Cerita dari Negeri Embun Berkilau

Davin kesal sekali. Semenjak Risma, adik barunya, lahir, ia merasa Mama dan Papa tidak memerhatikannya lagi. Yang mereka urusi hanyalah Risma, Risma, dan Risma. Davin jadi tidak suka kepada adik barunya itu. Memang sih, cantik, imut, dan menggemaskan. Tapi, gara-gara merasa tersaingi, Davin jadi emoh mendekatinya.

Pagi itu, Davin bangun kesiangan. Maklumlah, hari libur. Davin kesal banget karena Papa urung mengantarnya ke kolam renang. Gara-garanya, Risma sakit panas dan mobil mau dipakai untuk mengantarkan Risma ke dokter.

Davin ngambek berat dan mengurung diri di kamar sambil menonton film kartun. Beberapa waktu kemudian ia mendengar suara isakan kecil. Davin menoleh mencari sumber suara. Di sana! Ya, di dekat jendela. Davin mendekati jendela. Dan …, oh, ia melihat sesuatu yang menakjubkan!

Ada sesosok tubuh mungil di jendela, benar-benar mungil karena hanya sebesar jari kelingking orang dewasa. Sosok itu memiliki sayap, dengan baju berkilauan berwarna hijau muda, dengan hiasan bunga-bunga di kepalanya. Ia tengah menangis.

“Kamu siapa?” tanya Davin.

“Aku Peri Amarilis,” katanya. “Sayapku terluka. Aku tidak bisa terbang untuk kembali ke negeriku.”

“Oh …,” Davin memerhatikan sayap Peri Amarilis. Ya, sebelah sayapnya robek dan mengeluarkan cairan berwarna emas. Ah, mungkin itu seperti darah pada manusia.

“Tunggu,” kata Davin. Ia mengambil betadin dan plester di lemari. Kemudian dengan hati-hati ia mengoleskan betadin dan memplester sayap si peri. “Mudah-mudahan lekas membaik.” Davin kemudian melihat Peri Amarilis membawa semacam guci kecil. “Apa itu?” tanya Davin ingin tahu.

“Ini madu. Aku mengambilnya dari pohon kelengkeng di belakang rumahmu. Maafkan aku telah mengambilnya tanpa izin. Mungkin karena itu aku jadi terluka terkena dahan pohon kelengkeng.”

Davin tersenyum, “Tidak apa-apa,” ujarnya.

“Oh ya, terima kasih, Davin, aku sudah bisa menggerakkan sayapku,” kata Peri Amarilis seraya mengepak-ngepakkan sayapnya. Beberapa kali ia terbang dan hinggap lagi di jendela. “Oh ya, sebagai rasa terima kasih, apakah kau mau ikut aku melihat negeri kami? Nanti kau kuantarkan pulang lagi. Kau tidak akan menyesal karena negeriku sangaaat … indah.”

Davin setuju. Peri Amarilis kemudian menyulap Davin menjadi seukuran tubuhnya agar Peri Amarilis tidak sulit membawanya. Lalu, ia meminta Davin memejamkan mata. Peri Amarilis memegang tangan Davin dan dalam sekejap Davin merasa tubuhnya melesat. Ringan sekali. Davin merasa melayang-layang di udara. Beberapa saat kemudian, Peri Amarilis memintanya membuka mata.

Wooow …! Bukan main indahnya negeri Peri Amarilis. Negeri itu bernama negeri Embun Berkilau. Pohon bunga aneka warna tumbuh subur di sana. Bunga-bunga bermekaran menebarkan aroma wangi. Embun bergulir di daun-daunnya. Bening, sejuk, dan berkilau-kilau. Itulah mengapa negeri itu bernama negeri Embun Berkilau.

Para peri berumah di daun-daun bunga yang lebar. Rumah-rumah mereka mungil, terbuat dari aneka biji-bijian yang direkatkan sebagai dindingnya. Mereka bekerja menggiling bunga-bunga, menyaring, dan mengambil airnya di botol-botol bening. Warnanya bermacam-macam bergantung warna bunganya. Kata Peri Amarilis, mereka sedang membuat parfum,. Parfum itu akan dijual ke negeri-negeri tetangga. Selain itu, terlihat pula beberapa peri lain tengah mengisi guci-guci dengan embun untuk berbagai macam keperluan. Davin juga melihat beberapa peri sedang memasak. Aroma masakan itu membuat perut Davin terasa lapar.

“Mereka masak apa?” tanya Davin.

“Mereka sedang membuat sop bunga kenanga. Nanti kau boleh mecicipinya.”

Tiba-tiba, seekor laba-laba besar berayun di hadapan mereka. Davin dan Peri Amarilis menjerit. Mereka terperangkap di jaring laba-laba. Peri Amarilis panik sekali.

“Dia … dia mau memakan kita! Lakukan sesuatu, Davin!”

Davin kebingungan. Ia berusaha melepaskan diri dari jaring-jaring yang lengket itu. Ah, menjijikkan sekali! Tetapi, usaha Davin tidak membuahkan hasil. Sementara itu, laba-laba itu bergerak makin dekat.

“Tolong … Tolong!” Peri Amarilis berteriak-teriak. Tapi, karena tempat itu berada di lembah yang jauh dari keramaian, teriakan Amarilis menjadi sia-sia belaka.

Davin mendapatkan ide.

“Peri, apakah kau bisa menyulapku jadi besar lagi?” tanyanya.

Peri Amarilis dengan susah payah mengacungkan ujung telunjuknya ke arah Davin. Sim salabim …, dan CRIIING …! Davin berubah ke ukuran tubuhnya semula. Laba-laba itu ketakutan dan pergi meninggalkan mereka. Davin segera melepaskan dirinya dari jeratan jaring laba-laba dan membebaskan Peri Amarilis.

Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Peri Amarilis. Davin tertegun melihat peri kecil yang terbaring di tempat tidur. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya pucat. Peri Amarilis segera menuangkan madu kelengkeng di gelas dan meminumkannya kepada peri kecil itu.

“Madu ini adalah obat buat adikku,” kata Amarilis. “Adikku sakit keras. Hanya madu kelengkeng yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Walaupun aku harus menempuh perjalanan jauh dan banyak bahaya, aku harus menemukan madu kelengkeng untuk adikku, karena aku sayang sekali kepadanya.”

Davin tertegun mendengar penjelasan Amarilis. Ia teringat Risma. Davin merasa malu sekali. Demi adiknya, Peri Amarilis mau mempertaruhkan nyawanya. Sementara itu, hanya karena sedikit terlambat untuk pergi berenang, Davin bisa sedemikian marahnya. Terlebih lagi, Davin merasa tidak suka dengan keberadaan adiknya karena dianggap telah merebut perhatian papa dan mamanya.

Sesuai dengan janjinya, Peri Amarilis mengantarkan Davin kembali ke rumahnya. “Jangan ceritakan ini kepada siapa pun, ya?” pinta Peri Amarilis sebelum pergi. “Aku mungkin akan beberapa kali mengambil madu dari pohon kelengkengmu, sampai adikku sembuh.”

Davin mengangguk.

“Davin, aku tahu kamu juga punya adik. Kamu juga sayang, kan, sama adikmu? Kalau kita melindungi dan menyayanginya, kelak ia juga akan membela kita. Dia akan menjadi teman main yang paling asyik sekaligus sahabat sejati kita.”

Davin mengangguk lagi. Matanya berkaca-kaca. Dalam hati ia berjanji akan menyayangi adiknya. Ia ingin Risma kelak menjadi sahabat sejatinya.

**

(salah satu cerpen pilihan lomba cerpen anak yang diadakah oleh line production, 2008 )

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s