Peradaban Dimulai dengan Membaca

Membaca,awal peradaban
Membaca,awal peradaban

“Iqra!”

Demikian Allah memerintahkan kepada Muhammad saw. ketika Dia menurunkan kitabnya kepada rasul terakhir itu. Penegasan perintah “iqra” atau “bacalah” dalam Al-Qur’an tidak hanya disebutkan satu kali. Dalam satu waktu dan satu kali ayat pertama diturunkan, perintah “bacalah” diulang dua kali. Dan itu terdapat dalam satu surat, yaitu Al-Alaq ayat pertama dan ketiga. Perintah Allah yang tegas itu mampu mengubah peradaban Arab jahiliah yang sebelumnya terbelakang menjadi bangsa yang jaya, tak kalah dari bangsa-bangsa lain yang telah mencapai kegemilangan peradaban sebelumnya, seperti bangsa India yang termashyur karena tradisinya membukukan dan mengoleksi kitab-kitab turats mereka, atau bangsa Yunani dengan filsafat dan mantiknya, atau bangsa Persia dengan budaya ceramah dan orasi Islamnya. (Ahmad Iman, Fajrul Islam)

Mengapa Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca?

Karena jika ia tak dapat membaca maka ia tidak bisa menyampaikan. Padahal tugasnya di muka bumi ini adalah untuk menyebarkan agama Allah dan perintah-Nya Dia sampaikan melalui tulisan. Kitabullah. Jadi jika Muhammad tak bisa membaca, bagaimana ia menyampaikan amanah itu terhadap umatnya?

Membaca adalah awal dari peradaban.  Semua tokoh terkenal di dunia mengwali karya terbaik mereka dengan membaca. Mereka membaca karya-karya terdahulu, membaca terori-teori lama untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah pemikiran dan penemuan baru yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

Bagaimana memulai budaya gemar membaca?

Usia Dini

Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Si Orok yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron.

Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka. Di Amerika buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembah anak) terbitan Sesame Street sangat digemari sebab isinya yang sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

Usia Sekolah

Novel serial “Latifah Never Gives Up” ini bergenre teenlit, kategori bacaan yang digemari anak-anak remaja.

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Dengan diadakannya Proyek-proyek pengadaan buku bacaan di sekolah, maka semakin banyak pula bahan bacaan bagi anak sekolah.

 

Pada usia sekolah ini, buku yang paling sering dijamah selain buku pelajaran adalah buku komik dan buku-buku fiksi ringan, semacam teenlit. Bahkan bila mereka ditanya asyik mana membaca buku pelajaran dengan komik atau teenlit, mereka akan menjawab serempak komik dan teenlit.

 

Selain buku, perpustakaan sekolah pun menjadi sarana yang perlu mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Ia seolah jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity). Bahkan karena pentingnya perpustakaan pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

ujNamun apabila kita menengok kondisi perpustakaan sekolah kita, maka akan banyak mengundang keprihatinan karena selain miskin koleksi pustaka, juga kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku dari pada perpustakaan sekolah. Oleh karenanya tuan perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca tidak bisa terwujud. Bahkan dengan nada yang agak pesimis, seorang pakar pendidikan, J. Drost, SJ mengatakan, sekolah tak bisa diandalkan untuk menanamkan gemar membaca.

Memang bila kita mengamati kondisi perpustakaan di sekolah akan menjumpai hal-hal berikut.

Pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Masih banyak terlihat ruang-ruang perpustakaan yang tidak terpelihara, buku-buku tidak tertata baik dan terlihat kumuh. Kondisi seperti ini tentu berdampak negatif terhadap minat siswa untuk mau membaca. Masih banyak kepala sekolah yang kurang berminat menyisihkan dana anggaran untuk keperluan pengadaan buku atau tambahan buku baru.

Kedua, kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka pada saat jam istirahat selama 15 menit sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya cukup untuk membuka-buka lembaran gambar di majalah. Sedang jam khusus untuk membaca di perpustakaan jarang ada di sekolah atau tidak ada sama sekali.

Ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustaaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Di Jepang sejak 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka mengembangkan system distribusi buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Bagi mereka yang tidak bersekolah karena alasan prinsip tidak punya biaya seperti yang dialami anak-anak jalanan serta bagi anak-anak usia sekolah di luar jam sekolah perlu dipikirkan bagaimana mengatasinya.

Pemerintah perlu memperbanyak armada mobil perpustakaan keliling ke kampung-kampung. Selain itu perlu menggalang kerja sama dan menggugah kesadaran masyarakat untuk membuat taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa yayasan yang menyelenggarakan taman bacaan untuk anak-anak di daerah pinggiran semacam: Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta, Taman Bacaan milik yayasan artis Yessy Gusman perlu mendapat dukungan semua pihak berupa materi maupun nonmateri.

Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa tentu saja lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku dll. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat dll.

Hal ini tentu akan berkembang lebih cepat apabila pemerintah mau memberikan kemudahan-kemudahan pada penerbit berupa harga bahan kertas yang murah, atau pemberian kredit lunak bagi penerbit yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat bawah.

Membaca tak dapat dilepaskan dengan menulis. Karena membacalah kita dapat menulis. Oleh karena itu, lomba-lomba penulisan buku bacaan sebaiknya diperbanyak dengan hadiah yang lebih menarik. Bukan tidak mungkin, dapat dikonsep seperti dalam acara kuis-kuis yang hampir tiap hari diadakan oleh beberapa stasiun TV swasta dengan menggandeng perusahaan-perusahaan nasional dan multi nasional. Dengan kegiatan tersebut niscaya akan bertambah penulis-penulis yang semakin andal.

 

(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s