PONSEL

 Lelaki itu mematung setiba di halaman bandara Adi Sumarmo. Ia mendekatkan jam yang melingkari pergelangan tangannya ke wajahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit. Nyaris satu jam ia menunggu, tetapi yang ditunggu—anaknya—tak jua menampakkan batang hidungnya. Ia kian gelisah. Berbagai macam prasangka berkecamuk dalam benaknya. Mulai dari kekhawatiran bahwa kehadirannya sebenarnya tak diharapkan, hingga ketakutan terjadi apa-apa dengan anaknya dalam perjalanan ke bandara.

Lelaki itu bimbang, antara menunggu sejenak lagi atau meneruskan perjalanan sendiri dengan taksi. Ia masih ragu dan berharap. Ia merasa yakin, anaknya tak mungkin melupakan bahwa hari itu adalah hari kedatangannya. Pada saat itulah ia baru merasakan pentingnya alat komunikasi. Selama ini lelaki itu jarang membawa ponsel karena ia punya pengalaman traumatis dengan alat komunikasi itu. Ia tidak suka berkomunikasi melalui ponsel, terutama dengan fasilitas sms-nya, karena baginya sering merancukan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan. Banyak kesalahpahaman terjadi melalui sms, karena ekspresi tidak dapat diwakili dengan baik melalui tulisan. Tak ada emosi yang dapat disampaikan melalui media sms, kecuali dengan huruf dan tanda baca. Itu pun tidak dapat menggambarkan dengan tepat perasaan si penyampai pesan. Bahkan, persepsi akan isi sebuah sms sangat bergantung pada mood pembacanya. Kelebihan satu tanda baca saja, bisa memicu kesalahpahaman.

Dulu, ia sering bertengkar dengan mantan istrinya gara-gara sms. Mereka tidak dapat saling memahami bahasa satu sama lain sehingga kerap kali komunikasi mereka lewat sms berujung pada pertengkaran. Istrinya memang sangat sensitif, bahkan pemarah. Sedikit saja lelaki itu salah dalam berkomunikasi maka istrinya akan menghamburkan kata-kata kemarahan kepada lelaki itu. Bahkan, mantan istri lelaki itu sering menggunakan kata-kata kasar atau makian jika ia sedang murka. Lelaki yang cenderung pendiam dan pengalah itu akan sulit meredam kemarahan istrinya sampai berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Padahal, sebenarnya, tak pernah mereka bertengkar karena hal-hal yang besar. Tak pernah ada orang ketiga. Tak pernah ada perbedaan prinsip yang sangat mendasar. Tak pernah ada persoalan yang pelik. Yang ada hanyalah konflik-konflik sederhana yang bagaikan sebuah lakon drama, menurut Aristoteles, mengalami reversal, lalu climax, anti-climax, dan terhempas dalam hamartia—akhir yang tragis. Hubungan yang kian memburuk terakumulasi, mewujud dalam ketidakharmonisan, sehingga—alih-alih menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah—pernikahan mereka malah runtuh jadi puing. Tak ada yang mau melepaskan ego dan mengalah untuk kebersamaan. Dua puluh lima tahun pun sia-sia belaka. Si lelaki pun berusaha mengikhlaskannya, walaupun sebenarnya ia masih mencintai perempuan itu. Baginya, seorang suami adalah pimpinan dalam rumah tangga, panutan, seseorang yang wajib dihormati oleh istri, dan bukannya untuk dicaci maki. Jika seorang istri sudah tidak tunduk kepada suami, bahkan melawan dan menginjak-injak harga diri suami, istri tersebut boleh diceraikan.

Sejak saat itulah, lelaki itu menolak kehadiran ponsel di tangannya. Ia membuang ponsel yang ia anggap menjadi biang perceraian, atau setidaknya menjadi jembatan bagi perceraiannya, di sungai. Ia membuangnya lengkap dengan sim card dan kardusnya. Ia berdoa semoga tidak ada yang menemukan ponselnya dan mengakibatkan kena tulah atas nasibnya.

Sudah tiga tahun sejak perceraian lelaki itu dengan istrinya. Sudah tiga tahun pula ia meninggalkan Solo karena pindah bekerja di Jakarta. Ia mendapatkan posisi yang lebih baik di perusahaan barunya di Jakarta. Mau tak mau ia kembali memegang ponsel. Tetapi, ia sangat membatasi penggunaannya. Ia sangat menghindari hal-hal yang bersifat pribadi untuk dikomunikasikan melalui ponsel, terlebih dengan orang-orang dari masa lalunya. Ia juga jarang menggunakannya untuk ber-sms. Ia lebih memilih bertelepon ketimbang menulis sms.

Di tahun ketiga ini, si lelaki harus datang kembali ke Solo karena satu sebab yang tak dapat ditolaknya. Anak perempuannya satu-satunya akan menikah! Ia tidak dapat menolak untuk memberikan restu.

“Bapak!”

Tiba-tiba seorang perempuan muda menyeruak keramaian orang yang berlalu lalang. Anak perempuannya! Si lelaki berseru girang. Ia menyambut anak perempuannya. Anak perempuannya menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat. Kerinduan tumpah ruah dari keduanya.

“Maaf, aku terlambat menjemput Bapak,” ucapnya ketika mereka sudah berada di dalam mobil. “Bapak sudah lama, ya?”

“Belum terlalu lama,” lelaki itu berbohong. Ia tidak tega melihat air muka anaknya yang merasa bersalah.

“Maaf, ya, Pak. Ini semua karena Ibu tadi ngotot kepengen ikut menjemput.”

“Lho,memangnya kenapa tidak jadi ikut?”

Anak perempuannya menggeleng. “Ibu akhir-akhir ini agak emosional,takutnya malah melakukan sesuatu yang ceroboh.”

Si lelaki tersenyum, masih tidak mengerti.

“Kenapa?”

Anak perempuannya sebenarnya agak keberatan hendak bercerita, tetapi bapaknya terus mendesak.

“Sejak aku memutuskan menikah, Ibu bersikeras menghalangi. Ia bilang aku tidak boleh menikah sebelum Ibu menikah lagi.”

Si lelaki agak terkejut mendengarnya.

“Oh ya? Jadi ibumu sudah punya calon suami? Ya, tidak apa-apalah. Atau, kalian bisa menikah bersama.”

“Tapi … maunya Ibu …” anak perempuannya berhenti sejenak. “Ibu ingin menikah lagi dengan Bapak. Kalau tidak, aku belum boleh menikah lagi.”

Si lelaki tak percaya pada pendengarannya. Ia menelan ludah. Pahit.

“Bagaimana, Pak? Apa Bapak mau … rujuk lagi dengan Ibu? Dulu, Bapak kan pernah bilang lewat telepon, bahwa sesungguhnya Bapak masih cinta sama Ibu. Bapak pernah bilang padaku bahwa, mungkin, suatu saat Bapak dan Ibu akan bersama lagi. Aku pernah menceritakan keinginan Bapak ke Ibu, dan Ibu setuju. Tapi, aku juga belum yakin apa Bapak masih menginginkan hal itu sekarang. Aku juga nggak mau memaksa Bapak demi kepentinganku.”

Wajah si lelaki kian memucat. Ia tidak menyangka akan ditodong seperti itu. Ia kebingungan. Apa ia pernah bertelepon tentang keinginan rujuk dengan mantan istrinya kepada anaknya? Ia tidak ingat lagi.

Huh …, lagi-lagi, pasti ponsel yang jadi biang keladinya!

Jika ia menolak rujuk dengan mantan istrinya, berarti ia menghalangi kebahagiaan anaknya. Padahal … diam-diam tangannya terkepal, di dalam tasnya, ia telah menyiapkan undangan perkawinan untuk diberikan kepada anak dan mantan istrinya. Ia telah memutuskan menikah lagi, tetapi dengan perempuan lain ….

 

***

(Dimuat di Solopos, th 2008)

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s