Mindfulness: Mari Temukan Kebahagiaan, Meski dalam Kepiluan Hidup

IMG-20190307-WA0006Judul: Mindfulness
Penulis: Septy Probowati
Penerbit: Stiletto Indie Book
Tahun Terbit: Desember 2018
Tebal: XIV + 118 hlm.
ISBN: 978-602-336-845-7

Sungguh tak mudah menerima kenyataan bahwa di suatu fase perjalanan hidup kita, kita harus mendengar vonis dokter bahwa dalam diri kita, bersemayam penyakit ganas. Penyakit yang akan terus menggerogoti tubuh kita, dan kita akan dipaksa berteman dengannya, hingga maut menjemput. Lalu bagaimana dengan orangtua kita, pendamping hidup kita, bahkan anak-anak kita?

Betapa hancurnya hati Bela manakala dokter mengucapkan vonis itu kepadanya. Bahwa ia terkena kanker payudara stadium IV dan menyuruhnya untuk segera menjalani operasi. Bela tak percaya dan mendesak sang Dokter melakukan pemeriksaan ulang dengan alat mamografi, barangkali diagnosis itu bisa berubah. Tetapi, dokter dengan tegas menyatakan bahwa itu tidak perlu. Dari bentuk payudara Bela, sudah jelas terlihat bahwa itu adalah kanker.

Pembaca dibuat merinding dengan penggambaran penulis tentang gejolak emosi yang dirasakan Bela.

Aku keluar dari ruang dokter dengan perasaan hancur. Hidupku tak lama lagi. Itulah yang kurasakan. Terbayang wajah anak-anakku yang masih kecil. Bagaimana nasib mereka? Aku ingin menangis tapi tak bisa.

Aku ingin segera pulang. Aku ingin tidur, dan berharap ketika bangun semua ini hanyalah mimpi. Suamiku hanya bisa memelukku. Mungkin dia juga tak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya beristigfar terus-menerus. Kami tenggelam dalam pilu yang tak tertahankan.

Bela mengalami fase denial  setelah itu. Ia terus menyalahkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya karena membuatnya terlambat mengetahui bahwa apa yang dialaminya adalah kanker yang ganas. Ia tenggelam dalam keterpurukan. Terus menangis dan mengalami sulit tidur.

Sampai kemudian ia bertemu dengan sahabatnya—mantan teman SMA yang telah menjadi dokter kecantikan, bernama Setyawan. Seorang dokter sukses, yang ternyata memiliki kelainan, seorang LGBT. Setyawan memberinya sebuah catatan pribadi. Dalam catatan itu, terdapat tulisan yang berjudul “Mindfulness”.

Catatan itu menggugah sisi kesadaran Bela, hingga ia memutuskan untuk berdamai dengan dirinya, berusaha menjalani hari-harinya dengan sikap positif, dan membangun kekuatan untuk meng hadapi sakitnya. Dengan dukungan orangtua, suami, anak-anak, serta para sahabatnya, Bela pun berusaha berdiri dengan tegak. Lalu, dengan dorongan dari sahabatnya pula, ia memutuskan untuk menulis kisah hidupnya, dengan keyakinan bahwa menulis adalah salah satu terapi yang akan dapat menyembuhkannya.

Buku mungil ini sungguh menginspirasi. Saya sendiri pun sempat tertampar dengan ketangguhan Bela. Dengan sakit yang dideritanya, ia begitu tangguh dan positif menjalani hidupnya. Saya? Kadang persoalan remeh-temeh, yang tak sebanding dengan apa yang dihadapi Bela, membuat saya menggalau berhari-hari. Saya sepakat pada satu pernyataan di novel ini, bahwa sesungguhnya setiap kita akan mendapat ujian. Dan apa pun itu, hanyalah cara Tuhan untuk menjadikan manusia yang lebih baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s