Edukasi Seks untuk Anak

Edukasi Seks buat Anak-Anak”Bu, aku gemeeesss … banget sama Rafi. Kalau aku gemes nanti aku cium, deh, Rafi….”

Hladalah!

Aku terkejut-kejut mendengar lontaran polos Raia suatu sore kepadaku. Dia sedang bercerita tentang seorang teman sekolahnya yang bernama Rafi. Di antara teman-temannya, si Rafi ini adalah salah satu anak yang akrab dengannya. Mereka kerap bermain bersama.

Ungkapan itu, tentang kegemasan yang diwujudkan dalam bentuk ciuman, memang kerap kali kulontarkan kepadanya. Dia men-copy sama persis. Ketika kami bercanda,dan diakhiri kegemasanku pada kelucuannya maka aku melontarkan kata-kata itu, ”Ibu gemeeessss… banget sama kamu. Tak cium kamu nanti….”

He… aku jadi nyengir mengingatnya. Ya, ya. akulah yang “mengajarkan” kepadanya bahwa kegemasan itu dapat diwujudkan dengan perlakuan mencium. Tapi, olala, aku tidak pernah menyarankan bahwa ia melakukannya kepada teman-temannya,apalagi teman laki-laki ….

Ketika kubaca-baca artikel tentang seks edukasi, aku menemukan bahwa pelajaran seks memang harus dikenalkan sedari dini, sejak usia empat tahun. Makin dini kita mengenalkannya kepada anak-anak kita maka sejak dini pun ia akan memiliki pertahanan yang kuat sehingga meminimalkan bahaya yang mungkin dapat timbul dari aktivitas tersebut. Karena anak-anak memang belum menyadari bahwa aktivitas tersebut dapat berdampak terhadap diri mereka.

Bagi sebagian orang, arti kata seks  cenderung diasosiasikan dan dihubungkan dengan aktivitas seksual seperti berhubungan intim, kissing, dan sebagainya. Padahal,  seks memiliki arti yang lebih luas  yaitu kelamin,  tidak sekadar aktivitas seksual.

Mengajarkan pendidikan seks pada anak–anak, khususnya  pada anak balita (bawah lima tahun) memang bukanlah hal yang mudah. Ada  beberapa hal yang perlu  dicermati :
Pertama, pemahaman  dan cara berpikir mereka masih sangat sederhana dan perlu hal yang konkrit atau nyata  bagi  anak untuk memahami suatu informasi. Kedua,  budaya atau kebiasaan kita sebagai orang timur masih menganggap tabu hal-hal yang berbau seks. Dikhawatirkan, lingkungan akan merespons secara reaktif jika anak bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan tentang seks.

Banyak orang tua yang mendapatkan informasi bahwa pendidikan seks  perlu diajarkan kepada putra-putrinya sejak dini. Namun, mereka mengalami kebingungan, bagaimana  mereka harus mengenalkan seks pada putra-putrinya  dan sejauh mana mereka boleh mengenalkan seks?
Disadari atau tidak, sebenarnya kita telah mengajarkan pendidikan seks pada anak-anak kita. Pengetahuan awal yang diperoleh anak mengenai seks adalah  tentang jenis kelaminnya sendiri. Misalnya mama, nenek dan bude adalah perempuan, sedangkan kakak iwan, papa, dan pakde adalah laki-laki. Setelah itu peran seks antara laki-laki dan perempuan mulai dikenalkan. Bertambahnya usia anak, rasa ingin tahunya juga semakin berkembang. Mereka mulai menanyakan kenapa dada ibunya lebih menonjol dari ayahnya, kenapa Ibunya mengalami menstruasi setiap bulannya dan sebagainya.

Berikut adalah tips-tips mengenalkan seks pada balita anda. Pengenalan seks hendaknya dilakukan secara bertahap, mulai dari yang paling sederhana sampai yang lebih rumit. Biasanya, (1) pengenalan seks dimulai dengan mengenal perbedaan  jenis kelamin. Ayah adalah laki-laki, ibu adalah perempuan. Kemudian, (2) dijelaskan, perbedaan peran tentang anak laki-laki dan anak perempuan, misalnya, yang dapat melahirkan  anak perempuan. (3) Jika ingin mengajarkan anatomi  dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari mereka, misalnya saat mandi dijelaskan anggota tubuhnya. Saat ibu mengalami menstruasi  dijelaskan bahwa kebanyakan perempuan akan mengalami menstruasi dan apa yang akan dilakukan kalau sedang menstruasi. Pada anak laki-laki akan tumbuh bulu, kumis, dan sebagainya. (4) Jangan lupa untuk mengenalkan bahaya terhadap seks dan norma-norma yang berlaku. Misalnya, tidak diperkenankan untuk mencium atau memeluk semua orang,hanya orang-orang tertentu yang boleh dan tidak boleh menyingkapkan gaun. Tidak boleh manbiarkan orang lain menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu, misalnya dada atau kemaluanan,dan sebagainya. Alasan melarang juga dikemukakan dengan alasan logis dan dapat diterima oleh anak.

Kepada Raia, akhirnya, aku mencoba menjelaskan dengan bahasa yang dapat diterima oleh logika kanak-kanaknya, bahwa gemas tidak harus diungkapkan dengan tindakan mencium, apalagi mencium teman, terutama anak laki-laki.

Kita hanya boleh mencium anggota keluarga kita. Teman (aku lalu tidak mengkhususkan teman laki-laki saja, karena khawatir akan membingungkan buatnya), tidak perlu ….

Terus terang, aku juga bingung untuk menjelaskan. Namun, asalkan kulihat dia paham dengan penjelasanku, dan kami bersepakat tentang suatu aturan, aku yakin pemahamanku akan dapat dia cerna dan dia laksanakan. Berhadapan dengan anak kritis, memang gampang-gampang susah. Hahaha ….

Yah,menjadi orang tua tidaklah mudah. Terutama yang memiliki anak perempuan. Bagaimana tidak, menjada anakperempuan berlipat lebih sulit dibandingkan dengan anak lelaki. Kita harus mengajarkan kepadanya untuk dapat menjaga diri mereka, dengan anatomi tubuh yang rentan terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan dari aktivitas bernama seks. Akan tetapi,jika sejak dini kita dapat mengantisipasinya, insya Allah anak kita akan memiliki perlindungan yang kuat terhadap diri mereka. Amin ….

(Plus referensi dari berbagai sumber)

4 thoughts on “Edukasi Seks untuk Anak

  1. di negara yang sumbernya pendapat “PENTING PENDIDIKAN SEKS DINI pada remaja”, harapan anda :”Ketika kubaca-baca artikel tentang seks edukasi, aku menemukan bahwa pelajaran seks memang harus dikenalkan sedari dini, sejak usia empat tahun. Makin dini kita mengenalkannya kepada anak-anak kita maka sejak dini pun ia akan memiliki pertahanan yang kuat sehingga meminimalkan bahaya yang mungkin dapat timbul dari aktivitas tersebut”
    rasanya tidak ditemukan disana.
    Jadi saya TAKUT… mengajarkannya sebelum tahu persis apa dan bagaimana kebutuhan anak itu.
    Mungkin lebih banyak kita takut gelombang besar pengaruh arus dari negara sono itu.
    heeeheee
    aduh… takutlah…

  2. Hehe… edukasi seks untuk anak kan seputar masalah yang sederhana saja (di sini yang saya maksud bukan melulu aktivitas yang melibakan kontak fisik dengan lawan jenis, lho, Pak ….) Kita juga nyampeinnya dengan bahasa yang bisa mereka tangkep. Misalnya soal beda cewek ama cowok, terus hal-hal sederhana yang berkaitan dengan norma, kayak membelajarkan nggak boleh pipis sembarangan, nggak boleh lari-larian ke jalan dengan nggak pake celana …. Hehe … ini kan sederhana, tapi coba kalo anak nggak tahu soal ini, bisa-bisa nganggep itu hal yang biasa kan…. Yah, nurut saya, edukasi seks kan penjabarannya luas dan disesuaikan umur…. Jadi, no need to be afraid-lah untuk mengajarkannya kepada anak kecil seusia 4 tahun ….

  3. bener mbak, pendidikan seks tidak sama dengan pendidikan XXX (halah opo meneh kuwi), membedakan teman berdasarkan jenis kelamin, bagaimana menghargai lawan jenis, bagaimana bersikap kepada lawan jenis, bersikap santun (berpakaian, duduk, dll) …. sejak dini sangat penting.
    Liat anak sekarang ngeri banget je … anakku yang umur 4 tahun aja udah nanya, pak … adik itu asalnya dari mana sih ? kok ayam bertelur, orang tidak bertelur ?

    mumeeeet mumeet … !

    yang lebih mumet lagi, pernah si kecil nanya .. pak … pak kuda laut itu yang hamil yang cowok ya pak ? kok dulu michael nggak tinggal di perut bapak ?

    etc, etc … masih banyak pertanyaan ngeri lainnya …
    tak langganke indovision ben bisa nonto NGC, eh bukan berenti nanya malah pertanyaannya nambah mumet

    • Hahaha…begitulah anak-anak. Dia punya begitu banyak pertanyaan di dalam otaknya, seolah ia sudah tergesa ingin tahu segalanya di dunia. Tapi itu pertanda bahwa ia dikaruniai kecerdasan. Tinggal ortu yang kudu cerdas juga menyediakan jawaban :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s