Huckleberry Finn: Fakta di Balik Karya, dan Sekelumit Penerjemahan

The Adventures of Huckleberry Finn

The Adventures of Huckleberry Finn adalah salah satu karya besar dunia. Mark Twain, penulisnya, memiliki gaya khas saat menggambarkan realitas di dalam novel tentang kehidupan masyarakat kulit hitam sebelum Perang Saudara di Amerika, dengan mengambil sudut pandang seorang bocah bernama Huckeberry Finn, atau acap disingkat dengan Huck Finn. Setiap kata, pikiran, dan ucapan Huck mencerminkan rasisme dan stereotipe kulit hitam di masa itu.

John H. Wallace pernah menyebut novel The Adventures of Huckleberry Finn sebagai model paling fantastis dalam hal sampah rasis. Twain dituding membawa fanatisme rasis karena kerap menggunakan kata nigger (laki-laki kulit hitam), baik ketika merujuk kepada Jim, seorang budak, maupun saat menyebut orang-orang kulit hitam Amerika lain yang ditemuinya. Pilihan kata ini mengandung ejekan dan inferioritas.

Nama Huck Finn, sudah cukup akrab di telinga saya sebagai lulusan jurusan Sastra Inggris yang mengambil spesialisasi American Study. Saya merasa beruntung ketika dipercaya menjadi penerjemahnya.

Saya memang menyukai naskah-naskah klasik karena lebih dapat bereksplorasi kata. Namun, ada tantangan tersendiri ketika menerjemahkan karya klasik, salah satu di antaranya adalah kalimat-kalimat panjang beranak-pinak yang membuat harus berulang dalam membaca sebelum menerjemahkannya. Satu hal yang paling menakutkan bagi rata-rata penerjemah, khususnya saya, adalah kesalahan interpretasi.

Selain kalimat-kalimatnya yang panjang, kesulitan lain adalah dialek selatan (Mississipi) yang banyak digunakan di dalam novel ini. Untuk menebak satu kata kadang menjadi tidak mudah. Harus dibaca konteks keseluruhannya secara berulang, karena kata dituliskan berdasarkan bunyi (ucapan) tokoh. Simak yang berikut. Sekilas membaca, kening saya langsung berkerut membaca kata-kata yang bentuknya tidak baku ini.

“Yo’ ole father doan’ know yit what he’s a-gwyne to do.”

Ayahmu yang tua belum tahu apa yang akan dilakukannya.

Ini masih cukup mudah ditebak. Namun, ketika kalimat berikutnya berendeng, saya perlu tarik napas dan memusatkan perhatian benar-benar pada deretan kata-kata berikutnya.

“….Sometimes you gwyne to git hurt, en sometimes you gwyne to git sick; but every time you’s gwyne to git well agin.  Dey’s two gals flyin’ ’bout you in yo’ life.  One uv ’em’s light en t’other one is dark. One is rich en t’other is po’.  You’s gwyne to marry de po’ one fust en de rich one by en by.  You wants to keep ‘way fum de water as much as you kin, en don’t run no resk, ‘kase it’s down in de bills dat you’s gwyne to git hung.”

Dan minus pun rawan bertambah.😀

Setelah membaca (dan menerjemahkan tuntas) novel ini, saya mengambil simpulan bahwa gaya sastra Twain ini sesungguhnya tidak bermaksud untuk merendahkan kulit hitam. Terbukti, di dalam novel ini, Huck digambarkan memiliki simpati yang besar kepada Jim, dan ingin membebaskannya dari perbudakan. Di sisi lain, Jim digambarkan sebagai seorang negro dengan karakter yang istimewa. Meski ia memiliki karakter kebanyakan orang kulit hitam pada saat itu, yang memiliki kepercayaan tinggi terhadp takhayul, serta rasa homat sebagai seorang budak kepada kaum kulit putih—Huck Finn dan Tom Sawyer, ia pun dilukiskan sebagai sosok yang memiliki wawasan dan kedalaman perasaan, penuh dengan rasa cinta dan welas asih.

Ketika novel ini disensor oleh penerbitnya di Amerika, dengan mengganti kata ‘nigger’ menjadi ‘slave’, Dr Sarah Churchwell, seorang dosen Sejarah Amerika berkomentar, “Novel ini adalah tentang seorang bocah laki-laki yang tumbuh menjadi rasis di tengah masyarakat yang rasis. Ia belajar untuk menolak rasisme. Jadi, mustahil kalau buku ini tidak mengandung rasisme. Kita tidak bisa menghilangkan sejarah rasisme di Amerika.” Ya, bagaimana pembaca bisa tahu bahwa novel itu tentang rasisme, jika dokumentasi sosial mengenai hal itu dihilangkan?

Namun, terlepas dari kontroversi dugaan fanatisme rasis dalam The Adventures of Huckleberry Finn,  menurut Ernest Hemmingway, sastra modern Amerika yang sesungguhnya, bermula dari karya Mark Twain satu ini.

6 thoughts on “Huckleberry Finn: Fakta di Balik Karya, dan Sekelumit Penerjemahan

    • Iya dong…bacanya belum kelar, tapi…hihihi…nggak akan lama, lah, dengan kalimat semengalir ini:D

  1. jadi penerjemahan yang ini: “….Sometimes you gwyne to git hurt, en sometimes you gwyne to git sick; but every time you’s gwyne to git well agin. Dey’s two gals flyin’ ’bout you in yo’ life. One uv ‘em’s light en t’other one is dark. One is rich en t’other is po’. You’s gwyne to marry de po’ one fust en de rich one by en by. You wants to keep ‘way fum de water as much as you kin, en don’t run no resk, ‘kase it’s down in de bills dat you’s gwyne to git hung.”

    gimana? :))

    • Hahaha…, Mbak Esti. Jadi saya terjemahin gini:
      “Kadang kau harus terluka, kadang kau akan sakit, tapi kau akan sembuh lagi. Ada dua gadis dalam hidupmu. Yang satu berkulit putih yang satu hitam. Yang satu kaya, yang satu miskin. Kau ingin menjauhkan diri dari masalah sebisa mungkin dan tidak mengambil risiko, karena akan berpengaruh pada uang yang kau dapatkan.”
      Begitulah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s