Tidak seharusnya menyalahkan hujan.
Kerjaan numpuk menunggu diselesaikan. Di sela-sela kesumpekan kudu pinter-pinter menjaga kondisi tubuh. Takutnya di saat-saat menjelang deadline malah tepar. Selain itu, tidak bisa tidak, kalau aku, memang kudu menyelingi kerja dengan bersenang-senang. Sekadar refreshing dengan jalan-jalan di jejaring sosial dunia maya (nah ini yang acap kebablasan, hihihi…), atau bener2 keluar jalan untuk menghirup udara segar, mencari suasana lain setelah tertimbun dalam tumpukan kamus seharian dan dicekam suasana naskah yang acap mengaduk-aduk perasaan.
Wiken, kadang2 tidak kumanfaatkan untuk liburan. Tapi kali ini, seperti biasa, dengan bujuk rayu suami, dengan alasan menyenang2kan anak sekaligus aku, aku pun menurut. Wiken, outing? Oke…siapa takut?
Tapi, ternyata kondisi tubuh yang kurang fit dan cuaca yang tidak mendukung (udah dibilang jangan nyalahin hujaaannnn…. *pletak!*) … jadilah refreshing sehari itu menjadi derita pada beberapa hari berikutnya.
Badan sakit, panas tapi menggigil, kepala berdenyut-denyut, tenggorokan sakit, kadang perut mual mau muntah ….
Takutnya tipes lagi.
Dengan bersabar menelan butir2 obat yang sebenarnya kubenci, aku berusaha mengusir sakit yang merecoki selama beberapa hari.
Alhamdulillah, hari ini membaik dan energiku berangsur pulih kembali. Dan aku bisa kembali ke hadapan laptop, kamus, internet, cemilan, air putih (sekarang belum ngopi lagi, hiks….), dan sesekali menengok jejaring sosial
)
Ah, indahnya sehat….
Sekali, lagi, Hujan, aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya kurang mengenali kondisi tubuhku.
*Senja ini hujan kembali turun….



“Kau di mana?” suara suaminya dipenuhi kegalauan lagi. “Kau tersesat lagi?” Anyelir menggerakkan bibirnya yang membiru. “Kau sungguh tak menemukan jalan pulang?” suaminya kian khawatir. “A…aku….” “Kau ada di haltemu?” Haltemu? “A…aku….” “Menyingkir dari tempat itu. Halte itu sudah tidak ada lagi. Jalan sudah dilebarkan dan sekarang hlalte itu sudah jadi marka jalan. Kau berada di marka jalan sekarang. Itu berbahaya. Apa tidak ada orang yang menyuruhmu, atau membantumu pergi dari tempat itu? Demi Tuhan, Anyelir …. Jawablah.” Anyelir merasa kepalanya seperti dihantam sebuah benda keras. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit berdenyut-denyut. Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan kesakitannya. Ia mendengar deru kendaraan berlalu-lalang, ia mendengar teriakan-teriakan, ia melihat kilatan-kilatan lampu jalan, ia merasakan hujan. Tetapi, oh, mengapa semua terasa begitu asing baginya? Di mana ia kini? Di dunia macam manakah ia? Apakah ia hidup dalam khayalan-khayalannya sendiri? Eskapisme? Atau, apakah ia sudah gila? ……… (“Cinta dalam Belanga”)
Tengah malam kuterbangun karena merasakan ada sesuatu. Ketika kubuka mata … ada kelopak-kelopak bunga berwarna merah merekah tepat di depan hidungku.



