Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2008

Tema Sayembara:
Melalui Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan kita tingkatkan budaya baca dan tulis dalam rangka mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif, yang berkeadilan, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal dan global.

Tema Penulisan:
Kehidupan bermasyarakat dengan penekanan pada:
• peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia, serta kualitas jasmani;
• peningkatan etika, estetika, ilmu pengetahuan, dan teknologi;
• peningkatan daya saing bangsa dengan terciptanya manusia yang mandiri, bermutu, terampil, ahli dan profesional, mampu belajar sepanjang hayat, serta memiliki kecakapan hidup.

Catatan:
Penulis dapat memilih salah satu atau gabungan (lebih dari satu) tema penulisan yang ditentukan.

Peserta Sayembara:
Pendidik dan tenaga kependidikan baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Peserta sayembara yang pernah menjadi pemenang tiga kali atau lebih tidak diperkenankan lagi menjadi peserta sayembara.

Naskah yang Disayembarakan:
Naskah buku yang disayembarakan adalah buku pengayaan, yaitu buku yang memuat materi yang dapat memperkaya pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan membentuk kepribadian/watak yang positif peserta didik untuk jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA. Adapun naskah buku pengayaan yang disayembarakan dibedakan atas dua kelompok, yaitu (1) fiksi dan (2) nonfiksi.

1. Naskah fiksi adalah naskah yang diciptakan terutama berdasarkan kreativitas dan imajinasi. Kelompok naskah fiksi yang disayembarakan meliputi tiga jenis:
1) prosa, berupa (1) novel atau (2) kumpulan cerpen;
2) puisi (kumpulan puisi);
3) drama (sebuah atau lebih drama).

2. Naskah nonfiksi adalah naskah yang berisi hasil observasi (secara langsung atau melalui studi kepustakaan) mengenai suatu proses atau suatu objek yang bersifat faktual. Kelompok naskah nonfiksi yang disayembarakan meliputi tiga jenis:
1) pengayaan pengetahuan alam,
2) pengayaan pengetahuan sosial,
3) pengayaan keterampilan.
Naskah nonfiksi dapat disajikan dalam bentuk eksposisi (pemaparan ilmiah populer) atau narasi (untuk penulisan biografi dan sejarah). Dalam naskah nonfiksi, tokoh/objek, kegiatan, waktu, dan tempat yang dipaparkan/dikisahkan sepenuhnya bersifat faktual.

Persyaratan Naskah:
1. Isi naskah dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.
2. Naskah diberi identitas secara jelas yang meliputi (a) judul naskah, (b) kelompok naskah (fiksi atau nonfiksi), (c) jenis naskah (misalnya puisi atau pengayaan pengetahuan alam), (d) jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, atau SMA/MA), dan (e) tema penulisan yang dipilih.
3. Karya asli, tidak berseri, belum pernah menjadi pemenang dalam sayembara manapun, tidak sedang diikutsertakan pada sayembara lain, dan belum pernah diterbitkan.
4. Isinya tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD1945, ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku, serta tidak menimbulkan masalah SARA.
5. Memberikan manfaat untuk memperkaya pengetahuan siswa, mengembangkan keterampilan, membentuk watak yang positif bagi perkembangan siswa, memberikan hiburan sehat, dan membangkitkan minat serta budaya baca.
6. Apabila dalam naskah prosa, puisi, dan drama terdapat ilustrasi atau gambar, ilustrasi/gambar dibuat pada halaman tersendiri/terpisah dengan memberikan identitas gambar secara jelas.
7. Naskah berbentuk biografi harus memenuhi syarat: (1) tokoh yang ditulis warga negara Indonesia yang berprestasi di tingkat provinsi, nasional, atau internasional (misalnya pemenang olimpiade, pemenang kalpataru, guru teladan); (2) didukung dengan metode pengumpulan data yang tepat; (3) data yang ditulis harus akurat dan dapat dibuktikan keabsahan dan kebenarannya; (4) melampirkan izin dari tokoh yang diceritakan atau dari ahli warisnya.
8. Naskah diketik di atas kertas kuarto sekurangkurangnya 60 halaman dengan jarak ketikan 2 spasi. Apabila ditulis tangan, naskah ditulis dengan rapi sekurang-kurangnya 80 halaman folio. Ketentuan tentang jumlah halaman tersebut di atas tidak termasuk halaman bagian awal buku (misalnya kata pengantar, pendahuluan, daftar isi) dan halaman bagian akhir buku (misalnya glosarium, daftar pustaka).
9. Jumlah baris naskah (ketik/tulis tangan) minimum 28 baris ketik per halaman kuarto atau 32 baris tulis tangan per halaman folio.
10. Menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan sasaran dan tingkat berpikir pembaca (SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA).
11. Semua kutipan termasuk foto dan ilustrasi harus menyebutkan sumber sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta (UU No.19 Tahun 2002).
12. Melampirkan: (1) identitas diri (KTP/SIM); (2) surat keterangan sebagai pendidik atau tenaga kependidikan dari atasan langsung, atau fotokopi bukti pensiun.
13. Menuliskan nama lengkap, NIP (jika ada), pekerjaan (misalnya guru), alamat rumah dan kantor, telepon/HP secara jelas pada kertas tersendiri.
14. Setiap penulis menyertakan surat pernyataan di atas meterai Rp6.000,00 (enam ribu rupiah) bahwa naskah yang ditulis adalah hasil karya sendiri.

Pengiriman Naskah:
1. Naskah disampaikan langsung atau melalui pos tercatat kepada Panitia Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan 2008 Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Jalan Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta Pusat 10002, paling lambat tanggal 14 Agustus 2008 (stempel pos).
2. Setiap calon peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah.
3. Naskah yang dikirim kepada panitia sayembara harus dalam bentuk ketikan/tulisan asli (bukan fotokopi atau tindasan).

Pengumuman Pemenang:
1. Para calon pemenang sayembara akan diundang ke Jakarta untuk menghadiri pengumuman pemenang.
2. Jika penulis naskah lebih dari satu orang, calon pemenang sayembara yang diundang ke Jakarta hanya 1 (satu) orang.
3. Pengumuman dan pemberian hadiah kepada pemenang akan dilaksanakan pada tanggal 25 November 2008.
4. Hasil keputusan Dewan Juri Sayembara tidak dapat diganggu gugat.
5. Naskah yang tidak menang akan dikembalikan kepada peserta sayembara jika disertai perangko pengembalian yang cukup.
6. Informasi hasil sayembara akan disampaikan kepada seluruh peserta sayembara.

Hadiah:
• Pemenang I senilai Rp 17.000.000,00
• Pemenang II senilai Rp 16.000.000,00
• Pemenang III senilai Rp 15.000.000,00
• Hadiah tersebut di atas belum dipotong PPh 15%.

• Rincian pemenang sayembara:
Kelompok Fiksi (27 pemenang)
a. Prosa: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).
b. Puisi: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).
c. Drama: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).
Kelompok Nonfiksi (27 pemenang)
a. Pengayaan pengetahuan alam: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).
b. Pengayaan pengetahuan sosial: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).
c. Pengayaan keterampilan: ada 9 pemenang, terdiri atas pemenang I, II, dan III untuk setiap jenjang pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA).Jumlah keseluruhan pemenang sayembara untuk semua jenis dan jenjang pendidikan sebanyak 54 orang. Naskah yang memenuhi persyaratan kelayakan sebagai naskah pengayaan, tetapi tidak menjadi pemenang sayembara, akan diberikan sertifikat kelayakan oleh Pusat Perbukuan.

Hak Cipta:
Hak Cipta (Hak Ekonomi) naskah pemenang sayembara ada pada Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Hak Moral melekat pada Penulis.

Informasi:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Tel. (021) 3804248 Pesawat 275, Fax. (021) 3806229, serta melalui Situs Internet Pusat Perbukuan dengan alamat http://www.sibi.or.id. Email: pusbuk@sibi.or.id

Cerita dari Negeri Embun Berkilau

Davin kesal sekali. Semenjak Risma, adik barunya, lahir, ia merasa Mama dan Papa tidak memerhatikannya lagi. Yang mereka urusi hanyalah Risma, Risma, dan Risma. Davin jadi tidak suka kepada adik barunya itu. Memang sih, cantik, imut, dan menggemaskan. Tapi, gara-gara merasa tersaingi, Davin jadi emoh mendekatinya.

Pagi itu, Davin bangun kesiangan. Maklumlah, hari libur. Davin kesal banget karena Papa urung mengantarnya ke kolam renang. Gara-garanya, Risma sakit panas dan mobil mau dipakai untuk mengantarkan Risma ke dokter.

Davin ngambek berat dan mengurung diri di kamar sambil menonton film kartun. Beberapa waktu kemudian ia mendengar suara isakan kecil. Davin menoleh mencari sumber suara. Di sana! Ya, di dekat jendela. Davin mendekati jendela. Dan …, oh, ia melihat sesuatu yang menakjubkan!

Ada sesosok tubuh mungil di jendela, benar-benar mungil karena hanya sebesar jari kelingking orang dewasa. Sosok itu memiliki sayap, dengan baju berkilauan berwarna hijau muda, dengan hiasan bunga-bunga di kepalanya. Ia tengah menangis.

“Kamu siapa?” tanya Davin.

“Aku Peri Amarilis,” katanya. “Sayapku terluka. Aku tidak bisa terbang untuk kembali ke negeriku.”

“Oh …,” Davin memerhatikan sayap Peri Amarilis. Ya, sebelah sayapnya robek dan mengeluarkan cairan berwarna emas. Ah, mungkin itu seperti darah pada manusia.

“Tunggu,” kata Davin. Ia mengambil betadin dan plester di lemari. Kemudian dengan hati-hati ia mengoleskan betadin dan memplester sayap si peri. “Mudah-mudahan lekas membaik.” Davin kemudian melihat Peri Amarilis membawa semacam guci kecil. “Apa itu?” tanya Davin ingin tahu.

“Ini madu. Aku mengambilnya dari pohon kelengkeng di belakang rumahmu. Maafkan aku telah mengambilnya tanpa izin. Mungkin karena itu aku jadi terluka terkena dahan pohon kelengkeng.”

Davin tersenyum, “Tidak apa-apa,” ujarnya.

“Oh ya, terima kasih, Davin, aku sudah bisa menggerakkan sayapku,” kata Peri Amarilis seraya mengepak-ngepakkan sayapnya. Beberapa kali ia terbang dan hinggap lagi di jendela. “Oh ya, sebagai rasa terima kasih, apakah kau mau ikut aku melihat negeri kami? Nanti kau kuantarkan pulang lagi. Kau tidak akan menyesal karena negeriku sangaaat … indah.”

Davin setuju. Peri Amarilis kemudian menyulap Davin menjadi seukuran tubuhnya agar Peri Amarilis tidak sulit membawanya. Lalu, ia meminta Davin memejamkan mata. Peri Amarilis memegang tangan Davin dan dalam sekejap Davin merasa tubuhnya melesat. Ringan sekali. Davin merasa melayang-layang di udara. Beberapa saat kemudian, Peri Amarilis memintanya membuka mata.

Wooow …! Bukan main indahnya negeri Peri Amarilis. Negeri itu bernama negeri Embun Berkilau. Pohon bunga aneka warna tumbuh subur di sana. Bunga-bunga bermekaran menebarkan aroma wangi. Embun bergulir di daun-daunnya. Bening, sejuk, dan berkilau-kilau. Itulah mengapa negeri itu bernama negeri Embun Berkilau.

Para peri berumah di daun-daun bunga yang lebar. Rumah-rumah mereka mungil, terbuat dari aneka biji-bijian yang direkatkan sebagai dindingnya. Mereka bekerja menggiling bunga-bunga, menyaring, dan mengambil airnya di botol-botol bening. Warnanya bermacam-macam bergantung warna bunganya. Kata Peri Amarilis, mereka sedang membuat parfum,. Parfum itu akan dijual ke negeri-negeri tetangga. Selain itu, terlihat pula beberapa peri lain tengah mengisi guci-guci dengan embun untuk berbagai macam keperluan. Davin juga melihat beberapa peri sedang memasak. Aroma masakan itu membuat perut Davin terasa lapar.

“Mereka masak apa?” tanya Davin.

“Mereka sedang membuat sop bunga kenanga. Nanti kau boleh mecicipinya.”

Tiba-tiba, seekor laba-laba besar berayun di hadapan mereka. Davin dan Peri Amarilis menjerit. Mereka terperangkap di jaring laba-laba. Peri Amarilis panik sekali.

“Dia … dia mau memakan kita! Lakukan sesuatu, Davin!”

Davin kebingungan. Ia berusaha melepaskan diri dari jaring-jaring yang lengket itu. Ah, menjijikkan sekali! Tetapi, usaha Davin tidak membuahkan hasil. Sementara itu, laba-laba itu bergerak makin dekat.

“Tolong … Tolong!” Peri Amarilis berteriak-teriak. Tapi, karena tempat itu berada di lembah yang jauh dari keramaian, teriakan Amarilis menjadi sia-sia belaka.

Davin mendapatkan ide.

“Peri, apakah kau bisa menyulapku jadi besar lagi?” tanyanya.

Peri Amarilis dengan susah payah mengacungkan ujung telunjuknya ke arah Davin. Sim salabim …, dan CRIIING …! Davin berubah ke ukuran tubuhnya semula. Laba-laba itu ketakutan dan pergi meninggalkan mereka. Davin segera melepaskan dirinya dari jeratan jaring laba-laba dan membebaskan Peri Amarilis.

Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Peri Amarilis. Davin tertegun melihat peri kecil yang terbaring di tempat tidur. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya pucat. Peri Amarilis segera menuangkan madu kelengkeng di gelas dan meminumkannya kepada peri kecil itu.

“Madu ini adalah obat buat adikku,” kata Amarilis. “Adikku sakit keras. Hanya madu kelengkeng yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Walaupun aku harus menempuh perjalanan jauh dan banyak bahaya, aku harus menemukan madu kelengkeng untuk adikku, karena aku sayang sekali kepadanya.”

Davin tertegun mendengar penjelasan Amarilis. Ia teringat Risma. Davin merasa malu sekali. Demi adiknya, Peri Amarilis mau mempertaruhkan nyawanya. Sementara itu, hanya karena sedikit terlambat untuk pergi berenang, Davin bisa sedemikian marahnya. Terlebih lagi, Davin merasa tidak suka dengan keberadaan adiknya karena dianggap telah merebut perhatian papa dan mamanya.

Sesuai dengan janjinya, Peri Amarilis mengantarkan Davin kembali ke rumahnya. “Jangan ceritakan ini kepada siapa pun, ya?” pinta Peri Amarilis sebelum pergi. “Aku mungkin akan beberapa kali mengambil madu dari pohon kelengkengmu, sampai adikku sembuh.”

Davin mengangguk.

“Davin, aku tahu kamu juga punya adik. Kamu juga sayang, kan, sama adikmu? Kalau kita melindungi dan menyayanginya, kelak ia juga akan membela kita. Dia akan menjadi teman main yang paling asyik sekaligus sahabat sejati kita.”

Davin mengangguk lagi. Matanya berkaca-kaca. Dalam hati ia berjanji akan menyayangi adiknya. Ia ingin Risma kelak menjadi sahabat sejatinya.

**

(salah satu cerpen pilihan lomba cerpen anak yang diadakah oleh line production, 2008 )

Posted in Uncategorized

Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 5)

 

 Kerja, kerja, dan kerja adalah cara Hasta membungkam kerinduannya pada Raia.

Raia menemukan ia tengah menunggu dengan sikap tergugu. Sebatang rokok terselip di bibirnya, mata kemerahan yang kurang tidur, dan rambut yang acak-acakan. Ia menghalangi langkah Raia di pintu.

 

“Halo,”sapa Raia,”menunggu siapa?”

“Menunggumu,”sahut Hasta. Ia tak berani menatap.

Kening Raia berkerut. ”Aku?” ia menunjuk dadanya.

“Ya, kau.”

“Ada apa?”

“Eh….”

Gugup menyerang kembali. Hasta membuang sisa rokoknya ke lantai, kemudian menginjaknya dengan sepatu. Raia menunggu kata-katanya, tapi beberapa saat Hasta tak bisa bicara.

“Hasta, ada apa?”

Hasta kemudian menemukan kata-kata.

“Sudah makan siang?” tanyanya.

“Belum.”

“Aku traktir makan siang. Mau?”

Raia tercengang. Ia menatap Hasta takjub. Bola matanya berbinar sesaat. Senyumnya muncul.

“Tapi kenapa? Kau ulang tahun, atau baru dapat rezeki? Tulisanmu dimuat di majalah? Kok, tiba-tiba ingin mentraktirku makan siang?”

“Hanya…,” Hasta menguatkan keberaniannya. “Ingin makan siang denganmu. Salahkah?”

Raia masih terheran-heran. Ada kebimbangan di wajahnya.

Please…?” Hasta meredupkan matanya, memohon. Raia menjadi gugup. Ia berdehem untuk meredakan kegugupannya.

“Oke,” sahutnya. “Tapi setengah jam lagi aku ada kuliah. Kita ke kantin yang dekat saja.”

Begitulah. Setengah jam itu sangat singkat. Hasta mati akal. Tak mungkin dalam waktu sesingkat itu ia bisa leluasa berpikir, apalagi berkata-kata. Tapi ia tahu, Raia mulai bisa membaca hatinya.

“Kau bertunangan, Raia?”

“Ya.”

“Dengan pacarmu itu?”

“Tentu saja. Dengan siapa lagi? Tentu dengan Nara.”

Hmm, jadi namanya Nara.

“Kau cinta dia?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku cinta dia. Aku tidak akan mau bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai. Kenapa memangnya?”

“Lalu kau akan menikah?”

“Ya tentu saja. Dan punya anak dengannya. Ha…ha…ha….”

Tawa Raia mengiris dada Hasta. Oh, ia benar-benar tak paham, pikirannya kecut. Betapa polosnya.

“Kau benar-benar cinta dia? Sejak kapan kau jatuh cinta padanya?”

“Aku lupa tepatnya sejak kapan. Tapi… ya, aku cinta dia.”

“Sebesar apa cintamu?”

Raia terkekeh. Benar-benar geli ia mendengar pertanyaan bodoh Hasta. Matanya berair karena tertawa. Namun, ia menghentikan tawanya saat menemukan wajah Hasta sangat serius.

“Kau aneh,” Raia berkata sebal. “Wawancara untuk apa ini?”

“Maaf.”

“Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu? Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena… ini….”

“Karena apa? Bicaralah, jangan berbelit-belit. Biasanya kau pintar bicara.”

“Tidak denganmu,” desah Hasta.

“Kenapa bisa begitu?”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ya, kenapa bisa begitu? Dan jangan kau ulangi pertanyaanku lagi.”

Raia mulai merasa terancam. Ia merasakan sesuatu yang menegakkan bulu kuduknya. Hasta tidak sedang main-main. Ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

“Kau tahu jawabannya, Raia?”

“Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu,” Raia berkata ketus.

“Karena aku sangat….”

“Ya? Sangat apa?” desak Raia tak sabar.

“Menginginkan. Menginginkanmu.”

Raia terenyak. Ia tidak siap mendengar jawaban itu. Mulutnya ternganga, jemarinya gemetaran di atas meja, dan wajahnya pias seperti kertas. Hasta tidak tega melihatnya seperti itu.

“Maafkan aku, Raia,” keluhnya pahit.

Untung saja Raia cepat bisa memulihkan dirinya. Ia meminum orange juice-nya hingga tandas.

“Aku tahu aku tidak seharusnya seperti ini. Aku telah mengacaukanmu. Ini sungguh tidak adil buatmu. Kau baru saja bertunangan dan aku berani-beraninya mengusikmu dengan pertanyaanku. Tapi, keberanian ini, sebelum hilang lagi setelah kukumpulkan sejak lama, harus kukeluarkan sekarang juga. Kau harus tahu ini. Mungkin kau hanya perlu tahu. Tak lebih dari itu, karena tak mungkin aku bisa mengharapkan yang lebih dari sekadar ‘asal kau tahu’. Dan sekarang setelah aku mengatakan ini, aku merasa lega karena telah terlepas dari impitan beban yang kutanggung selama ini. Sekali lagi maafkan aku, Raia.”

Raia bergeming. Ada sesuatu yang berkecamuk di dadanya. Tanpa sadar ia memutar-mutar cincin di jari manisnya.

“Aku tak paham, Hasta…,” ucap Raia datar. “Aku tak pernah bisa membacamu. Kau tampak tak peduli dengan siapa pun. Kau hanya peduli dengan bagaimana mendapatkan berita-berita spektakuler, headline news, membangun opini publik. Lebih tertarik dengan angle pengambilan gambar dengan kamera, teknologi digital, dunia cyber, editing berita, reportase yang baik, wawancara eksklusif, diskusi yang argumentatif. Kau lebih peduli dengan bagaimana mendekati orang-orang hebat dan menjadi seperti mereka. Kau aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kau tidak peduli dengan seorang Raia. Siapa Raia buatmu?”

“Raia bagiku adalah… puisi. Raia bagiku adalah matahari, bintang, senandung, udara. Raia bagiku adalah mimpi indah yang membuatku tak ingin bangun lagi. Kehangatan saat udara menjadi dingin menyesakkan.”

“Kau ngawur.”

”Aku tahu aku ngawur karena menyukaimu sejak mula, padahal aku tahu kau tidak sendiri. Aku takut dengan perasaanku sendiri.”

Hasta mengembuskan napas keras-keras. Setidaknya, beban itu telah berkurang. Tapi tidak demikian dengan Raia. Ia pergi meninggalkan Hasta dengan mendung menggantung di wajahnya.

Sejak saat itu Raia selalu berusaha menjauh. Hasta bisa memahami mengapa ia bersikap begitu. Ia pun mulai belajar untuk melupakan Raia. Ia telah berjanji untuk tidak lagi mengusik Raia dan menimbulkan kebingungan baginya. Cintanya kepada Raia tak pernah hilang. Bahkan, saat ia telah lulus terlebih dahulu dan meninggalkan Raia di sana, ada separuh hatinya yang tertinggal, dan keping-keping itu dia biarkan begitu saja. Di saat-saat sepi, malam-malam saat aktivitasnya berhenti, Raia selalu muncul di benaknya. Kerinduan ia bungkam dengan kerja dan kerja. Tak ada jeda, karena jeda berarti Raia. Dan ia sangat tersiksa.

Malam itu, sepulang kerja, Hasta mendengar suara Raia kembali. Setelah sekian lama, ia tak juga lupa dengan suara itu. Raia meninggalkan pesan di mesin penjawab teleponnya.

“Selamat malam, Hasta. Masih ingat Raia? Ini aku. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau sukses. Selamat, ya. Karier boleh pesat, tapi jangan lupa, tubuhmu juga perlu istirahat. Masih workaholic, ‘kan? Kau perlu dikontrol. Carilah istri. Oke, kapan-kapan aku telepon lagi. Bye….”

Hasta benar-benar tak menyangka. Ia memutar rekaman itu beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa suara itu benar-benar suara Raia. Setelah merasa pasti, ia segera mencari nomor telepon Raia di phonebook ponselnya, tapi tak ia temukan. Rupanya nomor itu telah terhapus dari sana semenjak Hasta memutuskan untuk melupakan Raia.

Ia kemudian mengaduk-aduk laci meja, mencari buku-buku telepon lama. Dilacaknya nama Raia dengan penuh semangat. Setelah sekian lama, tujuh tahun lebih, jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Ia berseru gembira ketika menemukan nomor ponsel Raia. Ia kemudian menekan tombol-tombol ponselnya. Menunggu, berharap-harap cemas. Yup, diangkat!

“Halo… siapa ini?”

 

Posted in Uncategorized

Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 4)

Stepa terdiam beberapa saat. Ia berusaha menebak orang yang sedang berbicara dengannya. Ia teringat seseorang karena pada beberapa kali ia menangkap tipikal suara yang sama.

“Kami membutuhkan jawaban segera, saudara Stepa. Kalau Anda bersedia, kami menunggu Anda di studio Space TV sampai pukul tujuh malam ini. Kalau tidak, tawaran kami cabut kembali dan akan kami berikan pada orang lain. Tim kami akan berangkat besok.”

“Tunggu,” potong Stepa, ”liputan seperti apa yang harus saya tangani?”

“Meliput perusahaan bioteknologi Merican yang terbakar, Human Care.”

Tiba-tiba saja Stepa merasa bergairah.

“Saya akan ambil tawaran itu!” serunya. “Jadi ke mana saya harus pergi?”

“Studio Space TV lantai tiga. Temui Hasta di sana.”

“Hasta?” ulang Stepa kaget, tapi telepon keburu ditutup dari seberang. Stepa nyaris meledak saking gembiranya. Ia melonjak-lonjak seperti anak kecil, berteriak-teriak kegirangan dan berlari-lari ke seluruh penjuru ruangan. Tertawa-tawa dari sudut ke sudut seperti orang gila. Ia tak peduli. Ia merasa kegilaan itu telah membuatnya hidup kembali.

Namanya Hasta. Postur tubuhnya tinggi, dan meskipun tak bisa dibilang tampan, wajahnya tidaklah terlalu buruk. Ia bisa mendapatkan skor tujuh dari skala 10. Ciri khasnya adalah: selalu mengenakan topi di kepalanya. Ia berdalih melindungi wajahnya dari sengatan matahari. Ia sering kali bekerja di lapangan dan itu membuatnya merasa harus melindungi kulitnya yang sensitif terhadap sinar matahari. Kulit tembaganya tampak buruk bila terkena sengatan sinar matahari secara terus-menerus. Akan mucul bintik-bintik kemerahan di pipi dan hidungnya, dan bila sudah begitu ia harus kerepotan mengoleskan krim penetral untuk mengatasinya. Sembuhnya pun makan waktu. Oleh karena itu ia kini lebih suka memakai topi untuk melindungi wajahnya, sambil tak lupa mengoleskan sunscreen di wajahnya. Terkadang, saking bersemangatnya ia mengoleskan krim, mukanya tampak seperti dibedaki. Akibatnya, ia ditertawakan kawan-kawannya. Tapi demi kulit kesayangannya, Hasta mau melakukan apa pun. Ia tak pernah memedulikan komentar kawan-kawannya.

“Kalian belum pernah merasakan kulit kalian direbus dalam panci sup? Seperti itulah yang selalu aku rasakan bila membiarkan wajahku terbakar sinar matahari. Lebih baik kalian mati ketawa ketimbang aku mati matang direbus matahari,” kilah Hasta selalu.

Sejak remaja Hasta telah tumbuh dengan energi berlebih. Ia hiperaktif. Tak ada waktu berdiam buatnya. Progresivitas telah menjadi teman hidupnya sepanjang waktu. Setiap hitungan detik adalah perubahan baginya. Progres adalah sesuatu yang niscaya.

Menjadi workaholic adalah stadium berikutnya. Hasta, si gila kerja. Dua puluh empat jam sehari baginya adalah dua puluh jam kerja dan hanya menyisakan empat jam untuk berbaring-baring memejamkan mata. Tak jarang ia kena insomnia, tapi ia tidak seperti baterai yang harus recharge setiap saat. Energinya seperti tak pernah habis. Hanya saja, ia punya totally day off yang digunakannya untuk mengumpulkan kekurangan jatah tidurnya setiap hari. Ia memanfaatkan hari itu sebaik-baiknya. Kawan-kawannya telah maklum bila hari libur Hasta tiba, maka segala akses kepadanya akan diputus. Ia tidak mengizinkan siapa pun menghubungi dan mengganggunya. Ia akan kembali siaga keesokan harinya, bersemangat seperti anak muda yang kelebihan daya.

Jarang orang melihat Hasta sakit. Ia kuat seperti baja. Kendati tubuhnya tidak terlampau besar, Hasta tampaknya punya banyak sekali cadangan energi dalam tubuhnya.

Ia sesekali mendoping tubuhnya dengan suplemen, dan ia tetaplah manusia normal yang sekali waktu tertidur saat kelelahan. Celakanya, sesekali itu terjadi saat ia bekerja.

Hasta telah beberapa kali mencoba-coba berbagai macam pekerjaan. Ia memulai karier benar-benar dari nol. Ia pernah bekerja di sebuah koran kuning dengan gaji yang hanya cukup digunakan untuk makan sehari-hari dengan menu yang sederhana. Ia nyaris tak pernah bersenang-senang dengan penghasilan sekecil itu. Hampir satu tahun ia bertahan dengan keadaan itu, hingga kemudian berpindah bekerja di sebuah stasiun radio, menjadi penyiar. Gajinya sedikit lebih baik, dan ia mendapat kerja sampingan sebagai MC dengan penghasilan yang cukup membuat tabungannya sedikit demi sedikit mulai terisi. Keberuntungan mulai berpihak kepadanya semenjak ia menggeluti bidang itu. Tak lama kemudian ia ditawari bekerja di sebuah stasiun televisi baru, Space TV, di mana ia benar-benar memiliki karier yang sesungguhnya. Hasta mulai merasakan mantap bekerja di Space TV, sebagai seorang news director. Ia benar-benar menikmati pekerjaannya.

Tak ada yang benar-benar luar biasa dalam kehidupan pribadi Hasta. Ia dilahirkan sebagai anak tunggal. Keluarganya adalah keluarga kaya raya. Ayahnya seorang pengusaha sukses, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga yang mengabdi pada suami dan sangat mencintai anaknya. Ia memiliki saudara sepupu bernama Epro, yang dibesarkan bersamanya semenjak kecil. Bersama Epro, Hasta terlibat petualangan-petualangan hebat di masa mudanya.

Kendati besar di lingkungan yang rapi dan beradab, Hasta lebih memilih hidup leluasa dengan membebaskan dirinya dari segala keterikatan aturan keluarganya. Kecintaan ibunyalah yang menyelamatkan ia dari deraan ikat pinggang ayahnya saat penyakit pemberontaknya kambuh. Hasta kecil suka bermain ke permukiman-permukiman kumuh, bergaul dengan pengamen-pengamen yang kerap mangkal di ujung gang dekat rumahnya, atau berteman dengan gelandangan. Bersama mereka, ia merasa bisa mewujudkan fantasi-fantasinya menjadi figur seorang pahlawan. Bersama mereka, ia bisa menjadi tokoh penyelamat yang selalu dapat memberikan bantuan ketika mereka membutuhkan. Hasta sering membawakan makanan dan buah-buahan yang ia curi dari kulkas rumahnya, memberikan uang saat mereka membutuhkan, membawakan buku-buku bacaan, atau bercerita tentang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Ia sangat senang melihat mata mereka berbinar-binar penuh kekaguman saat mendengarkan ceritanya tentang hal-hal menakjubkan.

Sayang, Epro tak pernah menyukai kesenangan Hasta. Ia menemani Hasta, tetapi dengan wajah yang cemberut. Ia selalu memaksa Hasta untuk segera pulang. Mereka adalah anak-anak yang tak punya keinginan, begitu ia selalu mencerca. Orang-orang yang tak punya masa depan dan tak mau berusaha meraih mimpi-mimpi mereka. Mereka bukanlah siapa-siapa.

Epro lebih memilih bergaul dengan orang-orang berpendidikan. Orang tua Hasta memiliki sebuah rumah di samping rumah utama yang dikontrak oleh para mahasiswa dan Epro lebih memilih bermain ke tempat itu ketimbang menemani Hasta menyusuri gang-gang becek untuk menjadi pahlawan bagi kawan-kawan miskinnya. Pada usia yang relatif masih sangat muda, 15 tahun, Epro telah menjadi pengagum Nietszche. Ia fasih bicara filsafat dan kerap kali mencuri kata-kata yang sering diucapkan oleh para mahasiswa itu. Kegilaan pemikirannya selalu membuat mata Hasta berkunang-kunang. Namun, kendati pemikiran Hasta dan Epro sangat bertolak belakang, mereka sangat rukun dan saling menghargai. Epro selalu bersikap menjadi pelindung Hasta. Usianya yang dua tahun lebih tua membuat ia memosisikan dirinya sebagai kakak Hasta, walaupun ia lahir dari adik ibu Hasta, dan seharusnya Hastalah yang menjadi kakak sepupu baginya. Ia selalu mengalah kepada Hasta, nyaris dalam segala hal.

Kedua bersaudara itu, Hasta dan Epro, sama-sama tidak terlalu tertarik pada wanita. Hingga Hasta menginjak usia 32 tahun, ia belum juga menikah. Hasta mempunyai banyak teman wanita, tetapi ia sulit sekali jatuh cinta. Ia sering berkencan, tetapi tak pernah menjatuhkan pilihan pada salah satu teman kencannya. Ia alergi dengan komitmen. Baginya, menjalin hubungan dengan wanita berarti harus siap dengan komitmen, lengkap dengan segala risikonya. Dan dia bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta.

Satu-satunya wanita yang pernah membuatnya menatap beberapa jenak lebih lama, menahan napas di dada, dan mengembuskannya perlahan dengan segenap perasaan, adalah seseorang bernama Raia. Seorang wanita yang ia kenal di suatu tempat dan waktu. Seorang yang pernah menggetarkan hatinya, membuat bahasanya yang lihai menjadi kaku. Yang membuat matanya berkunang-kunang, seperti yang dilakukan pemikiran-pemikiran gila Epro terhadapnya.

Ia hanya sekali itu jatuh cinta, di usia 20-an, saat Raia manis bermata lembut itu mengusik hari-harinya. Raia yang tidak pernah mengerti mengapa Hasta yang pandai bicara tiba-tiba menjadi bisu di hadapannya. Ia yang tak pernah cermat melihat setiap perubahan emosi Hasta setiap kali harus berhadapan dengannya. Geletar jemari Hasta saat menatap lekat matanya, lipatan dahinya saat bicara dan berusaha mencari cara mengatasi galaunya.

Kenaifan itu muncul bila dengan Raia. Segala bahasa menjadi tak bisa diterjemahkan, bahkan dengan diam dan isyarat mata. Bersama Raia, diam pun berbicara banyak. Lebih panjang dari dialog dalam sandiwara apa pun. Lebih memayahkan, kendati menghangatkan tubuh yang menggigil.

Hasta menyukai Raia sejak mula bertemu. Mereka satu kampus, meski berbeda tahun dan jurusan. Berada dalam satu komunitas jurnalisme kampus, Hasta jadi kerap bertemu dengan Raia. Sayangnya, waktu itu Raia sudah punya kekasih. Hasta hanya bisa mengagumi Raia dari kejauhan tanpa punya keberanian untuk mengusik. Hanya saja, ia sering kali tak bisa menyingkirkan keinginan-keinginan untuk mendapatkan Raia dari kepalanya. Maka sering dikuntitnya Raia ketika ia tak bersama dengan kekasihnya, hanya untuk mencari kesempatan menyapa dan menikmati sepasang matanya yang sebening telaga. Kalau bisa, mengajaknya bercakap tentang apa saja.

Hasta sering berdoa agar Raia putus dengan pacarnya, tetapi karena doa itu buruk, Tuhan rupanya tak mau mendengarkannya. Raia tak kunjung putus dengan pacarnya, bahkan kemudian mereka bertunangan.

Saat itulah Hasta mulai berontak. Hatinya berteriak-teriak. Ia tidak merelakan Raia menjadi milik siapa pun. Ia tidak ingin Raia lepas dari tangannya. Ia ingin mengatakan perasaannya kepada Raia. Ia ingin dunia tahu bahwa ia cinta Raia dan ingin memilikinya. Lalu dengan hati berapi-api, suatu hari ia memutuskan untuk menemui Raia.

Ketika itu Raia sedang ada kuliah. Hasta menunggu di depan ruang kuliahnya. Beribu macam perasaan bergolak di dadanya. Kecemasan yang mendera sejak ia memutuskan bicara membuat ia nyaris seperti orang gila. Ia telah berulang kali menyusun kalimat di benaknya, tapi setiap kali menghafal ia selalu lupa. Ia berusaha membuat kalimat baru, tetapi selalu terasa janggal dan lucu. Hasta sudah tidak bisa lagi berpikir. Ia ingin mengatakannya tanpa kesalahan sedikit pun. Ia ingin kalimat yang sempurna. Argumen yang logis. Penyampaian yang terjaga. Namun, lagi-lagi lebur oleh kecemasan yang membelitnya.

Posted in Uncategorized

Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 2)

“Saya heran…,” desah Nadine seperti tak mendengar pertanyaan sahabatnya. “Mengapa seorang Elisa tiba-tiba menjadi sangat membumi? Menjadi wanita biasa, bercelemek, dan membuat adonan? Ada sesuatu yang salah di sini. Seharusnya akulah yang bertanya kepadamu, ‘Ada apa?’ Karena kau sangat tidak biasa menjadi seseorang yang ‘sangat biasa’.”

Elisa tertawa.

“Kau pasti sangat ingin tahu, kan?”

“Tentu saja. Atau, kau ingin membuka bisnis restoran karena sudah bosan dengan pekerjaanmu yang sekarang? Kau sedang berusaha mengumpulkan resep dan mencoba-cobanya?”

“Motifnya tidak selalu bisnis, Sayang. Kenapa kau menduga ke arah itu?”

Everything deals with money. Yang saya tahu kau selalu begitu. Tidak ada yang kau kejar selain untuk mendapatkan uang. Kau selalu punya rencana di balik kepalamu bila tiba-tiba melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan. Biasanya motifmu selalu motif ekonomi. Jangan menyangkal itu karena saya tahu benar siapa kau.”

Tawa Lisa kian keras.

“Oh, kali ini kau salah mengambil kesimpulan, Nona manis. Ada sisi lain dalam diriku yang mungkin kau lupakan. Saya ini romantis. Saya melakukan sesuatu karena saya sangat menginginkannya. Saat ini saya tiba-tiba ingin melakukan pekerjaan yang lazim dilakukan oleh kaumku, membuat kue. Kalau saya berhasil melakukannya, maka saya sungguh layak disebut wanita yang baik. Tak serumit yang kau pikirkan. Dan, mana tahu, dengan keterampilanku memasak ini suatu waktu saya dengan bangga akan berkencan di rumah saja, having dinner dengan hidangan yang kubuat dengan tanganku sendiri. Kau tahu, pria selalu jatuh hati kepada wanita yang bisa membuat masakan enak.”

“Jadi, kalau boleh kutebak, saat ini kau sedang mempersiapkan kencanmu? Kau sedang jatuh cinta?”

“Ya…, boleh saja kau tebak begitu. Tapi, sebentar, saya mau bikin krim dulu untuk kueku.”

Nadine tiba-tiba saja menjadi bosan. Ia berharap menemukan Elisa yang biasanya. Bicara tentang hal-hal spektakuler, bukan hanya sekadar kue truffle dan kencan. Elisa yang selalu membicarakan info-info terkini dan bukan hal-hal biasa seperti pekerjaan wanita di dapur.

Nadine mendesah karena ketakmengertiannya pada sikap Elisa.

“Jadi, cintalah yang bisa membuatmu gelap mata?” tanyanya dengan wajah suram.

“Apa? Gelap mata?”

“Ya, kusebut ini gelap mata. Kau belum pernah melakukan hal-hal yang tidak kau sukai untuk mendapatkan sesuatu. Kalau sekarang kau melakukannya, apa itu bukan gelap mata namanya?”

“Jangan sinis begitu, dong. Kau mulai seperti Hasta.”

“Siapa Hasta?”

“Temanku. Pria yang selalu memandang dunia dengan sinis.”

“Baik. Sekarang langsung saja saya bertanya padamu, kau sedang jatuh cinta dengan siapa rupanya?”

“Nah, yang ini baru Nadine yang kukenal. Straight to the point. Tapi yang ini belum bisa saya jawab sekarang. Tapi yang pasti, kali ini saya benar-benar jatuh cinta.”

“Seserius apa? Jangan-jangan kau mau menikah?”

“Wah, tepat pada sasaran.”

“Jadi benar kau mau menikah?”

“Ah, kenapa sih kau selalu saja menanggapi dengan serius? Cobalah untuk sedikit lebih relaks. Ini bukan tugas dokter yang memerlukan penanganan serius. Terkadang kita juga perlu libur membicarakan hal-hal yang ‘gawat’. Santailah sedikit….”

Nadine tersipu-sipu mendengar kata-kata Elisa. Selama ini ia memang selalu disibukkan dengan hal-hal yang serba serius. Sebagai seorang calon dokter, pekerjaan menuntut ia menjadi seorang yang serius, bahkan cenderung perfeksionis, dan gila logika. Terkadang Elisa dapat mengimbanginya sehingga mereka terlibat perdebatan seru tentang banyak hal yang serius. Di lain waktu, seperti saat itu, Elisa menjadi orang yang ingin bicara hal-hal ringan namun penuh perenungan. Latar belakang Elisa sebagai seorang yang berasal dari disiplin ilmu sosial humaniora membuat ia sangat humanis, yang ingin membicarakan hal-hal yang kontemplatif. Namun, Nadine tak pernah bisa melakukannya.

Elisa sibuk mengaduk krim di atas kompor gas. Nadine merasa capai menunggunya memberikan jawaban yang memuaskan. Begitulah selalu Elisa yang dikenalnya selama lebih dari sepuluh tahun lamanya. Nadine belum juga terbiasa dengan kebiasaan menggantung kalimatnya. Seperti halnya Elisa biasa menggantung suatu keadaan dan menyingkir diam-diam ke wilayah aman di mana ia bisa bersembunyi untuk tak mengakhiri kengambangan itu. Karena itu jualah Elisa punya banyak teman jalan. Pacarnya cuma satu, tapi ia bisa berkencan dengan beberapa orang lain dalam waktu yang bersamaan tanpa ada kejelasan hubungan. Dan ia sengaja memilih wilayah abu-abu, yang menurutnya paling aman dari segala hukum dan teori karena mengandung praduga tak bersalah. Amanlah pula ia dari tudingan ‘berselingkuh’ atau ‘punya pacar lebih dari satu’, karena kenyataannya ia memang hanya punya satu pacar. Selebihnya hanyalah ‘teman jalan’.

Elisa sangat menikmati hal itu. Ia beruntung dikaruniai wajah yang cantik. Ia juga pintar bergaul dan memiliki inner beauty yang kuat. Nyaris tanpa cacat. Menurut Nadine, Tuhan sedang sangat berbahagia saat menciptakan Elisa. Dengan bakatnya yang besar, Elisa kini menjadi seorang reporter di Space TV, sebuah stasiun televisi swasta. Karirnya sedang bagus-bagusnya.

Sayang, pada akhirnya hubungan Elisa dengan pacarnya harus selesai. Keputusan Johan untuk meninggalkan Elisa merupakan pukulan yang meruntuhkan kesombongan gadis itu. Ia mengira Johan akan tetap mempertahankannya, kendati apa pun yang ia lakukan. Ia tak pernah berpikiran bahwa Johan akan meninggalkannya suatu ketika setelah capai untuk selalu memahami. Tinggallah Elisa berkubang dalam kesedihannya, dan di saat itulah semua ‘teman jalan’ menjadi tidak berarti sama sekali, karena permainan tidak lagi menarik tanpa seorang kekasih di sampingnya.

Setelah ditinggalkan Johan, Elisa tampaknya malas berhubungan lagi dengan pria. Nadine bisa melihat bahwa sesungguhnya Elisa merasa sangat kesepian. Ia berusaha untuk membunuh kesepiannya dengan bekerja. Selain bekerja sebagai reporter, Elisa juga menyanyi di kafe di saat-saat senggangnya. Semua itu dilakukannya demi menghilangkan kesedihan.

Setelah semua yang terjadi, dan setelah sekian lama tidak lagi berkencan, kalau tiba-tiba Elisa berdiam di rumah dan melakukan pekerjaan yang tak pernah ia sukai sebelumnya dan alasannya adalah karena cinta, maka itu berarti benar-benar telah terjadi sesuatu pada dirinya.

Kini sepotong truffle coklat telah terhidang di hadapan Nadine. Nadine mengendus aromanya yang harum. Hidungnya kembang-kempis. Elisa tersenyum puas melihatnya.

“Ayo dicicipi dan kemudian berkomentarlah. Berikan kritik, saran, atau apa saja karena saya membutuhkannya.”

Nadine mengambil sendok kecil di pinggir piring. Ia menyendok lapisan atas truffle yang kenyal dan lembut kemudian disuapkan ke mulutnya. Rasa manis menyentuh lidahnya. Nadine mengunyahnya hingga tandas.

“Enak,” ujarnya sambil menyendok lagi. Kali ini ia benar-benar lahap.

“Ini luar biasa,” pujinya tulus. “Ini karya pertamamu, dan rasanya benar-benar menakjubkan. Bagaimana kalau kau berhenti saja jadi reporter, bukalah sebuah restoran, saya jamin kalau semua hidangannya selezat ini kau bisa menangguk uang lebih banyak dibandingkan dengan penghasilanmu kini setiap bulannya. Kau berbakat.”

Elisa tertawa senang mendengar pujian sahabatnya. Ia menyodorkan segelas air putih dingin kepada Nadine.

“Saya hanya ingin membuktikan dugaan orang bahwa saya hanyalah seorang wanita modern-hedonis yang tak mengenal pekerjaan-pekerjaan rumah tangga adalah salah sama sekali. Saya bisa melakukan pekerjaan ini, dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Setidaknya ada pengakuan dari seseorang yang mencicipi masakanku. Pengakuanmu sebagai seorang yang memiliki selera makan tinggi adalah sebuah indikator bahwa hasil masakanku cukup representatif. Bukankah demikian?”

Nadine terkekeh.

“Mencari pengakuan rupanya, he?”

“Seandainya dia ada di sini dan mendengar komentarmu…,”

“Tunggu tunggu, siapa ‘dia’ itu?” tukas Nadine. Telinganya cukup tajam untuk dapat menangkap setiap kata yang diucapkan Elisa.

Elisa mengibaskan tangannya dengan sikap meremehkan.

“Ah, tidak cukup penting,” ujarnya. “Sebaiknya tidak usah kita bicarakan.”

“Hm…,” Nadine menjilat-jilat bibirnya yang masih meninggalkan sisa manis coklat. “Ah, saya sampai lupa tujuanku kemari,” tiba-tiba ia menepuk jidatnya, “ini gara-gara truffle coklatmu.”

Nadine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop berwarna merah hati.

“Undangan ke pesta Raia, Kamis besok.”

“Ada apa?” Elisa tertegun menatap undangan itu.

“Kau lupa? Raia ulang tahun Kamis besok.”

Ekspresi kaget Elisa mengendur. Ia menghela napas.

“Oh ya, saya hampir lupa,” desahnya.

“Hampir lupa? Kau memang lupa, kan?” sergah Nadine. Ia mengamati perubahan ekspresi di wajah Elisa. Apakah hubungan mereka sudah begitu renggang sehingga Elisa melupakan ulang tahun Raia, atau Elisa yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri? Mungkin bahkan Elisa lupa punya teman bernama Raia.

Tatapan tajam Nadine membuat Elisa merasa bersalah.

“Maafkan saya, saya benar-benar lupa,” ucap Elisa lirih.

“Kau mau datang, kan?” Nadine berusaha membuatnya tidak merasa bersalah lebih lama.

“Kau datang?”

“Ya, tentu saja. Kau juga datang, kan?”

Elisa membaca undangan itu sekilas, kemudian meletakkannya di atas meja. Wajah cantiknya terlihat resah. Nadine menangkap perubahan itu.

“Mungkin saya tidak bisa datang.”

“Kenapa?”

“Saya ada tugas meliput ke luar kota.”

Kening Nadine berkerut. Dicarinya kejujuran di mata Elisa tapi wanita sahabatnya itu menghindar.

“Kau tidak sedang berbohong kepadaku?”

Elisa menggeleng.

“Saya harus pergi ke Merican, meliput Human Care, perusahaan bioteknologi yang terbakar beberapa hari yang lalu. Kau ingat kan perusahaan itu, yang pernah menggemparkan karena berhasil melakukan rekayasa genetika terhadap seekor kucing? Ingat the laughing cat?”

Nadine mengangguk.

“Ya, the laughing cat. Tentu saja saya ingat. Kita pernah mendiskusikannya. Dokter Karel pun pernah menceritakannya kepadaku.”

“Dosen pujaanmu itu?” goda Elisa.

Nadine memerah mukanya.

“Ya, dosen pujaanku,” akunya malu-malu. “Ngomong-ngomong, apa penyebab kebakaran perusahaan itu?”

“Belum ditemukan penyebabnya. Saya menduga ini sabotase. Banyak pihak yang tidak menyukai perusahaan ini karena dianggap melanggar hukum agama dan sangat tidak manusiawi. Mereka melakukan pekerjaan sebagai Tuhan dengan bermain-main dengan kehidupan makhluk-Nya.

Bukan main ya, teknologi zaman ini? Sulit membayangkan gen manusia bisa dipindahkan pada seekor kucing sehingga membuatnya memiliki sebagian sifat manusia. Saya tak pernah belajar ilmu biologi atau kedokteran sehingga bagiku sangat muskil untuk dilakukan. Nyatanya memang itu yang terjadi. Lagi pula, proyek itu sangat merendahkan martabat manusia. Untuk apa mereka melakukan eksperimen-eksperimen gila seperti itu?”

“Itulah teknologi. Teknologilah yang sekarang telah menguasai manusia, bukan lagi manusia yang menguasai teknologi. Manusia menjadi rakus mencoba-coba segala hal, apa pun bentuk dan dampaknya bagi kehidupan manusia, bagi rasa kemanusiaan. Yang terpenting adalah bagaimana mereka mendapatkan pengakuan bahwa merekalah yang terhebat di antara semuanya.”

“Mengerikan.”

“Kapan kau berangkat?” Nadine bertanya.

“Besok.”

“Hati-hatilah, banyak orang jahat di sana.”

Elisa tertawa mendengarnya.

“Jangan khawatir. Saya tidak pergi sendirian. Liputan ini sangat penting buat karirku. Ini berita besar.”

“Saya tahu, tapi saya ingin kau baik-baik saja. Kau tidak tahu seperti apa situasi di sana. Bukan tidak mungkin keadaannya cukup berbahaya. Bukankah perusahaan itu seharusnya sudah ditutup? Banyak kasus kegagalan kloning yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.”

“Pimpinan perusahaan itu sedang dalam proses pemeriksaan. Beberapa anak buahnya dimintai keterangan. Tapi anehnya, satu persatu mereka meninggal. Yang lucu, kabarnya keracunan makanan, tapi aneh sekali kalau hanya orang-orang yang diperiksa itu yang keracunan, sementara karyawan yang lain tidak. Padahal mereka makan makanan yang sama. Ada isu mengatakan orang-orang itu telah menelan semacam pil yang meyebabkan kematian mereka, tapi sejauh ini para dokter belum bisa membuktikannya.”

 

Posted in Uncategorized

Enigma, Simpul Tak Bernama (a novel/part 1)

a novel, a second winner of FEMINA’s Female Writing Contest 2003

(no first winner)

Pasti ada yang sangat istimewa, hingga Elisa, si wanita tidak biasa itu, tiba- tiba menjadi sangat membumi. 

Malam beringsut perlahan. Bunyi binatang malam bersahut-sahutan di kejauhan. Penjaga portal di pintu gerbang terkantuk-kantuk dengan televisi masih menyala di sudut ruang. Wajahnya menengadah dan mulutnya yang ternganga mengeluarkan bebunyian yang mengusik kesunyian malam. Gelap menyembunyikan tiga bayang-bayang hitam yang bergerak tanpa suara menuju pusat kompleks gedung yang megah berkubah itu. Kegesitan tampak dari gerak-gerik menonaktifkan sistem keamanan dengan portable computer yang didudukkan di rerumputan kering, yang malam itu digayuti embun. Isyarat mata bersahut-sahutan dari wajah-wajah yang bertopeng hitam dan jari-jemari yang dibalut kaus tangan warna hitam pula. Dalam hitungan ketiga, bayangan-bayangan itu berbagi tugas. Lasak di malam yang tidur.

 

Tiba-tiba dingin mulai terasa hangat. Gelap tiba-tiba disibakkan cahaya benderang. Penjaga portal terbangun karena merasa pipinya menghangat. Ia risau dalam dengkurnya, kemudian akhirnya terjaga. Dari kaca-kaca jendela ia melihat nyala yang terang. Ia terperanjat melihat sinar kemerah-merahan menjulang dari dinding-dinding gedung berkubah. Kantuknya terenggut tiba-tiba oleh dentuman mahadahsyat dari jantungnya. Kebakaran!

Ia memeriksa sistem keamanan. Mati. Alarm tak berfungsi. Ia meraih gagang telepon di meja. Tak ada nada sambung. Ia kian panik. Napasnya mendengus-dengus. Layar monitor pemantau seluruh sistem gedung mati. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya ke arah gedung yang terbakar. Berteriak-teriak memanggil nama teman-temannya dengan lolong yang lebih buruk dari suara serigala yang terluka.

Sementara itu, tiga bayang-bayang hitam telah bergerak mundur dengan senyum kemenangan di sudut bibir mereka masing-masing. Ketiganya saling mengacungkan ibu jari. Misi telah selesai dijalankan. Kemudian bayang-bayang itu bersicepat dengan waktu, mengendap-endap di pekat malam yang telah diracuni panas dan terang cahaya api. Menghilang seperti partikel debu di udara. Dan di suasana seperti itu, derum kendaraan sekeras apa pun tenggelam dalam kegaduhan yang lebih mencemaskan yang datang dari gedung yang terbakar.

Stepa kembali datang ke perpustakaan tua sore itu. Entah dorongan dari mana yang membuat ia merasa tertarik dengan bangunan usang yang telah dimakan usia itu. Dinding perpustakaan mulai berlumut dan retak-retak sehingga membentuk liang-liang. Liang-liang kecil itu dihuni semut-semut yang kerap kali muncul ke permukaan beriring-iringan. Lantainya yang lembap dan terasa dingin di kaki membuat Stepa merasa senang menyentuhkan telapak kakinya di sana saat asyik membaca. Ada sensasi tersendiri dengan senyap itu.

Penjaga perpustakaan yang juga telah dimakan usia, Pak Raste namanya (untunglah namanya bukan Rasta), berambut keriting kecil-kecil dan berkacamata setebal kaca nako jendela. Ia tampaknya baik, hanya sedikit tegang pembawaannya. Barangkali ia termasuk orang yang sangat takut berbuat kesalahan. Ia berhati-hati sekali dalam bekerja, mencatat, dan memasukkan data ke komputer. Sambil melakukan pekerjaannya, ia juga tetap mengawasi gerak-gerik orang dari balik kacamatanya yang tebal. Ia mencurigai orang-orang yang masuk ke perpustakaan dengan baju tebal. Ia pikir mereka berniat mencuri buku dari perpustakaan dengan cara menyembunyikannya di balik baju. Hal itu pernah terjadi sebelumnya berulang kali, sehingga membuat Pak Raste jadi trauma. Rasa cemas membuat ia selalu memelototi setiap orang yang keluar masuk perpustakaan, kendati sebenarnya perpustakaan telah dipasangi detektor untuk mencegah pencurian. Jadi, siapa pun yang melakukan kecurangan tak akan bisa lolos dari pengawasan. Namun, meskipun ia bukan termasuk jenis orang yang ramah dan mau berkompromi, Stepa menyukai orang tua itu karena mengingatkan ia pada pria yang ia sebut Ayah, yang telah meninggal sekian tahun silam.

Mengherankan sebetulnya, bila Pak Raste begitu paranoid dengan isi perpustakaannya, mengingat nyaris tak ada buku baru di sana. Pengunjungnya pun tak terlalu banyak, kecuali orang-orang yang memang melakukan riset dan mahasiswa yang mencari data untuk tugas akhir mereka.

Isi perpustakaan itu sama tuanya dengan gedung dan penjaganya. Ia seperti berhenti sejak sekitar sepuluh tahun yang silam. Tahun terbitan terakhir yang bisa ia temukan telah melampaui waktu itu. Buku-buku di perpustakaan Pak Raste seperti simpanan arsip yang telah kedaluwarsa dan hanya ditumpuk begitu saja, kemudian tak ada arsip baru. Berhenti begitu saja di tahun itu.

Suatu kali Stepa merasa tertarik dengan buku-buku yang diletakkan di rak paling atas. Ia bersusah-payah menarik tangga dan mencoba menjangkau buku-buku, di rak paling atas. Debu meliputi tepi-tepi buku membuat ia beberapa kali bersin. Kebanyakan buku-buku yang diletakkan di sana adalah buku-buku sejarah, antropologi, dan kedokteran yang usianya sudah sangat tua. Kertasnya telah menguning dimakan waktu. Mungkin karena sudah terlalu tua dan diperkirakan tidak lagi dicari banyak orang sehingga diletakkan di tempat yang sulit dijangkau. Stepa hanya memuaskan rasa ingin tahunya dengan melihat judul-judul buku dan sekilas isinya. Ia harus beberapa kali bersin karena debu dan bau apak yang menggelitik hidungnya. Ia kurang tertarik dengan bidang-bidang itu, sehingga kemudian kembali meletakkan buku-buku yang ditengoknya ke tempat semula. Tiba-tiba, setelah membolak-balik buku, ia didatangi oleh Pak Raste dan mendapatkan teguran darinya.

“Hei, Anak muda. Buku apa sebenarnya yang kau cari?” ujarnya gusar. Rupanya bunyi berkeriut tangga besi yang sudah mulai karatan dan suara debum buku yang dibolak-balik dengan tergesa oleh Stepa telah mengusik telinga tuanya. Stepa nyengir mendengar teguran itu. Ia kemudian turun dari tangga.

“Hanya melihat-lihat,” sahutnya kalem, “siapa tahu ada buku yang saya butuhkan di atas sana.”

“Dan sudah kau temukan buku itu?”

“Ehm…,” Stepa berpikir sejenak. “Tidak. Tidak ada buku yang saya perlukan. Tidak ada yang cukup menarik juga. Hanya arsip-arsip kuno yang tampaknya sudah sangat ketinggalan zaman.”

“Kalau begitu segera saja cari buku di tempat lain, yang mudah terjangkau, yang menarik dan yang kau butuhkan. Dan jangan bikin gaduh perpustakaan.”

Ups. Stepa menutup mulutnya dengan tangannya. Galak benar orang tua ini, gerutunya dalam hati. Ia segera turun dari tangga. Pak Raste mengawasi dari balik kacamatanya yang tebal. Bola mata tua yang abu-abu itu seperti hendak menembus keluar lewat kacamatanya. Stepa mengangguk sambil tersenyum-senyum tatkala melewati orang itu.

“Maaf, Pak Raste….”

Ia kemudian berada di sudut lain, di bagian buku-buku sastra, favoritnya. Ia mengambil salah satu buku dari rak itu. Hmm…, sebuah novel kuno. Salah satu koleksi kesayangan Nenek. Stepa meraih buku yang lain. Sebuah novel juga. Kemudian ia mencari tempat di meja kosong dekat jendela.

Ditelusurinya huruf demi huruf di hadapannya. Sesekali keningnya berkerut. Kesungguhan terpancar di wajahnya. Tarikan garis-garis wajahnya yang mengendur dan mengencang adalah cerminan gejolak batinnya. Kalau sudah begitu ia biasanya lupa waktu. Tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Ia segera tersadar ketika tahu-tahu Pak Raste sudah mulai merapikan buku-buku yang bergeletakan di atas meja dengan rak kereta dorongnya.

“Sudah hampir malam, Anak muda,” ujarnya dengan suara rendah. Ia sudah tidak segalak sebelumnya.

“Ya, Pak,” Stepa mengangguk sembari menutup buku di hadapannya. Ia memandang berkeliling. Hanya tinggal ia dan Pak Raste. Stepa melirik arloji yang melilit pergelangan tangannya. Pukul tujuh malam kurang enam menit. Ia terkaget-kaget. Tidak menyangka bisa setahan itu membaca novel ratusan halaman itu. Ia menandai halaman dengan pembatas buku.

“Mau kau pinjam novel itu?” tanya Pak Raste. “Jam pinjam sebenarnya sudah habis, dan komputernya sudah saya matikan. Tapi, kalau kau ingin meminjamnya… baiklah saya catat dulu di buku, besok baru saya masukkan datamu ke komputer.”

“Kalai begitu terima kasih sekali, Pak. Novel ini bagus sekali. Saya sangat menyukainya.”

“Tentu saja. Novel itu mendapatkan penghargaan tinggi di zamannya. Penulisnya memang luar biasa. Ia bertangan dingin. Hampir semua karyanya meledak di pasaran dan menjadi buku yang paling dicari orang. Terutama yang satu ini. Saya juga sangat menggemari karya-karya penulis novel ini.”

Stepa mengangguk-angguk. Ia diam-diam keheranan mendengar penuturan Pak Raste. Orang tua galak itu ternyata juga memiliki selera sastra yang bagus. Ya, ia sudah sering mendengar nama penulis itu dalam pelajaran tentang sejarah sastra. Penulis itu berada pada jajaran atas penulis di zamannya. Karya-karyanya selalu menjadi masterpiece. Ia menatap kulit sampulnya yang berwarna merah darah. Stepa kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Tolong catatkan ini dulu, Pak Raste,” katanya. “Saya pinjam dulu.”

Pak Raste mengangguk sambil tetap meneruskan pekerjaannya.

“Sudahlah kau pergi saja. Saya sudah hapal judul novel dan penulisnya. Lagi pula, saya sudah bosan melihatmu di sini.”

Stepa mengangkat bahunya tinggi-tinggi.

Okey, thanks.”

Sebelum pergi ia menyempatkan menepuk bahu Pak Raste dengan akrab sehingga orang tua itu menjadi kaget. Stepa segera melesat keluar sambil bersiul-siul. Di pintu keluar alarm berbunyi. Stepa berbalik dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Pak Raste telah memberikan rekomendasi!” teriaknya.

Pak Raste tampak kesal karena ia sendiri lupa bahwa alarm itu akan berbunyi bila Stepa melangkah keluar. Sambil mengomel-ngomel ia melangkah hendak mematikan alarm. Sementara itu Stepa sudah lari tunggang-langgang.

Saking tergesa-gesanya, Stepa menabrak seseorang di dekat pintu keluar. Sepatu ketsanya berdecit-decit di lantai saat ia mengerem larinya. Tetapi sudah terlambat. Tak ayal bahunya menerjang sesosok tubuh di depan pintu itu. Terdengar suara teriakan tertahan seorang wanita dan buku-buku yang berjatuhan.

Dan itulah dia. Seorang wanita yang pucat pasi berdiri di hadapannya dengan mulut ternganga saking kagetnya. Wajah tirus dan tubuh kurusnya tersembunyi tidak terlalu baik di balik jaketnya yang tebal. Penampilannya tidak terlalu menarik. Hanya saja, matanya yang lebar sungguh terlihat sangat cerdas. Kekagetan luar biasa di wajah si gadis tak urung membuat Stepa menyesal bercampur geli.

“Maaf,” ujar Stepa. Ia berjongkok memunguti buku-buku si gadis yang berjatuhan. Sekilas matanya melirik judul-judul di kulit buku. Ia menangkap judul besarnya: Anatomy, Surgery, Double Helix…, si gadis buru-buru merebut buku-bukunya dari tangan Stepa. Ia merasa tidak senang.

Stepa mengamati wajah si gadis. Ia kemudian teringat bahwa ia pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Ia memegang jidatnya. Di mana ya? Tolol, gadis itu memang selalu kemari di saat perpustakaan sudah hampir tutup. Stepa menepuk jidadnya. Barangkali pacar Pak Raste. Ia tersenyum sendiri.

Tahu-tahu gadis itu melesat meninggalkannya. Ia melangkah masuk ke perpustakaan dengan langkah-langkah yang panjang.

“Hei…, perpustakaan sudah tutup!” seru Stepa. “Si tua Raste tidak akan mau melayanimu. Besok saja kembali.”

Si gadis tak memberikan perhatian sedikit pun. Ia terus saja melangkah masuk. Stepa menggerutu.

“Ya, terserah kaulah…”

Nadine mengetuk-ngetuk kaca pintu dapur dengan keras.
Hello…, anybody home?”

Elisa yang sedang berdiri memunggunginya, di antara bising suara mixer, menoleh. Celemek di tubuhnya penuh bercak adonan kue. Ada tepung lekat di pipi kanannya. Nadine tersenyum geli melihatnya.

“Hai…,” Lisa menyambutnya senang. “Sorry, saya sedang sibuk bikin kue.”

Nadine mengelap tepung di pipi sahabatnya dengan tisu.

“Ada apa, nih? Kok pakai acara bikin kue segala? Seperti bukan Lisa saja. Bik Inah ke mana?”

“Belanja bahan-bahan yang saya butuhkan untuk membuat kue.”

Lisa segera menyorongkan kursi.

“Duduklah,” ujarnya riang. Nadine tak menghiraukannya. Ia mengamati adonan kue di atas meja. Mencolek sedikit dengan telunjuk dan mencicipinya.

Nyam, nyam…, enak. Kue apa, nih?”

“Itu kue truffle coklat. Kalau kau cukup bersabar menunggu matang, kau akan bisa merasakan kue buatanku yang lezat.”

Truffle? Hmm…, belum matang saja sudah enak begini.”

Nadine hendak mencolek lagi tapi Elisa dengan sigap menjauhkan tangannya.

“Eit, jangan. Nanti cita rasanya jadi buruk karena kotoran di jarimu. Kau makan yang lain saja yang sudah matang. Oke?”

“Apa itu yang sudah matang? Mana itu yang sudah matang?”

“Kerupuk di toples itu.”

“Huh!”

“Tunggu, ya?”

Elisa mematikan mixer. Ia kemudian menuangkan adonan ke dalam loyang yang telah dialasi kertas roti yang diolesi mentega. Dengan gerakan pelan ia meratakan adonan itu ke dalam loyang. Adonan kue di dalam loyang itu dimasukkannya ke dalam oven. Nadine terus memperhatikan gerak-gerik Elisa yang cekatan.

Setelah itu Elisa duduk di dekat Nadine.

“Ada apa? Baru dari mana?” tanya Elisa.

 

Posted in Uncategorized