Anakku Ikut TPA

Raia, Kenzha, Angel
Siap berangkat TPA: Raia, Kenzha, Angel

Suatu sore, Raia bercerita kepadaku kalau siang tadi dia ikut TPA (Taman Pendidikan Alqur’an) bersama teman-temannya. Aku mendengarkannya sambil lalu karena terkadang celoteh anakku lebih mirip rangkaian keinginan atau khayalannya terhadap sesuatu. Kadang celotehnya masih rancu tenses-nya (dia masih suka kebolak-balik memakai keterangan waktu). Misalnya, jika dia ingin mengatakan bahwa dia ingin ikut TPA/berencana ikut TPA. Dia tidak mengatakan, ”Aku mau ikut TPA” (”I will attend”) tapi cenderung akan mengatakan, ”Aku ikut TPA” (”I have attended”).

Aku memang tidak terlalu merespons ceritanya dengan sungguh-sungguh, tapi, tetap saja aku merasa ingin tahu. Lalu, aku menanyakan kepada pengasuhnya apa hari itu dia betul pergi ke TPA. Pengasuhnya bilang tidak, tapi memang dia pergi ke masjid siangnya karena diajak anak tetangga yang lebih besar, untuk salat Zuhur berjamaah. Itu sudah membuat aku tersenyum senang.

Esok harinya, sepulang dari kantor, aku tidak menemukan anakku di rumah. Aku pikir dia main di rumah Kenzha, tak jauh dari rumah kami, seperti biasanya.Tetapi, ternyata Mbak Indah—pengasuh Raia mengatakan kalau anak itu sedang ikut TPA!

Wooowww … aku terperangah habis. Nyaris tak percaya. Ada rasa senang, bangga, sekaligus terharu mendengarnya. Anak itu—si Kecil yang belum genap empat tahun itu … masuk TPA atas inisiatifnya sendiri (yang pastinya dengan sohib-sohibnya: Kenzha dan Angel), sementara aku—ibunya—masih kebingungan teknis mendaftarkannya. Mimpi apa aku? Ya Allah ….

Well, sebenarnya sudah agak lama sebenarnya aku berpikir bahwa sudah waktunya aku memasukkan Raia ke TPA (Taman Pendidikan Alqur’an) agar mengenalkan dia dengan Alqur’an sedini mungkin. Waktunya juga akan lebih bermanfaat, ketimbang hanya main sepulang sekolah. Cuma, aku bingung teknis mendaftarkannya. Aku hampir tak punya waktu karena selalu pulang di atas pukul lima dari kantor. Sementara, teman-teman yang biasanya bermain dengannya, juga belum masuk TPA. Padahal, sebenarnya masjid tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Hanya di gang sebelah, dan malah ada jalan tembus dari rumah ke sana, yang lebih dekat.

Namun, ternyata, hari itu,keinginanku agar Raia masuk TPA, terkabul sudah, sebelum aku melakukan apa pun. Dia telah melakukannya sendiri!

Sambil menunggu waktu buka puasa, aku menyengaja menunggu anakku pulang dari TPA. Dan tepat ketika azan Magrib berkumandang, tiga sahabat itu: Raia (3 tahun 10 bulan), Kenzha (6 tahun kurang), dan Angel (4,5 tahun) pun muncul di ujung gang. Mereka berpakaian ala santriwati cilik sambil menyandang tas masing-masing.

”Ibuuu … aku ikut TPA!” seru anakku sembari berlari ke arahku. Aku menyambutnya dengan peluk. Bahagia sekaligus bangga dan terharu.

”Hebat sekali, anak Ibu,” bisikku seraya menciuminya. ”Ibu bangga. Kamu mandiri. Bahkan ketika Ibu masih bingung bagaimana caranya agar kau ikut TPA, sekarang kamu malah sudah ikut sendiri tanpa harus dianter-anter. Terima kasih, anakku …. Ibu senang sekali ….”

Anakku tertawa girang.

”Ibu senang?” tanyanya polos.

Aku mengangguk. Lalu kudekap anak luar biasa itu erat-erat. Masih belum bisa berkomentar lebih panjang …. Sementara itu, ayahnya tersenyum-senyum melihatku kehilangan kata.

2 thoughts on “Anakku Ikut TPA

  1. Hehe..
    Buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya..
    Namanya juga niru ayahnya..
    Like father like doughther..
    (eh,tulisannya salah gak ya,hihihi….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s