Feeds:
Posts
Comments

Tidak seharusnya menyalahkan hujan.

Kerjaan numpuk menunggu diselesaikan. Di sela-sela kesumpekan kudu pinter-pinter menjaga kondisi tubuh. Takutnya di saat-saat menjelang deadline malah tepar. Selain itu, tidak bisa tidak, kalau aku, memang kudu menyelingi kerja dengan bersenang-senang. Sekadar refreshing dengan jalan-jalan di jejaring sosial dunia maya (nah ini yang acap kebablasan, hihihi…), atau bener2 keluar jalan untuk menghirup udara segar, mencari suasana lain setelah tertimbun dalam tumpukan kamus seharian dan dicekam suasana naskah yang acap mengaduk-aduk perasaan.

Wiken, kadang2 tidak kumanfaatkan untuk liburan.  Tapi kali ini, seperti biasa, dengan bujuk rayu suami, dengan alasan menyenang2kan anak sekaligus aku, aku pun menurut. Wiken, outing? Oke…siapa takut?

Tapi, ternyata kondisi tubuh yang kurang fit dan cuaca yang tidak mendukung (udah dibilang jangan nyalahin hujaaannnn…. *pletak!*) … jadilah refreshing sehari itu menjadi derita pada beberapa hari berikutnya.

Badan sakit, panas tapi menggigil,  kepala berdenyut-denyut, tenggorokan sakit, kadang perut mual mau muntah ….

Takutnya tipes lagi.

Dengan bersabar menelan butir2 obat yang sebenarnya kubenci, aku berusaha mengusir sakit yang merecoki selama beberapa hari.

Alhamdulillah, hari ini membaik dan energiku berangsur pulih kembali. Dan aku bisa kembali ke hadapan laptop, kamus, internet, cemilan, air putih (sekarang belum ngopi lagi, hiks….), dan sesekali menengok jejaring sosial ;) )

Ah, indahnya sehat….

Sekali, lagi, Hujan, aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya kurang mengenali kondisi tubuhku.

*Senja ini hujan kembali turun….

Kumpulan Kisah Cinta yang Pedih
Tuesday, 18 August 2009

Judul Buku : Cinta Dalam Belanga
Penulis : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit : Kakilangit Kencana
Tebal : 271 Halaman
Terbit : Juni 2009

CINTA lebih sering menawarkan kesenangan,romantisme,dan membuat siapa pun yang terjerat mabuk kepayang. Padahal, cinta pun memiliki sisi gelap yang selalu mengikuti setiap saat.

Ada kesedihan, kepedihan, sampai sebuah akhir yang tragis. Jadi siapa pun yang berani mengarungi cinta untuk mendapatkan kebahagiaan, juga harus bersedia menerima pedihnya cinta. Karena kepedihan sering bersembunyi di dalam keceriaan,ada sembilu dalam senyuman, dan ada tragedi dalam romantisme. Begitulah gambaran tentang cinta yang terangkum dalam antologi Cerpen Cinta dalam Belanga karya Ambhita Dhyaningrum yang diterbitkan Kakilangit Kencana.

Dalam buku setebal 271 halaman yang berisi sekitar 23 cerita pendek, digambarkan sisi lain tentang cinta yang tragis. Ada seorang buruh yang cantik, lugu, dan cerdas sehingga mampu menarik hati setiap lelaki.Ternyata senyumnya berbisa dan mampu menghancurkan hati siapa saja yang mendekatinya. Ada pula perempuan yang merasa mampu mempermainkan hati setiap lelaki hanya untuk mendapatkan kekayaannya.

Belakangan dia tersadar kalau dirinya yang selama ini sudah dipermainkan para lelaki yang ingin mencicipi tubuhnya. Dikisahkan pula sosok lelaki yang begitu kuat fisiknya dan bersikap tegar dalam menghadapi berbagai tantangan.Nyatanya, dia seorang lelaki yang rapuh dan tak bisa mengontrol diri karena kehilangan istri tercinta akibat konspirasi.

Tak ketinggalan diceritakan tentang seorang pelukis renta yang tak pernah menikah seumur hidupnya dan dianggap tak menyukai perempuan. Malah memiliki imajinasi liar dalam karya lukisannya, bersanding dengan istri tetangga yang cantik dan sering mengirimkan makanan ke rumahnya. Alhasil, antologi cerpen ini merupakan karya yang mampu mengangkat sisi gelap dari berbagai kisah cinta.Semuanya diceritakan secara apik dan gaya bahasa yang lugas sehingga mampu memacu adrenalin.

Apalagi di akhir kisah yang selalu tragis, ditampilkan berbagai ending yang tak lazim dan mendebarkan. Buku ini akan mengajak Anda mengarungi betapa pedih, perih, dan tragisnya sisi gelap sebuah cinta. Jangan pernah bermainmain dengan cinta karena bila tak mampu mengendalikannya akan menjadi bumerang bagi siapa pun. (wasis wibowo)

Raia dan Nana

Raia dan Nana

Raia punya sebuah boneka yang sangat ia sayangi. Boneka berbentuk pisang yg kami beri nama Banana,atau biasa dipanggilnya dengan sebutan Nana. Boneka ini adalah hadiah ulang tahun pertamanya.

Raia cinta mati pada boneka ini. Bahkan, Nana tak boleh dicuci karena ia tak mau bonekanya dijemur, yg artinya mereka harus berpisah sementara. Pernah aku berhasil membujuknya untuk memasukkan Nana ke laundry. Tapi ketika meninggalkan laundry, dia menangis tersedu-sedu dan minta Nana diambil lagi.

Keberadaan Nana benar2 tak tergantikan. Tak jarang kami membelikannya boneka baru, tapi rupanya Raia tetap tak mau berpaling. Ya, ia memang suka dengan boneka2nya yang lain, tapi ketika tidur, selalu Nana yg dicarinya.

Tak kurang akal, kami membelikannya boneka pisang yang baru, dengan ukuran yang lebih kecil ketimbang Nana. Tapi, kendati Nana kecil ini pun disayanginya,tetap saja Nana besar yang dipilihnya. Setelah kami beli mesin cuci–karena sempat kehilangan pembantu dan bertekat tak cari pembantu lagi, tapi tak jadi karena tak tahan capeknya :p–persoalan dekil dan baunya Nana bisa diatasi. Tapi, persoalan kian menuanya Nana tak dapat ditanggulangi. Anggota tubuhnya mulai rapuh di sana-sini. Mula2 tangannya lepas, lalu kakinya, yang kemudian dijahit pembantuku. Bentuk Nana pun jd tak keruan. Penuh jahitan di sana-sini.

Baru2 ini tragedi lepasnya anggota badan itu terjadi lagi. Tangan kanan Nana lepas lagi. Tapi, yang lucu, kali ini Raia merasa perlu tangannya saja, karena apa? Karena tiap malam, saat berangkat tidur dengan mendekap Nana, tangan itu ia gunakan untuk mengelus-elus pipinya sendiri.

Suatu ketika, tangan Nana hilang. Ia sedih sekali. Aku merasa bersalah, karena terakhir kali, ia menitipkannya di tasku. Kami pun dibikin kelabakan mencarinya. Bersyukur sekali karena tangan itu akhirnya ditemukan. Kini, Raia kembali tidur dengan bahagia, sambil mendekap tangan Nana.

Terbetik trenyuh di hatiku. Kecintaan Raia terhadap Nana, membuatku merenung.
Jika kita mencintai seseorang, sanggupkah kita selalu setia?
Dan sakit atau menuanya raga, dapatkah membuat kita tetap mencintainya?

cover-CDB“Kau di mana?” suara suaminya dipenuhi kegalauan lagi. “Kau tersesat lagi?” Anyelir menggerakkan bibirnya yang membiru. “Kau sungguh tak menemukan jalan pulang?” suaminya kian khawatir. “A…aku….” “Kau ada di haltemu?” Haltemu? “A…aku….” “Menyingkir dari tempat itu. Halte itu sudah tidak ada lagi. Jalan sudah dilebarkan dan sekarang hlalte itu sudah jadi marka jalan. Kau berada di marka jalan sekarang. Itu berbahaya. Apa tidak ada orang yang menyuruhmu, atau membantumu pergi dari tempat itu? Demi Tuhan, Anyelir …. Jawablah.” Anyelir merasa kepalanya seperti dihantam sebuah benda keras. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit berdenyut-denyut. Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan kesakitannya. Ia mendengar deru kendaraan berlalu-lalang, ia mendengar teriakan-teriakan, ia melihat kilatan-kilatan lampu jalan, ia merasakan hujan. Tetapi, oh, mengapa semua terasa begitu asing baginya? Di mana ia kini? Di dunia macam manakah ia? Apakah ia hidup dalam khayalan-khayalannya sendiri? Eskapisme? Atau, apakah ia sudah gila? ……… (“Cinta dalam Belanga”)

Sebuah antologi cerpen “Cinta dalam Belanga”, karya Ambhita Dhyaningrum. Diterbitkan oleh Penerbit Kakilangit Kencana.
Mozaik-mozaik kehidupan: cinta, harkat manusia, keadilan, isyarat kematian, dalam potret buramnya yang sarat makna.

Terbit: Juni 2009

300_262679Tengah malam kuterbangun karena merasakan ada sesuatu. Ketika kubuka mata … ada kelopak-kelopak bunga berwarna merah merekah tepat di depan hidungku.

Happy birthday …. Senyumnya terkembang.

Beberapa jenak aku tertegun. Antara percaya dan tidak.

Benarkah hari ini tidak seburuk yang kubayangkan?

Layakkah aku mendapatkan kuntum-kuntum mawar?

Bukankah pertikaian itu belum usai?

Masa aku seberuntung itu?

Tapi kauyakinkan aku bahwa

“O, my love is like a red red rose ….” seperti dikatakan Robert Burns.

Dan aku meledak dalam tangis kelegaan.

Older Posts »