The Queen Must Die, Petualangan Fantasi yang Pertama

The Queen Must Die

Salah satu mimpi saya sebagai penerjemah buku adalah menerjemahkan novel bergenre fantasi. Maka, ketika Metamind (Tiga Serangkai) menyodorkan buku ini, bukan kepalang gembiranya hati saya.

Judulnya, The Queen Must Die, ditulis oleh K.A.S. Quinn.

Saya punya kecenderungan tidak dapat melogika sesuatu yang di luar jangkauan logika. Misalnya, saya tidak terlalu percaya pada hal-hal yang berbau mistis, tentang makhluk gaib, dan sejenisnya (meski beberapa kali saya pernah mengalami peristiwa yang mungkin mistis). Jadi, awalnya saya kurang dapat menikmati cerita-cerita fantasi. Ini berkebalikan dengan suami saya. Suami saya adalah pelahap buku-buku fantasi. Saya diuntungkan, karena bisa nebeng baca. Dari sana, saya yang awalnya tidak dapat menikmati cerita fantasi, mulai tertarik. Saya kagum dengan penerjemah fantasi yang dapat menangkap gagasan khayali penulis yang sering kali terlalu liar buat saya, dan menuangkannya kembali dengan menakjubkan.

Meski bergenre fantasi, The Queen Must Die masih cukup mudah dipahami. Tokoh sentralnya adalah Katie Berger-Jones-Burg, seorang anak sepuluhan tahun yang memiliki kehidupan unik. Ia penyendiri, kutu buku, dan memiliki ibu yang suka bergonta-ganti suami. Itulah mengapa nama belakangnya menjadi begitu panjang.

Katie adalah sosok remaja yang kesepian. Ia digambarkan tidak memiliki banyak teman. Sahabat terdekatnya adalah buku, dan teman kesehariannya adalah Dolores, pengurus rumah tangga yang penggemar opera sabun.

Di liang persembunyiannya, di perpustakaan kolong tempat tidurnya, Katie mengalami peristiwa yang aneh. Ia berpindah istana Buckingham, di zaman Ratu Victoria, abad 18. Di sinilah Katie memulai petualangannya. Katie bertemu dengan putri kerajaan Inggris, Alice, yang sebelumnya ia baca dari bukunya di kolong tempat tidur. Bersama James, anak dokter Kerajaan, Alice sepakat untuk mengembalikan Katie ke dunianya yang sebenarnya. Sementara  mencari jalan keluar, mereka berusaha mencegah kelompok pemberontak yang berencana membunuh Ratu Inggris.

K.A.S Quinn ini luar biasa. Ia sangat mahir mengaduk-aduk perasaan. Ia cukup jeli membidik persoalan psikologi dan sosial. Saya cukup sedih ketika membaca Katie yang kesepian. Ia menjadi terlalu akrab dengan dunia asing yang diciptakannya sendiri. Ia menganggap dirinya suda hampir gila, ketika mengalami ‘penglihatan-penglihatan’, sebelum terdampar di Istana Buckingham. Saya tertegun membaca tentang apatisme Du Quelle, salah satu tokoh sentral dalam novel, terhadap masa depan.

“Aids,” DuQuelle berkata. “Aku tahu kau mengenal kata ini. Semuanya benar, sayangku. Mari kita coba kata-kata lain. Pemanasan global, fanatisme, terorisme, kelaparan, senjata pemusnah masal, potensi nuklir….”

“Aku telah mengenal banyak kata, Katie, tapi hal-hal yang kau sebutkan tadi tidak ada. Kau melewati batas dengan menciptakan sesuatu yang terlalu indah dan terlalu sempurna. Kau datang dari masa dengan masyarakatnya yang paling rakus, egois, dan brutal. Pembawa perdamaian? Kau dan orang-orangmulah yang menanam benih kehancuran!”

Saya juga mengagumi selera humor Quinn yang sering kali terlihat dalam novel ini. Misalnya saja, ketika ia mendeskripsikan ayah Katie, Si Berger dalam rentetan Berger-Jones-Burg di belakang nama Katie.
“Kami menikah muda. Sangat muda,” kata Mimi sambil memperlihatkan foto mereka berdua dalam sebuah festival musik rok. Danny menatap mesra kepada Mimi, sementara Mimi menatap mesra ke arah kamera.
Saya terkikik membaca kalimat yang kedua. Membayangkan visualisasinya yang kocak.

Saya mendapatkan ilmu-ilmu baru saat menerjemahkan buku ini. Saya harus berkenalan dengan bahasa Jerman, karena ada beberapa istilah atau dialog yang menggunakan bahasa Jerman. Saya jadi tahu mengapa Raja Ethelbert mendapat julukan The Unready. Saya juga menemukan bahwa ada ilmu memahami karakter manusia dari bentuk tengkoraknya, yang bernama frenologi.

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya diberi kabar bahwa buku ini nongkrong di rak best seller di beberapa toko buku.

8 thoughts on “The Queen Must Die, Petualangan Fantasi yang Pertama

  1. Aku baru ngeh bahwa umurnya 15 tahun:D Di bayanganku 10 tahunan. Terlalu terpaku cover mungkin ya, hihihi…
    Selamat D, semoga makin banyak fantasi yang lahir dari kolaborasi netbook dan kamus-kamusmu.:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s