Gonjang-Ganjing Awal Tahun Itu….

coffee_computer3Bermula dari iseng buka blog teman-teman (duh, pada rajin apdet!), akhirnya pulang ke blog sendiri. Bener-bener ya, males banget aku ini! Posting terakhir empat bulan lalu! Eh, masih mending sih ketimbang tahun lalu yang vakum setahunan, hihi.

Jadi, mau nulis apa, ya? Banyak sih yang terjadi di empat bulan terakhir.

Yang jelas, awal tahun 2013 ini bukan permulaan yang cukup mulus. Persoalan ART yang resign, bikin kelabakan dan membuat jadwalku superkacau. Rumah berantakan dan kerjaan keteteran, karena aku fokus ngurus keperluan Raia dan Keyra–yang masih bayi.

Proses pergantian dari ART lama ke ART baru  juga sangat menguras tenaga dan emosi. Tsah.

ART baru dari audisi pertama membuatku naik darah hampir tiap hari. Gimana enggak, hobinya bolos, sodara-sodara! Sehari masuk-sehari enggak, dua hari masuk-tiga hari enggak, tiga hari masuk-seminggu absen! Gimana enggak cekot-cekot? Mana saat itu deadline2 kerjaan sudah dekat sejak ART lama resign. Tobat!

Akhirnya audisi ART kedua dilakukan. Dan ini makan waktu pula. Susah zaman sekarang, nyari ART. Jangankan yang 24 jam, yang enggak tidur dalem pun susah dicari. Kebanyakan lebih pilih kerja di pabrik!

Jadi, agar aku bisa konsen menyelesaikan pekerjaan, Key dititipkan di rumah mertua—yang jaraknya menempuh hampir sejam perjalanan. Pagi dibawa ayahnya, sore baru pulang saat ayahnya pulang kerja. Kadang malah malem. Itu bikin kondisi dia drop. Ditambah lagi seneng-senengnya bereksplorasi memasukkan benda ke mulut, dia pun kena disentri. Sedih. Lalu mencoba abai pada pekerjaan (dan membuatku kembali meminta perpanjangan tenggat dan jadi sangat tidak profesional) dan memusatkan perhatianku pada kesembuhan Key dan pemulihan kondisinya.

Praktis dua bulanan, hidupku kacau gara-gara ART. Sungguh tidak keren, bukan?

Alhamdulillah kemudian aku dapat ART yang baik. Ibu-ibu paruh baya, enggak bolosan, terampil megang anak kecil, dan rumah pun menjadi cukup rapi. Aku bisa konsen kembali ke pekerjaan, dan hidup pun perlahan kembali normal.

Lalu Tuhan pun memberikan penghiburan. Di saat pikiran kembali jernih, kreativitas membebaskan dirinya. Di sela kerja, aku masih bisa nulis untuk ikut dalam lomba novel Wanita dalam Cerita-nya Bentang. Rampung di malam menjelang deadline, novel berjudul One and Only lolos dalam 18 besar dan menjadi juara 2. Alhamdulillah….

Akhirnya setelah Cinta dalam Belanga di tahun 2009, aku mau punya buku lagi! Yeay! 😀

Enam Bulan, Keyra Shifa Adinda

key lahirHari ini, tepat enam bulan lalu.

Klimaks. Hiperemesis yang jauh lebih parah dari saat hamil Raia, prediksi SPOG yang meleset begitu jauh, sampai malam itu (04/07/12) mencapai puncaknya dengan air yang terus-menerus keluar. Kondisi ini, belakangan kuketahui sebagai “kembar air” atau polihidramnion.

Tengah malam, ketuban mulai pecah. Kami lari ke bidan terdekat, dan ternyata belum ada pembukaan. Bidan merujuk ke klinik SPOG yang menanganiku. Subuh2, cairan kembali keluar deras. Panik. Takut. Gugup. Dalam perjalanan menuju klinik, air terus-menerus keluar, begitupun setiba di klinik. Dokter mengultimatum: caesar atau dipacu. Pilihan yang sama-sama sulitnya. Terus terang, aku parno kalo harus operasi. Terpikir, bagaimana kalau setelah dibius, aku tidak bangun lagi? 😀

Akhirnya, aku memutuskan dipacu.

Obat disuntikkan dalam infus. Menit demi menit berlalu. Kontraksi makin cepat dan membuatku menggigil. Tepat zuhur, aku dipindah ke ruang bersalin, dan setengah jam kemudian, pada 5 Juli 2012, keluarlah bayi mungil cantik itu.

Hal pertama yang mencolok, adalah rambut yang lebat, dan setelah itu, jemarinya yang lentik. Jari-jari kaki dan tangannya langsing dan panjang2. 😀

Enam bulan persis dia hari ini. Sudah mulai makan. Makin aktif. Tambah ceriwis. Dan banyak tertawa. Sehat dan terus bahagia, ya, Nak. Bunda sayang kamu.

IMG_0022

‘Juara’, Artinya Bagi Seorang Anak

Pernah menghadapi anak yang kalah dalam berlomba? Bagaimana perasaan Anda sebagai orang tua? Dan bagaimana cara Anda memberikan pengertian kepadanya?

Saya mungkin bukan bunda yang cukup pintar menjelaskan kepada anak saya, apa arti ‘juara’ yang sesungguhnya. Saya sendiri sering kali mengalami kekalahan, dan saya tahu rasanya pahit. Bukan hanya kalah dalam lomba, tetapi lebih pada kehidupan.

Saya sangat paham bagaimana perasaan Raia, anak saya, ketika kalah dalam berlomba. Puncaknya, adalah saat ia kalah dalam lomba Menceritakan Gambar, beberapa waktu lalu dalam peringatan hari anak nasional.

Ia telah berlatih dengan keras di rumah. Kami membahas konsep gambar yang akan dibuatnya, kami berdiskusi seru tentang cerita yang akan dikembangkan dari gambar tersebut. Pendeknya, ia sangat bersungguh-sungguh berlatih, demi menjadi juara. Ia menginginkan piala. Di rumah sudah ada beberapa piala hasil lomba, tetapi rata-rata adalah lomba kelompok. Satu-satunya piala yang diraihnya secara tunggal, adalah piala yang didapatkannya saat balita, dalam lomba berjalan. 😀

Saat hari lomba tiba, saya melihat ia tampil cukup meyakinkan. Sementara anak-anak seusianya (TK), tampil dengan malu-malu, harus dipancing untuk berbicara, Raia cukup lancar dalam menceritakan gambarnya. Saya cukup optimis ia bisa menjadi salah satu juara, setelah memetakan kekuatan ia di antara para peserta lainnya. Begitu pula penonton yang ada saat lomba. Mereka memberikan aplaus yang istimewa begitu Raia selesai menceritakan gambarnya. Harapan Raia pun membuncah. Ia tersulut keyakinan yang sama dengan saya.

Ternyata, sama sekali tak dinyana, ia tidak masuk dalam enam juara yang diambil. Saya tercengang, dan dia terpukul. Rasanya begitu nyeri melihat dia menangis sesenggukan. Biar bagaimanapun, saya merasa sangat bersalah. Saya mengoreksi diri. Apakah saya menanamkan harapan yang terlalu besar dalam dirinya? Apakah saya melakukan kekeliruan dalam memberikan dorongan kepadanya? Sungguh, waktu itu saya tidak bisa bicara apa-apa selain hanya memeluk dan mengelus-elus punggungnya.

Bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menghiburnya, saya mengajak Raia jalan-jalan ke tempat bermain. Dalam beberapa hal, ia sangat mirip dengan saya, terutama saat sedang sedih. Saya memerlukan waktu yang cukup lama sampai kesedihan saya pulih. Ia memerlukan waktu.

Setelah ia sedikit lupa dengan kesedihannya, saya mengajaknya makan. Dan di sanalah saya berusaha mengajaknya bicara. Saya berusaha memberikan pengertian kepadanya tentang menang-kalah.

Saya ilustrasikan kepadanya bahwa saya juga sering mengalami kekalahan dalam lomba. Saya katakan kepadanya bahwa kita harus banyak berlatih untuk bisa berhasil. Saya tekankan kepadanya bahwa kita tidak boleh mudah menyerah. Menang-kalah dalam suatu perlombaan, adalah hal yang biasa. Di atas langit masih ada langit. Yang harus kita lakukan, adalah bagaimana bisa mencapai langit yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.

“Aku juga sering ikut lomba mewarnai dan nggak pernah menang,” ia masih murung. “Temanku menang terus. Itu kan nggak adil, Bunda.”

“Nak, orang punya kelebihan masing-masing. Mungkin Ana pintar mewarnai, Lusi pintar menyanyi, kamu juga pintar dalam hal yang lain. Kita cuma belum menemukan di mana kelebihanmu. Pelan-pelan, pasti akan ketemu.”

Sesungguhnya, pada saat itu hati saya sedang berperang. Lalu, bagaimana kalau ia tampil bagus dalam lomba barusan, dan ternyata masih juga tidak menang? Di mana letak kesalahannya?

“Dalam lomba tadi, mungkin gambar juga termasuk yang dinilai juri,” saya melajutkan. “Kalau dalam hal bercerita, kamu memang paling bagus, tapi gambarmu, mungkin masih kalah dengan yang lain. Bunda tahu, kamu pintar bercerita. Mungkin suatu saat nanti kau bisa jadi pencerita, jadi penulis. Kita akan berlatih terus. Oke?”

Pelan-pelan, dia mengangguk.

Terakhir, saya peluk dia dan saya bisikkan di telinganya, “Kalah atau menang kamu dalam lomba tadi, yang penting kamu sudah berusaha dengan keras. Dan itu pasti nggak sia-sia. Buat bunda, kamu juara. Kamu selalu jadi juara di hati Bunda.”

Dan seperti halnya saya, Raia juga butuh berkali-kali diyakinkan.

Ketika ia mengalami kekalahan lagi di lomba berikutnya, ia mulai dapat menerimanya dengan lapang dada. Ia tetap saja sedih, tetapi ia mencari kekuatan dari penghiburan saya. Dan saya, tidak lelah untuk terus memberikan pengertian kepadanya.

“Sabar, Sayang. Semua ada waktunya.”

Intermezo Saat Rehat Kerja

Seperti biasa, aku rehat kerja pada pukul dua belas (atau setelah menjemput Raia di sekolah) sampai pukul satu. Khusus di hari Jumat, lebih awal, yaitu pukul setengah dua belas sampai pukul satu. Biasanya di rehat kerja aku melakukan fun internet–menggunakan internet hanya untuk senang-senang. Baca gosip selebritis, kelayapan ke jejaring sosial, chatting santai, pokoknya yang tidak ada kaitannya dengan kerjaan. Raia biasa mengunjungiku di jam-jam ini. Hari ini juga begitu. Dia naik ke ruang kerjaku sambil memawa dua biji onde-onde kumbu (onde-onde kering yang bentuknya merekah) yang bentuknya agak besar.
“Ibu …, ini satu buat Ibu!” katanya riang.
Aku yang belum sempat makan siang girang menyambutnya. Ia memberikan sebiji kepadaku, dan satu lagi kepunyaannya diletakkan di atas kertas di samping meja komputerku.
“Makasih, yaaa …,” ucapku.
“Sama-sama …. Bentar, ya, aku mau turun dulu.”
Aku tidak tahu dan tidak menanyakan untuk apa dia turun. Aku masih asik ber-fun internet ria sambil makan onde-onde dengan lahapnya. Aku membaca situs gosip seleb. Ada Saipul Jamil gendong Dewi Persik (so what gitu, loh….tapi kubaca juga, hihihi…), tentang Happy Salma, tentang Joy Tobing, tentang Beyonce. Begitu khidmatnya aku membaca, tanpa terasa onde-onde di tanganku pun tandas. Sambil ngakak saat baca gosip tentang Si Persik, tanpa sadar tanganku menyambar onde-onde di meja. Nyam nyam nyam …. Ludes!
Aku masih belum tersadar sampai Raia muncul kembali di pintu ruang kerjaku.
“Ibu, mana onde-ondeku?”
Hladalah!
Tawaku langsung lenyap. Mukaku langsung pucat.
“Waduh …”
Hanya itu yang terucap oleh mulutku.
“Ibu makan, ya?” Raia sudah ancang-ancang menangis.
“Heheee … iya, Nak. Maaf……… Nggak sengajaaaa ….”
Huaaaaa…..!!!
Buseeet … kenceng amat tangisnya.
Demi menebus kesalahan, jam istirahat pun kutuntaskan untuk membujuk Raia dan mengantarnya ke warung untuk beli onde-onde lagi, sepuluh biji!  Masih lagi, ditambah dia minta ini-itu. Alamaaak …! Tekor gue!

Fyuh….
Ternyata, ngenet sambil ngemil itu tidak baik buat anak-anak. Juga buat kantong kita.
*lemes*

Tragedi Tangan si Banana

Raia dan Nana
Raia dan Nana

Raia punya sebuah boneka yang sangat ia sayangi. Boneka berbentuk pisang yg kami beri nama Banana,atau biasa dipanggilnya dengan sebutan Nana. Boneka ini adalah hadiah ulang tahun pertamanya.

Raia cinta mati pada boneka ini. Bahkan, Nana tak boleh dicuci karena ia tak mau bonekanya dijemur, yg artinya mereka harus berpisah sementara. Pernah aku berhasil membujuknya untuk memasukkan Nana ke laundry. Tapi ketika meninggalkan laundry, dia menangis tersedu-sedu dan minta Nana diambil lagi.

Keberadaan Nana benar2 tak tergantikan. Tak jarang kami membelikannya boneka baru, tapi rupanya Raia tetap tak mau berpaling. Ya, ia memang suka dengan boneka2nya yang lain, tapi ketika tidur, selalu Nana yg dicarinya.

Tak kurang akal, kami membelikannya boneka pisang yang baru, dengan ukuran yang lebih kecil ketimbang Nana. Tapi, kendati Nana kecil ini pun disayanginya,tetap saja Nana besar yang dipilihnya. Setelah kami beli mesin cuci–karena sempat kehilangan pembantu dan bertekat tak cari pembantu lagi, tapi tak jadi karena tak tahan capeknya :p–persoalan dekil dan baunya Nana bisa diatasi. Tapi, persoalan kian menuanya Nana tak dapat ditanggulangi. Anggota tubuhnya mulai rapuh di sana-sini. Mula2 tangannya lepas, lalu kakinya, yang kemudian dijahit pembantuku. Bentuk Nana pun jd tak keruan. Penuh jahitan di sana-sini.

Baru2 ini tragedi lepasnya anggota badan itu terjadi lagi. Tangan kanan Nana lepas lagi. Tapi, yang lucu, kali ini Raia merasa perlu tangannya saja, karena apa? Karena tiap malam, saat berangkat tidur dengan mendekap Nana, tangan itu ia gunakan untuk mengelus-elus pipinya sendiri.

Suatu ketika, tangan Nana hilang. Ia sedih sekali. Aku merasa bersalah, karena terakhir kali, ia menitipkannya di tasku. Kami pun dibikin kelabakan mencarinya. Bersyukur sekali karena tangan itu akhirnya ditemukan. Kini, Raia kembali tidur dengan bahagia, sambil mendekap tangan Nana.

Terbetik trenyuh di hatiku. Kecintaan Raia terhadap Nana, membuatku merenung.
Jika kita mencintai seseorang, sanggupkah kita selalu setia?
Dan sakit atau menuanya raga, dapatkah membuat kita tetap mencintainya?

Edukasi Seks untuk Anak

Edukasi Seks buat Anak-Anak”Bu, aku gemeeesss … banget sama Rafi. Kalau aku gemes nanti aku cium, deh, Rafi….”

Hladalah!

Aku terkejut-kejut mendengar lontaran polos Raia suatu sore kepadaku. Dia sedang bercerita tentang seorang teman sekolahnya yang bernama Rafi. Di antara teman-temannya, si Rafi ini adalah salah satu anak yang akrab dengannya. Mereka kerap bermain bersama.

Ungkapan itu, tentang kegemasan yang diwujudkan dalam bentuk ciuman, memang kerap kali kulontarkan kepadanya. Dia men-copy sama persis. Ketika kami bercanda,dan diakhiri kegemasanku pada kelucuannya maka aku melontarkan kata-kata itu, ”Ibu gemeeessss… banget sama kamu. Tak cium kamu nanti….”

He… aku jadi nyengir mengingatnya. Ya, ya. akulah yang “mengajarkan” kepadanya bahwa kegemasan itu dapat diwujudkan dengan perlakuan mencium. Tapi, olala, aku tidak pernah menyarankan bahwa ia melakukannya kepada teman-temannya,apalagi teman laki-laki ….

Ketika kubaca-baca artikel tentang seks edukasi, aku menemukan bahwa pelajaran seks memang harus dikenalkan sedari dini, sejak usia empat tahun. Makin dini kita mengenalkannya kepada anak-anak kita maka sejak dini pun ia akan memiliki pertahanan yang kuat sehingga meminimalkan bahaya yang mungkin dapat timbul dari aktivitas tersebut. Karena anak-anak memang belum menyadari bahwa aktivitas tersebut dapat berdampak terhadap diri mereka.

Bagi sebagian orang, arti kata seks  cenderung diasosiasikan dan dihubungkan dengan aktivitas seksual seperti berhubungan intim, kissing, dan sebagainya. Padahal,  seks memiliki arti yang lebih luas  yaitu kelamin,  tidak sekadar aktivitas seksual.

Mengajarkan pendidikan seks pada anak–anak, khususnya  pada anak balita (bawah lima tahun) memang bukanlah hal yang mudah. Ada  beberapa hal yang perlu  dicermati :
Pertama, pemahaman  dan cara berpikir mereka masih sangat sederhana dan perlu hal yang konkrit atau nyata  bagi  anak untuk memahami suatu informasi. Kedua,  budaya atau kebiasaan kita sebagai orang timur masih menganggap tabu hal-hal yang berbau seks. Dikhawatirkan, lingkungan akan merespons secara reaktif jika anak bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan tentang seks.

Banyak orang tua yang mendapatkan informasi bahwa pendidikan seks  perlu diajarkan kepada putra-putrinya sejak dini. Namun, mereka mengalami kebingungan, bagaimana  mereka harus mengenalkan seks pada putra-putrinya  dan sejauh mana mereka boleh mengenalkan seks?
Disadari atau tidak, sebenarnya kita telah mengajarkan pendidikan seks pada anak-anak kita. Pengetahuan awal yang diperoleh anak mengenai seks adalah  tentang jenis kelaminnya sendiri. Misalnya mama, nenek dan bude adalah perempuan, sedangkan kakak iwan, papa, dan pakde adalah laki-laki. Setelah itu peran seks antara laki-laki dan perempuan mulai dikenalkan. Bertambahnya usia anak, rasa ingin tahunya juga semakin berkembang. Mereka mulai menanyakan kenapa dada ibunya lebih menonjol dari ayahnya, kenapa Ibunya mengalami menstruasi setiap bulannya dan sebagainya.

Berikut adalah tips-tips mengenalkan seks pada balita anda. Pengenalan seks hendaknya dilakukan secara bertahap, mulai dari yang paling sederhana sampai yang lebih rumit. Biasanya, (1) pengenalan seks dimulai dengan mengenal perbedaan  jenis kelamin. Ayah adalah laki-laki, ibu adalah perempuan. Kemudian, (2) dijelaskan, perbedaan peran tentang anak laki-laki dan anak perempuan, misalnya, yang dapat melahirkan  anak perempuan. (3) Jika ingin mengajarkan anatomi  dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari mereka, misalnya saat mandi dijelaskan anggota tubuhnya. Saat ibu mengalami menstruasi  dijelaskan bahwa kebanyakan perempuan akan mengalami menstruasi dan apa yang akan dilakukan kalau sedang menstruasi. Pada anak laki-laki akan tumbuh bulu, kumis, dan sebagainya. (4) Jangan lupa untuk mengenalkan bahaya terhadap seks dan norma-norma yang berlaku. Misalnya, tidak diperkenankan untuk mencium atau memeluk semua orang,hanya orang-orang tertentu yang boleh dan tidak boleh menyingkapkan gaun. Tidak boleh manbiarkan orang lain menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu, misalnya dada atau kemaluanan,dan sebagainya. Alasan melarang juga dikemukakan dengan alasan logis dan dapat diterima oleh anak.

Kepada Raia, akhirnya, aku mencoba menjelaskan dengan bahasa yang dapat diterima oleh logika kanak-kanaknya, bahwa gemas tidak harus diungkapkan dengan tindakan mencium, apalagi mencium teman, terutama anak laki-laki.

Kita hanya boleh mencium anggota keluarga kita. Teman (aku lalu tidak mengkhususkan teman laki-laki saja, karena khawatir akan membingungkan buatnya), tidak perlu ….

Terus terang, aku juga bingung untuk menjelaskan. Namun, asalkan kulihat dia paham dengan penjelasanku, dan kami bersepakat tentang suatu aturan, aku yakin pemahamanku akan dapat dia cerna dan dia laksanakan. Berhadapan dengan anak kritis, memang gampang-gampang susah. Hahaha ….

Yah,menjadi orang tua tidaklah mudah. Terutama yang memiliki anak perempuan. Bagaimana tidak, menjada anakperempuan berlipat lebih sulit dibandingkan dengan anak lelaki. Kita harus mengajarkan kepadanya untuk dapat menjaga diri mereka, dengan anatomi tubuh yang rentan terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan dari aktivitas bernama seks. Akan tetapi,jika sejak dini kita dapat mengantisipasinya, insya Allah anak kita akan memiliki perlindungan yang kuat terhadap diri mereka. Amin ….

(Plus referensi dari berbagai sumber)