Membaca Lukisan

Malam ini tim kami sudah kembali lengkap. Setelah seminggu lamanya suamiku berkeliling Jawa, kini ia sudah kembali di tengah-tengah kami. Seminggu hanya bertualang berdua dengan Raia, kini setelah ia kembali, kami kembali bertualang bertiga.

Hmmm, setelah mengalami masa-masa berat menjadi ibu sekaligus ayah (halah), kini aku kembali jadi ibu saja, dan tugas yang membebaniku mewakili sang Ayah (nganter sekolah, nganter mandi bola, jalan-jalan, pergi belanja berdua aja) kini bebanku lebih ringan. Setidaknya sudah tinggal ”nemplok” doang di belakang suami. Seminggu kemaren? Weleh …stres juga, musti bermotor sendiri. Berangkat kantor mesti lebih pagi karena aku paling nggak bisa ngebut. Takut malah mengganggu pengendara lain karena berbuat kecerobohan. Hehe ….

Nah, karena sudah full team,mulai deh, bergerilya lagi. Ternyata anakku sudah menyiapkan ide. Begitu gejluk kami tiba di rumah (pulang kantor) dia sudah menodong mau nonton pameran di TBS (Taman Budaya Surakarta).

”Kata Om Boot ada pameran di TBS,” lapornya. Om Boot—begitu julukan yang diberikan anakku kepada cowok tetanggaku—Mbak Wiwik (gila, nih cewek jagoan bener lho, setelah ditinggal sang Ibu menghadap yang kuasa, dia tinggal seorang diri di rumahnya, di samping rumahku). ”Dora, Dora (ceileh… begitulah, dia mengumpamakan dirinya adalah Dora sementara Om Sapto—cowok Tante Wiwik itu dia jadikan Boot-nya. Hihi … bisa aja dia), di TBS ada pameran,lho, gitu kata Om Boot tadi.”

Aku dan suamiku berpandangan.

”Pameran apa?”

”Ya, bolehlah ….”

”Yeeee … asyik!” anakku pun berjingkrak gembira.

Lepas salat Magrib, kami bertiga pun naik motor menuju taman budaya yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Benar saja, rupanya agenda sedang penuh. Bisa dilihat dari papan di depan TBS yang memampang dua poster besar. Ada Pameran Visual ”KOMPLIKASI” sama pentas teater ”ORDE TABUNG” yang digelar hari ini. Ah, pilih nonton pameran ajalah ….

Lalu kami pun asyik ”membaca” lukisan. Anakku sibuk berceloteh mengomentari lukisan-lukisan yang menurutnya ”lucu”, tentu saja sambil bertanya ini-itu. Kami ”berdiskusi” tentang lukisan. Apa ini apa itu, mengapa begini mengapa begitu. Ya sebisa mungkin aku menjelaskannya (maklum, hanya penikmat dan bukan ahli dalam lukisan, hehe …) Tak lupa kami mengabadikan beberapa karya yang menurut kami menarik. Sambil berdoa diam-diam, semoga kelak kami bisa mengoleksi benda-benda seni yang harganya pasti tak murah itu.

Usai menonton, suamiku yang baru pulang setelah berhari-hari berkeliling Jawa itu mengeluh capek dan badannya sakit semua.

”Beli vitamin C yang 1000mg itu, yuk,” ajaknya.

”Gimana kalau susu segar aja?” usulku.

”Oke juga, ayuk ….”

Kami pun melesat menuju sebuah warung susu segar yang terletak di belakang kampus UNS. Aku yang merasa badanku juga kurang fit pun memesan es susu sirup dan makan pisang goreng satu biji. Suamiku, pilih STMJ (ih,apa enaknya,amis banget telornya) sama … puyuh bakar. Hiiiy …. Aku menolak ketika ia menawariku. Aku tidak doyan yang aneh-aneh. Hanya karena aku bukan vegetarian aku mau makan daging ayam dan paling banter sapi, tapi tidak bagian-bagian yang ”aneh-aneh”. Daging hewan lain—kecuali ikan tentunya—selalu ”aneh” buatku.

Bismillah … mudah-mudahan ini bisa menjadi energi yang cukup buatku bekerja malam ini. Deadline terjemahan masih dua bulan, tapi aku sudah menyiakan banyak waktu dengan doing nothing minggu lalu.

Pulang dari nonton pameran, kami nge-game sebentar di laptopku. Anakku tertidur, begitupun suamiku yang tampaknya sudah sangat kecapekan. Dan aku … siap untuk kembali berkarya!

Ah, indahnya dunia ….

(birunya hatiku harus cepat berlalu ….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s