Tragedi Tangan si Banana

Raia dan Nana
Raia dan Nana

Raia punya sebuah boneka yang sangat ia sayangi. Boneka berbentuk pisang yg kami beri nama Banana,atau biasa dipanggilnya dengan sebutan Nana. Boneka ini adalah hadiah ulang tahun pertamanya.

Raia cinta mati pada boneka ini. Bahkan, Nana tak boleh dicuci karena ia tak mau bonekanya dijemur, yg artinya mereka harus berpisah sementara. Pernah aku berhasil membujuknya untuk memasukkan Nana ke laundry. Tapi ketika meninggalkan laundry, dia menangis tersedu-sedu dan minta Nana diambil lagi.

Keberadaan Nana benar2 tak tergantikan. Tak jarang kami membelikannya boneka baru, tapi rupanya Raia tetap tak mau berpaling. Ya, ia memang suka dengan boneka2nya yang lain, tapi ketika tidur, selalu Nana yg dicarinya.

Tak kurang akal, kami membelikannya boneka pisang yang baru, dengan ukuran yang lebih kecil ketimbang Nana. Tapi, kendati Nana kecil ini pun disayanginya,tetap saja Nana besar yang dipilihnya. Setelah kami beli mesin cuci–karena sempat kehilangan pembantu dan bertekat tak cari pembantu lagi, tapi tak jadi karena tak tahan capeknya :p–persoalan dekil dan baunya Nana bisa diatasi. Tapi, persoalan kian menuanya Nana tak dapat ditanggulangi. Anggota tubuhnya mulai rapuh di sana-sini. Mula2 tangannya lepas, lalu kakinya, yang kemudian dijahit pembantuku. Bentuk Nana pun jd tak keruan. Penuh jahitan di sana-sini.

Baru2 ini tragedi lepasnya anggota badan itu terjadi lagi. Tangan kanan Nana lepas lagi. Tapi, yang lucu, kali ini Raia merasa perlu tangannya saja, karena apa? Karena tiap malam, saat berangkat tidur dengan mendekap Nana, tangan itu ia gunakan untuk mengelus-elus pipinya sendiri.

Suatu ketika, tangan Nana hilang. Ia sedih sekali. Aku merasa bersalah, karena terakhir kali, ia menitipkannya di tasku. Kami pun dibikin kelabakan mencarinya. Bersyukur sekali karena tangan itu akhirnya ditemukan. Kini, Raia kembali tidur dengan bahagia, sambil mendekap tangan Nana.

Terbetik trenyuh di hatiku. Kecintaan Raia terhadap Nana, membuatku merenung.
Jika kita mencintai seseorang, sanggupkah kita selalu setia?
Dan sakit atau menuanya raga, dapatkah membuat kita tetap mencintainya?