Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 5)

 

 Kerja, kerja, dan kerja adalah cara Hasta membungkam kerinduannya pada Raia.

Raia menemukan ia tengah menunggu dengan sikap tergugu. Sebatang rokok terselip di bibirnya, mata kemerahan yang kurang tidur, dan rambut yang acak-acakan. Ia menghalangi langkah Raia di pintu.

 

“Halo,”sapa Raia,”menunggu siapa?”

“Menunggumu,”sahut Hasta. Ia tak berani menatap.

Kening Raia berkerut. ”Aku?” ia menunjuk dadanya.

“Ya, kau.”

“Ada apa?”

“Eh….”

Gugup menyerang kembali. Hasta membuang sisa rokoknya ke lantai, kemudian menginjaknya dengan sepatu. Raia menunggu kata-katanya, tapi beberapa saat Hasta tak bisa bicara.

“Hasta, ada apa?”

Hasta kemudian menemukan kata-kata.

“Sudah makan siang?” tanyanya.

“Belum.”

“Aku traktir makan siang. Mau?”

Raia tercengang. Ia menatap Hasta takjub. Bola matanya berbinar sesaat. Senyumnya muncul.

“Tapi kenapa? Kau ulang tahun, atau baru dapat rezeki? Tulisanmu dimuat di majalah? Kok, tiba-tiba ingin mentraktirku makan siang?”

“Hanya…,” Hasta menguatkan keberaniannya. “Ingin makan siang denganmu. Salahkah?”

Raia masih terheran-heran. Ada kebimbangan di wajahnya.

Please…?” Hasta meredupkan matanya, memohon. Raia menjadi gugup. Ia berdehem untuk meredakan kegugupannya.

“Oke,” sahutnya. “Tapi setengah jam lagi aku ada kuliah. Kita ke kantin yang dekat saja.”

Begitulah. Setengah jam itu sangat singkat. Hasta mati akal. Tak mungkin dalam waktu sesingkat itu ia bisa leluasa berpikir, apalagi berkata-kata. Tapi ia tahu, Raia mulai bisa membaca hatinya.

“Kau bertunangan, Raia?”

“Ya.”

“Dengan pacarmu itu?”

“Tentu saja. Dengan siapa lagi? Tentu dengan Nara.”

Hmm, jadi namanya Nara.

“Kau cinta dia?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku cinta dia. Aku tidak akan mau bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai. Kenapa memangnya?”

“Lalu kau akan menikah?”

“Ya tentu saja. Dan punya anak dengannya. Ha…ha…ha….”

Tawa Raia mengiris dada Hasta. Oh, ia benar-benar tak paham, pikirannya kecut. Betapa polosnya.

“Kau benar-benar cinta dia? Sejak kapan kau jatuh cinta padanya?”

“Aku lupa tepatnya sejak kapan. Tapi… ya, aku cinta dia.”

“Sebesar apa cintamu?”

Raia terkekeh. Benar-benar geli ia mendengar pertanyaan bodoh Hasta. Matanya berair karena tertawa. Namun, ia menghentikan tawanya saat menemukan wajah Hasta sangat serius.

“Kau aneh,” Raia berkata sebal. “Wawancara untuk apa ini?”

“Maaf.”

“Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu? Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena… ini….”

“Karena apa? Bicaralah, jangan berbelit-belit. Biasanya kau pintar bicara.”

“Tidak denganmu,” desah Hasta.

“Kenapa bisa begitu?”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, kenapa bisa begitu? Dan jangan kau ulangi pertanyaanku lagi.”

Raia mulai merasa terancam. Ia merasakan sesuatu yang menegakkan bulu kuduknya. Hasta tidak sedang main-main. Ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

“Kau tahu jawabannya, Raia?”

“Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu,” Raia berkata ketus.

“Karena aku sangat….”

“Ya? Sangat apa?” desak Raia tak sabar.

“Menginginkan. Menginginkanmu.”

Raia terenyak. Ia tidak siap mendengar jawaban itu. Mulutnya ternganga, jemarinya gemetaran di atas meja, dan wajahnya pias seperti kertas. Hasta tidak tega melihatnya seperti itu.

“Maafkan aku, Raia,” keluhnya pahit.

Untung saja Raia cepat bisa memulihkan dirinya. Ia meminum orange juice-nya hingga tandas.

“Aku tahu aku tidak seharusnya seperti ini. Aku telah mengacaukanmu. Ini sungguh tidak adil buatmu. Kau baru saja bertunangan dan aku berani-beraninya mengusikmu dengan pertanyaanku. Tapi, keberanian ini, sebelum hilang lagi setelah kukumpulkan sejak lama, harus kukeluarkan sekarang juga. Kau harus tahu ini. Mungkin kau hanya perlu tahu. Tak lebih dari itu, karena tak mungkin aku bisa mengharapkan yang lebih dari sekadar ‘asal kau tahu’. Dan sekarang setelah aku mengatakan ini, aku merasa lega karena telah terlepas dari impitan beban yang kutanggung selama ini. Sekali lagi maafkan aku, Raia.”

Raia bergeming. Ada sesuatu yang berkecamuk di dadanya. Tanpa sadar ia memutar-mutar cincin di jari manisnya.

“Aku tak paham, Hasta…,” ucap Raia datar. “Aku tak pernah bisa membacamu. Kau tampak tak peduli dengan siapa pun. Kau hanya peduli dengan bagaimana mendapatkan berita-berita spektakuler, headline news, membangun opini publik. Lebih tertarik dengan angle pengambilan gambar dengan kamera, teknologi digital, dunia cyber, editing berita, reportase yang baik, wawancara eksklusif, diskusi yang argumentatif. Kau lebih peduli dengan bagaimana mendekati orang-orang hebat dan menjadi seperti mereka. Kau aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kau tidak peduli dengan seorang Raia. Siapa Raia buatmu?”

“Raia bagiku adalah… puisi. Raia bagiku adalah matahari, bintang, senandung, udara. Raia bagiku adalah mimpi indah yang membuatku tak ingin bangun lagi. Kehangatan saat udara menjadi dingin menyesakkan.”

“Kau ngawur.”

”Aku tahu aku ngawur karena menyukaimu sejak mula, padahal aku tahu kau tidak sendiri. Aku takut dengan perasaanku sendiri.”

Hasta mengembuskan napas keras-keras. Setidaknya, beban itu telah berkurang. Tapi tidak demikian dengan Raia. Ia pergi meninggalkan Hasta dengan mendung menggantung di wajahnya.

Sejak saat itu Raia selalu berusaha menjauh. Hasta bisa memahami mengapa ia bersikap begitu. Ia pun mulai belajar untuk melupakan Raia. Ia telah berjanji untuk tidak lagi mengusik Raia dan menimbulkan kebingungan baginya. Cintanya kepada Raia tak pernah hilang. Bahkan, saat ia telah lulus terlebih dahulu dan meninggalkan Raia di sana, ada separuh hatinya yang tertinggal, dan keping-keping itu dia biarkan begitu saja. Di saat-saat sepi, malam-malam saat aktivitasnya berhenti, Raia selalu muncul di benaknya. Kerinduan ia bungkam dengan kerja dan kerja. Tak ada jeda, karena jeda berarti Raia. Dan ia sangat tersiksa.

Malam itu, sepulang kerja, Hasta mendengar suara Raia kembali. Setelah sekian lama, ia tak juga lupa dengan suara itu. Raia meninggalkan pesan di mesin penjawab teleponnya.

“Selamat malam, Hasta. Masih ingat Raia? Ini aku. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sukses. Selamat, ya. Karier boleh pesat, tapi jangan lupa, tubuhmu juga perlu istirahat. Masih workaholic, ‘kan? Kau perlu dikontrol. Carilah istri. Oke, kapan-kapan aku telepon lagi. Bye….”

Hasta benar-benar tak menyangka. Ia memutar rekaman itu beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa suara itu benar-benar suara Raia. Setelah merasa pasti, ia segera mencari nomor telepon Raia di phonebook ponselnya, tapi tak ia temukan. Rupanya nomor itu telah terhapus dari sana semenjak Hasta memutuskan untuk melupakan Raia.

Ia kemudian mengaduk-aduk laci meja, mencari buku-buku telepon lama. Dilacaknya nama Raia dengan penuh semangat. Setelah sekian lama, tujuh tahun lebih, jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Ia berseru gembira ketika menemukan nomor ponsel Raia. Ia kemudian menekan tombol-tombol ponselnya. Menunggu, berharap-harap cemas. Yup, diangkat!

“Halo… siapa ini?”

 

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s