Gadis Korek Api, dan Proses Kreatif H.C. Andersen yang Bermula dari Kemiskinan

Siapa yang tak mengenal nama H.C. Andersen? Di era tahun 80-an, saat kita belum banyak mengenal film kartun dan animasi dunia, dongeng-dongeng H.C. Andersen akrab dengan kita melalui film di televisi, bacaan, juga kaset sanggar cerita.

Hans Christian Andersen, begitu nama panjangnya, adalah bapak dongeng dunia. Andersen terlahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805.  Ia berasal dari sebuah keluarga miskin. Ayahnya adalah seorang tukang sepatu, dan ibunya adalah buruh cuci.

Sedari kecil, ibu Andersen telah memperkenalkannya dengan cerita-cerita rakyat. Ia juga akrab dengan pertunjukan sandiwara. Ayahnya adalah seorang pecinta sastra. Ia acap mengajak Andersen menonton pertunjukan sandiwara. Sosok ayah ini begitu lekat dalam diri Andersen. Dalam otobiografinya yang berjudul The Story of My Life, Andersen menulis:

“Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu”.

Andersen mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupnya.  Tak heran, beberapa karyanya bernuansa kelam dan tragis, begitu pula dongeng-dongengnya.

Dongeng-dongeng H.C. Andersen telah berkembang dalam berbagai versinya. Kebetulan, Dongeng Gadis Korek Api dan Dongeng-Dongeng Lainnya yang diterbitkan oleh Penerbit Atria ini, termasuk versi panjangnya.

Dalam berbagai versi lain yang saya baca, dongeng Andersen disajikan dalam format yang lebih ngepop dan sederhana. Namun, dalam buku yang saya temui ini, kemasannya klasik dengan bahasa yang cukup nyastra.  Kekhasan naskah klasik antara lain adalah kalimat-kalimatnya yang panjang sehingga rawan menimbulkan kejenuhan pembaca. Kadang, saya terpaksa memecah kalimat yang panjang agar tidak menimbulkan kejenuhan tersebut. Di sisi lain, saya juga harus memilih kata yang tidak meninggalkan kesan klasik dan nyastra-nya. Thanks to Jia Effendi, Mbak Editor, karena dengan sentuhannya, buku ini menjadi jauh lebih rapi dan lebih enak dibaca.

Ada sepuluh dongeng di dalam buku ini, yaitu: Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju, Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan dan yang terakhir Anak Itik Buruk Rupa.

Ada dongeng-dongeng yang jauh lebih panjang dari yang lain, antara lain Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Ratu Salju, dan Kisah Rembulan . Dan dari semua kisah yang pernah saya baca dalam berbagai versinya, satu-satunya yang belum pernah saya baca adalah Kisah Rembulan. Oleh karena itulah, menjadi kerja yang lebih berat buat saya untuk membentuk imajinasi yang sama sekali belum ada sebelumnya mengenai kisah ini.

Buat saya pribadi, menerjemahkan buku ini adalah suatu kegembiraan tersendiri. Kerinduan saya dalam menerjemahkan cerita anak cukup terobati, setelah sekian lama banyak berkutat dengan buku-buku bergenre thriller, memoar, dan klasik dewasa.

8 thoughts on “Gadis Korek Api, dan Proses Kreatif H.C. Andersen yang Bermula dari Kemiskinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s