Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 4)

Stepa terdiam beberapa saat. Ia berusaha menebak orang yang sedang berbicara dengannya. Ia teringat seseorang karena pada beberapa kali ia menangkap tipikal suara yang sama.

“Kami membutuhkan jawaban segera, saudara Stepa. Kalau Anda bersedia, kami menunggu Anda di studio Space TV sampai pukul tujuh malam ini. Kalau tidak, tawaran kami cabut kembali dan akan kami berikan pada orang lain. Tim kami akan berangkat besok.”

“Tunggu,” potong Stepa, ”liputan seperti apa yang harus saya tangani?”

“Meliput perusahaan bioteknologi Merican yang terbakar, Human Care.”

Tiba-tiba saja Stepa merasa bergairah.

“Saya akan ambil tawaran itu!” serunya. “Jadi ke mana saya harus pergi?”

“Studio Space TV lantai tiga. Temui Hasta di sana.”

“Hasta?” ulang Stepa kaget, tapi telepon keburu ditutup dari seberang. Stepa nyaris meledak saking gembiranya. Ia melonjak-lonjak seperti anak kecil, berteriak-teriak kegirangan dan berlari-lari ke seluruh penjuru ruangan. Tertawa-tawa dari sudut ke sudut seperti orang gila. Ia tak peduli. Ia merasa kegilaan itu telah membuatnya hidup kembali.

Namanya Hasta. Postur tubuhnya tinggi, dan meskipun tak bisa dibilang tampan, wajahnya tidaklah terlalu buruk. Ia bisa mendapatkan skor tujuh dari skala 10. Ciri khasnya adalah: selalu mengenakan topi di kepalanya. Ia berdalih melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Ia sering kali bekerja di lapangan dan itu membuatnya merasa harus melindungi kulitnya yang sensitif terhadap sinar matahari. Kulit tembaganya tampak buruk bila terkena sengatan sinar matahari secara terus-menerus. Akan mucul bintik-bintik kemerahan di pipi dan hidungnya, dan bila sudah begitu ia harus kerepotan mengoleskan krim penetral untuk mengatasinya. Sembuhnya pun makan waktu. Oleh karena itu ia kini lebih suka memakai topi untuk melindungi wajahnya, sambil tak lupa mengoleskan sunscreen di wajahnya. Terkadang, saking bersemangatnya ia mengoleskan krim, mukanya tampak seperti dibedaki. Akibatnya, ia ditertawakan kawan-kawannya. Tapi demi kulit kesayangannya, Hasta mau melakukan apa pun. Ia tak pernah memedulikan komentar kawan-kawannya.

“Kalian belum pernah merasakan kulit kalian direbus dalam panci sup? Seperti itulah yang selalu aku rasakan bila membiarkan wajahku terbakar sinar matahari. Lebih baik kalian mati ketawa ketimbang aku mati matang direbus matahari,” kilah Hasta selalu.

Sejak remaja Hasta telah tumbuh dengan energi berlebih. Ia hiperaktif. Tak ada waktu berdiam buatnya. Progresivitas telah menjadi teman hidupnya sepanjang waktu. Setiap hitungan detik adalah perubahan baginya. Progres adalah sesuatu yang niscaya.

Menjadi workaholic adalah stadium berikutnya. Hasta, si gila kerja. Dua puluh empat jam sehari baginya adalah dua puluh jam kerja dan hanya menyisakan empat jam untuk berbaring-baring memejamkan mata. Tak jarang ia kena insomnia, tapi ia tidak seperti baterai yang harus recharge setiap saat. Energinya seperti tak pernah habis. Hanya saja, ia punya totally day off yang digunakannya untuk mengumpulkan kekurangan jatah tidurnya setiap hari. Ia memanfaatkan hari itu sebaik-baiknya. Kawan-kawannya telah maklum bila hari libur Hasta tiba, maka segala akses kepadanya akan diputus. Ia tidak mengizinkan siapa pun menghubungi dan mengganggunya. Ia akan kembali siaga keesokan harinya, bersemangat seperti anak muda yang kelebihan daya.

Jarang orang melihat Hasta sakit. Ia kuat seperti baja. Kendati tubuhnya tidak terlampau besar, Hasta tampaknya punya banyak sekali cadangan energi dalam tubuhnya.

Ia sesekali mendoping tubuhnya dengan suplemen, dan ia tetaplah manusia normal yang sekali waktu tertidur saat kelelahan. Celakanya, sesekali itu terjadi saat ia bekerja.

Hasta telah beberapa kali mencoba-coba berbagai macam pekerjaan. Ia memulai karier benar-benar dari nol. Ia pernah bekerja di sebuah koran kuning dengan gaji yang hanya cukup digunakan untuk makan sehari-hari dengan menu yang sederhana. Ia nyaris tak pernah bersenang-senang dengan penghasilan sekecil itu. Hampir satu tahun ia bertahan dengan keadaan itu, hingga kemudian berpindah bekerja di sebuah stasiun radio, menjadi penyiar. Gajinya sedikit lebih baik, dan ia mendapat kerja sampingan sebagai MC dengan penghasilan yang cukup membuat tabungannya sedikit demi sedikit mulai terisi. Keberuntungan mulai berpihak kepadanya semenjak ia menggeluti bidang itu. Tak lama kemudian ia ditawari bekerja di sebuah stasiun televisi baru, Space TV, di mana ia benar-benar memiliki karier yang sesungguhnya. Hasta mulai merasakan mantap bekerja di Space TV, sebagai seorang news director. Ia benar-benar menikmati pekerjaannya.

Tak ada yang benar-benar luar biasa dalam kehidupan pribadi Hasta. Ia dilahirkan sebagai anak tunggal. Keluarganya adalah keluarga kaya raya. Ayahnya seorang pengusaha sukses, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang mengabdi pada suami dan sangat mencintai anaknya. Ia memiliki saudara sepupu bernama Epro, yang dibesarkan bersamanya semenjak kecil. Bersama Epro, Hasta terlibat petualangan-petualangan hebat di masa mudanya.

Kendati besar di lingkungan yang rapi dan beradab, Hasta lebih memilih hidup leluasa dengan membebaskan dirinya dari segala keterikatan aturan keluarganya. Kecintaan ibunyalah yang menyelamatkan ia dari deraan ikat pinggang ayahnya saat penyakit pemberontaknya kambuh. Hasta kecil suka bermain ke permukiman-permukiman kumuh, bergaul dengan pengamen-pengamen yang kerap mangkal di ujung gang dekat rumahnya, atau berteman dengan gelandangan. Bersama mereka, ia merasa bisa mewujudkan fantasi-fantasinya menjadi figur seorang pahlawan. Bersama mereka, ia bisa menjadi tokoh penyelamat yang selalu dapat memberikan bantuan ketika mereka membutuhkan. Hasta sering membawakan makanan dan buah-buahan yang ia curi dari kulkas rumahnya, memberikan uang saat mereka membutuhkan, membawakan buku-buku bacaan, atau bercerita tentang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Ia sangat senang melihat mata mereka berbinar-binar penuh kekaguman saat mendengarkan ceritanya tentang hal-hal menakjubkan.

Sayang, Epro tak pernah menyukai kesenangan Hasta. Ia menemani Hasta, tetapi dengan wajah yang cemberut. Ia selalu memaksa Hasta untuk segera pulang. Mereka adalah anak-anak yang tak punya keinginan, begitu ia selalu mencerca. Orang-orang yang tak punya masa depan dan tak mau berusaha meraih mimpi-mimpi mereka. Mereka bukanlah siapa-siapa.

Epro lebih memilih bergaul dengan orang-orang berpendidikan. Orang tua Hasta memiliki sebuah rumah di samping rumah utama yang dikontrak oleh para mahasiswa dan Epro lebih memilih bermain ke tempat itu ketimbang menemani Hasta menyusuri gang-gang becek untuk menjadi pahlawan bagi kawan-kawan miskinnya. Pada usia yang relatif masih sangat muda, 15 tahun, Epro telah menjadi pengagum Nietszche. Ia fasih bicara filsafat dan kerap kali mencuri kata-kata yang sering diucapkan oleh para mahasiswa itu. Kegilaan pemikirannya selalu membuat mata Hasta berkunang-kunang. Namun, kendati pemikiran Hasta dan Epro sangat bertolak belakang, mereka sangat rukun dan saling menghargai. Epro selalu bersikap menjadi pelindung Hasta. Usianya yang dua tahun lebih tua membuat ia memosisikan dirinya sebagai kakak Hasta, walaupun ia lahir dari adik ibu Hasta, dan seharusnya Hastalah yang menjadi kakak sepupu baginya. Ia selalu mengalah kepada Hasta, nyaris dalam segala hal.

Kedua bersaudara itu, Hasta dan Epro, sama-sama tidak terlalu tertarik pada wanita. Hingga Hasta menginjak usia 32 tahun, ia belum juga menikah. Hasta mempunyai banyak teman wanita, tetapi ia sulit sekali jatuh cinta. Ia sering berkencan, tetapi tak pernah menjatuhkan pilihan pada salah satu teman kencannya. Ia alergi dengan komitmen. Baginya, menjalin hubungan dengan wanita berarti harus siap dengan komitmen, lengkap dengan segala risikonya. Dan dia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta.

Satu-satunya wanita yang pernah membuatnya menatap beberapa jenak lebih lama, menahan napas di dada, dan mengembuskannya perlahan dengan segenap perasaan, adalah seseorang bernama Raia. Seorang wanita yang ia kenal di suatu tempat dan waktu. Seorang yang pernah menggetarkan hatinya, membuat bahasanya yang lihai menjadi kaku. Yang membuat matanya berkunang-kunang, seperti yang dilakukan pemikiran-pemikiran gila Epro terhadapnya.

Ia hanya sekali itu jatuh cinta, di usia 20-an, saat Raia manis bermata lembut itu mengusik hari-harinya. Raia yang tidak pernah mengerti mengapa Hasta yang pandai bicara tiba-tiba menjadi bisu di hadapannya. Ia yang tak pernah cermat melihat setiap perubahan emosi Hasta setiap kali harus berhadapan dengannya. Geletar jemari Hasta saat menatap lekat matanya, lipatan dahinya saat bicara dan berusaha mencari cara mengatasi galaunya.

Kenaifan itu muncul bila dengan Raia. Segala bahasa menjadi tak bisa diterjemahkan, bahkan dengan diam dan isyarat mata. Bersama Raia, diam pun berbicara banyak. Lebih panjang dari dialog dalam sandiwara apa pun. Lebih memayahkan, kendati menghangatkan tubuh yang menggigil.

Hasta menyukai Raia sejak mula bertemu. Mereka satu kampus, meski berbeda tahun dan jurusan. Berada dalam satu komunitas jurnalisme kampus, Hasta jadi kerap bertemu dengan Raia. Sayangnya, waktu itu Raia sudah punya kekasih. Hasta hanya bisa mengagumi Raia dari kejauhan tanpa punya keberanian untuk mengusik. Hanya saja, ia sering kali tak bisa menyingkirkan keinginan-keinginan untuk mendapatkan Raia dari kepalanya. Maka sering dikuntitnya Raia ketika ia tak bersama dengan kekasihnya, hanya untuk mencari kesempatan menyapa dan menikmati sepasang matanya yang sebening telaga. Kalau bisa, mengajaknya bercakap tentang apa saja.

Hasta sering berdoa agar Raia putus dengan pacarnya, tetapi karena doa itu buruk, Tuhan rupanya tak mau mendengarkannya. Raia tak kunjung putus dengan pacarnya, bahkan kemudian mereka bertunangan.

Saat itulah Hasta mulai berontak. Hatinya berteriak-teriak. Ia tidak merelakan Raia menjadi milik siapa pun. Ia tidak ingin Raia lepas dari tangannya. Ia ingin mengatakan perasaannya kepada Raia. Ia ingin dunia tahu bahwa ia cinta Raia dan ingin memilikinya. Lalu dengan hati berapi-api, suatu hari ia memutuskan untuk menemui Raia.

Ketika itu Raia sedang ada kuliah. Hasta menunggu di depan ruang kuliahnya. Beribu macam perasaan bergolak di dadanya. Kecemasan yang mendera sejak ia memutuskan bicara membuat ia nyaris seperti orang gila. Ia telah berulang kali menyusun kalimat di benaknya, tapi setiap kali menghafal ia selalu lupa. Ia berusaha membuat kalimat baru, tetapi selalu terasa janggal dan lucu. Hasta sudah tidak bisa lagi berpikir. Ia ingin mengatakannya tanpa kesalahan sedikit pun. Ia ingin kalimat yang sempurna. Argumen yang logis. Penyampaian yang terjaga. Namun, lagi-lagi lebur oleh kecemasan yang membelitnya.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s