Bagaimana Menjadi Penulis Produktif?
“Rajin-rajinlah menulis. Lama-kelamaan di otak kamu akan terbentuk sebuah ’sistem menulis’.”
(Maman S. Mahayana)
Ketika Menulis Menjadi Pilihan
Beruntunglah mereka yang suka menulis. Orang yang memiliki kebiasaan menulis memiliki kondisi mental yang lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukannya. Ini adalah hasil penelitian yang diungkapkan oleh James Pennebaker, Ph.D dan Janet Seagal, Ph.D dalam Journal of Clinical Psychology. Jadi,ketika Anda menyukai menulis, apalagi menjadikan kepenulisan sebagai pilihan hidup (profesi), berbahagialah Anda. Setidaknya, kondisi mental Anda lebih sehat ketimbang mereka yang tidak suka Jmenulis, meskipun mereka pejabat atau politisi, misalnya
Anda pasti mengenal Hernowo. Penulis yang juga orang penting di Mizan Learning Centre ini pernah mengadakan penelitian kecil-kecilan tentang menulis. Selama melakukan penelitian itu ia bertemu dengan Pennebeker yang mengatakan bahwa menulis dapat mengatasi depresi. Menulis itu menyehatkan tubuh dan jiwa. Bahkan, seorang Fatima Mernissi pun mengatakan bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah. Seorang ahli linguistik bernama Dr. Stephen D. Krashen juga mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa menulis dapat memecahkan problem-problem diri. Katanya, menulis itu menata pikiran. Jadi, kalau kita dapat menata pikiran kita, problem kita akan lebih mudah diatasi. Dia juga membuktikan bahwa menulis dan membaca itu tidak dapat dipisahkan. Kekayaan tulisan Anda adalah hasil Anda menyerap bacaan. Jadi, bagi mereka yang berkeinginan menjadi penulis, jangan pelit-pelit beli buku. Hmmm, mungkin lebih tepatnya lagi, jangan malas membaca. Membaca bukan berarti harus membeli, kan? Anda bisa pergi ke perpustakaan, Anda bisa membaca melalui internet, Apa sajalah. Anda pastiJAnda bisa membaca koran bekas bungkus nasi lebih tahu dengan cara apa Anda bisa membaca dan mendapatkan ilmu. Makin banyak Anda menampung, makin banyak Anda bisa mengeluarkan. Nah, kembali pada manfaat menulis tadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada Anda yang memutuskan untuk menjadi penulis karena berarti Anda lebih ”sehat” ketimbang orang lain. Lalu, jika memang Anda memutuskan untuk mejadi penulis,mengapa tidak sekalian saja menjadi penulis yang berdedikasi pada profesi?
Bagaimana Menjadi Penulis yang Produktif?
Orang memiliki alasan masing-masing ketika memilih menjadi penulis. Ada yang menulis sebagai karena ia menyadari betul bahwa ia memiliki kemampuan (bakat) menulis dan berusaha mengaktualisasikan dirinya dengan bakat tersebut. Ada yang melakukannya sebagai selingan dalam hidup, hanya untuk menyalurkan hobi. Ada pula yang melakukannya karena alasan ekonomi, ia menulis untuk mendapatkan uang. Apa pun alasannya, pasti semua penulis ingin agar namanya dikenal oleh banyak orang. Oleh karena itu, seorang penulis kudu produktif melahirkan karya.
Produktif, menurut KBBI, berarti memiliki sifat atau kemampuan menghasilkan sesuatu (dalam jumlah besar). Produktivitas artinya adalah melakukan hal yang produktif secara kontinyu. Bagaimana bisa menjadi produktif dalam berkarya? Hal-hal berikut ini bisa menjadi pemicu Anda untuk produktif dalam berkarya. Produktif bukan hanya karena Anda punya waktu banyak, tetapi sekaligus juga tidak kehabisan ide untuk menulis.
Pertama, tetapkan tujuan Anda menulis. Jadikan menulis bukan sekadar sebagai hobi, melainkan pilihan hidup. Jika sudah demikian, Anda memberi sugesti kepada diri Anda untuk terus menulis. Jika Anda tidak menulis maka Anda tidak akan dapat hidup. Anda bukan apa-apa tanpa karya Anda. Dengan kata lain, jika Anda tidak banyak menelurkan karya maka Anda belum dapat dikatakan sebagai seorang penulis.
Kedua, disiplin diri. Jangan menunggu mood. Anda harus menetapkan target. Anda sendirilah yang paham bagaimana penetapan target yang paling tepat pada diri Anda. Aktivitas keseharian masing-masing orang tidaklah sama sehingga mereka tingkat produktivitasnya tidak sama antara satu dengan lainnya. Mereka yang memang memilih menulis sebagai profesi utama (baca:satu-satunya) maka ia akan dapat menetapkan target lebih tinggi ketimbang mereka yang bekerja, misalnya. Ia mampu menghasilkan lebih banyak ketimbang mereka yang memiliki profesi lain. Katakanlah, sehari lima belas halaman. Jika Anda memiliki waktu yang sangat longgar, Anda dapat melakukannya. Makin banyak yang Anda hasilkan setiap harinya, makin baik, tentunya. Akan tetapi, bagi mereka yang bekerja, dan hanya dapat menulis sepulang dari bekerja, Anda juga mesti menetapkan target yang disesuaikan dengan waktu produktif Anda di luar jam kerja. Mungkin Anda akan memiliki waktu tidur yang lebih sedikit ketimbang orang lain. Tapi, tidak mengapa. Itu risiko. Lagi pula, siapa bilang tidur empat jam sehari tidak sehat? Anand Khrsina melakukannya. Asalkan Anda mengimbanginya dengan asupan makanan yang seimbang dengan energi yang Anda keluarkan, rajin minum vitamin, serta meluangkan sedikit waktu untuk berolahraga, Anda tidak akan tidak lebih fit ketimbang mereka yang tidur delapan jam sehari. Untuk menjadi disiplin, Anda perlu membuat jadwal. Apa target jangka pendek yang harus Anda hasilkan dan apa jangka panjangnya. Misalnya, Anda menetapkan target satu minggu Anda menghasilkan satu cerpen, tepatilah target tersebut. Mungkin akan ada kendala dalam pelaksanannya, tetapi jangan berkecil hati. There is always room for improvement. Di hari berikutnya Anda harus lebih baik lagi dari kemarin dan hari ini. Demikian pula jika Anda punya target jangka panjang,misalnya dalam setahun harus melahirkan satu buah novel. Anda juga harus cermat dalam mengatur waktu agar Anda dapat mewujudkannya.Karena, sehari saja Anda menunda pekerjaan,makin beratlah beban Anda untukmewujudkan target tersebut.
Ketiga, rajin-rajinlah membaca. Seperti yang telah disinggung di atas, banyak membaca berarti banyak menyimpan. Banyak menyimpan pasti akan banyak mengeluarkan. Inspirasi kerap datang dari hasilmembaca. Bagaimana Anand Khrisna bisa menghasilkan banyak karya? Lelaki pengagum Soekarno itu menyebutkan bahwa hal terjadi lebih karena yang akan ditulisnya itu memang sudah lama menempel di kepalanya. Seluruh isi kepala yang menumpuk itu adalah buah dari ratusan buku yang telah dibaca sebelumnya dan tinggal dikeluarkan saja. “Kalau sedang menulis, rasa-rasanya seperti perempuan hendak melahirkan, tidak bisa ditahan-tahan lagi. Semuanya harus dikeluarkan segera,” katanya.
Keempat, rajin-rajinlah membuat dokumentasi. Catat apa pun yang singgah dalam keseharian Anda yang sekiranya penting sebagai bahan referensi tulisan Anda kelak. Jika perlu, dokumentasikan hal-hal yang Anda baca melalui media apa pun yang dapat mendukung kegiatan menulis Anda. Kalau tidak sekarang, nanti ia akan Anda butuhkan. Lagi pula, seperti kata sastrawan Maman S. Mahayana, ”Rajin-rajinlah menulis. Lama-kelamaan di otak kamu akan terbentuk sebuah ’sistem menulis’”.Menulis apa pun, mencatat sekecil apa pun, punya kontribusi besar dalam melatih sistem menulis Anda. Ketika Anda mulai menulis, sistem itu akan memandu Anda,membuka kran-kran pikiran Anda hingga meluncurkan ide-ide yang tersimpan di benak Anda. Kadang, Anda takjub dengan hasil tulisan Anda sendiri.
Kelima, buatlah daftar prestasi menulis Anda. Catatlah di media mana tulisan Anda dimuat dan kapan, di mana memenangkan sayembara dan kapan, berapa pula yang Anda dapatkan dari kerja keras Anda. Ini akan memacu gairah Anda unuk terus berkarya. Hargailah karya Anda dan selalu evaluasilah. Tanyakan pendapat beberapa orang. Jika mereka memuji, catatlah. Jika ada yang mengejek pun, simpanlah, tapi, jangan dibikin pusing. Apa pun pendapat mereka tak perlu Anda menganggapnya sebagai jugdement. Anda juga berhak menilai karya Anda sendiri. Jika Anda rasa bagus, anggap saja mereka yang mengejek itu sirik kepada Anda.
Keenam. Menulis dan teruslah menulis. Jangan menunda atau berhenti lama. Itu akan mengurangi sense menulis Anda, bahkan dapat mengikisnya hingga Anda mesti mulai dari nol lagi. Stephen King pernah mengalaminya ketika sebuah kecelakaan membuatnya harus beristirahat total dari aktivitasnya selama tiga bulan, termasuk aktivitas menulis.Ketika ia pulih dan kembali menulis, ia merasa sangat sulit melakukannya. Ia merasa seperti seorang penulis pemula yang belum tahu bagaimana cara penulis. Baru ketika ia memaksakan diri untuk berlatih dan terus berusaha menulis, kemampuannya berangsur kembali.
Produktivitas vs Kualitas
Makin banyak menulis logikanya kemampuan menulis akan kian terasah. Tulisan akan makin baik. Sistem menulis dalam diri kita akan makin canggih. Anda akan lebih mudah menangkap ide dan mengeluarkannya melalui tulisan Anda. Namun, juga ada kemungkinan lain, makin produktif seorang maka mutu tulisan akan menurun. Ini bisa terjadi jika Anda terlalu banyak memasang target. Barangkali terjadi pengulangan dalam karya Anda. Orang akan jadi bosan membaca karya Anda. Mereka akan hapal cara berpikir Anda. Yang lebih buruk, mereka akan menganggap tulisan Anda tidak terlalu istimewa atau bahkan stereotip dan membosankan. Biasanya ini terjadi pada mereka yang menulis karena faktor ekonomi atau memiliki kesepakatan dengan beberapa penerbit untuk menyelesaikan tulisan dengan deadline yang ditentukan. Penulis yang menulis karena deadline yang dipaksakan biasanya tidak akan lebih bisa berkembang ketimbang mereka yang menulis dengan deadline yang tak terlalu ketat. Jika Anda merasa bahwa deadline Anda terlalu ketat sehingga tulisan Anda dipaksakan harus memenuhi target waktu, yang pertama kali Anda lakukan pertama kali adalah me-review ulang. Evaluasilah hasil tulisan Anda dulu dan sekarang. Anda pasti dapat merasakan perbedaannya. Jika benar tulisan Anda mengalami penurunan dalam hal kualitas, berarti Anda perlu melakukan sesuatu.
Mungkin Anda perlu menjadwal ulang. Bagi mereka yang tidak terikat kontrak apa pun, target hanya berasal dari diri sendiri, hal ini mudah untuk dilakukan. Namun, jika Anda sudah terikat kontrak, hal ini sulit dilakukan karena mengandung konsekuensi tinggi. Anda bisa dianggap melanggar kontrak. Honor Anda bisa dipotong atau lebih buruknya Anda bisa kehilangan kepercayaan dari s pemesan, atau bahkan diperkarakan ke pengadilan. Untuk kondisi ini, yang Anda dapat lakukan adalah berhenti sejenak untuk refreshing pikiran Anda.Ketika Anda sudah merasa segar kembali, kembalilah menulis denan energi dn semangat yang baru. Fokuskan pada pekerjaan Anda dan kurangi kegiatan lain yang tidak ada kaitannya dengan itu.
Pendek kata, jangan sampai produktivitas membuat kualitas karya kita menjadi turun. Sebaliknya, kita harus dapat membuat produktivitas tersebut menjadi hal yang dapat memperbaiki karya kita secara terus-menerus.
****
Sebuah makalah yang disajikan dalam Kemah Sastra,by Ambhita Dhyaningrum
Padepokan Lemah Putih, 2008





addooh..sama..pengen juga nulis..tapi mandek mulu..bisanya cuman nulis sms, kikikikik…
ketemu maning…aku bisane nulis hasil pemikiran orang lain. maksude copy paste sekang ngendi bae… bar di waca sip banget… ora nyambung babar blazzzz….
Salam Lestari
hai mba dhe..dhe..
pakabar? keluarga sehat tho?mungkin mba blm kenal kale ma aq he..he..aq diksar 13 nama kerenqu ceille..boelet nama asli sri lestari andyanthi, biasa dipanggil tari.cuman cah2 garba biasa panggil aq boelet.
Pengen sih mba belajar jd penulis tapi…aq blm pede je..yah paling banter nulis di diary.dan dibaca2 sendiri he..he..
masukin lagi dunks mba cerita2 yg seru, pengalaman pribadi kek,tips etc.
regards
Rie’
Bulet,kita kan udah pernah ketemu…pas sarasehan garba tahun 2007 (kalo nggak salah,atau 2006?). Masih tersimpan di memoriku,kok.