Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 2)

“Saya heran…,” desah Nadine seperti tak mendengar pertanyaan sahabatnya. “Mengapa seorang Elisa tiba-tiba menjadi sangat membumi? Menjadi wanita biasa, bercelemek, dan membuat adonan? Ada sesuatu yang salah di sini. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, ‘Ada apa?’ Karena kau sangat tidak biasa menjadi seseorang yang ‘sangat biasa’.”

Elisa tertawa.

“Kau pasti sangat ingin tahu, kan?”

“Tentu saja. Atau, kau ingin membuka bisnis restoran karena sudah bosan dengan pekerjaanmu yang sekarang? Kau sedang berusaha mengumpulkan resep dan mencoba-cobanya?”

“Motifnya tidak selalu bisnis, Sayang. Kenapa kau menduga ke arah itu?”

Everything deals with money. Yang saya tahu kau selalu begitu. Tidak ada yang kau kejar selain untuk mendapatkan uang. Kau selalu punya rencana di balik kepalamu bila tiba-tiba melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan. Biasanya motifmu selalu motif ekonomi. Jangan menyangkal itu karena saya tahu benar siapa kau.”

Tawa Lisa kian keras.

“Oh, kali ini kau salah mengambil kesimpulan, Nona manis. Ada sisi lain dalam diriku yang mungkin kau lupakan. Saya ini romantis. Saya melakukan sesuatu karena saya sangat menginginkannya. Saat ini saya tiba-tiba ingin melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh kaumku, membuat kue. Kalau saya berhasil melakukannya, maka saya sungguh layak disebut wanita yang baik. Tak serumit yang kau pikirkan. Dan, mana tahu, dengan keterampilanku memasak ini suatu waktu saya dengan bangga akan berkencan di rumah saja, having dinner dengan hidangan yang kubuat dengan tanganku sendiri. Kau tahu, pria selalu jatuh hati kepada wanita yang bisa membuat masakan enak.”

“Jadi, kalau boleh kutebak, saat ini kau sedang mempersiapkan kencanmu? Kau sedang jatuh cinta?”

“Ya…, boleh saja kau tebak begitu. Tapi, sebentar, saya mau bikin krim dulu untuk kueku.”

Nadine tiba-tiba saja menjadi bosan. Ia berharap menemukan Elisa yang biasanya. Bicara tentang hal-hal spektakuler, bukan hanya sekadar kue truffle dan kencan. Elisa yang selalu membicarakan info-info terkini dan bukan hal-hal biasa seperti pekerjaan wanita di dapur.

Nadine mendesah karena ketakmengertiannya pada sikap Elisa.

“Jadi, cintalah yang bisa membuatmu gelap mata?” tanyanya dengan wajah suram.

“Apa? Gelap mata?”

“Ya, kusebut ini gelap mata. Kau belum pernah melakukan hal-hal yang tidak kau sukai untuk mendapatkan sesuatu. Kalau sekarang kau melakukannya, apa itu bukan gelap mata namanya?”

“Jangan sinis begitu, dong. Kau mulai seperti Hasta.”

“Siapa Hasta?”

“Temanku. Pria yang selalu memandang dunia dengan sinis.”

“Baik. Sekarang langsung saja saya bertanya padamu, kau sedang jatuh cinta dengan siapa rupanya?”

“Nah, yang ini baru Nadine yang kukenal. Straight to the point. Tapi yang ini belum bisa saya jawab sekarang. Tapi yang pasti, kali ini saya benar-benar jatuh cinta.”

“Seserius apa? Jangan-jangan kau mau menikah?”

“Wah, tepat pada sasaran.”

“Jadi benar kau mau menikah?”

“Ah, kenapa sih kau selalu saja menanggapi dengan serius? Cobalah untuk sedikit lebih relaks. Ini bukan tugas dokter yang memerlukan penanganan serius. Terkadang kita juga perlu libur membicarakan hal-hal yang ‘gawat’. Santailah sedikit….”

Nadine tersipu-sipu mendengar kata-kata Elisa. Selama ini ia memang selalu disibukkan dengan hal-hal yang serba serius. Sebagai seorang calon dokter, pekerjaan menuntut ia menjadi seorang yang serius, bahkan cenderung perfeksionis, dan gila logika. Terkadang Elisa dapat mengimbanginya sehingga mereka terlibat perdebatan seru tentang banyak hal yang serius. Di lain waktu, seperti saat itu, Elisa menjadi orang yang ingin bicara hal-hal ringan namun penuh perenungan. Latar belakang Elisa sebagai seorang yang berasal dari disiplin ilmu sosial humaniora membuat ia sangat humanis, yang ingin membicarakan hal-hal yang kontemplatif. Namun, Nadine tak pernah bisa melakukannya.

Elisa sibuk mengaduk krim di atas kompor gas. Nadine merasa capai menunggunya memberikan jawaban yang memuaskan. Begitulah selalu Elisa yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun lamanya. Nadine belum juga terbiasa dengan kebiasaan menggantung kalimatnya. Seperti halnya Elisa biasa menggantung suatu keadaan dan menyingkir diam-diam ke wilayah aman di mana ia bisa bersembunyi untuk tak mengakhiri kengambangan itu. Karena itu jualah Elisa punya banyak teman jalan. Pacarnya cuma satu, tapi ia bisa berkencan dengan beberapa orang lain dalam waktu yang bersamaan tanpa ada kejelasan hubungan. Dan ia sengaja memilih wilayah abu-abu, yang menurutnya paling aman dari segala hukum dan teori karena mengandung praduga tak bersalah. Amanlah pula ia dari tudingan ‘berselingkuh’ atau ‘punya pacar lebih dari satu’, karena kenyataannya ia memang hanya punya satu pacar. Selebihnya hanyalah ‘teman jalan’.

Elisa sangat menikmati hal itu. Ia beruntung dikaruniai wajah yang cantik. Ia juga pintar bergaul dan memiliki inner beauty yang kuat. Nyaris tanpa cacat. Menurut Nadine, Tuhan sedang sangat berbahagia saat menciptakan Elisa. Dengan bakatnya yang besar, Elisa kini menjadi seorang reporter di Space TV, sebuah stasiun televisi swasta. Karirnya sedang bagus-bagusnya.

Sayang, pada akhirnya hubungan Elisa dengan pacarnya harus selesai. Keputusan Johan untuk meninggalkan Elisa merupakan pukulan yang meruntuhkan kesombongan gadis itu. Ia mengira Johan akan tetap mempertahankannya, kendati apa pun yang ia lakukan. Ia tak pernah berpikiran bahwa Johan akan meninggalkannya suatu ketika setelah capai untuk selalu memahami. Tinggallah Elisa berkubang dalam kesedihannya, dan di saat itulah semua ‘teman jalan’ menjadi tidak berarti sama sekali, karena permainan tidak lagi menarik tanpa seorang kekasih di sampingnya.

Setelah ditinggalkan Johan, Elisa tampaknya malas berhubungan lagi dengan pria. Nadine bisa melihat bahwa sesungguhnya Elisa merasa sangat kesepian. Ia berusaha untuk membunuh kesepiannya dengan bekerja. Selain bekerja sebagai reporter, Elisa juga menyanyi di kafe di saat-saat senggangnya. Semua itu dilakukannya demi menghilangkan kesedihan.

Setelah semua yang terjadi, dan setelah sekian lama tidak lagi berkencan, kalau tiba-tiba Elisa berdiam di rumah dan melakukan pekerjaan yang tak pernah ia sukai sebelumnya dan alasannya adalah karena cinta, maka itu berarti benar-benar telah terjadi sesuatu pada dirinya.

Kini sepotong truffle coklat telah terhidang di hadapan Nadine. Nadine mengendus aromanya yang harum. Hidungnya kembang-kempis. Elisa tersenyum puas melihatnya.

“Ayo dicicipi dan kemudian berkomentarlah. Berikan kritik, saran, atau apa saja karena saya membutuhkannya.”

Nadine mengambil sendok kecil di pinggir piring. Ia menyendok lapisan atas truffle yang kenyal dan lembut kemudian disuapkan ke mulutnya. Rasa manis menyentuh lidahnya. Nadine mengunyahnya hingga tandas.

“Enak,” ujarnya sambil menyendok lagi. Kali ini ia benar-benar lahap.

“Ini luar biasa,” pujinya tulus. “Ini karya pertamamu, dan rasanya benar-benar menakjubkan. Bagaimana kalau kau berhenti saja jadi reporter, bukalah sebuah restoran, saya jamin kalau semua hidangannya selezat ini kau bisa menangguk uang lebih banyak dibandingkan dengan penghasilanmu kini setiap bulannya. Kau berbakat.”

Elisa tertawa senang mendengar pujian sahabatnya. Ia menyodorkan segelas air putih dingin kepada Nadine.

“Saya hanya ingin membuktikan dugaan orang bahwa saya hanyalah seorang wanita modern-hedonis yang tak mengenal pekerjaan-pekerjaan rumah tangga adalah salah sama sekali. Saya bisa melakukan pekerjaan ini, dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Setidaknya ada pengakuan dari seseorang yang mencicipi masakanku. Pengakuanmu sebagai seorang yang memiliki selera makan tinggi adalah sebuah indikator bahwa hasil masakanku cukup representatif. Bukankah demikian?”

Nadine terkekeh.

“Mencari pengakuan rupanya, he?”

“Seandainya dia ada di sini dan mendengar komentarmu…,”

“Tunggu tunggu, siapa ‘dia’ itu?” tukas Nadine. Telinganya cukup tajam untuk dapat menangkap setiap kata yang diucapkan Elisa.

Elisa mengibaskan tangannya dengan sikap meremehkan.

“Ah, tidak cukup penting,” ujarnya. “Sebaiknya tidak usah kita bicarakan.”

“Hm…,” Nadine menjilat-jilat bibirnya yang masih meninggalkan sisa manis coklat. “Ah, saya sampai lupa tujuanku kemari,” tiba-tiba ia menepuk jidatnya, “ini gara-gara truffle coklatmu.”

Nadine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop berwarna merah hati.

“Undangan ke pesta Raia, Kamis besok.”

“Ada apa?” Elisa tertegun menatap undangan itu.

“Kau lupa? Raia ulang tahun Kamis besok.”

Ekspresi kaget Elisa mengendur. Ia menghela napas.

“Oh ya, saya hampir lupa,” desahnya.

“Hampir lupa? Kau memang lupa, kan?” sergah Nadine. Ia mengamati perubahan ekspresi di wajah Elisa. Apakah hubungan mereka sudah begitu renggang sehingga Elisa melupakan ulang tahun Raia, atau Elisa yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri? Mungkin bahkan Elisa lupa punya teman bernama Raia.

Tatapan tajam Nadine membuat Elisa merasa bersalah.

“Maafkan saya, saya benar-benar lupa,” ucap Elisa lirih.

“Kau mau datang, kan?” Nadine berusaha membuatnya tidak merasa bersalah lebih lama.

“Kau datang?”

“Ya, tentu saja. Kau juga datang, kan?”

Elisa membaca undangan itu sekilas, kemudian meletakkannya di atas meja. Wajah cantiknya terlihat resah. Nadine menangkap perubahan itu.

“Mungkin saya tidak bisa datang.”

“Kenapa?”

“Saya ada tugas meliput ke luar kota.”

Kening Nadine berkerut. Dicarinya kejujuran di mata Elisa tapi wanita sahabatnya itu menghindar.

“Kau tidak sedang berbohong kepadaku?”

Elisa menggeleng.

“Saya harus pergi ke Merican, meliput Human Care, perusahaan bioteknologi yang terbakar beberapa hari yang lalu. Kau ingat kan perusahaan itu, yang pernah menggemparkan karena berhasil melakukan rekayasa genetika terhadap seekor kucing? Ingat the laughing cat?”

Nadine mengangguk.

“Ya, the laughing cat. Tentu saja saya ingat. Kita pernah mendiskusikannya. Dokter Karel pun pernah menceritakannya kepadaku.”

“Dosen pujaanmu itu?” goda Elisa.

Nadine memerah mukanya.

“Ya, dosen pujaanku,” akunya malu-malu. “Ngomong-ngomong, apa penyebab kebakaran perusahaan itu?”

“Belum ditemukan penyebabnya. Saya menduga ini sabotase. Banyak pihak yang tidak menyukai perusahaan ini karena dianggap melanggar hukum agama dan sangat tidak manusiawi. Mereka melakukan pekerjaan sebagai Tuhan dengan bermain-main dengan kehidupan makhluk-Nya.

Bukan main ya, teknologi zaman ini? Sulit membayangkan gen manusia bisa dipindahkan pada seekor kucing sehingga membuatnya memiliki sebagian sifat manusia. Saya tak pernah belajar ilmu biologi atau kedokteran sehingga bagiku sangat muskil untuk dilakukan. Nyatanya memang itu yang terjadi. Lagi pula, proyek itu sangat merendahkan martabat manusia. Untuk apa mereka melakukan eksperimen-eksperimen gila seperti itu?”

“Itulah teknologi. Teknologilah yang sekarang telah menguasai manusia, bukan lagi manusia yang menguasai teknologi. Manusia menjadi rakus mencoba-coba segala hal, apa pun bentuk dan dampaknya bagi kehidupan manusia, bagi rasa kemanusiaan. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mendapatkan pengakuan bahwa merekalah yang terhebat di antara semuanya.”

“Mengerikan.”

“Kapan kau berangkat?” Nadine bertanya.

“Besok.”

“Hati-hatilah, banyak orang jahat di sana.”

Elisa tertawa mendengarnya.

“Jangan khawatir. Saya tidak pergi sendirian. Liputan ini sangat penting buat karirku. Ini berita besar.”

“Saya tahu, tapi saya ingin kau baik-baik saja. Kau tidak tahu seperti apa situasi di sana. Bukan tidak mungkin keadaannya cukup berbahaya. Bukankah perusahaan itu seharusnya sudah ditutup? Banyak kasus kegagalan kloning yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.”

“Pimpinan perusahaan itu sedang dalam proses pemeriksaan. Beberapa anak buahnya dimintai keterangan. Tapi anehnya, satu persatu mereka meninggal. Yang lucu, kabarnya keracunan makanan, tapi aneh sekali kalau hanya orang-orang yang diperiksa itu yang keracunan, sementara karyawan yang lain tidak. Padahal mereka makan makanan yang sama. Ada isu mengatakan orang-orang itu telah menelan semacam pil yang meyebabkan kematian mereka, tapi sejauh ini para dokter belum bisa membuktikannya.”

 

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s