Be a Good (Novel) Translator

Tips buat mereka yang berprofesi sebagai penerjemah, terutama penerjemah novel. Sharing pengalaman dari ketua HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia, Bapak Hendarto Setiadi). Semoga bermanfaat, yaaa ….

Pendahuluan

Saat ini banyak karya sastra dunia berupa roman, novel dan puisi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jika kita berkunjung ke toko buku bahkan segera terlihat bahwa jumlah karya fiksi hasil terjemahan – baik untuk orang dewasa, apalagi untuk pembaca anak-anak – jauh melampaui jumlah karya asli pengarang Indonesia. Namun apakah aspek kuantitas ini juga disertai kualitas yang memadai? Kita tahu bahwa kualitas terjemahan di Indonesia sering digugat. Di salah satu milis malah pernah muncul komentar bahwa penerjemah Indonesia tidak ada yang becus! Pendapat itu terasa ekstrim, tapi ada benarnya. Memang tidak sedikit karya terjemahan di Indonesia yang membuat pembacanya berkerut kening karena terpaksa mereka-reka sendiri apa gerangan maksud tulisan di hadapannya. Kadang-kadang suatu naskah terjemahan bahkan baru dapat dipahami apabila pembaca membayangkan bunyi naskah aslinya. Bagaimana sebenarnya proses yang menghasilkan karya fiksi terjemahan yang baik, khususnya novel? Apa saja tantangan yang dihadapi penerjemah dan langkah apa saja yang perlu ditempuh untuk mengatasi berbagai kesulitan yang timbul dalam proses penerjemahan? Untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis proses penerjemahan novel yang terakhir dikerjakan, yaitu “The curious incident of the dog in the middle of the night-time” atau “Insiden anjing di tengah malam buta yang membuat penasaran” karya Mark Haddon.
Kriteria novel terjemahan yang baik Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu bersepakat dulu mengenai kriteria novel terjemahan yang baik. Teori penerjemahan tentu menawarkan sejumlah kriteria untuk menilai baik-buruknya suatu terjemahan, tetapi sebagai penerjemah otodidak penulis berpegang pada satu kriteria saja, yaitu pembaca versi terjemahan harus mendapat pengalaman yang serupa dengan pengalaman yang didapat pembaca versi asli.

Modal awal untuk berkarya
Ada beberapa hal yang membantu penulis pada saat menerjemahkan:

a. “Rasa” bahasa
Modal utama bagi seorang penerjemah adalah “rasa” bahasa. Penulis beranggapan demikian karena ini bukan sesuatu yang dapat dipelajari. “Rasa” bahasa merupakan bakat bawaan, sama seperti bakat bermain musik, misalnya. Tanpa “rasa” bahasa, rasanya mustahil seseorang dapat menghasilkan terjemahan yang mengalir dengan lancar.
Ada orang yang memiliki “rasa” bahasa, ada yang tidak. Kadarnya pun berbeda-beda: ada yang besar, ada yang kecil. Tetapi seperti bakat-bakat di bidang lain pun, “rasa” bahasa ini dapat diasah dan dikembangkan. Di sini berlaku rumus 10% inspirasi, 90% perspirasi.
Penulis sendiri sebagai penerjemah otodidak sejak semula sangat tergantung pada “rasa” bahasa ini. Karena tidak memiliki pengetahuan mengenai teori penerjemahan, “rasa” bahasa menjadi acuan utama bagi penulis dalam berkarya.

b. Penguasaan bahasa sumber
Penguasaan bahasa sumber dengan baik merupakan prasyarat bagi penerjemah untuk memahami semua detil dan nuansa yang terdapat pada suatu karya asli. Penulis mempunyai dua bahasa sumber dalam berkarya, yaitu Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Penulis beruntung karena dapat mempelajari kedua bahasa itu sejak usia muda. Walaupun penulis tidak pernah lagi mengikuti pelatihan formal kebahasaan selepas SMA,pengetahuan penulis mengenai kosakata dan gramatik dalam kedua bahasa sumber ini tetap berkembang dengan cara membaca, mendengar dan berbicara.


c. Penguasaan bahasa sasaran
Penguasaan bahasa sasaran dengan baik merupakan prasyarat agar semua detil dan nuansa karya asli dapat muncul pula dalam karya terjemahan. Selain itu, penguasaan bahasa sasaran juga amat perlu untuk menghasilkan naskah yang enak dibaca.
Dalam hal ini, latar belakang penulis dapat dianggap kurang menguntungkan. Berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya, penulis baru belajar Bahasa Indonesia pada waktu berusia 13 tahun, yaitu ketika pulang ke Indonesia setelah bermukim di luar negeri sejak lahir. Namun di pihak lain, hal ini justru menjadi pemicu bagi penulis untuk belajar dengan lebih giat dan juga untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih hati-hati.
d. Keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sumber. Dalam hal keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sumber, penulis beruntung karena dapat merasakan secara langsung kehidupan di Jerman, sehingga berbagai kebiasaan orang Jerman bukan lagi sesuatu yang asing. Budaya di sekitar bahasa Inggris dapat dipelajari oleh penulis melalui berbagai media, antara lain buku, lagu, film dan interaksi sosial.


e. Keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sasaran Interaksi sosial dan pengamatan sangat membantu penulis untuk memahami budaya yang melingkupi bahasa sasaran, sehingga mempermudah pemilihan padanan yang tepat untuk situasi atau konteks tertentu.


f. Pengetahuan umum yang luas
Dalam bekerja penerjemah novel akan menghadapi naskah dengan berbagai latar belakang, sehingga pengetahuan umum yang luas merupakan bantuan yang sangat berharga. Setelah berkecimpung cukup lama di bidang penerjemahan, pengetahuan
umum penulis memang bertambah, tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa penulis kini semakin mampu untuk melengkapi pengetahuan sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan suatu terjemahan.

g. Sumber referensi yang mendukung
Semua hal di atas merupakan modal yang sangat membantu penulis. Modal ini tidak bersifat instan atau langsung jadi, melainkan merupakan hasil akumulasi selama penulis menekuni profesi penerjemahan.


Strategi penerjemahan

Penulis telah mengembangkan suatu strategi penerjemahan yang biasa penulis gunakan jika hendak menerjemahkan novel. Sebagai langkah pertama penulis membaca buku tersebut sampai tuntas untuk memperoleh gambaran umum mengenai para tokoh, alur cerita, setting, nada penuturan, pesan yang tersirat, dsb.Selanjutnya penulis mencari informasi tambahan mengenai buku yang akan diterjemahkan itu, baik menyangkut isi maupun latar belakang, termasuk mengenai pengarang. Setelah memperoleh informasi yang lumayan lengkap, penulis memutuskan gaya bertutur mana yang paling sesuai.
Kemudian penulis membaca bab yang akan diterjemahkan sambil menandai bagian-bagian yang mungkin menjadi masalah, sekadar sebagai persiapan mental. Lalu penulis mulai dengan proses penerjemahan. Biasanya penulis menerjemahkan sambil mencari padanan yang tidak langsung terpikir. Artinya proses penulisan sering kali terputus karena penulis harus membuka kamus. Bagi penulis ini lebih mudah daripada mencari padanan secara terpisah. Setiap kalimat bisa dibongkar-pasang berulang kali sampai penulis mendapatkan susunan kata yang terasa pas. Baru setelah satu bagian kalimat/paragraf/bab) selesai dikerjakan, penulis berlanjut ke bagian berikut. Bagian yang sudah lewat jarang penulis utak-atik lagi, kecuali tiba-tiba ada ilham yang bisa menjadikan bagian itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.

 

Contoh kasus
Sebagai ilustrasi, penulis akan berusaha membedah proses penerjemahan novel yang kini sedang ditangani, yaitu “The curious incident of the dog in the night-time” karya Mark Haddon. Dari judulnya saja segera dapat diketahui bahwa buku ini merupakan buku yang tidak biasa. Langkah pertama adalah membaca buku tersebut sampai tamat. Beberapa informasi yang paling relevan dengan proses penerjemahan adalah sebagai berikut:
• Tokoh utamanya seorang remaja putra bernama Christopher John Francis Boone, yang sekaligus bertindak sebagai narator. Cara bertuturnya khas – sangat kaku dan mendetil – dengan topik pembicaraan yang melompat-lompat. Ia merupakan murid sekolah luar biasa, namun sampai akhir cerita tidak pernah terungkap secara tegas mengapa ia bersekolah di sana.
• Christopher tinggal bersama ayahnya, seorang tukang reparasi alat pemanas. Mereka tinggal di Swindon, sebuah kota kecil di dekat London, Inggris. Kemudian penulis mencari informasi lebih lanjut mengenai buku tersebut.
Dari sini diketahui bahwa
• “The curious indicident of the dog in the night-time” memenangkan hadiah Whitbread Novel Award 2003, sebuah hadiah sastra yang cukup bergengsi
• Christopher mengidap sindrom Asperger, salah satu jenis autisme berciri kemampuan matematika luar biasa namun kemampuan sosial terbelakang –seperti Dustin Hoffman dalam film “Rain Man”.
Christopher bisa menghitung secepat kalkulator, tapi tidak bisa mengerti kiasan. Ia juga mempunyai keteraturan serta peraturan yang tidak bisa diusik.
• Pengidap sindrom Asperger memiliki kemampuan bahasa sangat baik, tetapi mempunyai pola berpikir yang kaku Selanjutnya penulis memutuskan untuk mempertahankan gaya bahasa yang dipergunakan Mark Haddon dalam menulis buku ini. Kalimat pendek dibiarkan pendek dan kalimat panjang tanpa titik-koma pun tetap berbentuk seperti itu.
Beberapa persoalan dalam penerjemahan
• Persoalan pertama menyangkut cara menerjemahkan judul yang tidak lazim. Setelah melalui berbagai pertimbangan, penulis memutuskan untuk menerjemahkannya sesuai judul yang asli menjadi “Insiden anjing di tengah malam buta yang membuat penasaran”.
• Persoalan kedua menyangkut pemilihan kata ganti orang. Dalam bahasa Inggris kata “I” dan “you” digunakan untuk semua orang dalam semua konteks, tetapi dalam bahasa Indonesia ada pasangan “aku-kau”, “saya-kamu/Anda”, yang masing-masing memiliki nuansa yang berbeda.
Dengan pertimbangan bahwa Christopher sulit bergaul dengan orang yang tidak dikenalnya, penulis akhirnya memilih pasangan “saya-kamu/Anda”, yang lebih menegaskan adanya jarak dibandingkan “aku-kau” yang lebih akrab. • Dalam naskah asli ada beberapa contoh metafora yang kemudian dibahas untuk menjelaskan mengapa Christopher tidak dapat memahami kiasan sepert itu:
I laughed my socks off.
He was the apple of her eye.
They had a skeleton in the cupboard.
We had a real pig of a day.
The dog was stone dead.

… I think this should be called a lie because a pig is not like a day
and people don’t have skeletons in their cupboards…

Contoh metafora di atas tidak diterjemahkan, melainkan diganti dengan metafora yang dikenal dalam bahasa Indonesia, sebab yang penting di sini bukan bunyi metafora melainkan bentuk metafora. Pembahasan yang menyusul juga disesuaikan dengan metafora yang baru:

Tetangga kami berlidah tajam.
Dia jatuh hati kepada gadis itu.

Ayah tulang punggung keluarga.Pahlawan adalah bunga bangsa.Saya selalu dijadikan kambing hitam.

…Menurut saya, memakai metafora sama saja dengan berbohong sebab lidah orang tidak tajam dan pahlawan juga bukan bunga…
• Pada suatu adegan Christopher bertemu dengan seseorang yang memakai
t-shirt bertulisan:
Beer.
Helping ugly people
have sex for
2,000 years.

 

Apakah tulisan pada t-shirt itu perlu diterjemahkan? Penulis memutuskan untuk tidak menerjemahkannya, sebab janggal rasanya jika seseorang di kota kecil di Inggris memakai t-shirt dengan tulisan dalam bahasa Indonesia. Namun seandainya diterjemahkan, kata-katanya akan diubah sedikit:


Bir.
Selama 2000 tahun
membantu orang jelek
mendapat teman kencan.


Tetapi di sini penulis perlu mengakui bahwa penulis tidak sepenuhnya konsisten. Untuk tulisan pada tanda/papan pengumuman diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali jika menyangkut nama diri.


Customers seeking access to car park please use assistance phone opposite right of the ticket box.

Penumpang yang ingin ke tempat parkir mobil silakan gunakan pesawat telepon khusus di seberang, di sebelah kanan loket karcis


WARNING CCTV in operation
AWAS KAMERA PEMANTAU


Your 50p will keep a premature baby alive for 1.8 seconds
Sumbangan 50p Anda akan menyambung nyawa bayi prematur selama 1,8 detik


Great Western – Great Western
The Lemon Tree – The Lemon Tree


• Dalam setiap terjemahan penulis berusaha mempertahankan suasana yang terdapat pada karya asli. Upaya ini terkait erat dengan “rasa” bahasa dan penulis tidak sanggup untuk menguraikan secara sistematis. Sebagai gantinya, sekaligus sebagai penutup, penulis memberikan contoh naskah terjemahan sebagai berikut:


It was 7 minutes after midnight. The dog was lying on the grass in the middle of the lawn in front of Mrs Shears’ house.
Waktu itu tujuh menit lewat tengah malam. Seekor anjing terbaring di rumput di tengah-tengah halaman di depan rumah Nyonya Shears.

Its eyes were closed. It looked as if it was running on its side, the way dogs do when they think they are chasing a cat in a dream.

Matanya terpejam. Anjing itu terlihat seakan-akan sedang berlari sambil berbaring menyamping, seperti yang biasa dilakukan anjing jika bermimpi mengejar seekor kucing.

But the dog was not running or asleep. The dog was dead. There was a garden fork sticking out of the dog.
Tapi anjing itu bukan sedang berlari dan juga bukan sedang tidur. Anjing itu mati. Sebuah garpu kebun yang besar tertancap di badannya.

The points of the fork must have gone all the way through the dog and into the ground because the fork had not fallen over.

Ujung-ujung garpu itu sepertinya menembus badan anjing itu dan masuk ke dalam tanah, sebab garpu itu tetap berdiri tegak.


I decided that the dog had been killed with the fork because I could not see any other wounds in the dog and I do not think you would stick a garden fork into a dog after it had died for some other reason, like cancer for example, or a road accident. But I couldn’t be certain about this.

Kesimpulan saya, anjingnya dibunuh dengan garpu itu, sebab saya tidak melihat luka lain di badan si anjing dan saya kira tidak mungkin garpu itu ditancapkan setelah anjingnya mati karena sebab lain, misalnya karena kanker, atau karena ditabrak mobil. Tapi ini memang tidak bisa saya pastikan.
Demikianlah uraian singkat mengenai pengalaman penulis dalam menerjemahkan karya fiksi jenis novel. Semoga bermanfaat.

Hendarto Setiadi

(Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia)

4 thoughts on “Be a Good (Novel) Translator

  1. Informasi yang menarik sekali mbak….
    Saya ingin sekali menerjemahkan novel…bagaimana cara mendapatkan job?

  2. Sebenarnya banyak, lo, penerbit yang butuh penerjemah. Hanya saja, kadang mereka tidak membuka lowongan secara terbuka. Coba aja kirim lamaran ke penerbit-penerbit yang menerbitkan buku-buku lisensi. Jika mereka membutuhkan, mereka akan mengirimkan beberapa lembar naskah untuk diterjemahkan. Mereka akan membaca dan menilai. Jika cocok, job pun akan datang ke kita. Good luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s