Bagaimana kalau orang tahu bahwa mereka didaur ulang? Akankah itu mengubah sesuatu?

Proses penerjemahan My Name is Memory, terbitan Bentang Pustaka, bisa dikatakan paling berkesan buat saya di sepanjang tahun 2011, tentu saja tanpa mengurangi nilai kesan novel lain yang saya kerjakan. Ceritanya lembut, romantis, dan filosofis. Berkisah tentang reinkarnasi, saya acap dihadapkan pada teori-teori filsafat. Karena melintasi jazirah waktu, saya harus bolak-balik ke abad sekian ke masa kini, dan sebaliknya, lalu meloncat dari abad ke abad. Saya ‘bertemu’ dengan Carl Jung, Emily Dickinson, hingga George Washington dan Thomas Jefferson.

Dikisahkan, Daniel dan Sophia hidup berulang sebagai sosok yang berbeda-beda, di berbagai belahan dunia, selama ribuan tahun. Sebagian orang yang mengalami reinkarnasi, memiliki memori akan siapa dirinya, tetapi sebagian yang lain tidak. Daniel, mewujud dalam berbagai sosok, tapi ia ingat bahwa dirinya adalah Daniel. Sementara itu, Sophia tidak. Memorinya acak dan hanya sepenggal-penggal. Ia tak mengingat siapa Sophia, apalagi Daniel. Nah, kisah ini menuturkan bagaimana Daniel mencari Sophia dari abad ke abad, untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia lakukan di kehidupan mereka yang pertama, dan untuk meyakinkan Sophia akan cintanya. Namun, di antara mereka, ada abang Daniel, Joaquim, yang pernah menjadi suami Sophia di suatu masa kehidupan. Hanya saja, Joaquim yang memperisitri Sophia dengan membelinya, memperlakukan wanita itu dengan kejam. Daniel-lah yang menyelamatkan Sophia dari cengkeraman abangnya. Di masa kemudian, Joaquim bagaikan jelmaan iblis yang terus berusaha membayang-bayangi mereka berdua dari zaman ke zaman.

Dalam proses penerjemahan novel itu, saya sempat mengalami masa-masa yang cukup berat. Saya mengalami keguguran di kehamilan anak kedua. Proses tunggunya yang begitu menguras baik fisik maupun psikologis, membuat produktivitas saya nyaris tumpul dan membuat kerja saya menjadi tersendat. Saya tidak perlu menceritakan bagaimana perasaan saya, ketika itu, tapi, ketika pada akhirnya saya pulih dan proses penerjemahan berlanjut, saya acap tercenung di sela kerja. Seandainya reinkarnasi itu memang ada, akankah saya dapat berjumpa dengan anak saya di suatu masa? Kadang saya berkhayal bisa melihat wajahnya, meski tidak sebagai anak saya lagi. :D

The Queen Must Die

Salah satu mimpi saya sebagai penerjemah buku adalah menerjemahkan novel bergenre fantasi. Maka, ketika Metamind (Tiga Serangkai) menyodorkan buku ini, bukan kepalang gembiranya hati saya.

Judulnya, The Queen Must Die, ditulis oleh K.A.S. Quinn.

Saya punya kecenderungan tidak dapat melogika sesuatu yang di luar jangkauan logika. Misalnya, saya tidak terlalu percaya pada hal-hal yang berbau mistis, tentang makhluk gaib, dan sejenisnya (meski beberapa kali saya pernah mengalami peristiwa yang mungkin mistis). Jadi, awalnya saya kurang dapat menikmati cerita-cerita fantasi. Ini berkebalikan dengan suami saya. Suami saya adalah pelahap buku-buku fantasi. Saya diuntungkan, karena bisa nebeng baca. Dari sana, saya yang awalnya tidak dapat menikmati cerita fantasi, mulai tertarik. Saya kagum dengan penerjemah fantasi yang dapat menangkap gagasan khayali penulis yang sering kali terlalu liar buat saya, dan menuangkannya kembali dengan menakjubkan.

Meski bergenre fantasi, The Queen Must Die masih cukup mudah dipahami. Tokoh sentralnya adalah Katie Berger-Jones-Burg, seorang anak sepuluhan tahun yang memiliki kehidupan unik. Ia penyendiri, kutu buku, dan memiliki ibu yang suka bergonta-ganti suami. Itulah mengapa nama belakangnya menjadi begitu panjang.

Katie adalah sosok remaja yang kesepian. Ia digambarkan tidak memiliki banyak teman. Sahabat terdekatnya adalah buku, dan teman kesehariannya adalah Dolores, pengurus rumah tangga yang penggemar opera sabun.

Di liang persembunyiannya, di perpustakaan kolong tempat tidurnya, Katie mengalami peristiwa yang aneh. Ia berpindah istana Buckingham, di zaman Ratu Victoria, abad 18. Di sinilah Katie memulai petualangannya. Katie bertemu dengan putri kerajaan Inggris, Alice, yang sebelumnya ia baca dari bukunya di kolong tempat tidur. Bersama James, anak dokter Kerajaan, Alice sepakat untuk mengembalikan Katie ke dunianya yang sebenarnya. Sementara  mencari jalan keluar, mereka berusaha mencegah kelompok pemberontak yang berencana membunuh Ratu Inggris.

K.A.S Quinn ini luar biasa. Ia sangat mahir mengaduk-aduk perasaan. Ia cukup jeli membidik persoalan psikologi dan sosial. Saya cukup sedih ketika membaca Katie yang kesepian. Ia menjadi terlalu akrab dengan dunia asing yang diciptakannya sendiri. Ia menganggap dirinya suda hampir gila, ketika mengalami ‘penglihatan-penglihatan’, sebelum terdampar di Istana Buckingham. Saya tertegun membaca tentang apatisme Du Quelle, salah satu tokoh sentral dalam novel, terhadap masa depan.

“Aids,” DuQuelle berkata. “Aku tahu kau mengenal kata ini. Semuanya benar, sayangku. Mari kita coba kata-kata lain. Pemanasan global, fanatisme, terorisme, kelaparan, senjata pemusnah masal, potensi nuklir….”

“Aku telah mengenal banyak kata, Katie, tapi hal-hal yang kau sebutkan tadi tidak ada. Kau melewati batas dengan menciptakan sesuatu yang terlalu indah dan terlalu sempurna. Kau datang dari masa dengan masyarakatnya yang paling rakus, egois, dan brutal. Pembawa perdamaian? Kau dan orang-orangmulah yang menanam benih kehancuran!”

Saya juga mengagumi selera humor Quinn yang sering kali terlihat dalam novel ini. Misalnya saja, ketika ia mendeskripsikan ayah Katie, Si Berger dalam rentetan Berger-Jones-Burg di belakang nama Katie.
“Kami menikah muda. Sangat muda,” kata Mimi sambil memperlihatkan foto mereka berdua dalam sebuah festival musik rok. Danny menatap mesra kepada Mimi, sementara Mimi menatap mesra ke arah kamera.
Saya terkikik membaca kalimat yang kedua. Membayangkan visualisasinya yang kocak.

Saya mendapatkan ilmu-ilmu baru saat menerjemahkan buku ini. Saya harus berkenalan dengan bahasa Jerman, karena ada beberapa istilah atau dialog yang menggunakan bahasa Jerman. Saya jadi tahu mengapa Raja Ethelbert mendapat julukan The Unready. Saya juga menemukan bahwa ada ilmu memahami karakter manusia dari bentuk tengkoraknya, yang bernama frenologi.

Alhamdulillah, beberapa waktu lalu, saya diberi kabar bahwa buku ini nongkrong di rak best seller di beberapa toko buku.

Siapa yang tak mengenal nama H.C. Andersen? Di era tahun 80-an, saat kita belum banyak mengenal film kartun dan animasi dunia, dongeng-dongeng H.C. Andersen akrab dengan kita melalui film di televisi, bacaan, juga kaset sanggar cerita.

Hans Christian Andersen, begitu nama panjangnya, adalah bapak dongeng dunia. Andersen terlahir di kawasan kumuh kota Odense, Denmark bagian selatan, pada 2 April 1805.  Ia berasal dari sebuah keluarga miskin. Ayahnya adalah seorang tukang sepatu, dan ibunya adalah buruh cuci.

Sedari kecil, ibu Andersen telah memperkenalkannya dengan cerita-cerita rakyat. Ia juga akrab dengan pertunjukan sandiwara. Ayahnya adalah seorang pecinta sastra. Ia acap mengajak Andersen menonton pertunjukan sandiwara. Sosok ayah ini begitu lekat dalam diri Andersen. Dalam otobiografinya yang berjudul The Story of My Life, Andersen menulis:

“Ayah memuaskan semua dahagaku. Ia seolah hidup hanya untukku. Setiap Minggu ia membuatkan gambar-gambar dan membacakan certa-cerita dongeng. hanya pada saat-saat seperti inilah aku melihat dia begitu riang, karena sesungguhnya ia tak pernah bahagia dalam kehidupannya sebagai seorang pengrajin sepatu”.

Andersen mengalami masa-masa yang sulit dalam hidupnya.  Tak heran, beberapa karyanya bernuansa kelam dan tragis, begitu pula dongeng-dongengnya.

Dongeng-dongeng H.C. Andersen telah berkembang dalam berbagai versinya. Kebetulan, Dongeng Gadis Korek Api dan Dongeng-Dongeng Lainnya yang diterbitkan oleh Penerbit Atria ini, termasuk versi panjangnya.

Dalam berbagai versi lain yang saya baca, dongeng Andersen disajikan dalam format yang lebih ngepop dan sederhana. Namun, dalam buku yang saya temui ini, kemasannya klasik dengan bahasa yang cukup nyastra.  Kekhasan naskah klasik antara lain adalah kalimat-kalimatnya yang panjang sehingga rawan menimbulkan kejenuhan pembaca. Kadang, saya terpaksa memecah kalimat yang panjang agar tidak menimbulkan kejenuhan tersebut. Di sisi lain, saya juga harus memilih kata yang tidak meninggalkan kesan klasik dan nyastra-nya. Thanks to Jia Effendi, Mbak Editor, karena dengan sentuhannya, buku ini menjadi jauh lebih rapi dan lebih enak dibaca.

Ada sepuluh dongeng di dalam buku ini, yaitu: Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju, Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan dan yang terakhir Anak Itik Buruk Rupa.

Ada dongeng-dongeng yang jauh lebih panjang dari yang lain, antara lain Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Ratu Salju, dan Kisah Rembulan . Dan dari semua kisah yang pernah saya baca dalam berbagai versinya, satu-satunya yang belum pernah saya baca adalah Kisah Rembulan. Oleh karena itulah, menjadi kerja yang lebih berat buat saya untuk membentuk imajinasi yang sama sekali belum ada sebelumnya mengenai kisah ini.

Buat saya pribadi, menerjemahkan buku ini adalah suatu kegembiraan tersendiri. Kerinduan saya dalam menerjemahkan cerita anak cukup terobati, setelah sekian lama banyak berkutat dengan buku-buku bergenre thriller, memoar, dan klasik dewasa.

Pernah menghadapi anak yang kalah dalam berlomba? Bagaimana perasaan Anda sebagai orang tua? Dan bagaimana cara Anda memberikan pengertian kepadanya?

Saya mungkin bukan bunda yang cukup pintar menjelaskan kepada anak saya, apa arti ‘juara’ yang sesungguhnya. Saya sendiri sering kali mengalami kekalahan, dan saya tahu rasanya pahit. Bukan hanya kalah dalam lomba, tetapi lebih pada kehidupan.

Saya sangat paham bagaimana perasaan Raia, anak saya, ketika kalah dalam berlomba. Puncaknya, adalah saat ia kalah dalam lomba Menceritakan Gambar, beberapa waktu lalu dalam peringatan hari anak nasional.

Ia telah berlatih dengan keras di rumah. Kami membahas konsep gambar yang akan dibuatnya, kami berdiskusi seru tentang cerita yang akan dikembangkan dari gambar tersebut. Pendeknya, ia sangat bersungguh-sungguh berlatih, demi menjadi juara. Ia menginginkan piala. Di rumah sudah ada beberapa piala hasil lomba, tetapi rata-rata adalah lomba kelompok. Satu-satunya piala yang diraihnya secara tunggal, adalah piala yang didapatkannya saat balita, dalam lomba berjalan. :D

Saat hari lomba tiba, saya melihat ia tampil cukup meyakinkan. Sementara anak-anak seusianya (TK), tampil dengan malu-malu, harus dipancing untuk berbicara, Raia cukup lancar dalam menceritakan gambarnya. Saya cukup optimis ia bisa menjadi salah satu juara, setelah memetakan kekuatan ia di antara para peserta lainnya. Begitu pula penonton yang ada saat lomba. Mereka memberikan aplaus yang istimewa begitu Raia selesai menceritakan gambarnya. Harapan Raia pun membuncah. Ia tersulut keyakinan yang sama dengan saya.

Ternyata, sama sekali tak dinyana, ia tidak masuk dalam enam juara yang diambil. Saya tercengang, dan dia terpukul. Rasanya begitu nyeri melihat dia menangis sesenggukan. Biar bagaimanapun, saya merasa sangat bersalah. Saya mengoreksi diri. Apakah saya menanamkan harapan yang terlalu besar dalam dirinya? Apakah saya melakukan kekeliruan dalam memberikan dorongan kepadanya? Sungguh, waktu itu saya tidak bisa bicara apa-apa selain hanya memeluk dan mengelus-elus punggungnya.

Bingung mencari kata-kata yang tepat untuk menghiburnya, saya mengajak Raia jalan-jalan ke tempat bermain. Dalam beberapa hal, ia sangat mirip dengan saya, terutama saat sedang sedih. Saya memerlukan waktu yang cukup lama sampai kesedihan saya pulih. Ia memerlukan waktu.

Setelah ia sedikit lupa dengan kesedihannya, saya mengajaknya makan. Dan di sanalah saya berusaha mengajaknya bicara. Saya berusaha memberikan pengertian kepadanya tentang menang-kalah.

Saya ilustrasikan kepadanya bahwa saya juga sering mengalami kekalahan dalam lomba. Saya katakan kepadanya bahwa kita harus banyak berlatih untuk bisa berhasil. Saya tekankan kepadanya bahwa kita tidak boleh mudah menyerah. Menang-kalah dalam suatu perlombaan, adalah hal yang biasa. Di atas langit masih ada langit. Yang harus kita lakukan, adalah bagaimana bisa mencapai langit yang lebih tinggi dari waktu ke waktu.

“Aku juga sering ikut lomba mewarnai dan nggak pernah menang,” ia masih murung. “Temanku menang terus. Itu kan nggak adil, Bunda.”

“Nak, orang punya kelebihan masing-masing. Mungkin Ana pintar mewarnai, Lusi pintar menyanyi, kamu juga pintar dalam hal yang lain. Kita cuma belum menemukan di mana kelebihanmu. Pelan-pelan, pasti akan ketemu.”

Sesungguhnya, pada saat itu hati saya sedang berperang. Lalu, bagaimana kalau ia tampil bagus dalam lomba barusan, dan ternyata masih juga tidak menang? Di mana letak kesalahannya?

“Dalam lomba tadi, mungkin gambar juga termasuk yang dinilai juri,” saya melajutkan. “Kalau dalam hal bercerita, kamu memang paling bagus, tapi gambarmu, mungkin masih kalah dengan yang lain. Bunda tahu, kamu pintar bercerita. Mungkin suatu saat nanti kau bisa jadi pencerita, jadi penulis. Kita akan berlatih terus. Oke?”

Pelan-pelan, dia mengangguk.

Terakhir, saya peluk dia dan saya bisikkan di telinganya, “Kalah atau menang kamu dalam lomba tadi, yang penting kamu sudah berusaha dengan keras. Dan itu pasti nggak sia-sia. Buat bunda, kamu juara. Kamu selalu jadi juara di hati Bunda.”

Dan seperti halnya saya, Raia juga butuh berkali-kali diyakinkan.

Ketika ia mengalami kekalahan lagi di lomba berikutnya, ia mulai dapat menerimanya dengan lapang dada. Ia tetap saja sedih, tetapi ia mencari kekuatan dari penghiburan saya. Dan saya, tidak lelah untuk terus memberikan pengertian kepadanya.

“Sabar, Sayang. Semua ada waktunya.”

Menemukan nama Odisseus di dalam naskah yang sedang saya terjemahkan, membuat saya teringat pada film Troy, film yang saya tonton berulang kali karena terpikat dengan kisah dan penggambarannya tentang perang Troya.

Odisseus adalah sahabat Achilles (yang dalam film Troy diperankan dengan apik oleh Brad Pitt). Di dalam film tersebut, Odisseus diperankan oleh Sean Bean. Odisseus berlayar ke Troya di Asia Minor, untuk memimpin armada perang Ithaca demi membantu Raja Agmemnon dalam misinya menaklukkan bangsa Troya. Bersama Achilles, Odisseus menjadi pahlawan dalam Perang Troya.

Dikisahkan, ambisi Raja Agamemnon untuk menguasai seluruh wilayah Aegean terhambat oleh keberadaan Troya yang begitu sulit ditundukkan. Agamemnon tidak punya alasan untuk menyerang Troya karena hubungan damai telah mengikat mereka. Peristiwa dilarikannya Helena, istri Menelaos Raja Sparta (adik Agamemnon) oleh Paris dari Troya, dijadikan alasan untuk menghancurkan Troya. Raja Sparta itu murka, dan bersama Raja Agmemnon serta raja-raja Yunani lainnya, ia menyerbu Troya.

Perang Troya sesungguhnya memakan waktu dua puluh tahun lamanya (meski dalam film digambarkan hanya beberapa minggu saja). Sepuluh tahun pertama mengumpulkan armada perang di pihak Yunani, sepuluh tahun berikutnya adalah masa berperangnya. Pahlawan yang terlibat dalam perang ini, di antaranya adalah Achilles, Odisseus, Aias, dan Diomedes dari Yunani, dan Hektor serta Paris dari Troya.

Setelah bertahun-tahun belum dapat membobol benteng Troya, pasukan Yunani mulai frustrasi. Namun, kemudian, Odisseus mencetuskan ide cemerlang. Pasukan Yunani membuat sebuah kuda kayu raksasa yang diisi oleh beberapa prajurit. Pasukan Yunani meninggalkan kuda itu dan pura-pura pergi meninggalkan Troya. Pasukan Troya yang melihat pasukan Yunani mundur, mengira mereka telah menyerah. Mereka berpikir bahwa kuda raksasa yang merupakan simbol persembahan buat Poseidon itu, adalah pernyataan kekalahan dari Yunani. Orang-orang Troya membawa kuda itu ke dalam kota dan merayakan kemenangan mereka. Malam harinya, para prajurit yang bersembunyi di dalam perut kuda pun keluar, membuka gerbang Troya sehingga pasukan Yunani berhasil menerobos masuk dan meluluhlantakkan Troya.

Setelah berhasil menaklukkan Troya, dalam perjalanan pulang ke Yunani, para dewa yang marah karena tindakan brutal pasukan Yunani menghancurkan kuil-kuil di Troya, menghukum mereka. Banyak prajurit yang mati dalam perjalanan pulang, bahkan Odisseus tersesat selama sepuluh tahun lamanya, dan mengalami banyak penderitaan serta kehilangan semua anak buahnya.

Kisah mitologi Yunani, selalu menarik buat saya, karena sarat makna filosofis. Karma yang disandang Odisseus karena telah menghancurkan kuil, hanya sebagian kecil contohnya. Kadang, jika bertemu dengan nama tokoh mitologi Yunani, saya meluangkan waktu untuk mencari tahu siapa dirinya dan bagaimana kisahnya. Dan, pencarian itu bisa dimulai dari situs WIKIPEDIA ini.