Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 1)

a novel, a second winner of FEMINA’s Female Writing Contest 2003

(no first winner)

Pasti ada yang sangat istimewa, hingga Elisa, si wanita tidak biasa itu, tiba- tiba menjadi sangat membumi. 

Malam beringsut perlahan. Bunyi binatang malam bersahut-sahutan di kejauhan. Penjaga portal di pintu gerbang terkantuk-kantuk dengan televisi masih menyala di sudut ruang. Wajahnya menengadah dan mulutnya yang ternganga mengeluarkan bebunyian yang mengusik kesunyian malam. Gelap menyembunyikan tiga bayang-bayang hitam yang bergerak tanpa suara menuju pusat kompleks gedung yang megah berkubah itu. Kegesitan tampak dari gerak-gerik menonaktifkan sistem keamanan dengan portable computer yang didudukkan di rerumputan kering, yang malam itu digayuti embun. Isyarat mata bersahut-sahutan dari wajah-wajah yang bertopeng hitam dan jari-jemari yang dibalut kaus tangan warna hitam pula. Dalam hitungan ketiga, bayangan-bayangan itu berbagi tugas. Lasak di malam yang tidur.

 

Tiba-tiba dingin mulai terasa hangat. Gelap tiba-tiba disibakkan cahaya benderang. Penjaga portal terbangun karena merasa pipinya menghangat. Ia risau dalam dengkurnya, kemudian akhirnya terjaga. Dari kaca-kaca jendela ia melihat nyala yang terang. Ia terperanjat melihat sinar kemerah-merahan menjulang dari dinding-dinding gedung berkubah. Kantuknya terenggut tiba-tiba oleh dentuman mahadahsyat dari jantungnya. Kebakaran!

Ia memeriksa sistem keamanan. Mati. Alarm tak berfungsi. Ia meraih gagang telepon di meja. Tak ada nada sambung. Ia kian panik. Napasnya mendengus-dengus. Layar monitor pemantau seluruh sistem gedung mati. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah gedung yang terbakar. Berteriak-teriak memanggil nama teman-temannya dengan lolong yang lebih buruk dari suara serigala yang terluka.

Sementara itu, tiga bayang-bayang hitam telah bergerak mundur dengan senyum kemenangan di sudut bibir mereka masing-masing. Ketiganya saling mengacungkan ibu jari. Misi telah selesai dijalankan. Kemudian bayang-bayang itu bersicepat dengan waktu, mengendap-endap di pekat malam yang telah diracuni panas dan terang cahaya api. Menghilang seperti partikel debu di udara. Dan di suasana seperti itu, derum kendaraan sekeras apa pun tenggelam dalam kegaduhan yang lebih mencemaskan yang datang dari gedung yang terbakar.

Stepa kembali datang ke perpustakaan tua sore itu. Entah dorongan dari mana yang membuat ia merasa tertarik dengan bangunan usang yang telah dimakan usia itu. Dinding perpustakaan mulai berlumut dan retak-retak sehingga membentuk liang-liang. Liang-liang kecil itu dihuni semut-semut yang kerap kali muncul ke permukaan beriring-iringan. Lantainya yang lembap dan terasa dingin di kaki membuat Stepa merasa senang menyentuhkan telapak kakinya di sana saat asyik membaca. Ada sensasi tersendiri dengan senyap itu.

Penjaga perpustakaan yang juga telah dimakan usia, Pak Raste namanya (untunglah namanya bukan Rasta), berambut keriting kecil-kecil dan berkacamata setebal kaca nako jendela. Ia tampaknya baik, hanya sedikit tegang pembawaannya. Barangkali ia termasuk orang yang sangat takut berbuat kesalahan. Ia berhati-hati sekali dalam bekerja, mencatat, dan memasukkan data ke komputer. Sambil melakukan pekerjaannya, ia juga tetap mengawasi gerak-gerik orang dari balik kacamatanya yang tebal. Ia mencurigai orang-orang yang masuk ke perpustakaan dengan baju tebal. Ia pikir mereka berniat mencuri buku dari perpustakaan dengan cara menyembunyikannya di balik baju. Hal itu pernah terjadi sebelumnya berulang kali, sehingga membuat Pak Raste jadi trauma. Rasa cemas membuat ia selalu memelototi setiap orang yang keluar masuk perpustakaan, kendati sebenarnya perpustakaan telah dipasangi detektor untuk mencegah pencurian. Jadi, siapa pun yang melakukan kecurangan tak akan bisa lolos dari pengawasan. Namun, meskipun ia bukan termasuk jenis orang yang ramah dan mau berkompromi, Stepa menyukai orang tua itu karena mengingatkan ia pada pria yang ia sebut Ayah, yang telah meninggal sekian tahun silam.

Mengherankan sebetulnya, bila Pak Raste begitu paranoid dengan isi perpustakaannya, mengingat nyaris tak ada buku baru di sana. Pengunjungnya pun tak terlalu banyak, kecuali orang-orang yang memang melakukan riset dan mahasiswa yang mencari data untuk tugas akhir mereka.

Isi perpustakaan itu sama tuanya dengan gedung dan penjaganya. Ia seperti berhenti sejak sekitar sepuluh tahun yang silam. Tahun terbitan terakhir yang bisa ia temukan telah melampaui waktu itu. Buku-buku di perpustakaan Pak Raste seperti simpanan arsip yang telah kedaluwarsa dan hanya ditumpuk begitu saja, kemudian tak ada arsip baru. Berhenti begitu saja di tahun itu.

Suatu kali Stepa merasa tertarik dengan buku-buku yang diletakkan di rak paling atas. Ia bersusah-payah menarik tangga dan mencoba menjangkau buku-buku, di rak paling atas. Debu meliputi tepi-tepi buku membuat ia beberapa kali bersin. Kebanyakan buku-buku yang diletakkan di sana adalah buku-buku sejarah, antropologi, dan kedokteran yang usianya sudah sangat tua. Kertasnya telah menguning dimakan waktu. Mungkin karena sudah terlalu tua dan diperkirakan tidak lagi dicari banyak orang sehingga diletakkan di tempat yang sulit dijangkau. Stepa hanya memuaskan rasa ingin tahunya dengan melihat judul-judul buku dan sekilas isinya. Ia harus beberapa kali bersin karena debu dan bau apak yang menggelitik hidungnya. Ia kurang tertarik dengan bidang-bidang itu, sehingga kemudian kembali meletakkan buku-buku yang ditengoknya ke tempat semula. Tiba-tiba, setelah membolak-balik buku, ia didatangi oleh Pak Raste dan mendapatkan teguran darinya.

“Hei, Anak muda. Buku apa sebenarnya yang kau cari?” ujarnya gusar. Rupanya bunyi berkeriut tangga besi yang sudah mulai karatan dan suara debum buku yang dibolak-balik dengan tergesa oleh Stepa telah mengusik telinga tuanya. Stepa nyengir mendengar teguran itu. Ia kemudian turun dari tangga.

“Hanya melihat-lihat,” sahutnya kalem, “siapa tahu ada buku yang saya butuhkan di atas sana.”

“Dan sudah kau temukan buku itu?”

“Ehm…,” Stepa berpikir sejenak. “Tidak. Tidak ada buku yang saya perlukan. Tidak ada yang cukup menarik juga. Hanya arsip-arsip kuno yang tampaknya sudah sangat ketinggalan zaman.”

“Kalau begitu segera saja cari buku di tempat lain, yang mudah terjangkau, yang menarik dan yang kau butuhkan. Dan jangan bikin gaduh perpustakaan.”

Ups. Stepa menutup mulutnya dengan tangannya. Galak benar orang tua ini, gerutunya dalam hati. Ia segera turun dari tangga. Pak Raste mengawasi dari balik kacamatanya yang tebal. Bola mata tua yang abu-abu itu seperti hendak menembus keluar lewat kacamatanya. Stepa mengangguk sambil tersenyum-senyum tatkala melewati orang itu.

“Maaf, Pak Raste….”

Ia kemudian berada di sudut lain, di bagian buku-buku sastra, favoritnya. Ia mengambil salah satu buku dari rak itu. Hmm…, sebuah novel kuno. Salah satu koleksi kesayangan Nenek. Stepa meraih buku yang lain. Sebuah novel juga. Kemudian ia mencari tempat di meja kosong dekat jendela.

Ditelusurinya huruf demi huruf di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut. Kesungguhan terpancar di wajahnya. Tarikan garis-garis wajahnya yang mengendur dan mengencang adalah cerminan gejolak batinnya. Kalau sudah begitu ia biasanya lupa waktu. Tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Ia segera tersadar ketika tahu-tahu Pak Raste sudah mulai merapikan buku-buku yang bergeletakan di atas meja dengan rak kereta dorongnya.

“Sudah hampir malam, Anak muda,” ujarnya dengan suara rendah. Ia sudah tidak segalak sebelumnya.

“Ya, Pak,” Stepa mengangguk sembari menutup buku di hadapannya. Ia memandang berkeliling. Hanya tinggal ia dan Pak Raste. Stepa melirik arloji yang melilit pergelangan tangannya. Pukul tujuh malam kurang enam menit. Ia terkaget-kaget. Tidak menyangka bisa setahan itu membaca novel ratusan halaman itu. Ia menandai halaman dengan pembatas buku.

“Mau kau pinjam novel itu?” tanya Pak Raste. “Jam pinjam sebenarnya sudah habis, dan komputernya sudah saya matikan. Tapi, kalau kau ingin meminjamnya… baiklah saya catat dulu di buku, besok baru saya masukkan datamu ke komputer.”

“Kalai begitu terima kasih sekali, Pak. Novel ini bagus sekali. Saya sangat menyukainya.”

“Tentu saja. Novel itu mendapatkan penghargaan tinggi di zamannya. Penulisnya memang luar biasa. Ia bertangan dingin. Hampir semua karyanya meledak di pasaran dan menjadi buku yang paling dicari orang. Terutama yang satu ini. Saya juga sangat menggemari karya-karya penulis novel ini.”

Stepa mengangguk-angguk. Ia diam-diam keheranan mendengar penuturan Pak Raste. Orang tua galak itu ternyata juga memiliki selera sastra yang bagus. Ya, ia sudah sering mendengar nama penulis itu dalam pelajaran tentang sejarah sastra. Penulis itu berada pada jajaran atas penulis di zamannya. Karya-karyanya selalu menjadi masterpiece. Ia menatap kulit sampulnya yang berwarna merah darah. Stepa kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Tolong catatkan ini dulu, Pak Raste,” katanya. “Saya pinjam dulu.”

Pak Raste mengangguk sambil tetap meneruskan pekerjaannya.

“Sudahlah kau pergi saja. Saya sudah hapal judul novel dan penulisnya. Lagi pula, saya sudah bosan melihatmu di sini.”

Stepa mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

Okey, thanks.”

Sebelum pergi ia menyempatkan menepuk bahu Pak Raste dengan akrab sehingga orang tua itu menjadi kaget. Stepa segera melesat keluar sambil bersiul-siul. Di pintu keluar alarm berbunyi. Stepa berbalik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Pak Raste telah memberikan rekomendasi!” teriaknya.

Pak Raste tampak kesal karena ia sendiri lupa bahwa alarm itu akan berbunyi bila Stepa melangkah keluar. Sambil mengomel-ngomel ia melangkah hendak mematikan alarm. Sementara itu Stepa sudah lari tunggang-langgang.

Saking tergesa-gesanya, Stepa menabrak seseorang di dekat pintu keluar. Sepatu ketsanya berdecit-decit di lantai saat ia mengerem larinya. Tetapi sudah terlambat. Tak ayal bahunya menerjang sesosok tubuh di depan pintu itu. Terdengar suara teriakan tertahan seorang wanita dan buku-buku yang berjatuhan.

Dan itulah dia. Seorang wanita yang pucat pasi berdiri di hadapannya dengan mulut ternganga saking kagetnya. Wajah tirus dan tubuh kurusnya tersembunyi tidak terlalu baik di balik jaketnya yang tebal. Penampilannya tidak terlalu menarik. Hanya saja, matanya yang lebar sungguh terlihat sangat cerdas. Kekagetan luar biasa di wajah si gadis tak urung membuat Stepa menyesal bercampur geli.

“Maaf,” ujar Stepa. Ia berjongkok memunguti buku-buku si gadis yang berjatuhan. Sekilas matanya melirik judul-judul di kulit buku. Ia menangkap judul besarnya: Anatomy, Surgery, Double Helix…, si gadis buru-buru merebut buku-bukunya dari tangan Stepa. Ia merasa tidak senang.

Stepa mengamati wajah si gadis. Ia kemudian teringat bahwa ia pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Ia memegang jidatnya. Di mana ya? Tolol, gadis itu memang selalu kemari di saat perpustakaan sudah hampir tutup. Stepa menepuk jidadnya. Barangkali pacar Pak Raste. Ia tersenyum sendiri.

Tahu-tahu gadis itu melesat meninggalkannya. Ia melangkah masuk ke perpustakaan dengan langkah-langkah yang panjang.

“Hei…, perpustakaan sudah tutup!” seru Stepa. “Si tua Raste tidak akan mau melayanimu. Besok saja kembali.”

Si gadis tak memberikan perhatian sedikit pun. Ia terus saja melangkah masuk. Stepa menggerutu.

“Ya, terserah kaulah…”

Nadine mengetuk-ngetuk kaca pintu dapur dengan keras.
Hello…, anybody home?”

Elisa yang sedang berdiri memunggunginya, di antara bising suara mixer, menoleh. Celemek di tubuhnya penuh bercak adonan kue. Ada tepung lekat di pipi kanannya. Nadine tersenyum geli melihatnya.

“Hai…,” Lisa menyambutnya senang. “Sorry, saya sedang sibuk bikin kue.”

Nadine mengelap tepung di pipi sahabatnya dengan tisu.

“Ada apa, nih? Kok pakai acara bikin kue segala? Seperti bukan Lisa saja. Bik Inah ke mana?”

“Belanja bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuat kue.”

Lisa segera menyorongkan kursi.

“Duduklah,” ujarnya riang. Nadine tak menghiraukannya. Ia mengamati adonan kue di atas meja. Mencolek sedikit dengan telunjuk dan mencicipinya.

Nyam, nyam…, enak. Kue apa, nih?”

“Itu kue truffle coklat. Kalau kau cukup bersabar menunggu matang, kau akan bisa merasakan kue buatanku yang lezat.”

Truffle? Hmm…, belum matang saja sudah enak begini.”

Nadine hendak mencolek lagi tapi Elisa dengan sigap menjauhkan tangannya.

“Eit, jangan. Nanti cita rasanya jadi buruk karena kotoran di jarimu. Kau makan yang lain saja yang sudah matang. Oke?”

“Apa itu yang sudah matang? Mana itu yang sudah matang?”

“Kerupuk di toples itu.”

“Huh!”

“Tunggu, ya?”

Elisa mematikan mixer. Ia kemudian menuangkan adonan ke dalam loyang yang telah dialasi kertas roti yang diolesi mentega. Dengan gerakan pelan ia meratakan adonan itu ke dalam loyang. Adonan kue di dalam loyang itu dimasukkannya ke dalam oven. Nadine terus memperhatikan gerak-gerik Elisa yang cekatan.

Setelah itu Elisa duduk di dekat Nadine.

“Ada apa? Baru dari mana?” tanya Elisa.

 

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s