Friendship (1)

Apakah makna teman dalam hidup kita?

a friend in need is a friend indeed
a friend in need is a friend indeed

Terlahir dari rahim ibunda, kita benar-benar individu utuh. Tunggal (kecuali yang kembar🙂 ). Kita belajar bicara, kita belajar merangkak, berjalan, lalu berlari. Dan kita disiapkan untuk menjadi manusia yang siap mengarungi kehidupan di dunia. Dalam menjalani kehidupan begitu keras ini, kita membutuhkan seseorang. Seseorang yang dengannya kita merasa aman. Seseorang yang dengannya kita merasa tak harus menjadi seseorang yang sempurna. Seseorang itu, adalah teman, sahabat. Tempat bercerita, berkeluh kesah, membagi tawa dan pahit bersama.

Teman: bukan keabadian?

Terkadang dalam sejarah perjalanan hidup kita, teman datang dan pergi. Terkadang hanya singgah sesaat, meninggalkan jejak kenangan untuk disimpan. Seperti perahu singgah di dermaga kemudian kembali meneruskan pelayarannya. Meski kehilangan, kita harus tetap melepaskannya. Agar ia bisa melanjutkan perjalanan hidupnya dan sampai di tujuannya. Dan kita hanya bisa berdoa untuk keberuntungannya esok hari.

Beberapa kali aku merasakan kehilangan seorang teman.

Kehilangan yang paling besar adalah ketika seorang sahabat pergi menghadap Ilahi di masa-masa kuliahku. Dia adalah sahabat yang bisa dibilang paling dekat denganku ketika itu. Bersamanya aku merasa tidak harus menjadi seseorang yang luar biasa. Dia menerimaku apa adanya. Hatinya sungguh lembut dan itu membuatku nyaman berada di dekatnya. Namun, di suatu masa ia “terjatuh”. Hati lembutnya terkoyak karena karena seorang laki-laki. Kisah cinta yang begitu muskil–yang menjadi blunder buatnya, yang menghancurkan hatinya hingga serpih-serpih kecil dan membuatnya luruh dalam tangis yang tak jua bisa kuredakan. Membuat ia sakit berkepanjangan. Dalam rentang waktu itu, aku sempat “meninggalkannya” karena putus asa. Karena tak tahu cara membangkitkannya. Segala cara sudah kucoba, tetapi rupanya ia sudah terlanjur terluka. Tak ada siapa pun dapat menyentuh dunianya, dan dia menjadi seseorang yang benar-benar berbeda. Aneh. Ganjil. Dan yang lainnya. Dan itu membuatku merasa gamang. Menganggap ia sebagai kanak-kanak yang tak mau belajar. Dan aku kesal kepadanya.

Lalu ia jatuh sakit. Berkepanjangan. Membuat orang tuanya harus menariknya kembali, pulang ke Jakarta. Ia sempat beberapa lama masuk rumah sakit. Apakah tubuhnya yang sakit? Tidak. Bukan. Her soul. Batinnya.

Luar biasa. Beberapa kali ibunya menelepon dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi aku tak bisa mengungkapkan jawaban yang tepat. Lidahku terasa kelu. Aku hanya bisa menangis diam-diam dan berdoa agar Tuhan menyembuhkan sakitnya.

Tetapi… yang terjadi, Tuhan benar-benar menyembuhkan sakitnya di dunia dengan mengambilnya kembali. Dan kepergiannya begitu tragis.

Beberapa hari sebelum kejadian, aku tidak dapat tidur dan mendapat firasat yang sangat sangat buruk. Aku bermimpi seorang dosenku meninggal karena kecelakaan. Dosen itu memiliki nama yang sama dengan sahabatku. Aku mencemaskan mimpiku. Mengkhawatirkan dosenku. Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bukan dosenku, tetapi … sahabatku.

Berita kematian itu diketahui seorang teman dari televisi. Menyebutkan ada seorang mahasiswi sebuah universitas negeri di Solo, yang terjatuh dari jembatan penyeberangan. Namanya … fotonya … adalah milik sahabatku.

Dengan panik dan tak percaya aku buru-buru pergi ke wartel untuk mengkonfirmasi berita. Dengan harapan yang besar bahwa berita itu salah, dan seolah tak tahu apa-apa, aku menanyakan apakah dia ada di rumah. Dan yang kudapatkan … adalah lolong tangis yang panjang dan memilukan.

Aku sadar aku harus mengabarkan ini kepada teman-teman yang lain. Dan ketika tiba di depan sekretariat organisasi kami, tubuhku seperti tak bertenaga. Dan aku jatuh pingsan.

Kepedihan,

rasa kehilangan,

rasa bersalah,

begitu menghantuiku.

Aku tak bisa berhenti menangis sampai berhari-hari.

Seandainya aku bisa berada di sisinya setiap saat, tak pernah berhenti memberikan kekuatan kepadanya, apakah aku sanggup menyelamatkan hidupnya? Itulah selalu yang bergaung dalam benakku.

Ketika pada suatu malam kumimpikan kehadirannya, setelah hampir sebulan aku berduka, aku tahu dia memaafkanku ketika pada saat-saat terakhirnya aku tak dapat mendampinginya. Lalu aku pun berziarah ke makamnya, dan merasakan kedamaiannya. Begitu indah dan damai di sisi Tuhannya.

Yah, aku telah mengantarkan sahabatku ke peristirahatan terakhirnya. Tempat yang damai untuknya. Mungkin itulah yang terbaik. Tuhan tahu yang terbaik buatnya.Dan aku harus terus melanjutkan hidupku.

Sampai saat ini, dia terus ada dalam hatiku. Menjadi salah satu bagian yang penting dalam sejarah kehidupanku.

Rest in peace my friend …

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s