Friendship (2)

Anyway, setelah kisah kehilangan … hmmm, banyak lagi kisah-kisah yang indah tentang persahabatan yang pernah kujalani. Seperti, misalnya, ketika aku masih duduk di bangku SMA.

I had a best friend. Seseorang yang pertama kali membuatku sadar arti persahabatan yang sebenarnya.

Agnes
Agnes

Setelah sekian lama kehilangan kontak, ehm … sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, akhirnya takdir mempertemukan kami kembali tanpa sengaja. Sahabatku ini bernama Agnes Dwi Alamsari. Akrab dipanggil dengan sebutan Agnes. Dia cantik, lembut, dan baik hati. Kami punya banyak persamaan sifat. Mungkin karena tanggal lahir kami tak jauh beda, hanya selisih dua minggu di bulan yang sama–Januari.

Kami saling memahami satu sama lain. Ibaratnya tanpa mesti cerita panjang lebar pun, kami bisa saling menebak kami sedang merasa apa. Saling bisa membaca kegelisahan satu sama lain. Apa yang dia rasakan tentang suatu hal, kerap kali sama dengan yang kurasakan. Begitupun sebaliknya. Apa yang kusuka, biasanya dia juga suka. Pokoknya kompak, deh.

Sayangnya, selepas SMA kami mesti berpisah. Dia kuliah di Purwokerto, sementara aku “terdampar” di Solo. Kami pun hilang kontak. Maklumlah, dulu kan belum ada hape kayak sekarang. Hihi …. Syukurlah, akhirnya kami bertemu kembali. Meski tidak secara fisik, tetapi kadang saling ber-sms. Dan tak dinyana, kami masih juga bertemu dalam hal yang sama: hobi nge-blog. Kalo pengen lihat siapa dia, dia bisa “dikunjungi’ di blog AGNES

Beruntung, deh, dia sekarang udah jadi PNS. Hmmm…

Sahabat-sahabat lain yang datang dalam sejarah hidupku adalah teman-temanku di mapala universitas dulu, Garba Wira Bhuana. Mereka bukan hanya sekadar sahabat buatku, melainkan juga saudara. Keluarga. Yang saat susah saling bantu, seneng juga bareng-bareng. Memiliki keluarga seperti mereka benar-benar berarti dalam hidup aku. Dari mereka aku belajar banyak hal. Bagaimana survive, bagaimana menjadi kuat dalam hidup, berani ambil risiko, dan berani … berutang. Hahaha …, enggak ah. Kadang aku sangat merindukan masa-masa itu. Ketika bertualang bersama. Ke gunung, ke pantai. Bahkan pernah nyaris kehilangan nyawa saat tersapu ombak di saat sesion susur pantai. Untungnya Tuhan masih sayang nyawa kami. Dan ajal memanglah belum sampai mengetuk pintu kami. Ketika hanya nongkrong di sekretariat, bercanda, nyanyi bareng, makan di Cak Mul. (Oh, aku juga kangen Cak Mul. Hik dia adalah hik terenak di dunia. Slrrppp….)

Sahabat-sahabat yang lain, adalah teman-temanku di kelompok teater kampus, TESA. Berbeda karakter dengan di mapala, di teater aku belajar menjadi “orang lain”. Dengan memosisikan diri dalam diri orang lain (baca: berperan) aku belajar memahami perasaan orang lain. Selain belajar berperan, aku juga belajar bersinergi dengan orang lain. Juga belajar mengasah imajinasi. Di sini pula, aku menemukan kembali kegairahan untuk mulai menekuni dunia menulis, dengan menulis naskah drama. Bersama mereka, aku menjadi pejalan kaki, menyambangi pentas satu ke pentas lain. Berpentas dari satu tempat ke tempat lain. Di sini, aku menemukan “rumah” yang begitu hangat dan nyaman.

“Berpindah” ke dunia kerja menghadirkan nuansa yang berbeda lagi. Ketika usia kian dewasa, cara pandang

teman-teman kantor, General Book dept. Tiga Serangkai
Teman-teman kantor, General Book dept. Tiga Serangkai.

kita maupun respons kita terhadap sesuatu sudah sangat lain dengan ketika kita masih “liar” dan “hijau”. Aku merasa lebih tertata. Begitupun, dalam pertemanan. Karena, dunia kerja yang profesional, terkadang membuat kita lupa makna persahabatan. Menurutku, karena persahabatan bersifat sangat emosional. Dan kerja yang terpengaruh suasana batin, menjadi sangat tidak profesional. So, tidak seperti di waktu berorganisasi di kampus, aku hanya punya satu-dua orang yang benar-benar sangat dekat denganku. Dan kurasa itu cukup indah buatku.

Hanya kita yang dapat mengukur kenyamanan hidup kita, bukan?

Posted in Uncategorized

3 thoughts on “Friendship (2)

  1. mbk, ni mei yang dlu pkl d ts.

    Aku mau tny?
    kbr ts gmn?
    kbr maz tito dan semua ank2 editor yang kenel mei,
    aku cuma mau bilang aku kngen bgt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s