Kenapa Musik?

Seorang teman bertanya heran ketika melihat aku memborong buku tentang musik.
”Kenapa? Kamu mau belajar memainkan alat musik?”
”Ah, tidak,” sahutku seraya nyengir.
Aku memang suka musik. Aku suka nyanyi, bisa sedikit bermain gitar (hahaha…maksudnya kalau sekadar kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi, sih aku bisa) dan aku senang membaca tentang musik. Baik tentang pemusik maupun tentang alat musik itu sendiri. Dan, kini, aku sedang tertarik mencermati bagaimana musik bisa menjadi alat terapi psikologi.

Musik sangat baik buat janin, pada ibu yang tengah mengandung. Menurut penelitian, musik bisa membuat janin menjadi cerdas. Memperdengarkan musik kepada janin akan merangsang peningkatan jumlah sel-sel otaknya. Setelah lahir, rangsangan musik dapat memicu percabangan sel-sel otaknya, melatih konsentrasi, dan mengasah daya nalarnya.
Otak manusia adalah otak musikal dan irama musik memiliki kekuatan langsung yang memengaruhi kinerja kognisi. Kemampuan mengingat pada orang dewasa banyak yang berasal dari lagu dan irama di masa kanak-kanaknya.

Menurut buku Psikologi Musik yang ditulis oleh Djohan, seorang dosen jurusan musik dan pascasarjana ISI Jogjakarta yang diterbitkan oleh Best Publisher, ada delapan alasan penggunaan musik dalam kegiatan terapiutik yaitu: sebagai penenang yang dapat menimbulkan pengaruh biomedia positif, sebagai aktivitas memfokuskan perhatian, meningkatkan relasi terapis/pasien/keluarga, memberdayakan proses belajar, seagai stimulator auditori atau menghilangkan kebisingan, menata kegembiraan dan interaksi personal, sebagai penguat keterampilan fisiologis, emosi, dan gaya hidup, serta mereduksi distres pada pikiran.

Aku suka musik. Dalam bekerja, aku selalu tak pernah lepas dari musik. Tapi, aku selalu memilih musik yang kurasa tepat untuk suasana kerjaku. Misalnya, kalau sedang membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi, aku lebih memilih instrumentalia atau lagu-lagu slow yang kusetel dengan volume lirih. Kalau sedang membutuhkan penyemangat, kusetel lagu-lagu dengan beat yang lebih kenceng. Aku percaya, selain kopi, musik dapat menguraikan kekusutan saraf dan melancarkan aliran inspirasi.😉

Gimana dengan kamu?

2 thoughts on “Kenapa Musik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s