Dipecah atau Digabung?

Saya punya kebiasaan menerjemahkan dengan memilah bab dan menyimpannya dalam pecahan-pecahan file, karena membuat saya lebih dapat berkonsentrasi pada materi yang sedang saya hadapi. Saya acap terganggu saat melihat sisa terjemahan yang masih banyak. Bisa bikin panik. Setelah selesai seluruh bab, saya satukan kembali dalam satu file untuk dikirimkan ke penerbit. Selama ini baik-baik saja. Namun, di saat terakhir, saya mengalami insiden terlewat dua bab. Haduh, malu. Ternyata cara ini cukup berisiko jika konsentrasi sedang tidak terlalu baik.

Dulu, di awal-awal menjadi penerjemah lepas, saya pernah mengirimkan file per tiga bab pada suatu penerbit, tetapi penerbit itu meminta satu file utuh, dan sejak itu saya selalu mengompilasi file terjemahan sebelum dikirimkan, sampai sekarang. Ternyata, mengingat risiko siwer, sepertinya mengirim kerjaan dengan file terpisah-pisah lebih aman, karena cepat lebih cepat terdeteksi jika ada yang kurang. Yang pasti, kalau mau mengompilasi, kudu benar-benar jeli dan dalam kondisi tidak mengantuk.πŸ˜€

Nah, agar tidak mengantuk, mari kita ngopi. :D*OOT coffee

7 thoughts on “Dipecah atau Digabung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s