Be a Good (Novel) Translator

Tips buat mereka yang berprofesi sebagai penerjemah, terutama penerjemah novel. Sharing pengalaman dari ketua HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia, Bapak Hendarto Setiadi). Semoga bermanfaat, yaaa ….

Pendahuluan

Saat ini banyak karya sastra dunia berupa roman, novel dan puisi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Jika kita berkunjung ke toko buku bahkan segera terlihat bahwa jumlah karya fiksi hasil terjemahan – baik untuk orang dewasa, apalagi untuk pembaca anak-anak – jauh melampaui jumlah karya asli pengarang Indonesia. Namun apakah aspek kuantitas ini juga disertai kualitas yang memadai? Kita tahu bahwa kualitas terjemahan di Indonesia sering digugat. Di salah satu milis malah pernah muncul komentar bahwa penerjemah Indonesia tidak ada yang becus! Pendapat itu terasa ekstrim, tapi ada benarnya. Memang tidak sedikit karya terjemahan di Indonesia yang membuat pembacanya berkerut kening karena terpaksa mereka-reka sendiri apa gerangan maksud tulisan di hadapannya. Kadang-kadang suatu naskah terjemahan bahkan baru dapat dipahami apabila pembaca membayangkan bunyi naskah aslinya. Bagaimana sebenarnya proses yang menghasilkan karya fiksi terjemahan yang baik, khususnya novel? Apa saja tantangan yang dihadapi penerjemah dan langkah apa saja yang perlu ditempuh untuk mengatasi berbagai kesulitan yang timbul dalam proses penerjemahan? Untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, pada kesempatan ini penulis akan mencoba menganalisis proses penerjemahan novel yang terakhir dikerjakan, yaitu “The curious incident of the dog in the middle of the night-time” atau “Insiden anjing di tengah malam buta yang membuat penasaran” karya Mark Haddon.
Kriteria novel terjemahan yang baik Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu bersepakat dulu mengenai kriteria novel terjemahan yang baik. Teori penerjemahan tentu menawarkan sejumlah kriteria untuk menilai baik-buruknya suatu terjemahan, tetapi sebagai penerjemah otodidak penulis berpegang pada satu kriteria saja, yaitu pembaca versi terjemahan harus mendapat pengalaman yang serupa dengan pengalaman yang didapat pembaca versi asli.

Modal awal untuk berkarya
Ada beberapa hal yang membantu penulis pada saat menerjemahkan:

a. “Rasa” bahasa
Modal utama bagi seorang penerjemah adalah “rasa” bahasa. Penulis beranggapan demikian karena ini bukan sesuatu yang dapat dipelajari. “Rasa” bahasa merupakan bakat bawaan, sama seperti bakat bermain musik, misalnya. Tanpa “rasa” bahasa, rasanya mustahil seseorang dapat menghasilkan terjemahan yang mengalir dengan lancar.
Ada orang yang memiliki “rasa” bahasa, ada yang tidak. Kadarnya pun berbeda-beda: ada yang besar, ada yang kecil. Tetapi seperti bakat-bakat di bidang lain pun, “rasa” bahasa ini dapat diasah dan dikembangkan. Di sini berlaku rumus 10% inspirasi, 90% perspirasi.
Penulis sendiri sebagai penerjemah otodidak sejak semula sangat tergantung pada “rasa” bahasa ini. Karena tidak memiliki pengetahuan mengenai teori penerjemahan, “rasa” bahasa menjadi acuan utama bagi penulis dalam berkarya.

b. Penguasaan bahasa sumber
Penguasaan bahasa sumber dengan baik merupakan prasyarat bagi penerjemah untuk memahami semua detil dan nuansa yang terdapat pada suatu karya asli. Penulis mempunyai dua bahasa sumber dalam berkarya, yaitu Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Penulis beruntung karena dapat mempelajari kedua bahasa itu sejak usia muda. Walaupun penulis tidak pernah lagi mengikuti pelatihan formal kebahasaan selepas SMA,pengetahuan penulis mengenai kosakata dan gramatik dalam kedua bahasa sumber ini tetap berkembang dengan cara membaca, mendengar dan berbicara.


c. Penguasaan bahasa sasaran
Penguasaan bahasa sasaran dengan baik merupakan prasyarat agar semua detil dan nuansa karya asli dapat muncul pula dalam karya terjemahan. Selain itu, penguasaan bahasa sasaran juga amat perlu untuk menghasilkan naskah yang enak dibaca.
Dalam hal ini, latar belakang penulis dapat dianggap kurang menguntungkan. Berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya, penulis baru belajar Bahasa Indonesia pada waktu berusia 13 tahun, yaitu ketika pulang ke Indonesia setelah bermukim di luar negeri sejak lahir. Namun di pihak lain, hal ini justru menjadi pemicu bagi penulis untuk belajar dengan lebih giat dan juga untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih hati-hati.
d. Keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sumber. Dalam hal keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sumber, penulis beruntung karena dapat merasakan secara langsung kehidupan di Jerman, sehingga berbagai kebiasaan orang Jerman bukan lagi sesuatu yang asing. Budaya di sekitar bahasa Inggris dapat dipelajari oleh penulis melalui berbagai media, antara lain buku, lagu, film dan interaksi sosial.


e. Keakraban dengan budaya yang melingkupi bahasa sasaran Interaksi sosial dan pengamatan sangat membantu penulis untuk memahami budaya yang melingkupi bahasa sasaran, sehingga mempermudah pemilihan padanan yang tepat untuk situasi atau konteks tertentu.


f. Pengetahuan umum yang luas
Dalam bekerja penerjemah novel akan menghadapi naskah dengan berbagai latar belakang, sehingga pengetahuan umum yang luas merupakan bantuan yang sangat berharga. Setelah berkecimpung cukup lama di bidang penerjemahan, pengetahuan
umum penulis memang bertambah, tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa penulis kini semakin mampu untuk melengkapi pengetahuan sesuai dengan kebutuhan untuk menyelesaikan suatu terjemahan.

g. Sumber referensi yang mendukung
Semua hal di atas merupakan modal yang sangat membantu penulis. Modal ini tidak bersifat instan atau langsung jadi, melainkan merupakan hasil akumulasi selama penulis menekuni profesi penerjemahan.


Strategi penerjemahan

Penulis telah mengembangkan suatu strategi penerjemahan yang biasa penulis gunakan jika hendak menerjemahkan novel. Sebagai langkah pertama penulis membaca buku tersebut sampai tuntas untuk memperoleh gambaran umum mengenai para tokoh, alur cerita, setting, nada penuturan, pesan yang tersirat, dsb.Selanjutnya penulis mencari informasi tambahan mengenai buku yang akan diterjemahkan itu, baik menyangkut isi maupun latar belakang, termasuk mengenai pengarang. Setelah memperoleh informasi yang lumayan lengkap, penulis memutuskan gaya bertutur mana yang paling sesuai.
Kemudian penulis membaca bab yang akan diterjemahkan sambil menandai bagian-bagian yang mungkin menjadi masalah, sekadar sebagai persiapan mental. Lalu penulis mulai dengan proses penerjemahan. Biasanya penulis menerjemahkan sambil mencari padanan yang tidak langsung terpikir. Artinya proses penulisan sering kali terputus karena penulis harus membuka kamus. Bagi penulis ini lebih mudah daripada mencari padanan secara terpisah. Setiap kalimat bisa dibongkar-pasang berulang kali sampai penulis mendapatkan susunan kata yang terasa pas. Baru setelah satu bagian kalimat/paragraf/bab) selesai dikerjakan, penulis berlanjut ke bagian berikut. Bagian yang sudah lewat jarang penulis utak-atik lagi, kecuali tiba-tiba ada ilham yang bisa menjadikan bagian itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.

 

Contoh kasus
Sebagai ilustrasi, penulis akan berusaha membedah proses penerjemahan novel yang kini sedang ditangani, yaitu “The curious incident of the dog in the night-time” karya Mark Haddon. Dari judulnya saja segera dapat diketahui bahwa buku ini merupakan buku yang tidak biasa. Langkah pertama adalah membaca buku tersebut sampai tamat. Beberapa informasi yang paling relevan dengan proses penerjemahan adalah sebagai berikut:
• Tokoh utamanya seorang remaja putra bernama Christopher John Francis Boone, yang sekaligus bertindak sebagai narator. Cara bertuturnya khas – sangat kaku dan mendetil – dengan topik pembicaraan yang melompat-lompat. Ia merupakan murid sekolah luar biasa, namun sampai akhir cerita tidak pernah terungkap secara tegas mengapa ia bersekolah di sana.
• Christopher tinggal bersama ayahnya, seorang tukang reparasi alat pemanas. Mereka tinggal di Swindon, sebuah kota kecil di dekat London, Inggris. Kemudian penulis mencari informasi lebih lanjut mengenai buku tersebut.
Dari sini diketahui bahwa
• “The curious indicident of the dog in the night-time” memenangkan hadiah Whitbread Novel Award 2003, sebuah hadiah sastra yang cukup bergengsi
• Christopher mengidap sindrom Asperger, salah satu jenis autisme berciri kemampuan matematika luar biasa namun kemampuan sosial terbelakang –seperti Dustin Hoffman dalam film “Rain Man”.
Christopher bisa menghitung secepat kalkulator, tapi tidak bisa mengerti kiasan. Ia juga mempunyai keteraturan serta peraturan yang tidak bisa diusik.
• Pengidap sindrom Asperger memiliki kemampuan bahasa sangat baik, tetapi mempunyai pola berpikir yang kaku Selanjutnya penulis memutuskan untuk mempertahankan gaya bahasa yang dipergunakan Mark Haddon dalam menulis buku ini. Kalimat pendek dibiarkan pendek dan kalimat panjang tanpa titik-koma pun tetap berbentuk seperti itu.
Beberapa persoalan dalam penerjemahan
• Persoalan pertama menyangkut cara menerjemahkan judul yang tidak lazim. Setelah melalui berbagai pertimbangan, penulis memutuskan untuk menerjemahkannya sesuai judul yang asli menjadi “Insiden anjing di tengah malam buta yang membuat penasaran”.
• Persoalan kedua menyangkut pemilihan kata ganti orang. Dalam bahasa Inggris kata “I” dan “you” digunakan untuk semua orang dalam semua konteks, tetapi dalam bahasa Indonesia ada pasangan “aku-kau”, “saya-kamu/Anda”, yang masing-masing memiliki nuansa yang berbeda.
Dengan pertimbangan bahwa Christopher sulit bergaul dengan orang yang tidak dikenalnya, penulis akhirnya memilih pasangan “saya-kamu/Anda”, yang lebih menegaskan adanya jarak dibandingkan “aku-kau” yang lebih akrab. • Dalam naskah asli ada beberapa contoh metafora yang kemudian dibahas untuk menjelaskan mengapa Christopher tidak dapat memahami kiasan sepert itu:
I laughed my socks off.
He was the apple of her eye.
They had a skeleton in the cupboard.
We had a real pig of a day.
The dog was stone dead.

… I think this should be called a lie because a pig is not like a day
and people don’t have skeletons in their cupboards…

Contoh metafora di atas tidak diterjemahkan, melainkan diganti dengan metafora yang dikenal dalam bahasa Indonesia, sebab yang penting di sini bukan bunyi metafora melainkan bentuk metafora. Pembahasan yang menyusul juga disesuaikan dengan metafora yang baru:

Tetangga kami berlidah tajam.
Dia jatuh hati kepada gadis itu.

Ayah tulang punggung keluarga.Pahlawan adalah bunga bangsa.Saya selalu dijadikan kambing hitam.

…Menurut saya, memakai metafora sama saja dengan berbohong sebab lidah orang tidak tajam dan pahlawan juga bukan bunga…
• Pada suatu adegan Christopher bertemu dengan seseorang yang memakai
t-shirt bertulisan:
Beer.
Helping ugly people
have sex for
2,000 years.

 

Apakah tulisan pada t-shirt itu perlu diterjemahkan? Penulis memutuskan untuk tidak menerjemahkannya, sebab janggal rasanya jika seseorang di kota kecil di Inggris memakai t-shirt dengan tulisan dalam bahasa Indonesia. Namun seandainya diterjemahkan, kata-katanya akan diubah sedikit:


Bir.
Selama 2000 tahun
membantu orang jelek
mendapat teman kencan.


Tetapi di sini penulis perlu mengakui bahwa penulis tidak sepenuhnya konsisten. Untuk tulisan pada tanda/papan pengumuman diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali jika menyangkut nama diri.


Customers seeking access to car park please use assistance phone opposite right of the ticket box.

Penumpang yang ingin ke tempat parkir mobil silakan gunakan pesawat telepon khusus di seberang, di sebelah kanan loket karcis


WARNING CCTV in operation
AWAS KAMERA PEMANTAU


Your 50p will keep a premature baby alive for 1.8 seconds
Sumbangan 50p Anda akan menyambung nyawa bayi prematur selama 1,8 detik


Great Western – Great Western
The Lemon Tree – The Lemon Tree


• Dalam setiap terjemahan penulis berusaha mempertahankan suasana yang terdapat pada karya asli. Upaya ini terkait erat dengan “rasa” bahasa dan penulis tidak sanggup untuk menguraikan secara sistematis. Sebagai gantinya, sekaligus sebagai penutup, penulis memberikan contoh naskah terjemahan sebagai berikut:


It was 7 minutes after midnight. The dog was lying on the grass in the middle of the lawn in front of Mrs Shears’ house.
Waktu itu tujuh menit lewat tengah malam. Seekor anjing terbaring di rumput di tengah-tengah halaman di depan rumah Nyonya Shears.

Its eyes were closed. It looked as if it was running on its side, the way dogs do when they think they are chasing a cat in a dream.

Matanya terpejam. Anjing itu terlihat seakan-akan sedang berlari sambil berbaring menyamping, seperti yang biasa dilakukan anjing jika bermimpi mengejar seekor kucing.

But the dog was not running or asleep. The dog was dead. There was a garden fork sticking out of the dog.
Tapi anjing itu bukan sedang berlari dan juga bukan sedang tidur. Anjing itu mati. Sebuah garpu kebun yang besar tertancap di badannya.

The points of the fork must have gone all the way through the dog and into the ground because the fork had not fallen over.

Ujung-ujung garpu itu sepertinya menembus badan anjing itu dan masuk ke dalam tanah, sebab garpu itu tetap berdiri tegak.


I decided that the dog had been killed with the fork because I could not see any other wounds in the dog and I do not think you would stick a garden fork into a dog after it had died for some other reason, like cancer for example, or a road accident. But I couldn’t be certain about this.

Kesimpulan saya, anjingnya dibunuh dengan garpu itu, sebab saya tidak melihat luka lain di badan si anjing dan saya kira tidak mungkin garpu itu ditancapkan setelah anjingnya mati karena sebab lain, misalnya karena kanker, atau karena ditabrak mobil. Tapi ini memang tidak bisa saya pastikan.
Demikianlah uraian singkat mengenai pengalaman penulis dalam menerjemahkan karya fiksi jenis novel. Semoga bermanfaat.

Hendarto Setiadi

(Ketua Himpunan Penerjemah Indonesia)

Life is Like Riding a Bicycle

Begitu kata Einstein, yang dikutip oleh seorang sahabat dalam sebuah dialog di suatu waktu, ketika aku mengeluhkan “keletihanku”. Hidup itu seperti halnya kita naik sepeda. Kita harus tetap mengayuhnya untuk mencapai tujuan kita. Sepeda tidak berjalan otomatis, tidak seperti kendaraan bermesin lainnya. Jadi tubuh kitalah yang mesti mengusahakan ia bisa berlari. Lelah, memang. Kadang jika terjal jalannya, kita mesti mengeluarkan energi lebih agar sepeda kita tetap melaju. Why not? Demi tujuan yang ingin kita capai, sakit di badan tak akan terasa sepedih jika kita diam dan tak sampai di mana pun.

Untuk itu, optimisme sangat diperlukan

Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kepada kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita. Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Bagaimana kita bisa menggapai keinginan kita jika kita saja tak punya keinginan yang kuat dari dalam diri kita, atau tak percaya pada kemampuan yang kita miliki?

Selain optimisme, hal penting lainnya adalah fokus pada tujuan.

Ada hal menarik yang kutemukan dalam buku Quantum Ikhlas-nya Erbe Sentanu tentang “fokus” (hlm. 54), berikut ini.

Anda dapat yang Anda Fokus, bukan yang Anda pikir

Kebanyakan orang menyelingi berbagai kegiatanya dengan berbagai keluhan, tanpa menyadari bahwa yang ia lakukan sebenarnya adalah sedang “fokus” pada apa yang ia keluhkan. Oleh karena sifat energi kuantum semesta memiliki “respons persetujuan otomatis” maka yang akan terjadi adalah orang itu akan mendapatkan apa yang ia fokuskan (minta) yaitu hal-hal yang keluhkan itu.

Oleh karena itu, apa pun yang ingin kita capai, fokuskan pikiran kita untuk memperolehnya. Sesuai dengan hukum tarik-menarik yang terjadi di alam semesta, segala sesuatu akan menarik sesuatu yang sesuai dengan sifatnya. Jika kita terus berpikir tentang apa yang kita inginkan, energi kita akan terpancar untuk menarik apa yang kita inginkan tersebut.

Bersabarlah

Anything cap happen, even at those injury times….

Sedetik pun sering ada perubahan, bahkan saat injury times. Lihatlah para pemain sepak bola, gagal mencipta gol di babak-babak utama, mereka masih memiliki kesempatan di menit-menit terakhir. Tak ada yang tak mungkin terjadi. Gol bisa tercipta bahkan di detik terakhir. Begitupun dalam kehidupan nyata. Kita selalu masih punya waktu untuk berubah, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bahkan pada saat-saat yang genting dan sering kali di luar prediksi. Kita hanya harus tetap fokus pada tujuan kita.

Berserah Diri kepada Tuhan

Tuhan selalu mengabulkan doa setiap orang. Dan Ia mengabulkan doa yang ada di HATI manusia, bukan yang ada di MULUT-nya. Oleh karena itu, tetaplah yakin akan dengan menyatukan mulut dan hati dalam berdoa. Jika terjadi konflik antara mulut dan hati, jika di hati kita berdoa tetapi di mulut kita ragu doa kita akan terkabul, doa kita pun akan sulit terkabul.

Jadi, keep on praying with your heart and your lips….

Ini sebuah petikan yang tak kalah menarik:

Semua yang terjadi di luar adalah serupa dengan yang terjadi dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya.

(Charles Brodie Patterson)

Posted in UncategorizedTagged

Membaca Lukisan

Malam ini tim kami sudah kembali lengkap. Setelah seminggu lamanya suamiku berkeliling Jawa, kini ia sudah kembali di tengah-tengah kami. Seminggu hanya bertualang berdua dengan Raia, kini setelah ia kembali, kami kembali bertualang bertiga.

Hmmm, setelah mengalami masa-masa berat menjadi ibu sekaligus ayah (halah), kini aku kembali jadi ibu saja, dan tugas yang membebaniku mewakili sang Ayah (nganter sekolah, nganter mandi bola, jalan-jalan, pergi belanja berdua aja) kini bebanku lebih ringan. Setidaknya sudah tinggal ”nemplok” doang di belakang suami. Seminggu kemaren? Weleh …stres juga, musti bermotor sendiri. Berangkat kantor mesti lebih pagi karena aku paling nggak bisa ngebut. Takut malah mengganggu pengendara lain karena berbuat kecerobohan. Hehe ….

Nah, karena sudah full team,mulai deh, bergerilya lagi. Ternyata anakku sudah menyiapkan ide. Begitu gejluk kami tiba di rumah (pulang kantor) dia sudah menodong mau nonton pameran di TBS (Taman Budaya Surakarta).

”Kata Om Boot ada pameran di TBS,” lapornya. Om Boot—begitu julukan yang diberikan anakku kepada cowok tetanggaku—Mbak Wiwik (gila, nih cewek jagoan bener lho, setelah ditinggal sang Ibu menghadap yang kuasa, dia tinggal seorang diri di rumahnya, di samping rumahku). ”Dora, Dora (ceileh… begitulah, dia mengumpamakan dirinya adalah Dora sementara Om Sapto—cowok Tante Wiwik itu dia jadikan Boot-nya. Hihi … bisa aja dia), di TBS ada pameran,lho, gitu kata Om Boot tadi.”

Aku dan suamiku berpandangan.

”Pameran apa?”

”Ya, bolehlah ….”

”Yeeee … asyik!” anakku pun berjingkrak gembira.

Lepas salat Magrib, kami bertiga pun naik motor menuju taman budaya yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Benar saja, rupanya agenda sedang penuh. Bisa dilihat dari papan di depan TBS yang memampang dua poster besar. Ada Pameran Visual ”KOMPLIKASI” sama pentas teater ”ORDE TABUNG” yang digelar hari ini. Ah, pilih nonton pameran ajalah ….

Lalu kami pun asyik ”membaca” lukisan. Anakku sibuk berceloteh mengomentari lukisan-lukisan yang menurutnya ”lucu”, tentu saja sambil bertanya ini-itu. Kami ”berdiskusi” tentang lukisan. Apa ini apa itu, mengapa begini mengapa begitu. Ya sebisa mungkin aku menjelaskannya (maklum, hanya penikmat dan bukan ahli dalam lukisan, hehe …) Tak lupa kami mengabadikan beberapa karya yang menurut kami menarik. Sambil berdoa diam-diam, semoga kelak kami bisa mengoleksi benda-benda seni yang harganya pasti tak murah itu.

Usai menonton, suamiku yang baru pulang setelah berhari-hari berkeliling Jawa itu mengeluh capek dan badannya sakit semua.

”Beli vitamin C yang 1000mg itu, yuk,” ajaknya.

”Gimana kalau susu segar aja?” usulku.

”Oke juga, ayuk ….”

Kami pun melesat menuju sebuah warung susu segar yang terletak di belakang kampus UNS. Aku yang merasa badanku juga kurang fit pun memesan es susu sirup dan makan pisang goreng satu biji. Suamiku, pilih STMJ (ih,apa enaknya,amis banget telornya) sama … puyuh bakar. Hiiiy …. Aku menolak ketika ia menawariku. Aku tidak doyan yang aneh-aneh. Hanya karena aku bukan vegetarian aku mau makan daging ayam dan paling banter sapi, tapi tidak bagian-bagian yang ”aneh-aneh”. Daging hewan lain—kecuali ikan tentunya—selalu ”aneh” buatku.

Bismillah … mudah-mudahan ini bisa menjadi energi yang cukup buatku bekerja malam ini. Deadline terjemahan masih dua bulan, tapi aku sudah menyiakan banyak waktu dengan doing nothing minggu lalu.

Pulang dari nonton pameran, kami nge-game sebentar di laptopku. Anakku tertidur, begitupun suamiku yang tampaknya sudah sangat kecapekan. Dan aku … siap untuk kembali berkarya!

Ah, indahnya dunia ….

(birunya hatiku harus cepat berlalu ….)

Sayembara Menulis Surat Cinta

==True Love Keeps No Secret
Sebuah Surat Cinta Untukmu==

Mencintai itu indah. Mencintai itu butuh pengungkapan. Mencintai boleh dilakukan oleh siapa saja. Termasuk kamu yang lagi jatuh cinta atau yang pernah jatuh cinta. Tidak ada larangan untuk mencintai siapa pun atau apa pun. Sekarang, tuliskan apa yang kamu rasakan, lalu ikuti Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia. Mau bongkar-bongkar file lama untuk dikirimkan juga boleh, kok. Tapi baca dulu syaratnya, yah….

–    Peserta berusia 14-29 tahun.
–    Tulisan terdiri atas maksimal 1.500 kata.
–    Setiap peserta berhak mengirimkan maksimal dua buah surat cinta.
–    Penilaian dalam sayembara ini adalah diksi (pilihan kata), kreativitas, dan cara mengekspresikan perasaan.
–    Mengisi serta menyertakan: formulir, pernyataan keaslian karya, dan kesediaan untuk diterbitkan. Bisa didapat di buku Wednesday Letter dan Yakuza Moon yang akan terbit 15 Agustus 2008.
–    Tulisan dikirim dalam bentuk print out dan CD ke Redaksi GagasMedia Jl. H. Montong no.57 Ciganjur Jagakarsa Jakarta Selatan 12630. Paling lambat 20 September 2008. Tulis: True Love Keeps No Secret di sebelah kiri atas amplop.
–    Pengumuman akan dilakukan melalui web dan blog GagasMedia.
–    Karya yang dikirim menjadi milik panitia.
–    Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Dua puluh lima pemenang akan bersanding dengan para penulis GagasMedia dalam buku kumpulan surat cinta.  Masing-masing berhak mendapat hadiah uang sejumlah Rp250.000, paket buku senilai Rp200.000, dan dua buah nomor lepas buku.

Sayembara Penulisan tentang Guru

==Yang akan kukenang seumur hidup
Catatan Kecil tentang guruku==

Guru baik bikin terharu, guru asyik bikin belajar jadi seru, guru galak bikin senewen. Masa, sih? Kalau kamu punya pengalaman berkesan bareng guru kamu, bagi saja cerita kamu di sayembara menulis kisah tentang guru. Di sini, kamu bisa tuangkan pengalaman senang, sedih, kesal, atau mengharukan bersama gurumu. Caranya gampang, kok.

– Peserta adalah murid SMP atau SMA.
– Tulisan terdiri atas minimal 1.500 kata dan maksimal 2.000 kata.
– Peserta berhak mengirimkan maksimal dua buah karya tulis.
– Menyertakan formulir dan pernyataan keaslian karya dan kesediaan untuk diterbitkan yang bisa di-download di web (www.gagasmedia. net) dan blog (http://kandangagas. blogspot. com), jangan lupa juga sertakan kartu pelajar (kartu pelajar harap di-scan apabila mengirimkan karya via email).
– Karya tulis dikirim melalui email ke sayembaraceritaguru @gagasmedia. net atau kirim via pos dalam bentuk CD atau disket ke Redaksi GagasMedia Jl. H. Montong no. 57 Ciganjur Jagakarsa Jakarta Selatan 12630 dengan subject: Yang Akan Kukenang Seumur Hidup.
– Pengumuman akan dilakukan melalui web dan blog GagasMedia.
– Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat;
– Karya tulis menjadi milik panitia.
– Sayembara ditutup pada 10 Oktober 2008.

Dua puluh lima pelajar yang memenangi sayembara ini, masing-masing akan mendapat hadiah berupa uang tunai sebesar Rp250.000 dan paket buku senilai Rp200.000. Hasil karya pemenang akan dibukukan oleh GagasMedia dan masing-masing pemenang akan mendapatkan 2 buah nomor lepas dari buku tersebut. Jadi, ingat-ingat lagi, deh, pengalaman tak terlupakan bersama gurumu, lalu tulis jadi cerita ….

Apakah Kita Berjiwa Besar?

Pada suatu sore, sepulang dari kantor, aku menemukan cewek kecil kesayanganku sedang tidur pulas. Padahal sudah hampir magrib ketika itu.

“Tadi siang nggak bobok, Mbak?” tanyaku kepada Mbak Indah—pembantuku.

“Nggak, Bu,” jawabnya. “Seharian main terus dengan Kenzha (Kenzha adalah sohib kental anakku). Kalau tadi nggak berantem juga kali masih main sampai sekarang.”

Alisku terangkat. Wo, berantem?

“Tidur jam berapa dia?”

“Baru jam empat dia bobok.”

Hmmm …. So, karena dia tidur, aku bisa mandi sore dengan tenang, tanpa ada yang merecoki—memanggil-manggil dengan suaranya yang melengking atau menggedor pintu kamar mandi minta dibukain—dengan alasan mau pipislah, mau apalah, tapi sebenernya biar ibunya cepet-cepet selesai mandi biar bisa main sama dia.

Usai mandi aku mendekati anakku yang tidur di karpet di depan televisi itu. Beberapa saat mengamati kepulasannya, tiba-tiba dia menggeliat dan membuka mata. Mungkin merasakan kehadiranku di dekatnya.

“Halo,” aku menyapanya riang.

Dia tak menjawab. Bangun dan duduk. Diam dan tampak bingung. Biasa—belum “menginjak bumi” lagi setelah barangkali menjelajah dunia mimpi.

“Ngapain aja hari ini?” tanyaku lembut. “Katanya tadi habis berantem, ya?”

Ia mengerjap. Berpikir.

“Mbak Kenzha nakal,” cetusnya.

“Aya-nya juga ngeyel, sama aja,” Mbak Indah menambahi.

“Memangnya kenapa?” tanyaku—pandanganku bergantian menatap anakku dan pembantuku.

“Ya biasa, beda pendapat gitu, Bu. Nggak jelas sih, soal apa. Tapi terus berantem. Tadi aku lagi ngepel. Pas aku lihat, si Kenzha mau dorong kepala Aya jadi kuteriakin. Dianya langsung kabur, pulang.”

“Aku dorong Mbak Kenzha duluan sampai mau jatuh,” tiba-tiba si Kecil nyeletuk dengan sombongnya.

Wha???

Hmmm …, yang kutahu anakku ini sangat mengagumi Kenzha—anak yang dua tahun lebih tua ketimbang dirinya itu. Kenzha yang lebih besar itu lebih sering ia turuti kemauannya. Sampai-sampai aku kerap bilang, jangan terlalu ngalah dengan Kenzha. Karena, anak itu sering kali “semena-mena” terhadap temannya yang lebih kecil. Dengan anakku saja dia mendapatkan lawan yang cukup imbang. Meski, sering juga, karena tidak ingin “kehilangan” Kenzha, anakku banyak mengalah. Memang sengaja kutanamkan, juga suamiku, agar dia tidak menjadi korban “bullying” anak lain. Aku dan suamiku berusaha menanamkan agar ia punya prinsip yang kuat, bisa mengatakan “tidak”, dan bisa melawan “kesewenang-wenangan” orang lain.

Dan, hasilnya, bisa kulihat saat ini—salah satunya.

Aku tidak bermaksud untuk menyalahkannya kali ini, karena aku sadar benar, ini adalah output dari apa yang kuajarkan bersama suamiku.

Tapi, entah bagaimana, si Kecil ini tampaknya merasakan sesuatu yang lain di samping kekesalannya yang masih belum hilang kepada Kenzha. Dia terlihat gelisah, termenung, lalu beranjak ke pintu depan, melongok-longok, masuk lagi, keluar lagi, begitu terus.

“Kenapa, Non?” tanyaku. “Mau ke mana?”

“Mau main ke Mbak Kenzha,” sahutnya ragu. Setegah takut akan kumarahi.

“Lho, katanya habis berantem?” cetusku. “Lagi pula ini sudah malam, lho.”

“Yaaahhh … Ibu,” ia meluncurkan kekecewaannya. “Tapi aku mau ke rumah Mbak Kenzha.”

Memang, rumah Kenzha memang hanya sekitar seratus meter dari rumah kami. Tapi, ini sudah malam …. Aku selalu mengajarkan epadanya untuk tidak bermain di luar ketika azan Magrib berkumandang.

“Memangnya kalau besok kenapa?” tanyaku. “Kan seharian sudah main terus. Besok lagi mainnya.”

“Tapi … tapi aku mau minta maaf sama Mbak Kenzha.”

…..

DEG!

Aku terenyak sesaat.

“Aku tadi kan marahan sama Mbak Kensha, sekarang aku mau minta maaf.”

Oh ….

Tiba-tiba hatiku tergetar. Ucapan itu diucapkan oleh seorang anak yang belum lagi genap empat tahun. Anak yang bandel dank eras kepala itu. Yang kuajari untuk melawan kesewenangan temannya.

Aku teringat bahwa aku pun mengajarkan sikap untuk rela meminta maaf. Untuk berjiwa besar mengakui kesalahan. Dan, kini ia telah menerapkannya dalam hidupnya.

Aku pun diserang malu mengingat aku sebagai orang dewasa pun masih sulit menerapkannya.

“Boleh, ya, Bu?” si Kecil msih mendesakku.

“Oh …,” aku tergagap. “Ya, deh, boleh. Tapi jangan lama-lama, ya? Cepet pulang, ya?”

Ia mengangguk mantap, lalu melesat keluar rumah. Meninggalkan aku yang tertegun-tegun dibuatnya.

Hari ini aku belajar dari seorang anak kecil, anak perempuanku,

bahwa pertengkaran, perbedaan pendapat, atau apa pun namanya yang terjadi antara kita dengan orang lain, sebenarnya telah melukai hati masing-masing. Kita kerap kali sombong dengan menolak bahwa itu adalah kesalahan kita. Kita sering kali menyalahkan orang lain sebagai biang dari pertikaian kita. Dan mengaku yang paling benar. Yang paling tidak bersalah. Tetapi, apakah pernah kita berpikir bahwa kita juga memiliki kontribusi kesalahan terhadap persoalan kita? Lalu, jika sudah demikian, masihkah kita tetap bersombong untuk mengakui kesalahan?

Jika ada ungkapan mengatakan bahwa “memaafkan” lebih besar nilainya ketibang “meminta maaf”, menurutku itu tidak selamanya benar. Berjiwa besar, mau mengakui kesalahan, itu adalah hal yang sangat-sangat sulit. Mengalahkan kesombongan diri sendiri adalah hal yang bahkan orang bijak pun mungkin akan sulit meruntuhkannya.

Tetapi, belajar memang tidak harus kepada orang dewasa. Belajar dari seorang anak kecil justru lebih menggerakkan. Dan, ketika anakku kembali dengan wajahnya yang sudah berbinar ceria, pertanda hatinya telah lega karena sudah berdamai dengan sahabatnya, aku mulai berpikir. Apakah aku masih belum berjiwa besar kepada seseorang, seperti halnya anakku dengan Kenzha?

Apakah Anda juga demikian?

Peradaban Dimulai dengan Membaca

Membaca,awal peradaban
Membaca,awal peradaban

“Iqra!”

Demikian Allah memerintahkan kepada Muhammad saw. ketika Dia menurunkan kitabnya kepada rasul terakhir itu. Penegasan perintah “iqra” atau “bacalah” dalam Al-Qur’an tidak hanya disebutkan satu kali. Dalam satu waktu dan satu kali ayat pertama diturunkan, perintah “bacalah” diulang dua kali. Dan itu terdapat dalam satu surat, yaitu Al-Alaq ayat pertama dan ketiga. Perintah Allah yang tegas itu mampu mengubah peradaban Arab jahiliah yang sebelumnya terbelakang menjadi bangsa yang jaya, tak kalah dari bangsa-bangsa lain yang telah mencapai kegemilangan peradaban sebelumnya, seperti bangsa India yang termashyur karena tradisinya membukukan dan mengoleksi kitab-kitab turats mereka, atau bangsa Yunani dengan filsafat dan mantiknya, atau bangsa Persia dengan budaya ceramah dan orasi Islamnya. (Ahmad Iman, Fajrul Islam)

Mengapa Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk membaca?

Karena jika ia tak dapat membaca maka ia tidak bisa menyampaikan. Padahal tugasnya di muka bumi ini adalah untuk menyebarkan agama Allah dan perintah-Nya Dia sampaikan melalui tulisan. Kitabullah. Jadi jika Muhammad tak bisa membaca, bagaimana ia menyampaikan amanah itu terhadap umatnya?

Membaca adalah awal dari peradaban.  Semua tokoh terkenal di dunia mengwali karya terbaik mereka dengan membaca. Mereka membaca karya-karya terdahulu, membaca terori-teori lama untuk dapat dikembangkan menjadi sebuah pemikiran dan penemuan baru yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

Bagaimana memulai budaya gemar membaca?

Usia Dini

Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Si Orok yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron.

Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka. Di Amerika buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembah anak) terbitan Sesame Street sangat digemari sebab isinya yang sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

Usia Sekolah

Novel serial “Latifah Never Gives Up” ini bergenre teenlit, kategori bacaan yang digemari anak-anak remaja.

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Dengan diadakannya Proyek-proyek pengadaan buku bacaan di sekolah, maka semakin banyak pula bahan bacaan bagi anak sekolah.

 

Pada usia sekolah ini, buku yang paling sering dijamah selain buku pelajaran adalah buku komik dan buku-buku fiksi ringan, semacam teenlit. Bahkan bila mereka ditanya asyik mana membaca buku pelajaran dengan komik atau teenlit, mereka akan menjawab serempak komik dan teenlit.

 

Selain buku, perpustakaan sekolah pun menjadi sarana yang perlu mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Ia seolah jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity). Bahkan karena pentingnya perpustakaan pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

ujNamun apabila kita menengok kondisi perpustakaan sekolah kita, maka akan banyak mengundang keprihatinan karena selain miskin koleksi pustaka, juga kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku dari pada perpustakaan sekolah. Oleh karenanya tuan perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca tidak bisa terwujud. Bahkan dengan nada yang agak pesimis, seorang pakar pendidikan, J. Drost, SJ mengatakan, sekolah tak bisa diandalkan untuk menanamkan gemar membaca.

Memang bila kita mengamati kondisi perpustakaan di sekolah akan menjumpai hal-hal berikut.

Pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Masih banyak terlihat ruang-ruang perpustakaan yang tidak terpelihara, buku-buku tidak tertata baik dan terlihat kumuh. Kondisi seperti ini tentu berdampak negatif terhadap minat siswa untuk mau membaca. Masih banyak kepala sekolah yang kurang berminat menyisihkan dana anggaran untuk keperluan pengadaan buku atau tambahan buku baru.

Kedua, kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka pada saat jam istirahat selama 15 menit sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya cukup untuk membuka-buka lembaran gambar di majalah. Sedang jam khusus untuk membaca di perpustakaan jarang ada di sekolah atau tidak ada sama sekali.

Ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustaaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Di Jepang sejak 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka mengembangkan system distribusi buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Bagi mereka yang tidak bersekolah karena alasan prinsip tidak punya biaya seperti yang dialami anak-anak jalanan serta bagi anak-anak usia sekolah di luar jam sekolah perlu dipikirkan bagaimana mengatasinya.

Pemerintah perlu memperbanyak armada mobil perpustakaan keliling ke kampung-kampung. Selain itu perlu menggalang kerja sama dan menggugah kesadaran masyarakat untuk membuat taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa yayasan yang menyelenggarakan taman bacaan untuk anak-anak di daerah pinggiran semacam: Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta, Taman Bacaan milik yayasan artis Yessy Gusman perlu mendapat dukungan semua pihak berupa materi maupun nonmateri.

Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa tentu saja lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku dll. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat dll.

Hal ini tentu akan berkembang lebih cepat apabila pemerintah mau memberikan kemudahan-kemudahan pada penerbit berupa harga bahan kertas yang murah, atau pemberian kredit lunak bagi penerbit yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat bawah.

Membaca tak dapat dilepaskan dengan menulis. Karena membacalah kita dapat menulis. Oleh karena itu, lomba-lomba penulisan buku bacaan sebaiknya diperbanyak dengan hadiah yang lebih menarik. Bukan tidak mungkin, dapat dikonsep seperti dalam acara kuis-kuis yang hampir tiap hari diadakan oleh beberapa stasiun TV swasta dengan menggandeng perusahaan-perusahaan nasional dan multi nasional. Dengan kegiatan tersebut niscaya akan bertambah penulis-penulis yang semakin andal.

 

(dari berbagai sumber)