat kumuh. Kondisi seperti ini tentu berdampak negatif terhadap minat siswa untuk mau membaca. Masih banyak kepala sekolah yang kurang berminat menyisihkan dana anggaran untuk keperluan pengadaan buku atau tambahan buku baru.

Kedua, kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka pada saat jam istirahat selama 15 menit sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya cukup untuk membuka-buka lembaran gambar di majalah. Sedang jam khusus untuk membaca di perpustakaan jarang ada di sekolah atau tidak ada sama sekali.

Ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustaaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Di Jepang sejak 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka mengembangkan system distribusi buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Bagi mereka yang tidak bersekolah karena alasan prinsip tidak punya biaya seperti yang dialami anak-anak jalanan serta bagi anak-anak usia sekolah di luar jam sekolah perlu dipikirkan bagaimana mengatasinya.

Pemerintah perlu memperbanyak armada mobil perpustakaan keliling ke kampung-kampung. Selain itu perlu menggalang kerja sama dan menggugah kesadaran masyarakat untuk membuat taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa yayasan yang menyelenggarakan taman bacaan untuk anak-anak di daerah pinggiran semacam: Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta, Taman Bacaan milik yayasan artis Yessy Gusman perlu mendapat dukungan semua pihak berupa materi maupun nonmateri.

Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa tentu saja lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku dll. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat dll.

Hal ini tentu akan berkembang lebih cepat apabila pemerintah mau memberikan kemudahan-kemudahan pada penerbit berupa harga bahan kertas yang murah, atau pemberian kredit lunak bagi penerbit yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat bawah.

Membaca tak dapat dilepaskan dengan menulis. Karena membacalah kita dapat menulis. Oleh karena itu, lomba-lomba penulisan buku bacaan sebaiknya diperbanyak dengan hadiah yang lebih menarik. Bukan tidak mungkin, dapat dikonsep seperti dalam acara kuis-kuis yang hampir tiap hari diadakan oleh beberapa stasiun TV swasta dengan menggandeng perusahaan-perusahaan nasional dan multi nasional. Dengan kegiatan tersebut niscaya akan bertambah penulis-penulis yang semakin andal.

 

(dari berbagai sumber)