Life is Like Riding a Bicycle

Begitu kata Einstein, yang dikutip oleh seorang sahabat dalam sebuah dialog di suatu waktu, ketika aku mengeluhkan “keletihanku”. Hidup itu seperti halnya kita naik sepeda. Kita harus tetap mengayuhnya untuk mencapai tujuan kita. Sepeda tidak berjalan otomatis, tidak seperti kendaraan bermesin lainnya. Jadi tubuh kitalah yang mesti mengusahakan ia bisa berlari. Lelah, memang. Kadang jika terjal jalannya, kita mesti mengeluarkan energi lebih agar sepeda kita tetap melaju. Why not? Demi tujuan yang ingin kita capai, sakit di badan tak akan terasa sepedih jika kita diam dan tak sampai di mana pun.

Untuk itu, optimisme sangat diperlukan

Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kepada kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita. Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Bagaimana kita bisa menggapai keinginan kita jika kita saja tak punya keinginan yang kuat dari dalam diri kita, atau tak percaya pada kemampuan yang kita miliki?

Selain optimisme, hal penting lainnya adalah fokus pada tujuan.

Ada hal menarik yang kutemukan dalam buku Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu tentang “fokus” (hlm. 54), berikut ini.

Anda dapat yang Anda Fokus, bukan yang Anda pikir

Kebanyakan orang menyelingi berbagai kegiatanya dengan berbagai keluhan, tanpa menyadari bahwa yang ia lakukan sebenarnya adalah sedang “fokus” pada apa yang ia keluhkan. Oleh karena sifat energi kuantum semesta memiliki “respons persetujuan otomatis” maka yang akan terjadi adalah orang itu akan mendapatkan apa yang ia fokuskan (minta) yaitu hal-hal yang keluhkan itu.

Oleh karena itu, apa pun yang ingin kita capai, fokuskan pikiran kita untuk memperolehnya. Sesuai dengan hukum tarik-menarik yang terjadi di alam semesta, segala sesuatu akan menarik sesuatu yang sesuai dengan sifatnya. Jika kita terus berpikir tentang apa yang kita inginkan, energi kita akan terpancar untuk menarik apa yang kita inginkan tersebut.

Bersabarlah

Anything cap happen, even at those injury times….

Sedetik pun sering ada perubahan, bahkan saat injury times. Lihatlah para pemain sepak bola, gagal mencipta gol di babak-babak utama, mereka masih memiliki kesempatan di menit-menit terakhir. Tak ada yang tak mungkin terjadi. Gol bisa tercipta bahkan di detik terakhir. Begitupun dalam kehidupan nyata. Kita selalu masih punya waktu untuk berubah, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan pada saat-saat yang genting dan sering kali di luar prediksi. Kita hanya harus tetap fokus pada tujuan kita.

Berserah Diri kepada Tuhan

Tuhan selalu mengabulkan doa setiap orang. Dan Ia mengabulkan doa yang ada di HATI manusia, bukan yang ada di MULUT-nya. Oleh karena itu, tetaplah yakin akan dengan menyatukan mulut dan hati dalam berdoa. Jika terjadi konflik antara mulut dan hati, jika di hati kita berdoa tetapi di mulut kita ragu doa kita akan terkabul, doa kita pun akan sulit terkabul.

Jadi, keep on praying with your heart and your lips….

Ini sebuah petikan yang tak kalah menarik:

Semua yang terjadi di luar adalah serupa dengan yang terjadi dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya.

(Charles Brodie Patterson)

Posted in Uncategorized Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s