Apakah Kita Berjiwa Besar?

Pada suatu sore, sepulang dari kantor, aku menemukan cewek kecil kesayanganku sedang tidur pulas. Padahal sudah hampir magrib ketika itu.

“Tadi siang nggak bobok, Mbak?” tanyaku kepada Mbak Indah—pembantuku.

“Nggak, Bu,” jawabnya. “Seharian main terus dengan Kenzha (Kenzha adalah sohib kental anakku). Kalau tadi nggak berantem juga kali masih main sampai sekarang.”

Alisku terangkat. Wo, berantem?

“Tidur jam berapa dia?”

“Baru jam empat dia bobok.”

Hmmm …. So, karena dia tidur, aku bisa mandi sore dengan tenang, tanpa ada yang merecoki—memanggil-manggil dengan suaranya yang melengking atau menggedor pintu kamar mandi minta dibukain—dengan alasan mau pipislah, mau apalah, tapi sebenernya biar ibunya cepet-cepet selesai mandi biar bisa main sama dia.

Usai mandi aku mendekati anakku yang tidur di karpet di depan televisi itu. Beberapa saat mengamati kepulasannya, tiba-tiba dia menggeliat dan membuka mata. Mungkin merasakan kehadiranku di dekatnya.

“Halo,” aku menyapanya riang.

Dia tak menjawab. Bangun dan duduk. Diam dan tampak bingung. Biasa—belum “menginjak bumi” lagi setelah barangkali menjelajah dunia mimpi.

“Ngapain aja hari ini?” tanyaku lembut. “Katanya tadi habis berantem, ya?”

Ia mengerjap. Berpikir.

“Mbak Kenzha nakal,” cetusnya.

“Aya-nya juga ngeyel, sama aja,” Mbak Indah menambahi.

“Memangnya kenapa?” tanyaku—pandanganku bergantian menatap anakku dan pembantuku.

“Ya biasa, beda pendapat gitu, Bu. Nggak jelas sih, soal apa. Tapi terus berantem. Tadi aku lagi ngepel. Pas aku lihat, si Kenzha mau dorong kepala Aya jadi kuteriakin. Dianya langsung kabur, pulang.”

“Aku dorong Mbak Kenzha duluan sampai mau jatuh,” tiba-tiba si Kecil nyeletuk dengan sombongnya.

Wha???

Hmmm …, yang kutahu anakku ini sangat mengagumi Kenzha—anak yang dua tahun lebih tua ketimbang dirinya itu. Kenzha yang lebih besar itu lebih sering ia turuti kemauannya. Sampai-sampai aku kerap bilang, jangan terlalu ngalah dengan Kenzha. Karena, anak itu sering kali “semena-mena” terhadap temannya yang lebih kecil. Dengan anakku saja dia mendapatkan lawan yang cukup imbang. Meski, sering juga, karena tidak ingin “kehilangan” Kenzha, anakku banyak mengalah. Memang sengaja kutanamkan, juga suamiku, agar dia tidak menjadi korban “bullying” anak lain. Aku dan suamiku berusaha menanamkan agar ia punya prinsip yang kuat, bisa mengatakan “tidak”, dan bisa melawan “kesewenang-wenangan” orang lain.

Dan, hasilnya, bisa kulihat saat ini—salah satunya.

Aku tidak bermaksud untuk menyalahkannya kali ini, karena aku sadar benar, ini adalah output dari apa yang kuajarkan bersama suamiku.

Tapi, entah bagaimana, si Kecil ini tampaknya merasakan sesuatu yang lain di samping kekesalannya yang masih belum hilang kepada Kenzha. Dia terlihat gelisah, termenung, lalu beranjak ke pintu depan, melongok-longok, masuk lagi, keluar lagi, begitu terus.

“Kenapa, Non?” tanyaku. “Mau ke mana?”

“Mau main ke Mbak Kenzha,” sahutnya ragu. Setegah takut akan kumarahi.

“Lho, katanya habis berantem?” cetusku. “Lagi pula ini sudah malam, lho.”

“Yaaahhh … Ibu,” ia meluncurkan kekecewaannya. “Tapi aku mau ke rumah Mbak Kenzha.”

Memang, rumah Kenzha memang hanya sekitar seratus meter dari rumah kami. Tapi, ini sudah malam …. Aku selalu mengajarkan epadanya untuk tidak bermain di luar ketika azan Magrib berkumandang.

“Memangnya kalau besok kenapa?” tanyaku. “Kan seharian sudah main terus. Besok lagi mainnya.”

“Tapi … tapi aku mau minta maaf sama Mbak Kenzha.”

…..

DEG!

Aku terenyak sesaat.

“Aku tadi kan marahan sama Mbak Kensha, sekarang aku mau minta maaf.”

Oh ….

Tiba-tiba hatiku tergetar. Ucapan itu diucapkan oleh seorang anak yang belum lagi genap empat tahun. Anak yang bandel dank eras kepala itu. Yang kuajari untuk melawan kesewenangan temannya.

Aku teringat bahwa aku pun mengajarkan sikap untuk rela meminta maaf. Untuk berjiwa besar mengakui kesalahan. Dan, kini ia telah menerapkannya dalam hidupnya.

Aku pun diserang malu mengingat aku sebagai orang dewasa pun masih sulit menerapkannya.

“Boleh, ya, Bu?” si Kecil msih mendesakku.

“Oh …,” aku tergagap. “Ya, deh, boleh. Tapi jangan lama-lama, ya? Cepet pulang, ya?”

Ia mengangguk mantap, lalu melesat keluar rumah. Meninggalkan aku yang tertegun-tegun dibuatnya.

Hari ini aku belajar dari seorang anak kecil, anak perempuanku,

bahwa pertengkaran, perbedaan pendapat, atau apa pun namanya yang terjadi antara kita dengan orang lain, sebenarnya telah melukai hati masing-masing. Kita kerap kali sombong dengan menolak bahwa itu adalah kesalahan kita. Kita sering kali menyalahkan orang lain sebagai biang dari pertikaian kita. Dan mengaku yang paling benar. Yang paling tidak bersalah. Tetapi, apakah pernah kita berpikir bahwa kita juga memiliki kontribusi kesalahan terhadap persoalan kita? Lalu, jika sudah demikian, masihkah kita tetap bersombong untuk mengakui kesalahan?

Jika ada ungkapan mengatakan bahwa “memaafkan” lebih besar nilainya ketibang “meminta maaf”, menurutku itu tidak selamanya benar. Berjiwa besar, mau mengakui kesalahan, itu adalah hal yang sangat-sangat sulit. Mengalahkan kesombongan diri sendiri adalah hal yang bahkan orang bijak pun mungkin akan sulit meruntuhkannya.

Tetapi, belajar memang tidak harus kepada orang dewasa. Belajar dari seorang anak kecil justru lebih menggerakkan. Dan, ketika anakku kembali dengan wajahnya yang sudah berbinar ceria, pertanda hatinya telah lega karena sudah berdamai dengan sahabatnya, aku mulai berpikir. Apakah aku masih belum berjiwa besar kepada seseorang, seperti halnya anakku dengan Kenzha?

Apakah Anda juga demikian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s