Marhaban Ya Ramadan ….

Setiap tahun, bulan inilah yang selalu dinantikan oleh umat muslim di dunia. Bulan yang suci nan penuh berkah: bulan Ramadan.

Ada saja yang dilakukan orang dalam menyambut bulan ini. Di antaranya tradisi bernama ”nyadran” dan ”padusan” yang dilakukan oleh orang di beberapa daerah di Jawa.

Sebenernya kami kepengen melihat acara ”padusan” itu. Tapi, setelah dipikir-pikir, apa sih, manfaatnya? Buat apa juga memaksakan diri berjubelan dengan banyak orang, hanya buat melihat orang mandi? Atau bahkan mandi? Ih, malu banget. Mending mandi sendiri aja di rumah.

Tapi, sehari sebelum lebaran tahun ini kami menyempatkan juga pulang ke Boyolali—ke tempat eyang dari pihak suamiku. Habis, kalau mau ke eyang dari aku—Cilacap—wow … jauh niaaan ….

Kami berangkat dari Solo pukul 13.00. Lagi panas-panasnya. Sesampai di Boyolali, salat, makan, kami pun nyekar. Membersihkan makam mbah buyutnya suamiku dan berdoa. Itu saja. Selanjutnya? Yah, biasa … bertualanglah kita …!

Potong Rambut

Suamiku mengajak singgah di Ary Salon, d tukang cukur langganannya. Aku dan Raia asyik meliput. Jepret sana, jepret sini. Anakku tak lupa membawa boneka kesayangannya nan dekil dan penuh jahitan ddi sana-sini, setelah mengalami putus sambung anggota badan. Lihatlah rupa boneka yang paling dicintainya itu.

Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ....
Ini dia boneka kesayangan anakku. Namanya Nana. Lihat betapa dekilnya dia (karena anakku sulit mengizinkan dia dicuci). Plus,lihat jahitan di kaki dan tangan kirinya. Oh, God ….

Betapa buluknya rupanya. Tapi, meski sudah punya belasan boneka yang lain, Si Nana (dari kata ”Banana”) ini yang selalu dipeluknya ke mana-mana. Ya Tuhan, dia memang tipe setia seperti aku. Kalau sudah punya satu—meski banyak yang lain—ya tetap akan memilih yang satu itu. Hihi ….

Komidi Putar

Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.
Naik komidi putar mini cukup membuat Raia yang aslinya sedang batuk-pilek jadi ceria.

Setelah suamiku potong rambut, Aya kian merajuk kepengen mandi bola. Apa daya, di Boyolali tak ada. Mengherankan, ya? Alasan suamiku, ”Di Boyolali banyak airya (pemandian), jadi yang ada mandi air, bukan mandi bola….” Meski jawabannya keliatan dicari-cari banget—dan anakku yang kritis tentu saja nggak serta-merta mau memercayainya—akhirnya anakku harus cukup puas main komidi putar mini, naik mainan mobil, motor, dan kuda, lalu komidi putar lagi, begitu seterusnya, sampai dia bosen banget.

Kenapa Semua Orang Hari ini Berkacamata?

Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata."Pake punyaku, Mbak, siapa tahu Mbak Indah cocok pake yang kayak gini...."
Raia dan Mbak Indah saling mencoba kacamata. “Coba yang ini,Mbak, siapa tahu cocok buatmu,” usul Raia.

Oh ya, dalam petualangan ini, pembantuku turut serta bergabung dalam tim. Namanya Mbak Indah. Tak banyak cakap dia, tapi pengetahuan agamanya bagus, karena jebolan pondok. Nah, dia lagi kepengen beli kacamata. Awalnya karena anakku beli kacamata. Dia jadi ikut-ikutan. Buat ”nggaya-nggaya” kalau nganter Aya sekolah, katanya. Ketika dia asyik pilih-pilih kacamata, eh, suamiku ikutan tertarik juga. Jadilah ia pilih-pilih juga, dan memasangkannya padaku dan mengamat-amati.

”Keren,” komentarnya mengagumi … kacamata itu.

Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!
Inilah aku kalau berkacamata.Keren? Nggak? Awas,lo!

”Yah … seperti biasa, kalau aku tetap akan keren memakai apa pun,” sahutku kalem.

Dia pun memutuskan membeli kacamata itu setelah melihat betapa kerennya kacamata itu menempel padaku. Ah, dia selalu saja menggunakan aku sebagai parameter. Kalau keren di aku pasti apa pun akan keren jika menempel padanya. Padahal belum tentu. Karena sekali lagi, aku selalu keren memakai apa pun. Hehehe ….

Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm...
Kalau ini gaya suamiku kalau berkacamata.Kayak siapa, ya? Hmm…

Hmmm … setelah itu kami beli martabak telor. Dan melesat kembali ke rumah Eyang.

Bada Magrib, kami kembali ke Solo, dan bersiap menyambut ramadan esok hari.

Akhirnya….

Marhaban ya ramadan ….

Selamat menunaikan ibadah puasa ya, semuanya … semoga tahun ini bulan puasa kita lancar dan penuh berkah.Amin … amin … amin ….

2 thoughts on “Marhaban Ya Ramadan ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s