Intermezo Saat Rehat Kerja

Seperti biasa, aku rehat kerja pada pukul dua belas (atau setelah menjemput Raia di sekolah) sampai pukul satu. Khusus di hari Jumat, lebih awal, yaitu pukul setengah dua belas sampai pukul satu. Biasanya di rehat kerja aku melakukan fun internet–menggunakan internet hanya untuk senang-senang. Baca gosip selebritis, kelayapan ke jejaring sosial, chatting santai, pokoknya yang tidak ada kaitannya dengan kerjaan. Raia biasa mengunjungiku di jam-jam ini. Hari ini juga begitu. Dia naik ke ruang kerjaku sambil memawa dua biji onde-onde kumbu (onde-onde kering yang bentuknya merekah) yang bentuknya agak besar.
“Ibu …, ini satu buat Ibu!” katanya riang.
Aku yang belum sempat makan siang girang menyambutnya. Ia memberikan sebiji kepadaku, dan satu lagi kepunyaannya diletakkan di atas kertas di samping meja komputerku.
“Makasih, yaaa …,” ucapku.
“Sama-sama …. Bentar, ya, aku mau turun dulu.”
Aku tidak tahu dan tidak menanyakan untuk apa dia turun. Aku masih asik ber-fun internet ria sambil makan onde-onde dengan lahapnya. Aku membaca situs gosip seleb. Ada Saipul Jamil gendong Dewi Persik (so what gitu, loh….tapi kubaca juga, hihihi…), tentang Happy Salma, tentang Joy Tobing, tentang Beyonce. Begitu khidmatnya aku membaca, tanpa terasa onde-onde di tanganku pun tandas. Sambil ngakak saat baca gosip tentang Si Persik, tanpa sadar tanganku menyambar onde-onde di meja. Nyam nyam nyam …. Ludes!
Aku masih belum tersadar sampai Raia muncul kembali di pintu ruang kerjaku.
“Ibu, mana onde-ondeku?”
Hladalah!
Tawaku langsung lenyap. Mukaku langsung pucat.
“Waduh …”
Hanya itu yang terucap oleh mulutku.
“Ibu makan, ya?” Raia sudah ancang-ancang menangis.
“Heheee … iya, Nak. Maaf……… Nggak sengajaaaa ….”
Huaaaaa…..!!!
Buseeet … kenceng amat tangisnya.
Demi menebus kesalahan, jam istirahat pun kutuntaskan untuk membujuk Raia dan mengantarnya ke warung untuk beli onde-onde lagi, sepuluh biji!  Masih lagi, ditambah dia minta ini-itu. Alamaaak …! Tekor gue!

Fyuh….
Ternyata, ngenet sambil ngemil itu tidak baik buat anak-anak. Juga buat kantong kita.
*lemes*

Menerjemahkan Buku Anak

Terbiasa menerjemahkan naskah remaja dan dewasa yang kalimatnya panjang-panjang, tidak membuat menerjemahkan buku anak menjadi mudah. Aku mengalaminya saat menerjemahkan seri Semua Bisa terbitan Tiga Serangkai (Takut, Marah, Sedih, Bahagia). Kalimat-kalimatnya sebenernya pendek-pendek dan sederhana, tapi karena buku ini berbau psikologi anak, jadi mesti hati-hati banget memilih katanya. Harus mudah dipahami anak dan tidak boleh mengandung konotasi yang negatif. Jadi, berkali-kali aku harus menelitinya kembali.

Buku yang mengajak anak untuk mengenal emosi diri ini sangat menarik. Ilustrasinya  memikat dan format ukurannya besar sehingga visualisasinya dapat dinikmati dengan leluasa oleh anak. Buku ini memberikan dorongan kepada anak untuk dapat mengatasi rasa takut, marah, sedih, dapat menghibur serta berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Sangat inspiratif dan penting bagi anak-anak, terutama usia prasekolah.

Mudah-mudahan di lain kali aku bisa mendapatkan kesempatan menerjemahkan buku-buku anak semacam ini lagi. Menyelami dunia anak, memberikan keasyikan tersendiri buatku.