Feeds:
Posts
Comments

Hari ini, tanggal 27 November 2008

aktifMatahari mengintip dari balik selimutnya. Kantuk masih menggayut di kelopak matanya yang terlihat berat. Berkilauan ia di pagi yang masih malas beranjak. Gumam kecil menyentuh telinga. Aku menatapnya tanpa kedip. Menikmati keindahan raut mungilnya. Anak rambutnya yang menyentuh mata. Sepasang mata kenarinya membulat. Ia mengerjap dan tersenyum.

Genap empat tahun lalu, makhluk mungil itu hadir di dunia. Menghiasi hidupku dengan tangis dan tawa manjanya. Putri kecilku yang cantik dan lembut. Ia terus tumbuh. Kian banyak belajar tentang dunia. Makin pintar mengungkapkan pikiran dan perasaannya.

Betapa tidak. Acap kali ketika ia melihat jiwaku tampak tak tenang ia akan memelukku hangat dan menciumku dan mengatakan bahwa ia sayang kepadaku. Perlakuan itu adalah obat yang luar biasa mujarab buatku. Hilang sudah letih dan sedih manakala tubuh kami berdekatan dan saling mendekap, seolah ingin saling menyalurkan kekuatan. Ia sangat peduli dengan perasaanku. Ia akan buru-buru mengambilkan minum sepulang aku dari kantor, untuk menghilangkan rasa capekku. Ia akan menawarkan meminyaki perut atau keningku jika aku mengeluh sakit perut atau pusing. Bahkan ia yang menghapus air mataku ketika aku menangis. Terkadang di sisi bocahnya, kutemukan kedewasaan. Dan aku tersadar bahwa dia bukan lagi bayi. Ia terus tumbuh dan tumbuh, dan kami akan menjadi sahabat dalam hidup ini. Dan tak ada lagi yang kutakutkan jika ia ada di sisiku. Ia telah menghilangkan gamangku.

Raia. Matahari.

Nak, hari ini kau genap empat tahun. Dan Ibu memohon kepada Tuhan agar Ibu dapat memanjatkan lebih banyak doa untukmu hari ini. Di hari ulang tahunmu.

Tersenyumlah, Nak, dan teruslah bersinar. Cantik dan bergunalah bagi semua. Seperti kami ukirkan makna di dalam namamu.

Selamat ulang tahun keempat, Raia Digna Amanda.

my-family

The waking sunshine
The sleepy sunset
The bright faces
That is family

The amazing voices
The wrong choices
Directed to the right direction
That is family ….

(H.T.P T.P)

Adia … my nickname…

Mendengar lagu ini … reminds me of something …. Adia, myself. Hehehe ….

Lagunya, syairnya, penyanyinya semua keren …. Dulu dinyanyikan Sarah McLahlan, lalu dinyanyikan kembali oleh Avril Lavigne. Tapi, aku lebih suka versi yang lama.

ADIA

By Sarah McLahlan

Adia I do believe I failed you
Adia I know I let you down
Don’t you know I tried so hard
To love you in my way
It’s easy let it go…

Adia I’m empty since you left me
Trying to find a way to carry on
I search myself and everyone
To see where we went wrong
’cause there’s no one left to finger
There’s no one here to blame
There’s no one left to talk to, honey
And there ain’t no one to buy our innocence

’cause we are born innocent
Believe me adia, we are still innocent
It’s easy, we all falter
Does it matter?

Adia I thought that we could make it
But I know I can’t change the way you feel
I leave you with your misery
A friend who won’t betray
I pull you from your tower
I take away your pain
And show you all the beauty you possess
If you’d only let yourself believe that

We are born innocent
Believe me adia, we are still innocent
It’s easy, we all falter, does it matter?
Believe me adia, we are still innocent
’cause we are born innocent
Adia we are still innocent
It’s easy, we all falter … but does it matter?

Kami bertiga, jalan-jalan di Bandung

Kami bertiga, jalan-jalan di Bandung

Rasanya udah lama … banget nggak update blog.

Ternyata, menumpuk pekerjaan bisa jadi begitu buruk dampaknya. Ada suatu kerjaan yang keteteran gara-gara banyak hal. Ramadan yang bikin waktu kerja berkurang karena tenaga juga berkurang, kerjaan kantor, kemalasan karena menunggu kabar yang kita rindukan … yang membuat urat-urat kerja menjadi kendur, anjlok, terempas, lepas, dan laen-laen … (ih, apa sih?)

Ternyata, tapi Tuhan memang Mahamurah banget, ya? Doa-doa yang dikabulkan itu … benar-benar menakjubkan.

Aku menjadi juara II lomba penulisan naskah bacaan sekolah rendah, kategori puisi, yang diselenggarakan oleh Diknas.

Tanggal 21 lalu aku ke Bandung, lima hari, untuk menjalani seleksi akhir. Berangkat dalam kondisi tidak fit–karena masih menanggung pekerjaan (terjemahan novel), dan karena belum gajian. Hehehe ….

Berangkat bersama dua teman dari Solo, Lely dan Dian (ih, namanya kok sama), kami untungnya sama-sama saling paham keadaan. Padahal sebenarnya ada kesempatan jalan-jalan. Tapi ternyata kami di sana belum bisa bersenang-senang, sampai di hari terakhir. Baru bisa jalan-jalan.

Seru juga, sih, aku anggap itu sebagai refreshing, jauh dari kantor dan merasakan menjadi orang bebas dalam satu mingguan. Mana bisa hotspot-an tiap hari di kamar hotel. Hehe … tapi buat kerja… kerja … dan kerja ….

Kemarin, alhamdulillah, satu pekerjaan sudah selesai … rasanya legaaaaa…. seperti beban yang mengimpit berton-ton itu sudah lepas dari pundakku.

Well, now, life is normal again ….

Aku mau menyempatkan diri bersantai, jalan-jalan, ngurusin anak, masak, bla bla bla….

Kata ibuku, “Kenapa kau tidak bisa santai sedikit? Hidup ini tidak perlu ngoyo. Sayangi badan, nikmati hidup …” Dia tahu aku kalo sudah kerja bisa lupa tidur dan makan, apalagi kalo lagi ngejar deadline.

Sebagian aku sepakat. Nikmatilah hidup.

Tapi untuk bersantai?

Well, mungkin aku bukan orang yang bisa hidup santai. Aku selalu merasa haus …. lapar … tak bisa diam. Kayaknya musti muter terus otak ni.

Apakah ini hal yang baik atau penyakit ya? Hehe…

Dddduuuuu….hhhh….

Lama sekali tidak meng-update blog. Sudah satu bulan! Waaaakkkksss….

Tidak bisa beranjak dari depan laptop. Menyelesaikan apa yang kudu diselesaikan. Gara-gara banyak hal–dengan dalih kesibukan–aku jadi terpenjara (halah…)

Tapi ada yang mesti disyukuri.

Ada keajaiban kecil (kecil menurut ukuran Tuhan, tapi besar menurut aku) yang terjadi di minggu kedua bulan Oktober.

Ada surat yang kuterima dari panitia lomba penulisan naskah bacaan anak 2008–Diknas. Naskah puisiku menjadi nominasi pemenang dan aku kudu ke BAndung dari tanggal 21 sampai 25 Oktober.

Alhamdulillah…

Juara II ada di tangan.

Tapi …hiks… aku masih harus mengejar deadline terjemahan novel yang belum kelar. Jadi, lagi2, belum bisa bebas seperti burung. Bak burung dalam sangkar deh.

Apa boleh buat.

That’s my job.

That’s my choice.

Aku akan membuatnya timpas.

« Newer Posts - Older Posts »