Anton kesal sekali. Hari itu ia harus kerja overtime karena rapat para manajer baru selesai sebelum magrib. Ia masih harus membereskan beberapa pekerjaannya sebelum benar-benar lega dan bisa pulang ke rumah. Ia baru selesai pukul tujuh. Namun, ketika tiba di tempat parkir, ia tak dapat menyalakan mobilnya.
Mobil Starlet merah keluaran tahun 80-an itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Berkali-kali Anton berusaha menyalakan mesin, tetapi sesaat kemudian selalu mati lagi. Geregetan, Anton keluar dan membanting pintu mobil. Ia malas menengok apa kerusakan mobilnya kali itu. Ia bertekad pulang dan meninggalkan mobilnya di kantor.
Di pos satpam ia menjumpai dua orang petugas, Pak Arsa dan seorang satpam baru yang masih muda. Dari badge di dadanya Anton langsung tahu namanya Hirlan.
“Ada apa, Pak Anton?” tanya Pak Arsa heran. Setahunya semua manajer sudah pulang semenjak rapat selesai. Anton masuk ke pos satpam dan duduk di kursi yang kosong. Mukanya letih.
“Saya sial, Pak. Mobil saya macet,” keluhnya. “Padahal baru kemarin keluar dari bengkel. Barangkali memang sudah waktunya turun mesin.”
Pak Arsa mengangguk-angguk maklum.
“Ganti mobil saja, Pak,” ujar Hirlan lugu. “Mobil Bapak sudah terlalu tua, tuh.”
“Hush!” Pak Arsa menegur. Ia merasa rikuh mendengar ucapan lancang Hirlan kepada Anton yang manajer. Tapi, di luar dugaan, Anton mengiyakan kata-katanya.
“Ya, memang,” sahutnya. “Sudah sebulanan mobil itu selalu rewel. Padahal biasanya baik-baik saja. Saya bahkan sering memakainya untuk pergi ke luar kota. Memang sudah waktunya pensiun, barangkali. Tapi, mobil itu punya kenangan yang tak bisa digantikan dengan apa pun, jadi saya merasa sayang menjual dan menggantikannya dengan yang baru.”
“Saya tahu,” cetus Pak Arsa. “Mobil itu memang bandel, jarang rewel. Saya tahu sejarahnya. Dulu, waktu masih digunakan almarhum Pak Alanudin, mobil itu juga sehat-sehat saja.” Pak Arsa kemudian terkekeh. “ Atau… kalau bukan karena sudah rusak, barangkali seperti manusia saja, Pak, mobil pun terkadang bisa kehilangan mood. Barangkali sedang kesal sama Bapak.”
Anton tertegun. Ucapan itu menyenggol perasaannya. Ditatapnya lelaki yang rambutnya telah memutih yang kini menjadi kepala satpam di perusahaannya itu dengan cermat. Ia melihat seraut wajah yang bijak. Baru kali itu ia benar-benar bisa melihat wajah orang tua itu dari jarak yang amat dekat.
“Begitu menurut Bapak?” Anton setengah menggumam.
“Haha…, itu sih filosofi Jawa. Dalam cerita pewayangan, Punakawan saja pernah marah karena Semar mau dikorbankan demi kepentingan Pandawa[1]. Saya jadi kepingin cerita, nih. Tapi, ini tidak bisa dibandingkan dengan cerita Semar itu tadi. Minggu lalu tetangga saya, seorang tukang ojek, mengalami kerusakan terus-terusan pada motornya. Hampir tiap minggu, dan kerusakan itu berpindah-pindah tempatnya. Dia itu, selain jadi tukang ojek, baru-baru ini juga jadi pengepul[2]. Eh, yang biasanya motornya baik-baik saja tiba-tiba jadi suka ngadat. Yang rantainya putuslah, bannya sering bocor dan minta ganti, lampunya mati, terakhir malah stang sekernya minta ganti. Pokoknya sial terus. Tapi…, mungkin juga sih kebetulan saja, nggak ada kaitannya dengan profesi sampingannya itu…. Maaf, bukan berarti saya menuduh Bapak melakukan hal-hal yang tidak baik, lho. Maksud saya, kalau kendaraan kita, yang paling dekat dengan kita bisa kesal pada kita, barangkali ada sesuatu hal yang tidak mengenakkannya. Andaikata kendaraan itu manusia seperti kita, dia bisa ngomong. Berhubung nggak bisa ngomong, yang bisa dilakukannya ya cuma ngambek, alias ngadat. Yang pasti, Tuhan memperingatkan bisa melalui apa saja. Dan, Tuhan mencoba memperingatkan tetangga saya melalui kendaraannya. ”
Anton menarik napas dalam. Ia mengeluarkan rokok dari dalam saku bajunya. Ia mengambil satu, kemudian ditawarkannya pada Pak Arsa dan Hirlan. Hirlan langsung menyambut dengan gembira, sementara Pak Arsa menolak halus.
“Wah, kalau saya, tidak saja,” ujar Pak Arsa. “Saya berhenti merokok sebulan ini. Batuk-batuk terus. Paru-paru tua saya sudah tidak kuat lagi menampung asap rokok. Saya malah dimarahi istri saya. Daripada bikin penyakit, katanya lebih baik duit saya ditabung buat membelikan cucu saya mainan,” Pak Arsa terkekeh. “Oh ya, lantas bagaimana mobil Pak Anton?”
“Masih saya tinggal di parkiran, Pak. Besok sajalah saya urus. Saya capek sekali…”
Ia tiba-tiba malas mengurus mobilnya dan lebih tertarik pada kepala satpam yang rambutnya telah memutih itu. Ditatapnya laki-laki itu dengan cermat. Ia menemukan keteduhan di wajah tua Pak Arsa. Baru kali itu Anton punya kesempatan berdekat-dekat dengannya. Selama ini ia memang tidak pernah berlama-lama ngobrol dengan satpam. Ia hanya mengenal nama Pak Arsa saja sebagai kepala satpam yang cukup disegani oleh karyawan-karyawan di perusahaannya. Pak Arsa juga dekat dengan beberapa petinggi perusahaan. Tapi, bukan karena itu Anton jadi menganggap penting ucapan Pak Arsa tentang mobilnya. Konon, Pak Arsa punya indra keenam. Kata-kata Pak Arsa sering terbukti benar dan ucapannya mandi[3]. Sayangnya, sebelumnya, Anton tak pernah tertarik untuk dapat mengenalnya lebih dekat.
Anton kemudian mengingat-ingat. Selama belasan tahun mobilnya memang nyaris tak bermasalah. Ia hampir tak pernah direpotkan dengan kerusakan ini-itu. Meskipun beberapa rekan mengolok-olok modelnya yang sudah terlalu out of date, Anton bersikeras tak ingin berganti mobil. Ia sudah terlanjur merasa nyaman mengendarainya. Kini, tiba-tiba mobil itu sering merepotkannya. Apa betul ucapan Pak Arsa bahwa selain karena sudah tua, mobil itu sedang kesal pada pemiliknya? Tapi kenapa?
Anton tiba-tiba disentakkan oleh keremangan suasana di luar pos satpam. Ia melihat arlojinya.
“Wah, saya sudah kemalaman. Kalau begitu saya titipkan saja mobil saya di sini. Biar besok saja ngurusnya. Saya capek.”
“Terus sekarang Bapak mau naik apa?”
“Taksi saja.” Anton beranjak dari tempat duduknya. “Terima kasih ya Pak Arsa, Hirlan.”
“Eh, rokoknya, Pak,” Hirlan mengingatkan.
“Buat kamu saja,” sahut Anton. Ia kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.
***
Keesokan harinya, mobil Anton benar-benar masuk bengkel lagi. Anton agak sedih juga karena hari itu terpaksa ia belum dapat mengendarai mobil kesayangannya. Ia pulang jam lima sore dan menyempatkan diri mampir di pos satpam. Ia menemukan petugas yang lain dari hari kemarin.
“Pak Arsa mana?” tanyanya kepada salah seorang satpam.
“Oh, Pak Arsa sedang tidak bertugas, Pak. Ada yang penting, Pak?’
“Ah, tidak. Tidak ada yang penting. Saya cuma kepingin ngobrol dengannya.”
“Biasanya kalau sedang bebas tugas, Pak Arsa suka menunggui anaknya berjualan jagung bakar di perempatan Sudirman, Pak.”
Entah dorongan dari mana yang membuat Anton nekad berjalan kaki menuju perempatan Sudirman. Padahal, jarak dari kantornya ke tempat itu lumayan jauh. Ia ingin bertemu dengan Pak Arsa dan bercakap-cakap dengannya. Ia merasa terkesan dengan Pak Arsa semenjak percakapan singkat mereka kemarin sore di pos satpam.
Tiba di perempatan Sudirman yang cukup ramai di senja itu, Anton melihat sebuah lesehan jagung bakar di sebuah sudut kaki lima. Dari kejauhan ia sudah melihat Pak Arsa. Berkaus oblong dan sedang membantu menyiapkan dagangan anaknya. Pak Arsa agak terkejut melihat kedatangannya. Ia segera menyambut Anton dan memperkenalkannya pada anak dan menantunya yang berjualan jagung bakar.
“Ini anak saya, Indah, dan ini suaminya, Harno. Indah sedang hamil delapan bulan, anak pertama.”
Anton melihat kemiripan antara Indah dengan Pak Arsa. Indah memiliki mata yang sangat bersahabat. Sedangkan Harno, tampaknya seorang suami yang sabar.
Pak Arsa kemudian mengajak Pak Anton duduk lesehan.
“Mumpung di sini, Pak Anton harus mencoba jagung bakar buatan anak saya. Mau rasa apa, manis pedas atau asin pedas?”
Anton berpikir sejenak. Ia sebenarnya tidak terlalu suka jagung bakar, tetapi demi dilihatnya ketulusan yang terpancar di wajah Pak Arsa ia tak dapat menolak.
“Manis pedas, deh,” sahutnya.
Anton melihat kerja sama yang harmonis antara Indah dan suaminya. Diam-diam, ia merasa iri pada mereka. Dalam kesederhanaan, wajah-wajah mereka tampak bahagia.
“Mobil Bapak belum keluar dari bengkel?” suara Pak Arsa menyadarkan Anton dari lamunan.
“Belum, Pak. Rupanya mobil saya benar-benar ngambek pada saya. Sampai hari ini pun dia belum mau berbaikan dengan saya. Dia malah memilih ngendon di bengkel.”
Pak Arsa terkekeh mendengarnya.
“Pak Anton rupanya memikirkan kata-kata saya kemarin, ya? Saya cuma bercanda. Jangan dimasukkan ke hati, Pak.”
“Oh, nggak, nggak. Saya rasa mungkin ada benarnya juga kata-kata Bapak. Saya jadi interospeksi diri. Justru saya harus berterima kasih pada Pak Arsa.”
“Kalau Bapak menganggap saya lancang…”
“Oh, nggak, nggak. Jangan bilang begitu, Pak. Saya senang ada yang mengingatkan.”
“Saya sama sekali tidak bermaksud…”
“Bapak jangan khawatir,” tukas Anton. Ia melihat kekhawatiran membayang di wajah tua Pak Arsa. “Saya berpikir mungkin ada benarnya filosofi Bapak tentang kedekatan kendaraan dengan pemiliknya. Tuhan memperingatkan manusia melalui apa saja. Juga melalui kendaraan yang biasa kita pakai, sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Saya heran juga karena selama ini mobil itu tidak pernah rewel. Tiba-tiba sebulanan ini dia selalu mengganggu kenyamanan saya. Entah kenapa. Barangkali ada yang salah dengan saya.”
“Saya pernah cukup akrab dengan mobil itu, Pak Anton,” ujar Pak Arsa.
“Oh ya? Sebelum saya mengendarainya?”
“Ya, selama masih dipakai Pak Alanudin, mertua Bapak, pemilik perusahaan kita. Saya sering diajak mancing beliau di waktu-waktu senggang. Bukan hanya itu, kadang beliau meminta saya menemani beliau pergi ke acara-acara tertentu. Jadi, saya pernah akrab dengan mobil itu, sampai akhirnya berpindah tangan ke Bapak ketika Bapak menikahi putri beliau.”
Tak berapa lama kemudian, telah terhidang jagung bakar dalam piring dan segelas es teh. Pak Arsa segera mempersilakannya.
“Silakan dicicipi, Pak.”
Anton mengiyakan. Ia mulai menggigit biji jagung bakar. Lidahnya segera mencecap rasa manis bercampur pedas yang nikmat.
“Enak,” komentarnya singkat.
Pak Arsa menangkap kegelisahan Anton, tetapi ia membiarkan saja manajer muda itu menikmati jagung bakarnya.
Anton merasa nyaman dengan suasana senja itu. Senja itu bukan sekadar senja biasa. Ia menamakannya senja yang berkualitas. Setelah sekian lama berkubang dalam kesibukan kerja, senja itu ia meluangkan waktu untuk memikirkan kembali kehidupannya. Berdialektika dengan seorang kepala satpam. Tanpa jarak.
“Kalau mobil saya itu tidak mau berbaikan dengan saya lagi, berarti saya harus berganti mobil, Pak?” tiba-tiba meluncur kalimat itu dari bibir Anton. Polos, seperti seorang anak bertanya kepada ayahnya.
“Ya, barangkali karena memang sudah masanya Bapak ganti mobil,” Pak Arsa tersenyum geli.
“Mobil itu punya banyak kenangan.”
“Kenangan akan tersimpan baik dalam hati kita, Pak. Ia tetap akan melekat di sana selamanya.”
“Bapak mertua saya pasti kecewa karena saya tidak dapat menjaga amanah beliau…”
“Almarhum Pak Alanudin akan mengerti. Mobil itu dulu diberikan kepada Bapak sebagai fasilitas yang memudahkan, bukan menyulitkan. Jadi kalau dalam perjalanannya mobil itu menyulitkan, ya, tidak ada salahnya diganti dengan yang baru. Mobil itu sudah tua dan tidak laik jalan.”
Bukan. Bukan itu.
Anton kembali tercenung.
“Ngomong-ngomong, Pak Arsa, menurut Bapak, mobil itu memang sedang marah pada saya?”
Pak Arsa tergelak.
“Ah, sekali lagi, itu hanya gurauan saya saja, Pak. Saya benar-benar minta maaf kalau gurauan saya menyinggung Bapak.”
“Oh, tidak. Justru saya harus berterima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk guyonan Bapak itu. Dan, jagung bakar yang lezat ini.”
Anton memang tak menceritakan yang sesungguhnya paada Pak Arsa. Namun, cukup baginya untuk bertemu dengan Pak Arsa lagi dan mengucapkan terima kasih. Anton tidak menyangka Pak Alanudin dulu sangat dekat dengan Pak Arsa. Barangkali karena itulah ia merasakan keterkaitan erat antara dirinya dengan Pak Arsa saat mereka pertama kali bercakap-cakap di pos satpam pada hari sebelumnya. Dan, kali itu, ia bahkan merasa seperti berhadapan dengan almarhum mertuanya.
Anton berpamitan saat azan magrib terdengar dari kejauhan. Ia merasa harus cepat-cepat pulang ke rumah. Ia menghentikan sebuah taksi di jalan.
Saya mestinya jadi orang yang berterima kasih, bukan malah lupa pada akar saya, asal usul saya. Kehidupan saya yang sebenarnya bermula dari mobil itu. Wajar saja, jika saya diperingatkan seperti ini ketika saya ingin mencerabut akar saya sendiri.
Hingar bingar itu hanya sekali saya singgahi. Itu pun atas desakan kolega saya di Surabaya.
“Sesekali mencicipi kelezatan duniawi,” mereka membujuk, “kita hanya menonton dan tak melakukan apa-apa. Lagi pula tak ada yang tahu.”
Saya sempat memalingkan wajah, tapi hanya sesaat. Selanjutnya mata saya terbeliak dan segera saja saya tenggelam dalam keriuhan musik yang berdentam-dentam dan gerakan-gerakan vulgar beberapa orang penari di atas panggung. Sungguh, saya belum pernah datang ke tempat semacam itu sebelumnya. Namun, dosa memang sering kali terasa manis saat dilakukan. Saya lupa apa pun. Saya lupa menundukkan mata dan hati saya. Saya lupa kalimat istigfar. Saya lupa bahwa di rumah, seorang istri menunggu saya kembali sambil berdoa hikmat agar saya dilindungi dalam perjalanan sampai di rumah. Saya lupa anak-anak menantikan kepulangan saya membawa oleh-oleh dan cerita indah. Dan, saya sama sekali lupa bahwa di luar, mobil tua saya, akar kehidupan saya, menunggu dengan kemarahan mengendap. Mengumpat saya sebagai manusia tak tahu adab.
(salah satu cerpenku dalam
antologi cerpen Bukan Sekadar Senja, 2007)
[1] Dalam cerita wayang Semar Mbangun Kayangan, diceritakan Punakawan marah karena Semar hendak dikorbankan demi perdamaian Pandawa-Kurawa. Meskipun dengan tujuan baik, mengorbankan Semar berarti sebuah “kejahatan” majikan kepada abdi yang sudah mengabdikan seluruh jiwa dan raganya.
[2] Orang yang bertugas untuk mengumpulkan kupon dari penjual cap jie kie (jenis perjudian semacam togel yang berkembang di wilyah Solo dan sekitarnya) untuk dibawa dan diserahkan pada bandar, sekaligus mengumumkan nomer yang keluar sebagai pemenang, biasanya dilakukan dengan mengendarai sepeda motor berkecepatan tinggi.
[3] Manjur, Jw.





hi, cerpn yang menarik. eh, blognya aku jadikan lik di khatulistiwa.net. please cek…