Balada Ibu Rumah Tangga Tanpa Asisten

Sejak kepindahan kami ke rumah baru, kami memutuskan tidak lagi memakai tenaga pembantu. Tepatnya, saya yang maunya begitu. Selain lebih hemat, saya merasa, mengurusi sebuah rumah mungil dengan dua orang penghuni dewasa dan seorang anak, bukanlah pekerjaan yang terlalu merepotkan. Apalagi saya bekerja lepas, tidak terikat jam kantor. Yang saya perlukan hanyalah penyesuaian dengan situasi baru. Seminggu-dua minggu, paling lama sebulan, saya yakin bisa mengendalikan situasi. Pekerjaan rumah tak terlalu menyita, pekerjaan menerjemahkan dan menulis tak juga keteteran. Tambahan lagi, dengan asisten terdahulu saya sempat merasa jadi kurang perhatian dengan Raia. Akibatnya, ada pengaruh-pengaruh kurang baik yang timbul seperti ikut2an suka nonton sinetron dan berkata yang kurang baik (menurut saya). Saya khawatir itu akan berkelanjutan.

Seminggu pertama, masih belum terasa. Saya masih menikmati bekerja sebagai ibu rumah tangga tanpa asisten. Sambil terus melihat mana yang perlu dilakukan untuk efisiensi waktu. Misalnya, menanak nasi yang lebih praktis dengan rice cooker, mencuci dengan mesin cuci (kadang saya tidak puas karena kotoran tidak hilang sempurna dengan mesin cuci), tidak memasak kecuali di hari libur, dan lain sebagainya. Tak dinyana, ternyata jiwa pembokat saya lumayan gede. Pengennya rumah selalu rapi. Alhasil, kerjaan saya mulai keteteran. Capaian target harian sering tidak sesuai dengan harapan.

Saya masih berusaha bertahan. Saya selalu menekankan pada diri sendiri, ini hanya masalah penyesuaian. Saya pun berusaha menikmatinya. Namun, lagi-lagi, jiwa pembokat saya yang gede itu, membuat saya kelimpungan sendiri. Kalau ada rice cooker untuk menanak nasi, mesin cuci untuk mencuci pakaian, mesin cuci piring dan mesin setrika belum ada. Padahal dua pekerjaan itu cukup menyita waktu. Plus, jadi tukang ojek Raia ke sekolah, yang jarak tempuhnya jadi makin jauh.

Saya pun mulai kewalahan. Punggung saya sering terasa pegal, dan kalau malam saya jarang bisa begadang karena energi sudah habis. Makin menurunlah produktivitas saya. Apalagi di saat-saat pekerjaan tak bisa lagi menunggu. Suami saya bilang, saya tak usah ngoyo dengan pekerjaan rumah. Tapi, ketika saya mengerahkan lebih banyak energi di depan laptop, rumah pun mulai berantakan. Setrikaan menggunung, piring-piring tidak segera dicuci setelah dipakai, lantai dipel cuma dua hari sekali, dan lain-lain. Target menerjemahkan memang bisa ditingkatkan pencapaiannya, tapi sedih juga lihat rumah dalam kondisi seperti baru kena badai.

Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk kembali mencari asisten. Hanya 3 x seminggu untuk bersih-bersih dan nyetrika, pekerjaan yang cukup menyita waktu itu. Tak apalah. Saya baru akan mencobanya besok. Semoga, dengan adanya asisten baru ini, pekerjaan saya jadi lebih terbantu. Suami saya benar, ada tugas-tugas yang bisa didelegasikan agar pekerjaan kita bisa makin lancar.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s